
Suasana benar-benar sunyi. Akmal tidak bicara demikian pula dengan Jamilah. Ingin memulai pembicaraan tapi dari mana ... Semua masih berkutat dengan pikiran masing-masing. Satu yang sama bahwa mereka sama-sama memikirkan tentang keadaan Pussy. Sampai akhirnya Fariha keluar menemui mereka.
"Bagaimana keadaan Pussy?" Tanya mereka hampir bersamaan.
"Alhamdulillah, proyektilnya sudah dapat dikeluarkan. Sekarang dia sedang dibawa ke ruang perawatan. Kalian boleh menjenguknya."
Mereka mengikuti langkah Fariha menuju ke sebuah ruangan. Di sana mereka melihat Pussy sedang tidur dengan perban yang menutupi hampir setengah badannya. Dengan hati-hati Akmal mengambil Pussy.
"Terima kasih Pussy."
Pussy membuka matanya sebentar lalu tidur kembali.
"Bolehkah aku menggendongnya?"
"Jangan! Biarkan dia istirahat di pembaringan. Supaya lukanya cepat sembuh," Kata Fariha.
Tapi Jamilah tetap bersikeras untuk menggendong Pussy. Mau tak mau Akmal pun memberikannya dengan sangat hati-hati. Agar tidak terjadi pergerakan yang dapat membuat lukanya bertambah parah.
"Pus, makasih ya, telah nolong aku. Aku nggak bisa membalas kebaikanmu, Pus." Dia menempelkan kepala kucing itu di pipinya beberapa saat. Lalu berlahan-lahan dia kembalikan ke tempat tidur.
Lalu Jamilah duduk di samping tempat tidur Pussy. Membelai kepalanya lembut. Tanpa bisa berkata apa-apa. Hatinya benar-benar sedih, Hewan yang telah menyelamatkan dirinya terkapar tidak berdaya di atas pembaringan.
"Jamilah bajumu penuh bercak darah. Kita pulang dulu ya ... Biarkan pussy istirahat," ajak Akmal
Jamilah masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Dia masih terus membelai kepala pussy. Ada air mata yang menetes dari ujung matanya.
"Jamilah kamu menangis?"
"Kasihan dia, Jenderal."
"Insya Allah dia akan baik-baik saja. Tiga hari lagi kamu sudah bisa membawanya pulang ... Sekarang sudah hampir mendekati waktu shalat. Kamu nggak mungkin memakai baju itu kan," bujuk Fariha.
"Benar kata tante. Kita pulang yuk," ajak Akmal.
__ADS_1
Dengan berat hati Jamilah mengikuti saran mereka. Dia pun beranjak dari tempat duduknya. Tatapan matanya masih mengarah pada Pussy. Seakan-akan masih berat untuk meninggalkannya.
"Ayo!"
"Pus. Kamu yang kuat ya ... Segera sembuh. Aku tunggu kamu. Kita nanti bermain bersama." Jamilah membelai lembut kepala Pussy sebelum melangkah pergi mengikuti Akmal.
"Tante Fariha, Aku titip Pussy ya."
"Jangan khawatir. Dia kucing yang kuat."
Tak ada lagi alasan baginya untuk tetap berada di sana. Seperti yang telah nampak, semua baik-baik saja. Meskipun hatinya sangat sedih, dia pun melangkah pergi mengikuti Akmal yang lebih dulu keluar ruangan. Dia menunggu Jamilah di ruang resepsionis, dengan mengobrol ringan dengan pegawai di klinik tersebut.
"Maaf Jenderal."
"Emm ... Bisakah kamu tidak menyebutku Jenderal." Akmal merasa risih dengan sebutan Jamilah kepadanya saat ini. Semenjak dia sembuh dari gangguan memori dan kelumpuhan kakinya.
"Lalu harus panggil apa, Kak."
Ups ... Jamilah menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Malu sekali rasanya. Dia tak sadar telah menyebut Akmal dengan panggilan Kakak.
"Maafkan aku, Jenderal ... e ... Kak. Aku kepikiran Pussy."
"Tak apa. Kita sama. Sama-sama sedih melihat Pussy sedang sakit. Kita tengok lagi besok ya."
Jamilah hanya mengangguk. Tak sanggup dirinya mengatakan sesuatu lagi. Dia kembali diam dan membisu. Mengiringi langkah Akmal meninggalkan klinik itu. Pergi menuju ke tempat parkir. Semuanya masih sama. Sampai mereka masuk ke dalam mobil.
Setelah mereka memakai sabuk pengaman, Akmal menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir menuju jalanan kota. Sesekali dia melirik pada Jamilah yang duduk di sampingnya. Wajahnya tertunduk. Tidak sekalipun dia melihatnya.
"Janganlah kamu bersedih ... Aku Makin sedih kalau melihatmu begitu."
"Aku memang sedih Kakak. cuman yang kupikirkan bukan itu." Jamilah berhenti sejenak. Mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya berlahan. Mencoba menata hati agar tenang. Dia ingat dengan jelas pada saat terlempar dari pesawat oleh Tazkia, diselamatkan oleh orang yang kini ada di sampingnya. Ataupun kejadian selama dia amnesia.
"Lalu apa, Jamilah?" Akmal melihat sekilas Jamilah, namun tetap konsentrasi dalam menyetir kendaraan. Ada rasa penasaran yang menggelitik hatinya. Apalagi saat melihat Jamilah semakin tertunduk.
__ADS_1
"Kalau boleh Kakak tahu?"
"Aku kangen sama Papa Bundaku. Ingin segera pulang. Tapi aku tidak sanggup meninggalkan Pussy."
"Sebenarnya ada rencana Kakak Untuk mengantarmu pulang besok bersama Papa dan Mama. Kebetulan kita mau berlibur ke Indonesia juga.Tapi kalau kamu kepikiran tentang pussy, tak apa kalau ditunda. Nanti biar Kakak sampaikan kepada Mama Naura, rencananya diundur."
"Tak tahulah Kak. Rasanya berdosa sekali kalau aku meninggalkannya." Jamilah kembali tertunduk sedih. Akmal pun diam, tak mampu menjawab. Sehingga sepanjang perjalanan hanya kesedihan yang terlukis di wajah mereka. Kembali keadaan sunyi. Sampai tiba di rumah keluarga Akmal.
Sampai di sini Jamilah teringat kembali akan pertanyaannya yang timbul selama ini. Apalagi saat tahu bahwa Akmal tinggal bersama dengan tante Naura yang disebut sebagai mamanya dan juga Kak Aisye dan Kak Akram. Jangan-jangan ....
"Kak!" Belum juga Jamilah mengatakan maksudnya, Akmal sudah terlebih dahulu keluar dari mobil. Terpaksa dia simpan kembali pertanyaannya itu dalam dirinya. Dia pun keluar dari mobil, mengikuti langkah Akmal menuju ke dalam rumah dalam keadaan diam seribu bahasa.
Sampai di ruang keluarga, Akmal menghentikan langkahnya. Menatap dalam-dalam Jamilah yang akan menuju ke kamarnya.
"Ada apa Kak?" Jamilah juga menghentikan langkahnya. Dia merasa aneh dengan sikap Akmal kali ini. Seperti ada yang mau diungkapkannya. Tapi terlihat berat.
"Ah, tidak ada apa-apa. Aku mau ketemu sama bibi Umaimah dulu."
"Kukira ada apa Kak. Ya sudah, Jamilah mau ke kamar." Lalu Jamilah meneruskan langkahnya. Meninggalkan Akmal sendirian yang masih diam terpaku di ruang tamu.
Akmal memperhatikan langkah Jamilah sampai menghilang. Pikirannya kembali bingung.
Bagaimana ini ... Haruskah aku ungkapkan saat di rumahnya nanti. Di hadapan orang tuanya dan keluarganya. Apa itu tidak akan membuatnya syok. Ataukah kuungkapkan saat ini juga. Agar apabila ditolak, keluargaku tidak kecewa. Ataukah diterima yang akan membuat kita semua bahagia. Ah, Mengapa ini menjadi sulit?
Semoga 1 hari ini dapat aku gunakan dengan sebaik-baiknya. Dan dapat kuungkapkan apa yang menjadi inginku padanya.
Dia menuju ke dapur menemui bibi Umaimah, memintanya membawa semua barang yang masih ada di bagasi mobil. Untuk mengamankannya terlebih dahulu. Jangan sampai Jamilah tahu.
Setelah selesai semua, kini Akmal bisa bernafas lega. Semua barang telah aman untuk sementara. Menunggu kesiapan dirinya.
Menembak sasaran benda mati, dia sudah bisa, bahkan boleh dikatakan ahli, karena langsung mendapat bimbingan dari ahlinya yaitu Bastian. Tapi kalau mau nembak hati, belum-belum sudah bikin pusing kepala. Ah, tinggalkan dulu lah.. sudah mau magrib. Nanti dipikirkan lagi.
Baru akan melangkah, tiba-tiba Jamilah nongol di depannya.
__ADS_1
"Astaghfirullah al adzim, kamu Ayu. Bikin Kakak kaget saja."