Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Dari Hidup Atau ...


__ADS_3

Aku tersenyum. Aku tak ingin berlama-lama menyiksanya, dengan rasa cemburu yang tak jelas. Rasa cemburu dari seseorang yang tersentuh rasa. Meski dia terus meyakinkanku bahwa hanya sebagai kakak, tetap saja aku tak percaya begitu saja. Mimik, cara bicara, sorot mata dan gerak tubuhnya tak bisa menutupi semua itu.


"Aku tak mengenalnya Mengapa aku harus jatuh cinta?" Ku katakan itu agar bisa menumbuhkan harapan padanya, meski aku tak tahu ujungnya dimana. Alasannya karena diriku pun tak yakin kalau dia akan bisa berjumpa lagi dengan Tazkia. Tahu sendiri kan ... Sekarang keadaan Tazkia bagaimana. Terbujur kaku di meja observasi-ku.


William diam beberapa saat. Membuatku tak enak hati dan bertanya-tanya, Apakah jawabanku telah menyakitinya?


"Kamu menginginkan aku jatuh cinta padanya?"


Ah, mengapa aku harus mengatakannya. Ini sama saja balik lagi ke awal.


"Itulah yang dia inginkan ... Seandainya kamu juga menerima cintanya ... aku bisa apa. Setidaknya aku bisa melihatnya bahagia," jawabnya sendu.


Mengapa jadi menyedihkan begini. Apa ini yang dikatakan orang 'Cinta Tak Harus Memiliki'. Aku sih lebih beranggapan, itulah yang dinamakan 'Belum Ikhlas Menempuh Terwujudnya Sebuah Cinta'. Hehehe ... Sok pujangga. 🤭


"Aku tak mungkin menyakiti saudaraku." Semoga ini bisa menjadi jawaban terakhir, bahwa aku memang tak memiliki rasa khusus pada Tazkia. Agar tak ada lagi prasangka di antara kita.


Aku tak ingin mengusiknya lagi. Wajahnya sudah sedemikian kelabu. Rasanya Aku takkan tega, membuatnya semakin gelap, suram tak berwarna.


Sekilas terlihat seberkas sinar kedamaian menyapu wajahnya yang sendu.


"Akmal, kira-kira Dia di mana? Papa Mama sampai sakit-sakitan memikirkannya."

__ADS_1


"Papa dan Mamamu saja, kah?"


"Apalagi diriku."


Akhirnya dia jujur juga. Apakah aku perlu memberitahu keadaan Tazkia yang sebenarnya?


Tapi itu tak mungkin. Urusannya bisa berabe. Ini bab khusus, masih rahasia. Tak boleh dibuka ke sembarang orang. Bisa-bisa aku mendapat teguran atasan.


"Nanti aku bantu mencarinya."


"Tidak Akmal. Biarlah aku cari sendiri. Terakhir kamu bertemu di mana. Mungkin dari titik itu aku bisa jadikan petunjuk awal untuk menemukannya."


"Syukurlah kalau begitu ... Untuk saat ini aku tak bisa membantumu. Aku masih ada urusan di sini. Semoga nanti kalau urusanku selesai, insyaallah aku bisa membantumu."


"Sebenarnya ... Aku pun sedih seperti kamu. Adik dari seseorang yang ku sayangi, diculik."


"Benarkah?" Tanyanya tak percaya.


"Meski bisa menyelamatkannya, tapi tak bisa mencegah zat itu masuk ke dalam tubuhnya. Dia mengalami hal yang sama seperti Tazkia."


"Berarti ...."

__ADS_1


Jika benar apa yang disampaikan oleh William, berarti Tazkia menerima zat itu dalam keadaan hidup seperti Abid saat ini.


"Kamu bisa mengartikan sendiri. Tazkia terinfeksi setahun yang lalu. Sekarang mereka masih menggunakan zat itu untuk menginfeksi manusia-manusia yang tak berdosa lainnya. Tentu sudah banyak sekali jatuh korban."


"Aku tak tahu kalau zat itu sudah menyebar. Siapa yang melakukannya, aku juga tak tahu." Akmal menunduk, tak mampu menahan kesedihannya.


"Siapa yang tega melakukan ini." Wajah William menjadi tegang dan datar.


"Hanya saja, percuma kamu marah, kalau kamu tak bisa menyembuhkannya."


"Maksudmu?"


"Aku bertemu dengan Tazkia keadaannya lebih parah dari apa yang kamu ceritakan."


William diam menundukkan kepalanya.


"Seandainya kita bisa bekerja sama seperti dulu. Mungkin bisa menolong Tazkia dan adikmu juga. Mungkin korban-korban yang lain."


"Ya."


Aku berharap hipotesa yang aku sampaikan kepada profesor Amar salah. Tazkia tak berhak diperlakukan sebagai mayat karena awalnya dia hidup belum meninggal. Hanya saja bagaimana zat itu mampu menyerap daya hidupnya hingga hidup seperti mayat berjalan namun punya perasaan.

__ADS_1


Jangan-jangan ... Abid akan bernasib sama dengan Tazkia. Lalu Akmal menoleh pada William, menatapnya dengan wajah pura-pura sendu.


__ADS_2