Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Langkah selanjutnya


__ADS_3

Dia anak yang kuat. Hanya sesaat teriak, lalu diam. Tubuhnya bergetar hebat. Tampak air matanya menetes. Mungkinkah itu ungkapan rasa sakit yang kini dirasakan menyiksa, namun malu untuk mengungkapkannya. Apalagi di depan Hasan yang selalu mengajarkan anak laki-laki harus tegar.


Malu dong kalau menangis ... hiks ... hiks ....


Tak selamanya laki-laki bisa menahan tangis. Kalau merasakan suatu yang amat menyiksanya bolehlah dia menangis, namun tak boleh berlebihan.


"Nggak apa-apa menangis, Sayang." Hasan menepuk-nepuk punggung Abid lembut.


Huuwwwaaa ....


Suara tangisnya pun pecah, amat keras, sampai-sampai ketiganya melonjak kaget saat itu juga.


"Tante Dokter jahat!" Teriak Abid tak tertahankan.


"Sabar ya ... Biar sakitnya pergi," hibur Fariha kemudian. Tak berapa lama tangisnya pun mereda.


Tak berapa lama datanglah ambulans yang membawa seluruh peralatan kedokteran dari alat pendeteksi detak jantung, oksigen, dan beberapa monitor yang lain akan digunakan untuk memonitor perkembangan dari zat X10MZBY1 dan Y21MNS14 langsung di balik kulitnya.


Setelah dirasa cukup, Akmal meninggalkan Abid dalam pengawasan mereka bertiga. Hasan, farihah dan William. Dia sendiri pergi ke tempat Tazkia berada.


🌟


Sementara itu di ruang laboratorium, di lingkungan departemen pertahanan, dengan senyum sarkasnya Abbas mendekati almari kaca tempat zat Y21MNS14 disimpan. Ingin melaksanakan rencana yang sudah lama dia simpan.


Pintu yang pertama tak begitu sulit, menurutnya. Pengamanannya hanya menggunakan angka. Segera saja dia memencet angka-angka yang ada di depannya. Ternyata tak bisa terbuka.


"Perasaan sudah benar deh, angka-angkanya," gumamnya lirih dengan kening sedikit berkerut.


Sekali lagi Abbas menekan beberapa angka yang ada di depannya dengan komposisi yang berbeda. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya terbuka juga.


"Ah, ternyata sudah diganti." gumamnya lirih.


"Keberuntungan masih di pihakku, Akmal." Dia pun tersenyum puas.


Dia melanjutkan langkahnya ke pintu yang kedua. Lalu menempel jari-jarinya yang sudah dilapisi dengan sesuatu. Sebuah salinan sidik jari Akmal pada layar detektor. Seketika pintunya juga terbuka.


Untuk pintu selanjutnya, cara membukanya dengan memakai kode suara. Kalau ini dia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali ....


Abbas mengambil sebuah pistol laser sinar gamma agar bisa menembus dinding kaca yang amat tebal. Usaha ini ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Untuk menembus dinding kaca itu memerlukan waktu yang panjang. Sudah lebih dari setengah jam baru dua lapis dinding yang bisa ditembus. Kelihatannya tinggal satu lapis lagi. Penuh semangat dia pun menembakkan sinar laser itu.


"Akhirnya ...."Abbas pun bisa bernafas lega Setelah dia dapat memasuki almari kaca.

__ADS_1


Dia mengambil nafas panjang beberapa kali. Ada senyum sinis dan licik tergambar di wajahnya saat memandang benda yang selama ini diincarnya sudah ada di depan mata.


"Sudah saatnya kehancuranmu, Akmal. Takkan kubiarkan kamu merusak rencanaku lagi."


Baru juga tangan yang menjulur, akan mengambil botol berisikan zat Y21MNS14, tiba-tiba ada semacam tumbuhan menjalar yang mengikat tangannya.


"Shitt ... " Dia pun mengumpat kesal. Lalu menarik pelatuk pistol sinar gammanya. mengarahkan pada tumbuhan menjalar yang mengikat tangannya. Belum juga melaksanakan niatnya tumbuhan itu telah mengikat tangan dengan sangat erat bahkan kini mengikat pula tubuhnya. Sehingga tubuh itu dalam sekejap telah rapat dengan tumbuhan menjalar.


"Eeeee ... eaah" Dia mencoba melepaskan diri. Namun semakin dia berusaha semakin erat pula tumbuhan itu mengikatnya. Tumbuhan itu menariknya ke atas. tergantung di atas almari kaca itu.


Tak berapa lama Profesor pun datang, bersama Akmal dan juga beberapa anggota pasukan khusus.


"Abbas?"


Akmal mendekatinya diikuti oleh dua anggota pasukan khusus. Dia menyentuh tumbuhan itu dengan salah satu jentiknya, seketika daun dan akarnya melemas, j perlahan-lahan tumbuhan itu pun menyusut dan menarik diri ke asalnya.


Setelah Abbas terlepas dari belitan tumbuhan itu dia segera mendapatkan hadiah borgol dari salah satu anggota pasukan khusus.


"Sial," umpatnya.


Dia menatap Akmal dengan tajam dan marah.


"Aku tak mengira, Kamu terlibat."


Akmal pun menjawabnya dengan tenang, "Terima kasih atas peringatannya."


Sesaat Akmal memandang kepergian Abbas yang dikawal oleh dua anggota pasukan khusus. Dia baru tersadar ketika Profesor Amar menepuk bahunya.


"Ada apa Akmal."


"Ah, Prof."


"Jangan kau pikirkan. Masih banyak yang harus kita kerjakan."


"Maafkan aku Profesor. Aku terlambat datang. Hampir saja ...."


"Ini yang aku khawatirkan sejak kamu pergi. Teman dan lawan, aku tak tahu pasti. Bahkan beberapa teman kita, ada yang terkena juga."


"Apa termasuk Ahmad?"


"Iya. Dia terkena belum seminggu ini. Dia sangat kesakitan. Kemarin dia kabur karena tidak tahan. Katanya sakit sekali, kadang dia menangis seperti anak kecil."

__ADS_1


Akmal mengangguk-ngangguk teringat kembali dengan keadaan Abid saat z at X10MZBY1 bereaksi di dalam tubuhnya. Keduanya sama persis. Apakah ini juga yang terjadi pada Tazkia pada awal-awal dia terinfeksi X10MZBY1 hingga sikapnya berubah menurut William.


"Dia menemuiku di bandara. Sekarang dia di mana?"


"Untungnya dia balik lagi. Sekarang dia ada di rumahku."


"Alhamdulillah. Habis ini aku mau menemuinya. Bisa kan, Prof?"


"Tak hanya dia tapi ada yang lain."


"Benarkah?" Akmal kaget dengan apa yang baru saja dikatakan Profesor Amar. Tak terpikirkan olehnya bahwa zat itu telah banyak menginfeksi orang. Termasuk teman-temannya.


"Sepertinya ini sudah mulai mewabah."


"Astaghfirullahaladzim .... Ya Allah ampunilah aku yang tak bisa menghalangi penyebaran zat ini. Berilah jalan padaku untuk bisa menyembuhkan mereka semua."bisik kalbunya lirih.


"Aku pulang ke sini pun membawa satu pasien yang sama, Prof."


"Sudah bisa kamu atasi?"


"Aku sudah suntikan zat Y21MNS14 padanya. Sekarang masih tahap observasi. Saat ku tinggalkan keadaannya jauh lebih baik. Semoga beberapa jam ini aku bisa mendapatkan kabar baik dari rumah. Karena dia terinfeksi baru kemarin."


"Ya sudah kalau gitu kita lanjutkan ke itu ... yang ada di ruang observasi." Jari telunjuknya mengarah pada tubuh yang terbujur kaku di dalam ruangan yang berbentuk setengah lingkaran terbuat dari kaca.


"Ini teka-teki Kita sejak awal. Keterangan yang diberikan Abbas saat itu berbeda dengan keterangan yang baru saja aku peroleh dari salah seorang keluarganya."


"Hmmm ... Abbas ternyata bener-bener licik. Dia yang telah membocorkan data-data kita, khususnya data tentang dirimu pada musuh."


"Untungnya kita langsung mengetahui walaupun agak sedikit terlambat."


"Ya, Alhamdulillah."


Keduanya berjalan menuju ke ruang observasi Tazkia berada. Memeriksanya sebentar.


"Dia sudah terinfeksi satu tahun yang lalu. Aku ragu, Apakah bisa menyembuhkannya atau tidak."


"Kita coba saja."


"Berarti aku sudah bisa menggunakan zat Y21MNS14 ke Tazkia."


"Ya."

__ADS_1


Belum sempat Akmal melangkah, Taskia membuka mata.


"Di mana aku?"


__ADS_2