
🌟
"Will, apa yang kamu lakukan?"
William terjingkat kaget dengan kehadiran Akmal yang tiba-tiba. Dia yang sudah bersiap-siap menyayat jari telunjuknya dengan pisau kecil terpaksa dia hentikan. Menengok ke arah pemilik suara yang kini berjalan mendekatinya.
"Ah, Kamu Akmal. Aku ingin tahu reaksi zat ini pada darah."
Dia pun melanjutkan tindakannya, melukai jari telunjuknya sedikit. Sehingga darahnya pun keluar. Dengan segera meletakkannya pada sebidang kaca berukuran 7 x 4. Setelah itu, dia pun membalut lukanya dengan plester.
Akmal tersenyum. Lalu dia meletakkannya di bawah mikroskop.
Akmal mengambil zat X10MZBY1 (nama baru yang Akmal berikan untuk zat tersebut) dari botol kecil yang William bawa dengan sebuah pipet kecil. Dan meneteskannya pada darah William. Tak banyak hanya satu tetes saja.
"Bagaimana reaksinya?"
"Belum ada. Kita tunggu 3 sampai 5 menit."
Secara bergantian mereka melihatnya. Beberapa saat kemudian ....
"Akmal, perhatian!"
Akmal mendekat dan melihat, kira-kira reaksi apa yang ditimbulkan oleh kedua zat.
"Astaghfirullah al adzim."
Darah William warnanya tak lagi merah segar tapi kini mulai memudar.
"Kita tunggu saja."
"Ya."
Ternyata ini memakan waktu yang sangat lama. Sampai matahari tenggelam menjelang magrib proses itu masih saja berlangsung. Sehingga mereka mau tak mau melakukan shalat secara bergantian agar bisa mengamati perubahan yang terjadi pada darah dan zat X10MZBY1.
Setelah waktu isya, zat itu masih bereaksi. Entah kapan akan berhenti.
Baru pada pukul 11 malam, proses itu pun berhenti secara sempurna. Kini yang terlihat hanya X10MZBY1. Darah William sudah tak ada lagi.
Wajah keduanya nampak menegang. Mereka tidak menyangka, Setetes darah berubah sempurna pada saat bersentuhan dengan zat X10MZBY1. Benar-benar zat sangat reaktif.
Beberapa saat berlalu tanpa kata. Mereka diam seribu bahasa.
"Bagaimana Akmal?"
"Mengerikan. Aku jadi kepikiran dengan Tazkia."
Sontak saja membuat wajah William berubah, lalu membuang muka.
Ah, mengapa juga sampai lupa kalau lelaki di depanku ini amat pencemburu, gerutu Akmal dalam hati.
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku tak bermaksud ..."
"Ah, itu hanya perasaanmu saja." ucapnya dingin.
Akmal tersenyum tipis, meragukan kata-kata yang keluar dari bibir William. Semoga itu benar adanya, bisiknya penuh harap.
Dia pun bangkit kemudian membereskan semua peralatan yang digunakan dan membersihkannya serta menyimpan hasil eksperimen itu. Sedangkan William sibuk mencatat semua kejadian selama proses observasi. Dan menarik kesimpulan dari hasil observasinya.
"Kita harus pergi ke Turki."
"Mengapa?"
"Aku ingin melihat reaksi X10MZBY1 kalau bertemu dengan Y21MNS14."
"Apa itu, Akmal?"
"Yach, zat itu aku dapatkan bersamaan dengan zat ini. Mereka berasal dari pohon yang sama tapi dari ekstrak bagian tanaman yang berbeda. Nanti kamu akan tahu setelah kita menanam biji-bijian ini." Kata Akmal sambil menunjukkan toples yang diterimanya dari Mang Maman tadi sore.
"Hmm ...." William tidak mengiyakan tapi juga tidak menolak dengan keinginan Akmal.
"Urusanmu yang disini?"
"Ya. Kamu ikut aku untuk lamaran besok. Sehabis itu kita langsung ke bandara."
"Lamaran?" William sontak terkejut.
"Benar."
"Baiklah. Aku ikut senang. Kini aku tak punya pesaing memiliki Tazkia."
Ada senyum di bibirnya namun tak bisa menutupi kegelisahan yang nampak di wajahnya.
"Kamu ini ada-ada saja." Jawab Akmal tanpa ragu.
Setelah merapikan barang-barang dan mengembalikannya pada posisi semula serta mematikan lampu, keduanya pun meninggalkan laboratorium menuju rumah utama.
Mereka masuk melalui pintu belakang yang terhubung dengan dapur.
Tak disangka, di ruangan itu Naura sedang mengambil air minum dari dalam kulkas.
"Mama belum tidur."
"Papamu haus minta diambilkan minum," jawab Naura.
"Kalian baru selesai?" tanyanya.
"Ya, Ma."
"Mau makan? kamu tunggu mama hangatkan dulu."
__ADS_1
"Tak usah Ma, Biar Akmal saja. Mama pasti capek. Mama istirahat saja."
Akmal yang sudah terbiasa dengan dapur tidak canggung lagi untuk beraksi di dapur. Meski tidak pandai memasak tapi kalau sekedar menghangatkan atau masak mie instan, itu bukan masalah. Hehehe ....
Sejak SMA, mondok plus kuliah Akmal sudah terbiasa mandiri. Apalagi saat masa pendidikan militer, bakatnya itu makin terasah.
"Oh ya Ma bisa nggak Besok kita berangkatnya lebih pagi. Aku takut ketinggalan pesawat."
"Ya bisa. Moga-moga Khumasa nggak rewel. Dan tante Rimamu tidak terlambat datang."
Akmal tersenyum kecut mendengar nama-nama itu disebutkan. Alamat rencananya akan gagal.
Dia ingat betul pada saat lamarannya kak Akram 2 tahun yang lalu. Gara-gara si Alif, putranya tante Rima yang rencana berangkatnya jam 8 menjadi jam 12. Molornya nggak tanggung-tanggung.
Sekarang malah dua orang. Meskipun Alif sudah lebih dewasa, tapi bagaimana dengan keponakannya yang bernama Khumaza putri dari Aisye, adiknya. Dapat dipastikan dramanya makin panjang deh ...
Alhamdulillah keluarga Kak Akram tidak ikut. Dia ditugaskan Papa untuk mengurus perusahaannya selama ditinggalkan Papa di Indonesia. Tak bisa dibayangkan bagaimana jika mereka ikut. Drama akan semakin panjang dengan keberadaan keponakan kembarnya itu.
Kenapa sih untuk lamaran saja kok bawa keluarga besar, gerutu Akmal dalam hati.
Tapi memang dari sananya keluarganya seperti itu, sudah menjadi kebiasaan yang turun-menurun. Bahkan saat melamar mamanya dahulu Abbah juga membawa hampir 3 mobil penuh anggota keluarganya, menurut cerita yang dia dengar dari tantenya.
Padahal kalau tidak seperti itu juga tidak apa-apa.
"Ya udah Kak, Mama tinggal dulu."
"Ya Ma."
Sepeninggal mamanya, Akmal pun menengok William.
"Kamu laper?"
William menggelengkan kepala.
"Ya sudah."
Mereka berdua sudah sangat lelah, tidak memikirkan untuk makan lagi. Akmal dan William pun segera pergi ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuhnya agar besok bisa lebih segar.
🌟
Pagi ini perasaan Akmal berbeda dari biasanya, Sejak bangun tidur dia merasakan kegelisahan yang amat sangat. Bukan perasaan diterima atau tidaknya lamaran dia ke Jamilah, tapi ada perasaan lain yang tidak Dia mengerti. Apa mungkin kiriman feeling dari Jamilah, sehingga suasana hatinya menjadi tak karuan. Jamilah jadi sasaran.
Berulang kali Akmal melihat jam yang melingkar di tangannya. Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.45. Tetapi Dia sudah ingin pergi saja.
"Ma, Bagaimana kalau kita berangkat dulu. Biarlah Aisye nanti berangkat bersama tante Rima. Aku nggak mungkin mengorbankan tiket pesawat yang sudah ku beli." rengek Akmal seperti anak kecil. padahal bukan itu alasan yang sebenarnya.
"Sudah nggak sabar ya Kak. Mau ketemu calon istri." goda Mama Naura. Diapun duduk tenang di samping suami tercinta yang sedang asyik membaca koran
"Bukan begitu, Ma." Jawab Akmal lebih tenang, untuk menutupi perasaannya yang kini semakin menekannya.
__ADS_1