Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Ngomong ke Papa


__ADS_3

"Kak Aisye." Wajah seorang wanita cantik dan bercadar nongol dari dalam mobil. Tampak dia berbicara dengan lelaki tampan yang duduk di belakang kemudi


"Tatlim, aku mau ajak dia."


Mesranya, kata-kata yang meluncur dari bibir Kak Aisye.


"Terserah saja, Sanim."


Hem ... Satu panggil Sanim, satu panggil Tatlim. Persis sinetron. Oh may God ... Mengapa pagi-pagi sudah disuguhi hal-hal romantis macam ini. Tak tahukah mereka bahwa diriku masih kecil.*


"Masuklah. Aku juga mau ke rumah Mama."


Abaikan pemandangan yang ada di depan mata. Ambil tawarannya. Karena sayang kalau ditolak. Hitung-hitung memperpendek jarak kembali ke kediaman Tante Naura. Kakiku sudah capek.


"Baiklah, Kak."


Aku pun membuka pintu ke dua. Masuk ke dalam mobilnya yang dikemudikan oleh seorang pria dewasa, tentu itu suaminya.


"Tatlim. Humasa kamu jemput ya ... Aku ingin mengajaknya berlibur juga."


"Kenapa tidak kita nikmati berdua saja. Toh dia nyaman di rumah Omanya."


"Tatlim, kamu jangan berlebihan. Aku pasti nggak bisa menikmati liburan kalau dia tak ada."


Subhanallah, mengapa harus berlanjut. Kalau waktu SMA dulu, ada yang seperti ini langsung ku buat mereka bubar, lari ketakutan dengan jurus ular terbang dan kalajengking merayap. Atau bersekongkol dengan pak satpam, tangkap dan bawa ke Kepala Sekolah lanjut ke KUA. Semua pada takut. Dan aku sangat menikmati. Jangan bilang kalau diriku sadis lho .... Salah sendiri berpacaran di depanku. Resiko silahkan tanggung sendiri. Hehehe ....


Tapi yang ini beda. Mereka sudah menikah. Sudah haaallaal. Salah sendiri sebagai anak kecil melihat. Sebaiknya tutup mata dan telinga, kalau tak ingin terkena polusi pandangan dan bisikan.


Ini dari Mama sampai anak, sama. Romantis banget.


Sampai di rumah, terlihat kesibukan pelayan-pelayan Tante. Semua sedang beres-beres, sepertinya akan melakukan perjalanan jauh dan lama. Mungkin sambil mengantarkanku pulang, rupanya mereka akan berlibur juga. Beberapa koper sudah disiapkan. Dan beberapa baju juga sudah dimasukkan. Tentu dengan pengawasan Tante Naura.


"Ayu, apa kamu nggak siap-siap."


"Ma, bukannya nanti sore berangkatnya?"


"Papa ingin kita berangkatnya siang ini."


"Baiklah, Ma."

__ADS_1


Om Ulya merubah jadwal tak bilang-bilang. Pintar membuat sibuk Mama Naura. Kalau aku ... Santai ... Baju kemarin tak banyak yang keluar. Masih rapi di dalam tas. Apa yang mesti disiapkan. Tinggal angkat, lalu jalan melenggang. Oh ya ... Bungaku.


"Ayu mau siram bunga tulip dan mawar dulu, Ma. Mau bawa ke Indonesia."


"Boleh."


Bunga ini sudah tumbuh indah. Dengan perawatan dibawah pengawasan kak Akmal langsung. Semoga saja tetap begitu waktu aku bawa pulang.


Astaghfirullah al adzim ... Aku lupa. Papa belum aku hubungi. Kalau mereka akan ke rumah Papa juga.


Sambil memercikkan air, aku angkat telpon. Alhamdulillah langsung tersambung.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Papa, ini aku Setyawati." Sengaja aku sebut nama, karena kudengar suara adik menangis. Pasti itu suara adikku yang paling imut. Agak nakal sich, tapi itulah yang membuatku kangen dengan dia.


"Waalaikumsalam. Kamu Setyawati. Benar kamu nanti pulang."


"Insyaallah nanti siang berangkat. Nggak jadi malam."


"Baguslah kalau gitu. Papa sudah khawatir kamu ada apa-apa. "


"Pa, aku pingin lihat wajahnya Abid. "


Tak berapa lama telepon sudah bergeser menjadi Vidio. Tampak adikku yang lucu sedang memakai baju dibantu Bunda Zulfa. Ibu sambungku. Mungkin tangisnya tadi karena nggak mau mandi. Tapi begitu selesai terlihat nyaman dan senang. Makanya tertawa.


"Sudah puas?"


"Makasih, Pa. Sekarang bisa nggak Papa menjauh dari Bunda."


"Kamu itu nggak berubah. Suka nyuruh orang tua."


"Pa, aku mau ngomong. Ini seriuuuusss."


"Oke, Papa ke depan."


Tak berapa lama sudah kulihat Papa duduk di kursi depan dengan santai.


"Ok, Papa sudah siap mendengarkan kamu. Silahkan ngomong, Tuan putriku,"


"Papa bercanda melulu. Setyawati tambah bingung ini ...."

__ADS_1


"Ok." Papa menghentikan canda dan senyumnya. Dia tampak serius.


Aku harus mulai dari mana ya .... Bismillah, robbisrohli shodri wa yassirli amri .... Aamiiin.


"Gini, Pa. Tante Naura sekeluarga mau datang ke rumah. Temui Papa, sebagai sebuah keluarga ...."


"Bentar-bentar, kamu ngomong apa tadi. Papa nggak faham."


"Setyawati ulangi. Keluarga Tante Naura mau datang ke rumah. Mau melamar."


"Stop! Siapa yang mau melamar. Tante Naura mau melamar. Yang benar saja, bukannya Tante Naura sudah punya suami. Lagian berani-beraninya melamar Papa. Papa ini sudah punya Bundamu, tahu!"


"Papaaaa ... ke-gr-an dech, genit juga ... Siapa juga yang mau melamar Papa. Jangan dipotong omongan Setyawati dong. Setyawati jadi bingung, nich." Rasanya ingin marah-marah menghadapi Papa. Tak habis-habisnya meledekku.


"Ya sudah. Ngomonglah."


"Intinya Kak Akmal serius sama Setyawati, besok mau datang bersama keluarganya mau melamar."


Wajah Papa seketika berubah. Dia tampak serius dan fokus. Tak ada senyum lagi. Dan dingin. Beberapa kali aku mendengar beliau mengambil nafas panjang. Sampai beberapa lama, tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Apa Papa marah?


"Papa, jangan diam dong. Bagaimana?"


"Papa tak tahu ... Sebenarnya Papa berharap rumor itu tak benar. Karena kamu itu putri Papa satu-satunya. Putri yang Papa banggakan selama ini. Tapi Papa harus menerima kenyataan kalau rumor itu benar adanya ... Papa telah gagal. Tak bisa mendidikmu dengan baik. Telah mengecewakan Mamamu ... Dia wanita baik. Mungkin kalau Papa segera menyusul kamu sejak kamu tak pulang, Tidak sampai ada kejadian seperti ini."


"Papa ... Papa bicara apa? Rumor apa?"


Aku ... Aku ... Aku benar-benar bingung maksud Papa apa.Sebenarnya rumor apa yang sudah sampai ke Papa. Sampai-sampai beliau menyebut nama Mama. Mama yang tak pernah kulihat wajahnya. Hati ini benar-benar menjadi gundah dan sedih.


Aku tak bisa lagi bisa menahan ketika ada butiran bening meleleh dari sudut mata ini. Bingung, sedih dan juga rasa bersalah. Aku melihat wajah Papa yang diselimuti kekecewaan. Terlihat beliau menahan tangis.


"Setyawati, beri Papa penjelasan satu saja agar Papa bisa percaya padamu."


"Ya Papa."


"Kamu ada di rumah Tante Naura itu karena apa? Kamu kemarin bohong, kan?"


Mungkin kemarin, aku masih berfikir tentang prosedur ini dan itu. Tapi sekarang masalahku dan Papa. Lupakan soal prosedur agar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kami. Aku tak mau orang yang aku puja, aku sayang menjadi kecewa.


"Maaf Pa. Kalau Setyawati membuat Papa kecewa ... hiks ... Selama ini tak menghubungi Papa selama ini. Itu karena Setyawati habis kecelakaan laut, sewaktu mengoperasikan pesawat baru. Hingga Setyawati lumpuh dan tak ingat apapun ... hiks ... Dan harus di rawat di sini. Untunglah keluarga Tante Naura terutama Kak Akmal nemeni dan ngerawat Setyawati sampai sembuh ... hiks."

__ADS_1


"Benar? Jangan bohongi Papa lagi."


"Papa kok ngomong gitu sich!"


__ADS_2