
"Kak sepertinya aku mengenal tempat ini?"
"Oh ya. Kalau kamu bisa mengingatnya, berarti perkembangan memorimu baik."
Alhamdulillah ....
"Berarti ... aku pernah ke sini ya, Kak."
Tak Ada Jawaban darinya. Yang kulihat hanya senyumannya. Lalu dia menunjuk pada sebuah foto yang ada di dinding ruang tengah. Seorang gadis kecil mungkin berumur sekitar 8 tahun memakai baju putih, berkerudung putih, duduk manis memainkan piano.
"Apakah itu aku Kak."
Dia mengangguk dan tersenyum sambil berkata, "Benar."
"Sepuluh tahun yang lalu."
"Oh."
Itu artinya sekarang umurku ... 18 tahun. Kecil banget ... Makanya Kak Akmal memanggilku adik kecil.
" Aku antar ke kamarmu."
Aku pasrah saja dengan apa yang dilakukan. Toh ini bukan rumahku. Jadi aku tak tahu harus kemana. Yang pasti aku percaya bahwa yang dilakukannya itu baik bagiku.
Setiap lorong yang ku lalui, seakan membisikkan sesuatu padaku. Aku tak tahu apa itu.Mungkin tentang masa lalu.. Kucoba menghubungkannya tapi tak mampu. Hingga aku sadar saat Kak Akmal memberikan sapu tangannya padaku. Untuk mengusap butir-butir peluh yang mulai muncul di dahi kepala ini.
"Jangan berpikir terlalu keras."
Aku pun menggelengkan kepala. Untuk melepas lelah dari kerja neutron-neutron yang bersembunyi di balik batok kepala ini.
Rumah ini cukup besar, indah, bagai istana. Banyak ruangan di dalamnya. Sayang penghuninya tak ada Membuat aura rumah ini tenang dan syahdu. Aku tak mau menyebutnya menyeramkan. Itu akan membuat bulu kudukku berdiri. Bukannya takut, tapi merinding .
"Mana Tante Fariha?"
"Mungkin sebentar lagi datang."
"Kalau Bibi Umaimah?"
"Ada di kamar belakang .... Kalau kamu perlu apa-apa bisa langsung ke sana. Dapur juga ada di belakang."
"Perpustakaan?"
"Ada. Kamu mau ke sana."
"Kalau boleh. Sambil menunggu tante Fariha datang."
"Ide bagus, ayo aku antar ke sana! Barang-barang ini biar nanti diantar sopir ke sini."
Belum juga kami melangkah keluar, tiba-tiba kudengar suara kuda meringkik. Ngkiiikk ...
__ADS_1
Spontan tanganku menggapai tangannya yang sedang mendorong kursi rodaku.
"Kak itu apa?"
Dia tertawa kecil.
"Si hitam, kudaku. Takut?"
"He ... Kukira apa."
Segera ku lepaskan tangannya. Dengan tertawa pula. Mentertawakan diriku yang tertangkap basah sedang ketakutan. Mau ditaruh mana mukaku. Apalagi di hadapan orang satu ini.
Kami keluar kamar. Menuju ke ruang tengah. Lalu menuju ke barat dari ruangan itu. Baru aku tahu kalau perpustakaan ada di sampingnya. Nach, itu dia piano yang ada dalam foto itu.
"Kamu masih ingat! Bagaimana cara memainkannya?"
"Aku tak tahu. Tapi mungkin bisa Aku coba."
Dia membuka tutup piano. Dan duduk di kursi kecil yang ada di depannya.
"Ayo!"
"Ok." Aku berjalan dengan kursi roda menghampirinya.
Dia menekan tuts-tuts piano itu. Membawakan sebuah lagu. Entah judulnya apa . Yang pasti sangat indah dan syahdu. Aku hanya bisa mengiringi berlahan-lahan. Dengan menekan ritme-ritme yang Ku anggap cocok.
"Ayu. Kamu bagus sekali. Tak kalah dengan orang yang sudah profesional."
"Sayang Kakak harus pergi. Besok kita main lagi."
"Ya , Aku tunggu ... Jaga Kesehatan, Kak."
"Kamu juga. Jangan sampai lupa waktu baca. Jangan sampai lelah. Jangan tidur teralu larut. Jangan ...."
Waduh ... Aturannya kok banyak banget. Jangan ini, jangan itu. Sampai-sampai aku tak ingat yang pertama itu apa. Inilah kalau ketemu Kakak yang perfect. Semuanya harus tampak sempurna.
"Kakak, Kapan pulangnya?"
"Malam ini Kakak ada piket. Lalu besok ada urusan yang harus kakak selesaikan. Tapi akan Kakak usahakan pagi-pagi ke sini."
"Ok. Aku tunggu, Kak."
"Ini ada HP yang bisa kamu gunakan. Di situ sudah ada nomorku, nomor Kak Akram, sama nomornya Aisye. Gunakan sebijak mungkin!"
"Makacih."
"Ya ... Aku pergi. Ingat!"
Apalagi sih ....
__ADS_1
"Iya ... ya, Kak."
Dia tersenyum dan meninggalkanku di perpustakaan itu. Aku melihat dia tidak langsung keluar rumah, melainkan menuju ke kamar yang ada di lantai 2. Oh ... Mungkin itu kamar pribadinya.
Tak berapa lama tampak dia menuruni tangga. Menuju ke ruang tamu. Kemudian aku dengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali. Dari balik jendela aku menyaksikan dua orang laki-laki menuju ke sebuah mobil yang terparkir di depan rumah. Mobil yang sama, yang telah mengantarku ke rumah ini.
Setelah dia pergi, baru ku rasakan sunyinya rumah ini. Untuk sementara aku coba memainkan beberapa lagu yang tertulis di buku yang ada di atas piano itu. Sampai aku benar-benar lelah. Selesai bermain dengan piano, inginnya tidur. Tapi mata ini sulit terpejam.
Lalu aku ambil sebuah novel berbahasa Inggris. Ceritanya menarik. ku baca berlahan. Dari bab 1, bab 2 ... hingga ... ZZZzzzzzz ....
🌟
Meninggalkan dia sendirian, tak tega. Apalagi aku dapat telpon dari Tante Fariha, kalau malam ini tak bisa datang ke rumah. Kasihan dia. Baiklah aku pulang. Ini sudah lewat waktu piket.
"Robby, Aku pulang."
"Tumben?"
"Ya, aku rindu rumah."
"Benarkah ... Ah, terserah Jendral saja." Tak biasanya tuanku ini pulang. Kok jadi Su'udhon begini. Terserah dia juga
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam."
Angin yang berhembus malam ini sangat dingin. Mungkinkah karena musim gugur yang akan berakhir. Tebalnya jaket yang ku pakai tidak mampu melindungi kulitku dari hembusannya. Apalagi kini sudah bercampur dengan embun. Semua itu tidak menghalangiku untuk menembus gelapnya malam. agar mencapai tujuan.
Jalanan amat lenggang. Tak ada suara deru mobil terdengar. Hanya irama binatang malam senantiasa menghias sepanjang perjalanan. Sejak keluar dari markas sampai dengan rumah.
"Tuan," sapa Satpam yang selalu siaga di pos depan, sebelum membukakan pintu gerbang.
"Aman?"
"Aman, Tuan."
"Ya sudah."
Mobil Akmal melanjutkan lajunya dengan berlahan hingga sampai di pelataran rumah.
Dia mematikan mesinnya. Berhenti sejenak sebelum keluar. Mengerakkan kepala dan bahunya terlebih dahulu.
Tak cukup dengan itu, begitu tubuh sudah tak terpenjara dalam kendaraan, ia lanjutkan dengan menggerakkan seluruh anggota badannya. Ke kiri dan ke kanan beberapa saat. Setelah dirasa cukup, dia melanjutkan jalannya menuju pintu rumah dengan kunci yang sudah dipegangnya.
"Assalamualaikum," ucap Akmal dengan suara lirih. Meski yakin kalau tak ada yang menjawab, tapi Akmal selalu mengucapkannya kalau masuk ke rumahnya. Tak ada manusia, bisa jadi mahluk lain yang akan menjawab dengan tanpa suara. (Kalau ada suaranya mungkin sudah lari terbirit-birit. Hehehe ....)
Dia tertegun saat mendapati ruang perpustakaan masih dalam keadaan terang benderang. Jangan-jangan ....
Benar dugaannya. Jamilah masih ada di sana. Dalam keadaan tertidur di atas kursi roda. Dengan sebuah buku ada di pangkuannya. Dia tersenyum kecil, mendekati Jamilah. Kamu kalau tidur lucu. Kalau begini terus bisa-bisa dosa mataku makin bertumpuk.
__ADS_1
Doakan besok lancar-lancar saja ketika aku berbicara dengan Papa dan Mama. Berat rasa hatiku tanpa restu dari orang yang pertama ku cinta.