
Abbas tak menjawab. Dia hanya geleng-geleng kepala. Terdengar angin berhembus yang amat keras dan kencang dari bibirnya dan juga indra penciumannya secara bergantian. Seolah-olah ada beban yang amat berat kini menghimpitnya, membuat dadanya terasa sesak yang harus segera dilepas.
Akmal balik badan menatap Abbas dengan otak yang dipenuhi berbagai pertanyaan, ada apa ....
Sampai-sampai dia mengurungkan niatnya semula, mengambil zat Y21MNS14 dalam almari. Padahal saat ini dirinya sudah siap membukanya.
" Ada apa dengan dia?" Akmal serius menatap Abbas yang masih menundukkan kepalanya, seakan tengah berpikir keras.
"Aku pernah memergokinya di ruangan ini. Hampir saja dia akan membawa Tazkia pergi, kalau saja aku tak datang tepat waktu."
Seketika Akmal pun terhenyak. Dahinya berkerut alisnya terangkat.
Ini bukan sesuatu yang main-main jika sampai dia bertidak seperti itu. Tak takutkah dia bila dicopot dari Angkatan bahkan dengan tidak hormat. Karena sudah berani memasuki yang bukan wilayahnya. Dengan memasuki ruang observasi, mengacak-acak isinya, apalagi ada keinginan untuk menculik Taskia.
"Sudah kamu tanyakan masalah ini sama prof. Amar."
"Katanya malah disuruh profesor. Entah benar atau salah, saat aku konfirmasi ke Prof, tak ada tanggapan bahkan dia marah."
Akmal mengangguk-nganggukkan kepalanya. Ada rasa sedih gelisah menghinggapi dirinya saat ini. Ya ... Dia masih sanksi dengan apa yang baru saja dikatakan Abbas. Apakah benar Ahmad telah bertindak sejauh itu.
Tak mungkin Amar berkhianat. Bukan satu dua tahun Dia mengenal Profesor. Mengadakan penelitian bersama memecahkan persoalan bersama dan bahkan mereka sudah pernah menciptakan senjata bersama yang saat ini masih tahap uji coba.
Selama itu keadaan baik-baik saja. Profesor Amar pun tidak pernah melakukan tindakan yang mencurigakan.
"Semoga dugaan kita salah."
Abbas hanya tersenyum melihat Akmal sebentar lalu kembali lagi ke catatan-catatat yang sesaat lalu dia tinggalkan.
Akmal tak mau berfikir terlalu jauh. Yang terpenting saat ini, Tazkia masih di sini. Bisa melanjutkan observasinya dan kalau bisa mengembalikan keadaannya seperti sedia kala seperti sebelum terinfeksi X10MZBY1.
Saat ini dirinya harus bisa bergerak cepat. Menyembuhkan mereka berdua. Sebelum mengatasi perusuh-perusuh (dalam tanda kutip) datang dan bertindak lebih jauh.
Sayangnya sampai saat ini dirinya tak tahu, musuhnya yang mana. Penculik Abid jelas orang-orang yang tak bisa dianggap remeh. Terlihat dari senjata yang mereka gunakan, dokter-dokter yang mereka rekrut, dan kendaraan yang mereka gunakan. Jelas mereka itu bukan orang sembarangan. Mungkinkah mereka adalah bagian mafia yang menginginkan serum itu karena suruhan seseorang, ataukah mereka adalah tentara yang menginginkan penemuannya untuk senjata biologis mereka.
__ADS_1
Tapi dari mana asal mereka? Indonesia kah atau Turki kah? atau bukan kedua-duanya. Dimanakah mereka berpusat?
Yang jelas yang ditemuinya sekarang pasti hanya kaki tangannya saja? Lalu siapakah mereka sebenarnya?
Mereka hebat, bisa bergerak dengan leluasa, ke sana ke mari dengan aman tanpa halangan. Bahkan melewati batas negara. Papa Hasan yang sejatinya adalah penegak hukum pun seakan dibuatnya lumpuh. Benar-benar organisasi yang rapi.
Lalu apa hubungannya dengan orang-orang di sini ....
Bastian, belum buka suara. Sekarang Ahmad, lalu Prof. Amar mengapa terseret juga. Entah siapa lagi, haruskah dirinya mencurigai Abbas juga. Karena setiap waktu selalu bersamanya.
Astaghfirullah ... Su'udhon atau waspada ... Tak tahulah. Sekarang kok menjadi rumit, tak bisa menentukan mana kawan mana lawan.
Dia pun cepat mengambil beberapa cc cairan Y21MNS14 dengan pipet dan juga jarum suntik kecil. Memasukkannya ke termos es kecil agar terjaga sampai dengan saat digunakan. Lalu segera menutup kembali pintu Almari yang berlapis dengan terlebih dahulu mengganti kodenya tanpa diketahui Abbas. Hanya sekedar untuk berjaga-jaga.
Cukup X10MZBY1 yang bisa mereka dimanfaatkan. Jangan sampai Y21MNS14 juga jatuh ke tangan mereka juga. Meskipun dalam dugaan awal zat ini bermanfaat, tapi bisa jadi akan menjadi sesuatu yang merusak bila jatuh pada tangan yang salah.
Selesai mengambil zat serum itu, Akmal pun berpamitan.
"Abbas, aku tinggal dulu, nanti aku balik lagi,"
"Insyaallah sekitar jam 8."
" Oh aku tunggu."
"Aku titip Tazkia dulu."
"Hmmmm ..." Abbas menyahutinya tanpa menoleh. Dia terlihat sibuk dengan catatan-catatan yang ada di depannya. Ada senyum sarkas tersembunyi di sudut bibirnya tanpa diketahui oleh Akmal yang berjalan ke arah pintu keluar.
Akmal kembali menyusuri koridor ruangan tersebut yang terhubung dengan ruang lain dalam kompleks dept. Pertahankan tempatnya bekerja.
Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 03.00, saat AkmaI tiba di pelataran bagian depan gedung itu. Suasana masih sunyi, sepi dan gelap. Suara hewan malam masih mengalunkan orkestra nyanyian yang syahdu membuat setiap insan enggan beranjak dari tempat ternyamannya dalam mengarungi mimpi indahnya.
Dengan langkah tenang dia menuju ke mobilnya yang masih terparkir di ujung jalan kompleks tersebut.
__ADS_1
Tampak Robby tertidur dengan kepala di atas kemudi. Sedangkan Papa Hasan dan William juga masih terlelap. Biarkanlah ... Dia pun membuka pintu mobil pelan-pelan seperti saat dia meninggalkan mobilnya sesaat yang lalu.
Setelah meletakkan termos es itu dengan aman, tangan Akmal pun menepuk lembut bahu Robby. Yang cukup membuatnya gelagapan. Matanya terpejap-pejap sesaat. Berlahan-lahan kesadaran dirinya kembali secara sempurna.
"Ah, maaf. Kamu sudah kembali tho?"
Akmal mengangguk pelan, disertai dengan senyuman tipis. Lalu dia mengikatkan sabuk pengaman pada tubuhnya.
"Kita langsung pulang saja, yuk"
"Sudah nggak mampir-mampir lagi, kan?" jawabnya sambil melirik ke arah AkmaI
"Ya. Aku juga sudah capek. Ingin istirahat juga."
"Oke." Robby menggangguk pelan. Lalu dia segera menghidupkan mesin mobilnya. Berlahan-lahan membawanya meninggalkan tempat itu yang masih tampak sunyi.
Tiba di rumah hari sudah menjelang subuh. Mungkin setengah jam lagi. Ada waktu sejenak untuk menunaikan apa yang biasa dilakukannya ... Sholat tahajjud, insyaallah masih cukup meski tak harus delapan rekaat.
Begitu mobil berhenti, Robby segera menyalakan lampu yang ada di dalam mobil membuat Hasan dan William agak gelagapan. Karena sinar silau yang mengenai matanya.
Setengah sadar Hasan bertanya,"Apakah kita sudah sampai?"
"Injjih, Pa." Akmal mencoba menggunakan kembali bahasa yang pernah diajarkan Mama Naura.
Dia pun turun dari mobil terlebih dahulu. Lalu membantu membuka pintu mobil Hasan.
"Biar Akmal gendong Abid, Pa."
Hasan membiarkan Akmal meraih tubuh Abid yang masih pulas tertidur nyenyak di pangkuannya.
"Makasih, Akmal."
"Sudah kewajiban saya, Pa."
__ADS_1
Mendengar kata-kata itu, William pun tersenyum. Dasar Akmal, ada saja tingkahnya untuk cari perhatian pada calon mertua. Tapi biarlah, namanya juga usaha ... lirih dia berkhusnudhon. Hehehe ....