Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Pussy ...


__ADS_3

Sampai di rumah, Akmal langsung mencari keberadaan Jamilah. Dia begitu tergesa-gesa sampai-sampai tak melihat bibi Umaimah ada di depannya.


"Tuan mencari siapa?"


"Mana Nona Ayu, Bi?"


"Di kebun belakang sama Nona Fariha."


"Makasih, Bi."


Dia pun segera menuju ke kebun belakang. Di sana dia melihat Jamilah sedang latihan berjalan lagi dengan Fariha. Tapi kini tidak lagi memakai alat bantu. Jamilah berjalan perlahan-lahan dengan berpegangan pada pagar rumah-rumahan yang ada di sana.


Pemandangan yang menyenangkan. Tak berani dirinya untuk berteriak atau pun menghampirinya. Nanti bikin kaget saja. Dia mengamati dengan sabar dari jauh, cara jalan Jamilah. Selangkah demi selangkah, Dia berjalan dengan bimbingan Fariha. Rupanya Fariha capek juga, Dia meninggalkan Jamilah berjalan sendirian.


Dasarnya Jamilah sudah niat ingin cepat sembuh, kesempatan itu digunakan untuk melangkah lebih jauh, tidak peduli Tante Fariha capek. Dia melanjutkan latihan sendiri, tanpa oleh Fariha. Mula-mula masih berpegangan dengan tiang rumah-rumahan itu. Tapi kemudian dilepaskannya. Dia melangkahkan kakinya diatas hamparan rumput hijau. Sangat hati-hati dan penuh perhitungan.


Dia rupanya tahu kalau aku berada di sana.


"Kakak kamu sudah datang. Mana bukunya?"


Ups, Aku lupa.


"Ya." jawabku dengan suara keras. Ya, bukan berarti aku membawa buku itu, tapi Ya di sini ini berarti aku mendengar teriakannya. Dia pun menghentikan langkahnya. Berusaha untuk berdiri tegak dengan kedua kakinya.


Tanpa dia sadari, kucing anggora peliharaanku, menghampirinya.


Meong ... Meong ... Meong ....


Sepertinya ingin digendong.


"Puss ... Jangan berisik," ucapnya dengan mata sedikit melebar, "Kucing manis, aku nggak bisa membungkuk. Untuk gendong kamu."


Kata-kata yang lucu, membuatku ingin tertawa. Bisa saja ... Dan kucing itu, kenapa ingin bermanja-manja dengannya. Padahal biasanya kalau ada orang baru, dia akan memperlihatkan sifat garangnya atau lari bersembunyi di rumahnya. Kecuali sama diriku. Pasti dia akan datang dan minta dimanja.


Sayang kucingku tidak sabar. Dia ingin segera berada di gendongan Jamilah. Tentu saja ingin mendapatkan pelukannya. Seperti biasa aku lakukan saat aku pulang.


Astaghfirullah ... Puss ... Kamu .....


Dia begitu saja melompat ke arah Jamilah. Membuat dirinya terkejut dan tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya. Satu tangannya menangkap kucingku dan satu tangannya lagi menggapai-gapai, mencari pegangan.


"Jamilah!" Aku berlari menghampirinya.


Alhamdulillah dapat ku gapai tubuhnya. Sehingga tidak jatuh.


"Kakak!" Dia menatapku sekilas lalu mencoba untuk berdiri lagi. Meski masih berpegangan erat dengan kedua tanganku. Dengan beberapa kali menarik nafas panjang, dia melakukan tetapi belum juga berhasil. Kembali lagi Aku harus bersiap sebagai sandarannya. Tapi aku salut, karena dia tidak putus asa.


"Hati-hati."

__ADS_1


"Makasih, Kak."


Dia masih mencoba berdiri meski badannya terlihat bergoyang-goyang. Keseimbangannya benar-benar diuji. Apalagi dengan kucing yang tak mau lepas dari gendongan nya.


"Istirahatlah."


"Di mana aku akan istirahat?"


Bener apa yang dikatakannya. Kita sekarang berada di tengah-tengah hamparan rumput. Bangku yang terdekat berjarak 3 meter. Sedangkan rumah-rumahan berjarak 5 meter. Itu pasti akan menyulitkannya.


"Ya sudah. Coba kamu perintahkan kakimu untuk duduk."


"Baiklah."


Meskipun kakinya tampak gemetaran dia mencoba melakukan itu, dengan sangat hati-hati. Tentu masih berpegangan dengan kedua lenganku. Keringatnya tanpa bermunculan di dahinya dan juga kedua telapak tangannya.


"Sakitkah?"


"Tidak." Pasti dia berbohong. Terlihat dari nafasnya yang naik turun.


10 menit sudah, dia mencoba duduk di rerumputan. Akhirnya berhasil juga. Meski dengan nafas yang tersengal-sengal. Alhamdulillah ....


"Capek?"


"Iya," jawabnya lemah. Membuat diriku tak tega dan segera saja aku ambilkan air jeruk yang sudah tersedia di rumah kecil itu.


Ternyata sejak tadi, dia memperhatikan kami dan tidak ada keinginan sedikitpun untuk menolongnya. Ini memang disengaja atau ....


"Tante ini bagaimana. Pasien lari dibiarkan aja."


"Sepertinya aku tidak diperlukan lagi, sudah ada perawat yang lebih ahli. Dan merawatnya pakai hati lagi."


"Potong gaji!"


"Punya keponakan kayak kamu itu, bikin pusing. Dikit-dikit potong gaji. Matre!"


"Aku balikin. Asal tante harus temani kami jalan-jalan sekarang. Gantinya atas kelalaian meninggalkan pasien.


"Awas, kalau ini kalau nggak jadi lagi. Malu Tante punya keponakan hobbynya ngejoblo."


"Deal, dan doakan."


Ku bawa teko dan juga cangkir yang berisikan jus jeruk. Dan meletakkannya di sisi Jamilah. Yang masih asyik bermain dengan kucing ku. Sepertinya kucingku juga senang padanya. Terbukti dengan aku berada di sampingnya tidak mau sedikitpun berpindah dari padanya. Ini memang suatu kebetulan atau kebetulan. Nikmati saja dengan bahagia.


Aku pun menuangkan air jeruk itu ke 2 cangkir. Satu untuknya dan satu lagi untukku.


"Minumlah dulu."

__ADS_1


"Makasih Kak."


Dia meminum nya tanpa mengalihkan pandangannya pada kucingku.


Meong ....


"Kamu juga minta ya?" Dia menyisihkan sedikit air minumnya dan memberikannya kepada kucingku.


Enak kali kamu Push ... Dibelai-belai, diberi minum lagi. Aku yang berpayah-payah, kamu yang menikmatinya. Pergi ... Pergi sana. Kupandang dia dengan mata melotot. Meong ... Dia menunduk dan mengiba. Ternyata dia minta perlindungan pada Jamilah. Dengan menelungkupkan kaki dan tangannya di pangkuan Jamilah


Habis ini jangan harap kamu akan aku ajak keluar. Itu waktu untukku.


"Kak, mana bukunya?"


"Hehehe ... Maafkan kakak lupa. Gara-gara ngambil bunga itu untukmu."


Telunjukku mengarah pada bunga tulip yang sudah aku letakkan di atas teras, berjajar dengan bunga mawar yang dia bawa dari rumah sakit.


"Masyaallah, cantik sekali. Aku suka, tapi mana bukunya?"


"Kita keluar yuk! Jalan-jalan."


"Boleh. Aku juga sudah bosan terkungkung tidak bisa kemana-mana."


"Tunggu aku di sini aja. Aku ambilkan kursi rodamu sekalian mengembalikan teko ini."


Dia mengangguk. Dan merapikan cangkir-cangkir yang tadi kami gunakan ke dalam napan. Serta membelai kucingku sebelum melepaskannya.


Gitu dong Puss. Sekarang waktumu untuk kembali ke kamar. Oke! ... Tapi dasar si pus. Dia tak mau pergi bahkan mengikutiku dengan larinya yang sangat lucu. Hingga bunyi klinting-klinting dari kalungnya, terdengar.


Waktu diriku membawa kursi roda, dia pun masih mengikutiku, hingga ke tempat Jamilah berada. Pokoknya kalau kamu manis boleh-boleh aja push .... Aku biarkan dia mengikutiku. Toh, tidak mengganggu.


Kali ini Jamilah benar-benar ingin mandiri. Dia mencoba berdiri dengan memegang kursi rodanya dan perlahan-lahan duduk. Tapi ya ... terus terang dengan posisi aku masih pegang kursi roda itu. Kalau tak dipegang, keseimbangannya bagaimana?


"Makasih, Kak."


"Yuk!"


Kami pun berjalan. Demikian juga Tante Fariha. Dia mengikuti kami sambil membawa nampan itu, untuk diletakkan di dapur. Yang aku tidak habis pikir adalah kucingku. Dia masih setia mengikutiku, tidak mau kembali ke kamarnya. Saat kami semua menuju halaman depan tak mau lepas. dan selalu berjalan di depan. Maunya apa sih?


Ya ... ya ... Kamu boleh ikut. Tapi tak boleh nakal. Apalagi lari menghilang. Gara-gara ketemu gadismu, seperti yang kamu lakukan beberapa hari yang lalu.


Begitu pintu mobil aku buka, kenapa si pus langsung saja melompat ke bangku depan. Persis di sampingku.


Puss! ....


Lebih parahnya lagi, ada celetukan dari kursi belakang.

__ADS_1


"Akmal ... Akmal ... Ternyata gadismu seekor anggora," kata Tante Fariha yang langsung disambut gelak tawa mereka berdua. Tega ....


__ADS_2