Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Rest Area


__ADS_3

"Aku juga kepikiran itu."


Sekarang keadaan benar-benar sunyi. Setelah sekian lama waktu berjalan, tak ada lagi kata yang terucapkan dari bibirnya. Aku melirik pada seseorang yang kini duduk di sampingku, dengan berjarak putra kami. Kulihat matanya sudah terpejam. Jari tangannya pun sudah berhenti bergerak. Aku pun tersenyum. Rupanya dia sudah mendahuluiku pergi ke alam mimpi. Kenapa tak ajak-ajak. Aku pun turut memejamkan mata. Kini aku pun tak kuasa lagi untuk menyusulnya juga.


Ku rasa mataku baru saja terpejam. Ketika ada suara pintu mobil terbuka. Getarannya membuat diriku terjaga. Sekilas aku melihat bangku depan.Tak ada lagi Aris di belakang kemudi. Namun samar kulihat sesosok tubuh berjalan meninggalkan mobil ini. Aku lihat jam yang melingkar di tangan ini. Jarum jam baru menunjukkan pukul 3 dini hari. Pantas saja udara dingin terasa menusuk kulit. Aku pun berniat menyusul.


Baru saja jemariku menyentuh ganggan pintu, istriku menggeliat dan membuka mata.


"Papa, kita dimana?"


"Di rest area. Kalau Bunda capek istirahatlah dulu. Aku mau ke masjid."


"Tidak, Pa. Aku ikut."


Zulfa segera beranjak, merapikan jilbab dan bajunya. Sebelum mengangkat putra kami yang masih tertidur pulas.


"Tolong Abid, Pa."


Aku pun segera menuju sisi lain. Menunggu di samping pintu, tempat dia akan keluar. Zulfa mengangkat tubuh itu kemudian menyerahkan padaku yang telah berdiri di samping pintu. Meskipun dia berpindah tangan, namun tak ada sedikit pun merasa terganggu. Bahkan ketika tubuhnya ku letakkan di belakang punggung, dia masih tetap terlelap. Sedangkan Zulfa menyiapkan tas kecil, berisikan mukena dan yang lainnya.


Setelah menutup rapat pintu mobil, kami berjalan beriringan menuju bangunan megah yang tak jauh kami berada. Sesekali kami bergantian menguap, sambil tetap melanjutkan perjalanan ke masjid yang ada di tengah rest area. Tak Hanya kami berdua yang punya keinginan itu, hampir seluruh orang yang berhenti di sana menuju ke tempat yang sama. Meski tak semua memiliki maksud yang sama. Terlihat orang yang memenuhi setiap pojok masjid. Baik yang melakukan shalat malam atau hanya sekedar mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Tiba di serambi masjid, kami pun memisahkan diri. Aku menuju tempat Ihwan. Sedangkan Zulfa menuju tempat akhwat. Biarlah kali ini Abid bersamaku dulu. Dia bisa menunggu sambil melanjutkan tidurnya.


Namun baru beberapa langkah, dia membuka mata. Langsung meminta turun dari gendonganku. Dengan langkah gontai dan setengah sadar, dia menghampiri bundanya. Zulfa nampak tersenyum, menangkap tangan mungilnya. Lalu mengajaknya ke tempat Ahwat.


Kini aku kembali sendiri. Segera menuju tempat bersuci. Agar siap secara lahir batin untuk menghadap padaNya. Karena banyak yang ingin ku ungkapkan saat ini.


Entahlah, bayangan Jamilah tak bisa lepas dari pelupuk mata. Mungkahkah karena rindu, lama tak jumpa. Ataukah karena lelahku yang tak mau bersahabat dengan masalah ini. Ah sudahlah ... PadaNya hendak ku adukan. Agar diriku tenang menghadapi kemungkinan yang ada.


Waktu seakan cepat berlalu. Belum puas diriku menikmati kesendirian, sudah terdengar suara tarhim dari atas menara. Aku menyempatkan diri keluar. Menikmati Fajar yang akan muncul di ufuk timur. Tak sangka si kecil dan Bunda mengikutiku.


"Papa, kok lama sich. Kapan sampainya."kata putra kecilku dengan mata masih terpejap-pejap.


"Tak lama lagi. Habis sholat kita melanjutkan perjalanan."


"Sholat lagi, Pa?"


Dia tampak kecewa. Wajahnya tampak memelas. Bunda Zulfa hanya senyum-senyum di sampingnya.


"Sini!"


Dia segera mendekat, duduk manis di pangkuanku. Sekali-kali mengusap wajahnya. Menunggu dengan sabar jawaban yang dia minta. Sayangnya saat ini, aku senang malas. Biarlah setelah azan berbunyi, akan kujawab pertanyaan itu. Agar bertambah jelas dan mudah dimengerti.


"Papa, lagi mikirin apa?"

__ADS_1


Aku meliriknya sekilas. Wanita yang kini sudah duduk manis di sampingku.


"Entahlah, Bun. Aku kepikiran Jamilah."


Sebaiknya aku ceritakan apa yang terjadi dengan Jamilah. Siapa tahu, dia punya sesuatu yang bisa mengurai keruwetan pikiran ini.


"Bun, masih ingat keluarga Ulya."


"Hm ... Tuan Ulya yang rumahnya di ...."


"Ya, Jamilah ada bersama mereka."


Dia sepertinya terkejut. Namun tak menunjukkan reaksi berlebihan, sangat tenang. Hingga aku tak bisa merasakan apakah dia sedih, marah, bingung atau bagaimana. Tapi itulah yang membuatnya tampak istimewa. Ya ... Ketenangannya itu yang membuat semuanya tampak samar. Sampai dia berkata,


"Syukurlah. Bunda tak khawatir kalau dia ada di sana. Tapi ... Kok bisa?"


"Di sana, dia sakit. Dirawat mereka."


"Gimana keadaannya sekarang?"


"Sudah baik."


"Alhamdulillah ... Lalu apa yang Papa pikiran?"


"Maksud Papa?"


"Mereka akan melamar Jamilah untuk Akmal."


Dia tercengang, sesaat hanya diam, tak berkata apa-apa. Lalu ....


"Jadi ini maksud Papa tadi malam. Akmalkah orangnya?"


"Ya ..."


"Bunda tak bisa menolak, mengingat mereka sudah sedemikian baik pada kita. Tapi semua tergantung Jamilah."


"Aku juga berpikiran seperti itu. Cuma kok bersamaan dengan kepulangan Jamilah."


"Sudahlah, Pa. Yang penting Jamilah pulang. Masalah itu nanti saja kita bicarakan."


Ya ... Sepertinya lebih baik begitu. Semua akan menjadi lebih jelas kalau aku sudah bertemu putriku. Dia yang akan menjalankan.


Tak berapa lama suara adzan subuh dikumandangkan. Aku bangkit, mengandeng putraku untuk kembali ke dalam. Mengajaknya sholat berjamaah. Sedangkan Zulfa berjalan sendirian menuju kembali ke tempatnya.


Begitu turun dari tempat Sholah, ku lihat Abid mengelus perutnya.

__ADS_1


"Pa, aku lapal .... "


"Oke, kita sarapan."


Aku rasa tidak Abid yang lapar, Kami juga. Untung bunda selalu bawa bekal makanan atau camilan kalau sedang bepergian. Namun demikian masih saja kurang. Untuk kali ini, biarlah kita sarapan di restoran. Bekalnya untuk nanti saja. Perjalanan masih panjang.


Setelah kenyang, dia tampak kembali bersemangat. Dia menuju ke mobil dengan berlari meninggalkan kami.


"Ayo Om. Kita jemput Kak Ayu." ujarnya, dan langsung duduk di depan.


"Oke." kata Aris dengan tawa. Duduk manis di belakang kemudi. Siap menjalankan mobilnya. Dia pun menghidupkan mesinnya. Berlahan, mobil berjalan meninggalkan rest area.


Hampir tengah hari kami tiba di bandara. Dan tak berapa lama aku dengar pesawat yang ditumpangi Jamilah juga tiba. Sehingga tak perlu menunggu lama.


Dari jauh kulihat rombongan tuan Ulya. Dia membawa keluarga besarnya. Itu pasti Aisye dan juga Akram. Dan beberapa orang yang tak ku kenal. Tapi dimanakah Akmal, mengapa tak ada di antara mereka?


Aku melihat putriku. Dia berjalan paling belakang, sambil mengangkat handphone-nya. Rupanya dia sedang menghubungiku.


"Papa ...."


"Papa melihatmu."


Dia menengok ke arahku. Dan segera menutup teleponnya. Tanpa memperdulikan sekitarnya, Dia pun berlari menghampiriku, meninggalkan Tuan yang datang dengan rombongan besarnya. Sesaat dia diam di hadapanku. Tampak tetesan air mata keluar dari bening matanya. Aku pun tak tega. Lalu Aku pun memeluknya.


Untuk beberapa lama, kubiarkan dia menangis dalam pelukanku. Agar hatinya sedikit tenang.


"Papa, maafkan Setyawati. Selama ini nggak bisa kasih kabar Papa."


"Sudah tak apa-apa. Yang penting kamu selamat dan kita bisa kembali berkumpul."


Dia pun kini sudah agak tenang dan melepaskan dirinya dari pelukanku


"Papa masih marah?"


"Sedikit. Mana Akmal? Aku tak lihat dia."


"Kak Akmal akan menyusul. Tiba-tiba saja dia harus kembali ke markasnya."


"Maksudmu?"


"Ya, Pa. Kak Akmal juga tentara."


"Hm ...."


Aku baru tahu kalau Akmal berprofesi sama dengan putriku.

__ADS_1


__ADS_2