
Akmal masih berada di kamar Jamilah. Sendirian ,tanpa ada yang menemani.
Robby yang biasanya selalu mengawalnya, sudah diijinkan pulang, sejak Mamanya datang.
Pada saat dia memandang Jamilah.Terlihat butiran peluh di dahinya. Akmal mengambil selembar tissu. Lalu mengusap lembut. Sambil berbisik lirih dalam hati.
Apa yang engkau pikirkan? Apa yang engkau impikan? Sehingga aku melihat tidurmu sangat gelisah dan lelah. Tak sangka kita selalu berjumpa, pada saat dirimu dalam keadaan lemah. Dan ... Aku selalu tak berdaya melihatmu menderita.
Setelah memastikan Jamilah tenang, dia meninggalkan ruangan itu. Ingin melaksanakan shalat malam, sekaligus bermunajat meminta pada yang Kuasa. Termasuk mengulang kembali segala keresahannya. Dalam doa harapan. Bahkan tentang hatinya yang mulai resah, terusik dengan mahluk yang kini ada di atas pembaringan.
Ada rasa khawatir pada diri Akmal dengan keadaan Jamilah saat ini. Sehingga membuat hatinya tak tenang. Dia pun segera kembali begitu selesai sholat .
Saat memasuki ruangan, Jamilah mengigau. Dia menghampirinya.
"Bunda ... Papa ... Eeeghrr ..."
"Jamilah ... Ada apa?" Dia menepuk pelan agar tersadar dan tenang.
"Jamilah ...." Sekali lagi dia memanggil namanya.
"Kak Akmal."
"Kamu mimpi apa?"
"Nggak apa-apa."
"Kamu kangen sama Papa Bundamu?"
Jamilah diam tak mengerti. Seolah dia ingin mengingat kembali dengan bayangan yang ada dalam mimpinya. Mengapa yang dipanggilnya Papa Bunda bukan orang yang sama dengan Papa Mama yang datang tadi.
"Kak. Boleh aku tanya?"
"Ya. Tanya apa?"
Dia diam memikirkan mimpi yang baru saja yang dialaminya. Tentang wajah orang yang datang dalam mimpinya. Dan peristiwa yang menimpanya . Sehingga dirinya sampai berbaring di sini. Wajahnya terlihat gelisah.. Tapi ... lagi-lagi kepalanya terasa pening. Dia pun mengurungkan niatnya.
"Nggak jadi, Kak. Kepalaku pening."
Akmal yang sudah menunggu lama pertanyaan dari Jamilah, dibuat tersenyum. Ditunggu-tunggu, malah batal.
"Sudah, tidurlah. Biar cepat sehat."
"Kakak tetap di sini, kan?"
"Ya. Tapi Kakak juga harus istirahat. Besok Kakak harus balik ke markas. Kakak akan tidur di sofa itu. Oke!"
"Makasih, Kak."
__ADS_1
Tak berapa lama, kembali mata Jamilah terkatup rapat. Demikian juga dengan Akmal. Dia menyusul ke alam mimpi tak lama kemudian.
Mereka baru terbangun manakala adzan subuh terdengar. Bersamaan dengan seorang perawat datang. Dia membantu melepaskan beberapa selang dari tubuhnya. Termasuk selang oksigen di hidungnya.
"Terima kasih, Mbak."
Kini dia lebih leluasa untuk berwudhu. Meski masih harus dibantu seorang perawat. Itu lebih baik dari pada tayamum. Wajah tak tersentuh air sama sekali, entah bagaimana rupanya. Apalagi saat bangun tidur. Dirasakan saja tak nyaman, kalau berkaca lebih-lebih. Pasti kusam, penuh noda alami. Hehehe ...
Wajah terasa segar dengan basuhan air bening dan hangat yang dibawakan oleh perawat. Sehingga dirinya bisa melaksanakan sholat subuh lebih baik dan tenang di atas ranjang. Meskipun belum sempurna. Sementara itu Akmal melakukan sholat jamaah di masjid.
Selesai sholat, dia ingin rasa menghirup udara subuh yang masih murni belum ada polusi di luar kamar. Berlahan-lahan dia gerakkan kakinya. Namun tak bisa digerakkan, bahkan tak ada rasa. Dia tetap berusaha. Tapi belum juga kakinya mampu berpindah.
Ada apa dengan kaki ini? Apakah kakiku lumpuh?Tidak ....
Jamilah tak berhenti berusaha. Akhirnya dia bisa memutar tubuhnya. Dan membuat kakinya sudah menjuntai di sisi ranjang. Meski dengan keringat sedikit bercucuran. Mungkin ini karena tubuhnya lama tak digerakkan. Sehingga menjadi kaku, pikirnya.
Tidak hanya sampai di situ. Jamilah terus menggerakkan tubuhnya terutama kakinya. Mungkin kalau bisa memijakkkan kakinya di lantai, nanti akan respon?...
Pelan-pelan Jamilah mulai menurunkan posisi kakinya. Pelan-pelan mendorong tubuhnya turun.
Bismillah ...
Bruughk ... Innalilahi wa innailaihi rojiun ....
Ya Allah ... Kakiku ... Jamilah jatuh terduduk di atas lantai yang ada di samping ranjangnya.
Akmal begitu terkejut dengan keadaan Jamilah yang kini duduk menangis di lantai.
"Jamilah!" Dia segera mengangkat tubuh itu ke atas ranjang.
"Kak. Kakiku." Jamilah makin terisak saat sudah di atas ranjang
"Sudah. Jangan menangis. Ada Kakak."
"Kak. Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku tak ingat apapun? Kakiku juga lumpuh," kata Jamilah di tengah isaknya.
Akmal diam membisu. Sesekali dia mengambil nafas panjang. Dan mengambil tissu untuk mengusap air mata Jamilah. Dia bukan orang yang bisa merangkai kata-kata untuk menghibur seseorang. Yang dapat dia lakukan menunggu, mendengarkan. Semoga dengan itu, bisa tenang.
"Bersabarlah." Hanya kata itu yang bisa dia ungkapkan.
Setelah lama berselang, tangis Jamilah pun reda.
"Kita keluar, yuk!"
"Kakak jangan mengolok-olok! Sudah tahu aku tak bisa jalan, diajak keluar!"
"Sebentar, Kakak ambilkan kursi roda."
__ADS_1
Belum juga menjawab, Akmal sudah pergi meninggalkannya. Tapi tak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa kursi roda dan juga senyumannya.
"Bagaimana?"
Sebenarnya Jamilah masih enggan. Masih ragu dengan dirinya. Tapi melihat senyum Akmal, dia tak kuasa menolaknya. Dia pun mengganggukkan kepala. Dia membiarkan Akmal mengangkat tubuhnya. Sampai dia duduk tenang di atas kursi roda.
Akmal mendorong kursi roda. Mereka menyusuri lorong rumah sakit sampai di taman. Suasana masih remang-remang. Bahkan lampu-lampu taman belum dipadamkan, saat mereka sampai. Maklumlah, mentari belum sempurna menampakkan diri.
Akmal membawa dirinya turun ke hamparan rumpun taman. Dia baru berhenti, ketika sudah menemukan kursi dari kayu oak yang terbelah di bawah pohon palem. Lalu tangannya melepaskan kursi roda yang Jamilah duduki.
Dia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Berlari-lari kecil seorang diri. Tanpa peduli dengan Jamilah yang tersenyum iri padanya. Karena tak bisa melakukan. Gerakannya tiba-tiba melambat saat ada seseorang yang menuju ke arahnya.
"Assalamualaikum, Jamilah. Bagaimana hari ini. Sudah baik, kah?"Rupanya komandan yang kemarin.
Jamilah yang disapa. Akmal yang bergemuruh dadanya.Mau apa dia ke sini?
"Komandan. Kemarin katanya pulang. Kok masih di sini?"
"Aku masih ada sedikit urusan di sini. Lagian Aku tak bisa pulang, kalau belum memastikan kamu sehat."
"Sebenarnya ada hubungan apa antara Jamilah dan dia," mulai bisikan lirih bergema di dada Akmal.
"Tuan tenang saja. Dia tanggung jawabku." sahut Akmal.
"Tetap saja saya tak bisa tenang."
"Apa tuan tak percaya pada kami."
"Saya percaya. Hanya ...." Tak mungkin dirinya berterus-terang kalau dirinya mengkhawatirkan Jamilah. Namun Akmal sudah menangkap hal itu.
"Kekhawatiran anda, kekhawatiranku juga."
"Ya ... Komandan tak usah khawatir. Ada Kak Akmal yang menjaga Jamilah." Jamilah menimpali.
"Terima kasih, Letjen. Aku titip Jamilah."
"Ya," jawab Akmal singkat. Dia benar-benar terusik dengan keberadaan Komandan Santoso saat ini. Apalagi saat melirik buah tangan dan juga bunga yang yang masih tersembunyi di punggungnya.
"Baiklah. Aku balik dulu. Mungkin aku akan sering jenguk kamu. Sampai urusanku di sini selesai. Dan ini untuk kamu." Santosa mengeluarkan sesuatu dari punggungnya. Yaitu seikat bunga dan juga coklat yang ada dalam paper bag.
"Terima kasih, Komandan." Jamilah menerimanya dengan senang hati. Tampak senyum tersungging di wajahnya. Tapi saat menengok pada Akmal, terlihat masam, Jamilah membiaskan senyumnya..
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam," jawab Akmal dan Jamilah hampir bersamaan.
Sejenak Akmal merasa lega dengan kepergian Santosa. Tapi senyumnya lagi-lagi harus menghilang, saat ada 2 orang menghampirinya.
__ADS_1