Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Aksi Pussy


__ADS_3

Maaf, aku tidak bisa mengampuni kalian.Jangan salahkan jika aku bertindak kejam hingga membuat kalian terluka.


Masih dengan kecepatan yang sama, mobil yang dikendarai menuju kearah lelaki itu. Satu tangan memegang setir, satu tangan mengambil pistol yang ada dalam kegenggamannya. Sudah cukup bermainnya.


Dor ... Dhuaaarrrr ...


Akmal menggunakan pistol yang berhasil dia rampas untuk menembak lelaki itu hingga terkapar. Tak cukup itu saja, dia menambahkan satu tembakan lagi untuk mobil yang mereka tumpangi. Agar tak ada alat untuk melarikan diri. Sontak 3 orang yang belum keluar, melompat. Menghindar dari ledakan. Jangan sampai terpanggang bersama mobil itu.


Sedangkan lelaki yang menerima timah panas darinya, kini jatuh, duduk lemas di samping kursi roda. Dia memegang bahunya yang berdarah. Meringis kesakitan. Tak mungkin melawan langsung, dia pun menendang kursi roda dengan satu kakinya


Astaghfirullah al adzim ... Akmal terperanjat, saat melihat kursi roda itu meluncur ke arah mobil yang terbakar. Akmal segera keluar dan mengejarnya. Namun dihadang oleh 2 laki-laki. Konsentrasinya terpecah, antara menghadapi serangan mereka, ataukah menyelamatkan Jamilah. Apalagi saat keduanya tiba-tiba melancarkan serangan. Dan kursi roda itu terus saja berjalan.


Satu tendangan tak cukup untuk melumpuhkannya. Bahkan terasa sia-sia. Karena keduanya mampu menghindar dan menangkisnya.


Untung ada pussy yang juga mengejarnya. Dia berlari kencang melewatinya. Dan dia melompat ke arah pangkuannya. Begitu mendarat, dia menarik-narik lengannya dan juga cadarnya. Bahkan melompat-lompat. Berusaha agar Jamilah secepatnya sadar. Namun tak kunjung Jamilah membuka mata. Tanpa putus asa kucingku itu terus mencoba menyelamatkan Jamilah. Bahkan kini dia melompat keluar. Dan menubruk kursi roda itu hingga terdorong ke belakang. Dan akhirnya berhasil. Kursi roda berjalan mundur menjauh dari mobil yang terbakar.


"Kamu hebat, Pussy ...."


Kini Akmal bisa tenang menghadapi serangan 2 orang tersebut. Tendangan demi tendangan dia daratkan ke tubuh mereka. Baik dada dan pinggang, bahkan wajah mereka pun tak ketinggalan. Darah keluar dari pelipis mereka dan juga hidungnya. Kedua benar-benar kewalahan dan terdesak. Sekarang pun mereka sudah sempoyongan menghadapi keganasan serangan Akmal. Pada akhirnya tubuh mereka ambruk ke tanah.


Melihat lawannya sudah tak berdaya,Akmal meninggalkan mereka. Biarkan mereka terkapar menahan kesakitan akibat terlalu berani baku hantam dengannya. Dia menuju ke arah Jamilah. Dan juga pussy yang kini duduk manis di pangkuannya.


"Jangan senang dulu, Jenderal?"


Akmal menghentikan langkahnya. Dia melirik ke belakang. Mencari siapa pemilik suara itu. Sepertinya tak asing dan sangat dikenalnya.


"Akmal!" suara Tante Fariha. Diapun segera berbalik. Mendapatkan Fariha di bawah ancaman. Dalam keadaan kedua tangan di belakang punggung. Karena sibuk dengan dua orang yang mengeroyoknya, Akmal sampai tak tahu kalau Bastian telah menyelinap ke dalam mobilnya. Lalu menjadikan Fariha sebagai tawanan.


"Lepaskan dia, Bastian!"


Bastian tersenyum disertai dengan ejekan. Dia tahu kelemahan Akmal. Yaitu pada orang-orang yang dikasihaninya. Semoga dengan itu, dia dapat membawa Akmal hidup-hidup, sesuai dengan perintah atasannya.

__ADS_1


Pada mulanya perintah untuk meringkus Akmal, ia serahkan pada kaki tangannya. Tapi baru saja beraksi, mereka sudah babak belur diajar oleh Akmal. Mau tak mau Bastian turun tangan untuk menyelesaikan misi itu sendiri.


"Ikutlah denganku, Aku tak akan mencelakainya."Dia terus mengancam. Unjung pistolnya kini sudah mengarah pada pelipis Fariha. Membuatnya ketakutan.


"Jangan libatkan Tanteku."


"Boleh, Asalkan kamu ikut aku."


Akmal terdiam. Dia memandang Fariha. Ada rasa bersalah pada tantenya itu. Sering kali membawanya dalam bahaya. Kemanapun pergi tak segan untuk mengajaknya. Dia tahu bahwa Fariha orangnya kuat dan tabah. Sayangnya saat ini nasib naas sedang menimpanya. Pria yang sekarang menawannya adalah orang yang sangat berbahaya.


Menyerah kepadanya, berarti kalah. Tapi memberikan hasil penelitiannya, bukan tindakan yang bijak. Bisa berbahaya.


"Tak akan." Akmal mencoba mengulur waktu agar bisa menyelamatkan Tantenya tanpa harus mengikuti kemauan Bastian.


"Atau ...." Bastian mengarahkan pistolnya pada Jamilah. Dengan cepat menarik pelatuknya. Dor ...


Akmal terkesiap melihat peluru yang melewati tepat di depan mukanya dan mengarah pada Jamilah.


"Meong!"


Pada saat bersamaan, mata Jamilah terbuka, dan sadar. Spontan dia berdiri dan meraih tubuh pussy ke dalam dekapannya.


"Pussy ...." ucapnya sedih, lalu dia melihat Bastian tajam.


Tanpa ampun, Ia menyerang Bastian. Tendangan dan pukulan beberapa kali dia lepaskan. Dan berhasil mengenai tubuh Bastian membuat pistol yang ada dalam genggamannya terlepas. Apalagi Akmal ikut juga. Bastian makin terdesak. Satu tendangan tinggi dari Jamilah berhasil mengenai wajahnya. Ditambah tinju Akmal yang berhasil mengenai dadanya. Membuatnya sempoyongan. Akhirnya tubuhnya jatuh ke tanah.


Dalam keadaan demikian, Bastian masih juga belum menyerah. Dia berusaha meraih kembali pistolnya. Melihat gerakannya, Akmal segera mengarahkan pistolnya pada tangan Bastian. Belum sempat menarik pelatuknya. Jamilah menghentikannya.


"Jenderal, dia sudah tak berdaya." Jamilah mengambil pistol Bastian yang tergeletak tak jauh darinya.


"Jangan macam-macam kamu, Letnan! Peluru kami bisa dengan mudah menembus tubuhmu. Kalau bukan karena aturan, mungkin aku orang yang pertama akan membunuhmu. Karena kamu pantas untuk dibunuh ... Lihat apa yang kamu lakukan terhadap Pussy!" Jamilah sudah tak bisa menahan kesedihannya. Dia pun menangis sambil memeluk kucing itu.

__ADS_1


"Jamilah ... Kamu." Tangannya masih mengarahkan pistol pada Bastian. Lengah sedikit, bisa jadi Bastian akan menyerang mereka lagi.


"Alhamdulillah, Jenderal. Aku sudah ingat semua. Dan kakiku juga sudah dapat digerakkan. Allah memberikan kesembuhan lewat Pussy. Tapi sekarang dia sekarat."


Fariha mendatanginya. Lalu memeriksanya sejenak.


”Pergilah bersama Tante. Kita akan obati."


"Bagaimana dengan mereka?"


"Ada Akmal. Sebentar lagi suami Tante juga datang."


Jamilah memandang Akmal sejenak. Ada rasa sungkan bila ingat kebaikan jenderal itu yang telah merawatnya selama ini sampai dia sembuh.


"Jenderal!"


"Ya, Jamilah. Pergilah!"


Sekali lagi dia melihat Pussy. Nafasnya kembang-kempis. Matanya sayu.


"Pussy, bertahanlah!"


Jamilah mengikuti langkah Fariha menuju mobil. Meninggalkan Akmal dengan lelaki yang menculiknya.


Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan mobil dari kepolisian. Alhamdulillah mereka cepat datang. Suasana hatinya lebih tenang. Karena bantuan telah datang.


🌟


Akmal masih kepikiran dengan keadaan Pussy. Begitu semua sudah ditangani oleh kepolisian, dia pun segera menyusul ke klinik tempat Pussy dirawat.


"Jamilah, bagaimana keadaan dia?"

__ADS_1


"Dia sedang di ruang operasi. Untuk mengambil proyektil yang bersarang di pahanya."


Ada banyak hal yang ingin Akmal katakan, tapi lidahnya terasa kelu, sulit untuk mengatakannya. Demikian juga dengan Jamilah ....


__ADS_2