
"Duduk dulu, Kak Bara. Aku ambilkan minum." Dia pun berlari kecil, menuju ke dalam rumah. Meninggalkan diriku sendiri, duduk di kursi santai, yang ada di beranda.
Sambil menunggu, tak ada salahnya bila diriku menikmati pemandangan sekitar. Meskipun rumah ini tergolong mungil, bergaya minimalis namun sangat asri dan eksotis. Apalagi di kelilingi pohon jambu, rambutan dan juga mangga.Rasanya nyaman sekali, bisa mengalihkan rasa yang membuat diri berdebar antara rasa was-was dan gugup akan bertemu Papanya Jamilah.
Puas dengan itu semua, Akmal kembali menyandarkan dirinya di kursi yang sempat dia tinggalkan sesaat lalu. Lapat-lapat terdengar bisikan dari dalam.
"Siapa lagi yang datang, Setyawati?
"Kak Akmal, Pa."
"Papa akan temui dia."
Dag Dig dug ... irama jantung kembali bertalu-talu. Rasa gugup sesaat telah sirna, kini kembali datang, seiring suara langkah kakinya yang terdengar menghentak-hentak lantai menuju ke tempatku berada. Bahkan semakin kuat membelenggu. Apalagi saat lelaki yang sebaya dengan Papa itu, terdengar semakin dekat.
Dan kini lelaki itu telah nampak di depannya, menatapnya dengan penuh selidik. Membuat kesadarannya lumpuh. Sehingga terlupa untuk mengucapkan salam, sebagaimana saat pertama kali berjumpa dengan seseorang.
"Kamu Akmal?" Sapanya dengan senyum penuh wibawa.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Papa." Akhirnya kata itu bisa terucapkan dengan lancar saat sapa yang meneduhkan keluar dari bibirnya, meski masih terdengar seperti menginterogasi.
Akmal menghampiri dan mencium tangannya dengan takdzim. Yang disambut dengan jabatan tangan yang kuat dan erat dari Hasan.
"Benar, Papa. Saya Akmal."
Dia terdiam. Seakan berfikir dengan apa yang baru saja didengarnya. Mencari kepastian kebenaran dari makna yang tersirat dalam kata yang Akmal ucapkan.
Akmal berlahan memberanikan diri mengangkat kepala dengan tetap mencoba bersikap tenang, meski tak bisa dipungkiri kalau jantungnya berdegup kencang. Bukan karena terpesona, melainkan karena rasa segan dan juga rasa takut yang berbaur menjadi satu. Akmal berlahan-lahan melepaskan tautan jarinya. Yang disambut Hasan dengan senyum yang semakin memudar.
Entah karena hatiku yang gelisah atau memang Papa Hasan yang sedang menampakkan wajah sangarnya sehingga membuatku ketakutan. Apalagi saat beliau duduk di kursi dengan menyilangkan tangan dan kaki. Makin tampak seram ...
Setengah ragu, diriku memberanikan diri untuk kembali ke tempat dudukku semula, di sampingnya. Dengan berjarak sebuah meja kecil antik.
"Papa?"ujarnya lirih.
Adakah yang salah dengan cara aku memanggilnya? Setahuku begitu cara memanggil calon mertua. Kan itu sebagai permohonan agar kita bisa bermanja sebagai putranya, kalau diterima. Kalau nggak ... Nasiiiib.
Tak ada raut kemarahan di air mukanya. Syukur ... Alhamdulillah ... Semoga ini bertanda diterimanya diriku memanggilnya Papa. Dan berharap untuk selanjutnya pula.
"Kapan datang?"
"Tadi malam, Pa."
Setiap kalimat yang akan keluar dari bibirnya, membuat diriku cemas. Lutut dan tangan ini pun ikut gemetaran. Seperti melihat malaikat Izrail atau melihat pocong di tengah kubur di malam hari, sewaktu bulan bersinar merah darah. Mengggeriiikaaan ....
Apalagi Papa Hasan tidak pernah merubah posisi duduknya dari sejak awal.. Kakinya disilangkan. Bersandar tenang pada kursi santai di sampingku. Dengan tatapan tajam, dia melihat diriku. Membuat jantungku berdetak melambat. Sepertinya diriku merasa kesulitan bernafas.
"Kenapa terlambat kalau bersungguh-sungguh."
"Maksud Papa. Adik Ayu sudah ada yang melamar?"
Tak ada jawaban ya atau tidak dari bibirnya. Hanya saja bahu dan alisnya sedikit terangkat. Pandangannya kini beralih pada tanaman di depannya. Jangan-jangan ... semoga tidak. Ingin bertanya, tapi aku belum siap mendengar jawabannya.
__ADS_1
"Maaf, Papa. Saya baru diijinkan pergi kemarin."
"Penting mana putriku atau pekerjaanmu?"
Deg ... Tak ku kira aku akan mendapat pertanyaaan seperti itu.
"Pekerjaan saya saat ini adalah hidup dan jiwa saya. Putri Papa adalah jiwa dan akhirat saya. Akmal sangat berharap demikian."
Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya setuju dan puas dengan jawabanku.
"Hm ... Papa nggak ngerti maksud kamu apa. Tapi tak apalah."
Jangankan Papa Hasan, aku yang mengucapkannya saja nggak mengerti. Karena kalimat itu keluar dengan ketidaksengajaan alias syukur menjawab.
Bila benar dan diterima, Allah lah sang Maha Pengantur. Kalau lah salah, pasti sudah ada jin, setan yang sudah mulai ikut campur. Astaghfirullah al adzim ... maafkan diriku Tuhan ....
Kakiku masih saja gemetaran. Mengingat Papa Hasan sepertinya belum akan menghentikan introgasinya.
"Yang kedua ...."
Nach kan! ... Begini ujian punya calon mertua polisi. Mesti menjadi pesakitan terlebih dahulu. Seperti seorang penjahat yang tertangkap basah melakukan tindak kriminal, dan akan dimejahijaukan.
Tegar ... Sabar ... Demi .... Ok!
Aku menyemangati diriku yang ketakutan setengah hidup. Raut wajahnya belum berupah. Artinya, introgasi ini masih berlanjut.
"Sudah hafal berapa juz?"
Ups ... Tak kusangka akan diberi pertanyaan itu juga.
"Juz 30 atau 30 juz?"
"30 juz. Do'akan selalu mutqim, Papa."
"Bagus," jawabnya singkat. Bertepatan dengan Jamilah keluar membawa nampan. Berisikan 2 cangkir minuman hangat. Dengan hati-hati, dia meletakkan satu persatu cangkir itu di hadapan kami.
"Silah ...."
Belum selesai berkata, Papa Hasan sudah memotong duluan. Dari tatapannya kalau Papa Hasan tak berkenan dia menyapa diriku.
"Setyawati. Tolong ambilkan Papa Al-Qur'an."
"Nggih, Papa."
Dia pun segera ke dalam. Tak lama kemudian telah kembali ke hadapan kami dengan sebuah Al-Qur'an yang cukup besar.
"Meniko, Papa." Dia menyerahkan kitab Al-Qur'an itu pada Papa Hasan dengan wajah menunduk. Tak ada keinginan melihatku atau sekedar melirik. Mungkin sama dengan apa yang kurasakan. Dia juga ketakutan.
Aku mendengar hembusan nafasnya yang keluar seperti badai. Mungkinkah dia kesal? ... Aku tak tahu pasti.
"Sudah, masuklah."
__ADS_1
Dengan langkah enggan, Dia pun masuk meninggalkan kami berdua, mengobrol dengan topik yang teramat berat.
Aku menunduk. Tak ada keberanian menatapnya, apalagi menyapanya. Apalagi ku lihat Papa Hasan tengah membuka Al-Qur'an, mencari ayat yang hendak dia ujikan kepadaku. Aku mencoba melirik. Kiranya surat apa yang akan beliau pilih. Tapi belum juga aku berhasil, Papa Hasan sudah terlebih dulu melotot menatapku.
"Sekarang lanjutkan ayat yang Papa baca!"
'Baik, Pa."
" اعوذ الله ... يا ا يهاالذين امنوا ..."
" أيما ... صد ق الله العظيم"
"Cukup."
Alhamdulillah ... Akhirnya bisa bernafas lega. Semoga tak ada lagi pertanyaan.
Untuk sesaat suasana sunyi. Diriku teringat kembali keinginanku saat awal datang.
"Papa, bolehkah saya mengajak adik Ayu keluar sebentar?"
Beliau tak segera menjawab. Bahkan kini menatapku tajam. Kesalahan apa lagi yang ku perbuat Tuhan. Oh my God ... jangan sampai Beliau mengusirku gara-gara permintaanku ini.
"Akmal kemarin lupa beli cincin. Mau ajak adik Ayu membelinya." Aku mencoba menjelaskannya meski dengan hati yang was-was.
"Setyawati, Papa tahu kamu di balik pintu. Panggil kakakmu dan keluarlah!"
Seper sekian detik, Jamilah sudah berdiri di depan kami dengan nampan masih di tangannya. Ya ampun ... ternyata dia menguping. Pasti dia tertawa melihatku yang ketakutan menghadapi Papa Hasan.
"Setyawati Papa," jawabnya cepat.
"Mana kakakmu?" ucapnya dengan tersenyum simpul.
"Eh ya, Pa ...." Dengan gugupnya, Dia balik lagi ke dalam.
Setelah sekian lama aku tegang, baru sekarang aku bisa bernafas dan tersenyum gembira. Menyaksikan kelucuan Jamilah kalau sedang menghadapi Papanya.
Tak lama, Dia sudah kembali dengan seorang wanita.
"Papa manggil Malika?" tanyanya dengan bingung.
"Temeni adikmu keluar."
"Malika, Pa?"
"Iya. Sudah sana!"
"Tapi Pa, yang bantu Bunda siapa?"
"Papa yang bantu Bundamu. Awasi itu mereka berdua ...."
"Ya ... Papa."
__ADS_1
"Abid bisa kamu ajak."
Ku lihat dia geleng-geleng kepala dan membuang nafasnya. Mungkin kesal!