
Pesawat terus saja bergoyang. Tak tentu arah. Mengikuti gerakan buaya yang merasa terusik dengan kehadiran mereka. Apalagi sebuah benda yang sempat mengenai kulitnya. Spontan naluri bertahannya respon. Giginya menggigit erat tali yang sempat diraihnya.
Jamilah masih fokus pada tali yang menjuntai. Tak ada yang bisa dilakukan. Kecuali menunggu ke dua temannya segera sampai. Sayang, pergerakan mereka agak terhambat. Dengan tali yang sebentar-sebentar bergoyang, menyulitkannya untuk naik.
Alhamdulillah, kini Dewi sudah sampai. Tinggal Komandan Santoso.
Krakkk ....
Allahu Akbar ....
Pesawat pun oleng. Hampir-hampir mereka terlempar. Untung tangan mereka sempat meraih pegangan yang melekat kuat di badan pesawat.
Krakkk ....
Bunyi itu terdengar lagi, lebih keras. Ya Allah ... Kini tali yang terhubung hanya sebesar pensil. Kita tak menyangka buaya itu luar biasa. Mempunyai tenaga yang superior. Tali yang sedemikian kuat dan besar mampu ditaklukkannya.
"Komandan!!!" Spontan keduanya meraih tali. Komandan Santoso tetap tenang. Dalam keadaan demikian, dia tetap lincah, menapaki satu per satu tali anak tangga. Hingga tinggal satu anak tangga, tangannya menggapai badan pesawat.
Krakkk ... Bruaakk.
Kini tali benar-benar putus. Membuat jantung keduanya hampir berhenti berdetak. Tali terlepas dari genggamannya. Meliuk-liuk sebentar, sebelum sampai ke tanah.
Di manakah Komandan? Di tanah tak terlihat. Membuat keduanya khawatir untuk beberapa saat. Sampai ada jari-jari menyentuh bibir pesawat.
"Minggir, Aku mau masuk!" Kepala pak Komandan menyembul di hadapan mereka. Keduanya berpindah tempat. Dalam sekali gerakan pak Komandan kini sudah duduk di bibir pesawat. Alhamdulillah ....
Semuanya bisa bernafas lega. Pilot pun sudah tenang membawa mereka ke pangkalan. Tapi sebelum itu, berputar dulu sejenak. Untuk melihat keadaan sungai itu dan sekitarnya.
Dari atas dapat terlihat dengan jelas, berapa jumlah mereka yang sebenarnya. Subhanallah ... Ternyata cukup banyak juga. Lebih dari 15 ekor. Syukurlah, mereka mampu melepaskan diri. Tidak ada yang terluka. Seandainya tidak, tak tahu apa yang terjadi. Mungkin pulang hanya tinggal nama. Na'udzubillahi ....
__ADS_1
"Jamilah. Selesai ganti baju, Kamu menghadap saya!'
Glekkk ... Jamilah menelan ludah. Bibirnya senyum, matanya bersinar penuh tanda tanya. Alamat ini .... Semoga bukan tak boleh terbang. Yang lainnya saja. Seperti lari, push up, atau yang semacamnya. Tapi apa boleh buat, dia hanya prajurit yang harus taat pada pimpinan.
"Baik, Komandan."
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Niat hati hanya ingin bersantai dan bersenang-senang sejenak. Tapi berakhir dengan menyedihkan. Harus menghadap Komandan pula.
Tapi ... Semoga jangan tak boleh terbang ... Semoga jangan tak boleh terbang. Seperti yang lalu-lalu. Jamilah khusu' berdoa. Meski tak tampak sedang berdoa. Hm ....
🌟
Aku tak mengira dirimu, begitu cantik. Maafkan diriku yang tak sengaja melihatmu. Saat menolongmu di sungai itu. Meskipun sesaat, tapi telah membuatku terguncang. Aku benar-benar terkesima dengan wajah ayumu sebelum engkau tutup kembali dengan kerudung. Hingga kecantikan itu kembali tersembunyi. Semoga saja tetap tersembunyi. Karena tak ada inginku untuk melihatmu tanpa persetujuan. Seandainya itu engkau bolehkan.
Dari sekian anggotaku, hanya kamu yang menurutku aneh. Dengan pakaian tertutup rapat. Namun tak sedikitpun merasa ribet dengan itu. Lari, bela diri, renang. Bahkan menerbangkan pesawat.Semua itu bukan masalah. Prestasimu sangat membanggakan. Meski kamu masih seumuran adikku yang paling kecil.
"Assalamualaikum ... Komandan."
"Wa alaikum salam ..., Oh kamu Jamilah. Duduklah!"
Sesaat dia membiarkan Jamilah duduk tenang. Tanpa ingin mengucapkan sepatah kata pun. Dia masih menatap lurus ke depan, melewati bayangan Jamilah. Keadaan sunyi ... Membuat Jamilah keki dan merasa bersalah.
"Komandan. Maafkan saya. Aku tak tahu kalau itu adalah sungai tempat tinggalnya buaya."
Dia tersenyum. Sesaat tak ada bayangan untuk ngomong apa. Rasanya ingin menjitaknya saja. Punya bawahan yang prestasinya luar biasa tapi juga sering kali bikin ulah, menjengkelkan. Untung aku melihatnya. Dan untungnya pula Dewi mau aku suruh mengikuti. Jamilah ... Jamilah. Tak tahu apa, kalau bikin hati ini khawatir.
"Syukur, kamu pakai pakaian lebar. Yang dimakan hanya bajumu bukan badanmu. Dan berterima kasihlah pada Dewi yang melihatmu saat itu. Kalau tak ... Mungkin kamu tinggal nama."
"Siap, Komandan," jawab Jamilah dengan suara lantang. Asyiiik ... Tak dapat hukuman. Lalu dia berdiri, meninggalkan tempat duduknya dengan amat bahagia. Tapi baru beberapa langkah.
__ADS_1
"Hai, kamu mau kemana?"
Hehehe ... Jamilah berbalik lagi menghadap Komandan Santoso dengan senyum nyengir kuda. Kebahagiaan yang sesaat dia rasakan, lenyap sudah. Hilang dalam tatapan dingin Komandan.
"Mau ngucapin terima kasih sama Dewi! Gitu kan Komandan suruh?" Dia mencoba berkilah.
"Siapa suruh ke sana. Urusan kita belum selesai. Kamu tahu kesalahanmu apa? Pergi tanpa pemberitahuan. Menyebabkan kita dalam bahaya. Apa itu tidak kamu pikirkan?"
Hehehe ... Nggak jadi lolos dech .... Padahal diriku sudah senang tadinya.
"Nggak sengaja, Komandan. Aku nggak ada niatan mencelakai kalian. Hanya bersantai sejenak. Capek semalam ngejar penyusup itu. Untung bisa balik. Tapi kejadiannya begitu. Sekali lagi mohon maaf Komandan. Tapi kalau menyalahkan. Ya ... Jangan salahkan saya doang. Salahkan juga buayanya. Kenapa ganggu saya." Suaranya sedikit rendah. Supaya dapat ampunan.
Jamilah ... Jamilah! Janganlah kamu main-mainkan suaramu. Aku sudah berusaha agar anganku tak travelling. Tapi kamu lagi-lagi membuat pilihanku salah. Tak bisa Istiqomah .... Kalau gini kembali ke awal. Aku atasan, kamu bawahan.
"Baik. Sebagai konsekwensinya kali ini. Kamu balik ke barak kamu. Tak boleh keluar sampai ...." Kata-kata Santoso berhenti. Karena tiba-tiba Sersan Ipin masuk dengan tergesa-gesa. Bahkan lupa mengucapkan salam.
"Lapor Komandan, kita terdesak."
Segera Komandan Santoso keluar, melihat keadaan. Diikuti juga dengan Jamilah. Mereka menatap langit markas mereka. Terlihat pesawat musuh mengudara di atas pangkalan.
Kok bisa seperti ini sich. Baru juga ditinggal sejenak, sudah pada kalang kabut. Hatinya geram seketika. Ini mungkin gara-gara penyusup itu. Ini harus segera diatasi.
Demikian pula yang dipikirkan Jamilah. Selama latihan perang, tak pernah sekalipun dia kalah. Baru kali ini, saat dirinya tak ikut. Pasukannya bisa kocar-kacir seperti ini. Tak banyak berfikir, Jamilah segera berlari.
"Komandan, aku mau terbang."
Ingin berkata, Tidak. Jamilah sudah berlari duluan. Kencang lagi ... Teriak pun tak terdengar. Hukuman suruh di barak. Bukannya melaksanakan, bahkan kabur, lari ke landasan. Tak lama dia sudah mengudara. Dasar Jamilah ....
"Gimana, Komandan."
__ADS_1
"Baiklah. Ayo ... Aku yang akan pimpin langsung."