Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Papa Tak Asyik, Deh!


__ADS_3

Mengapa dia berjalan dengan tergesa-gesa. Wajahnya sedikit tegang. Ada masalah apa?


"Akmal, Setyawati. Bagaimana keadaan kalian?"


" Baik, Pa."


"Alhamdulillah, aku khawatir kalian kenapa-napa?"


Ungkapan itu tak serta merta mengubah lukisan raut wajahnya yang dilipat muram menjadi bahagia. Sepertinya aku harus bersabar menanti dengan permasalahan yang kini masih enggan untuk diungkapkan. Padahal aku ingin bertanya, apakah penculik itu sudah tertangkap?


"Mobil yang ada lobang di kacanya, punya kamu"


"Benar, Pa."


"Tadi papa lihat lagi diderek."


Hah, Sontak kami terkejut.


"Papa kok nggak nyegah?" Ucap Jamilah panik.


"Lha, Papa malah yang nyuruh. Mobil itu yang bikin kota jadi macet total," ungkapnya terus terang.


Nah kan ... apa boleh dikata. Memang itu yang sebenarnya. Ternyata meskipun Papa Hasan seorang polisi, dia tak ada keinginan untuk membela putrinya kalau berbuat salah. Meskipun dia putri yang amat dia cintai.


Kira-kira, aku bisa bersaing dengan cintanya nggak ya ... Pasti tidak. Karena aku bukan papanya. Aku hanya orang lain yang datang, ingin bersama merasakan cinta kasih dari Yang Maha Kasih dan Sayang.


"Iiiiihhhh ... Papa. Bukan Kak Akmal yang menyetir tapi aku. Lagian itu juga untuk mengejar Penculik Abid. Kalau bukan karena adanya mobil gitu dan Kak Akmal yang mau nolongin kita, nggak mungkin Abid akan bisa kita bebaskan dari penculik itu ... Papa ini enggak berterima kasih, malah ambil mobilnya Kak Akmal. Gimana sih Papa?"gerutu Jamilah sambil memukul-mukul dada Papanya. Terlihat Dia amat kesal dengan tindakan Papanya. Gemeeesss .... Pakai banget.

__ADS_1


"Allah dikemanakan?"


"Dengan izin Allah tentunya," jawab Jamilah spontan.


Kok asyik ya ... Lihat Papa anak berdebat. Aku sungguh menikmatinya. Kusandarkan tubuh ini di dinding. Hitung-hitung untuk melemaskan urat-urat ... Neutron-neutron di kepala ini.


"Masalah mobil, itu urusan kamu. Kalau urusan Papa adalah siapa yang melanggar akan Papa tilang. Tak peduli kamu yang melanggar. Tapi Papa masih bersyukur, Tidak sampai ada kecelakaan. Kalau itu terjadi Papa tak bisa melindungimu."


" Oke, Pa. Makasih atas perlindungannya," ujarnya sambil memeluk tubuh Papa Hasan. "Berarti nanti yang ngambil mobil itu, Papa juga kan?"


Kalau begini terlihat sekali manjanya. Tak perduli dia sudah segedhe begini tetap saja bermanja. Bahkan dia tak peduli kalau aku disampingnya.


Sama orang tua! Tak masalah. Rosul saja kalau bertemu Fatimah Az-Zahra selalu memeluk dan mencium pucuk kepala putrinya.


"Tidak. Silahkan sidang dan ambil mobilnya sendiri."


"Berbuat harus mau bertanggung jawab," ungkapnya dengan tegas.


Dia langsung menunduk sambil memainkan bola matanya dan berbisik kesal, "Ah, Papa."


Kasihan juga dia.


"Biar Akmal saja yang ambil, Papa ... Tapi saya tidak tahu apa-apa soal ini. Akmal ajak adik Ayu, Boleh?"


Matanya langsung melotot menatapku.


"Modus!"

__ADS_1


Sepertinya ... Salah lagi deh.


"Maksudnya, mau menemani dik Ayu sidang." Hatiku masih dag dig dhuarrrr, kalau sedang bicara dengan Pak Polisi ini. Takut terkena tilang cinta.


"Ya ... kamu juga sidang. Karena ke sininya, kamu yang nyetir," jawabnya kesel. "Ingat hanya mendampingi kamu di kantor polisi, tak boleh bawa kemana-mana!"


"Akan saya ingat, Pa." Kurasa aku tak menemukan kata-kata lain lagi sebagai jawaban. Tuhan ... Kapan kami dihalalkan. Beban banget ini ....


"Pa, kita ke kantor polisi jalan kaki gitu? Nggak mungkin kan pakai mobil dinas Papa." tanya Jamilah.


Tak ada jawaban dari papa Hasan. Hanya tarikan nafas panjang terdengar. Entah apa yang dipikirkannya.


"Boleh juga ide kamu. Jalan kaki ... Cuma Papa Kasihan sama kalian. Pinjam mobil om Aris saja. Cepatan balik, om Aris juga mau kembali ke kantornya lagi." Setengah senyum setengah tertawa Papa Hasan menanggapi kemanjaan Jamilah.


"Putriku tercinta. Papa itu teramat malu kamu berjalan berdua bersama orang yang bukan siapa-siapamu. Kamu itu teramat berharga buat Papa. Tapi saat ini Papa tak bisa menemanimu." Bisikan lirih ini senantiasa membayangi angannya saat melihat putrinya bersama Akmal.


Ya Allah yang maha pemelihara. Aku bersungguh-sungguh memohon padamu, Agar dia tak melewati batas-batas yang Engkau tentukan. Aamiin...


Jamilah segera ke dalam menemui Om Arisnya. Meninggalkan kami berdua.


Papa Hasan tampak gelisah menghampiriku.


"Akmal, dia putriku. Aku tak bisa memaafkan diriku bila terjadi apa-apa sama dia."


"Akmal mengerti, Pa."


Untuk sesaat beliau diam, lalu berkata, "Oh ya ... Kejadian ini seperti pola penculikan yang akhir-akhir ini Papa tangani. Penculik selalu bebas, dan Papa selalu dapat teguran dari atasan."

__ADS_1


__ADS_2