Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
William


__ADS_3

Jamilah yang sudah mendapatkan kunci mobil dari Kakak Iparnya, menghampiri mereka.


"Pa, kami pergi dulu," pamit mereka beriringan.


"Ya cepatlah, selesaikan urusan kalian. Papa juga harus kembali bertugas."


" Baik, Pa. Assalamualaikum ..."


"Wa alamualaikum salam ...."


Mereka pun menghilang dari hadapan Hasan menuju ke tempat parkir. Ada sebuah mobil Xenia hitam yang berada di tengah-tengah tempat itu. Dengan segera mereka masuk dan menghidupkan mesin mobil.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasinya dengan pandangan penuh kemarahan. Hingga sampai sudah dia tak bisa lagi menahan diri. Dia pun keluar dari persembunyian. Dan berjalan mendekati mobil yang sudah hampir berjalan


Akmal yang melihat sesosok lelaki menghampirinya, mengurungkan niat untuk menjalankan mobil itu.


"Ada apa, Kak?"


"Ada tamu,”


"Mana?"

__ADS_1


"Itu." Mata Akmal melirik orang yang kini melangkah cepat ke arah mereka.


"Kakak mengenalnya?"


"Sepertinya. Tapi ... "


Belum sempat Akmal melanjutkan kata-katanya, lelaki itu sudah mengetuk kaca mobil dengan kasar.


"Akmal, keluar kamu!"


Jamilah yang duduk di samping Akmal pun dibuatnya terkejut dengan teriakannya itu.


Melihat gelagat yang kurang baik, Akmal mencoba bertahan untuk tidak keluar. Tapi lelaki itu semakin ingin bertindak kasar. Tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam sudah mengepal, bersiap-siap akan memukul kaca mobil. Ini harus dihentikan ... Dia pun keluar.


"William ... Benarkah kamu William?" Sebut Akmal dengan riangnya, tanpa peduli dengan kemarahan yang lelaki itu tampakkan padanya.


Tak salah lagi, dia dulu teman satu SMA. Tepatnya saat menempuh pendidikan di Swi**. Dia termasuk murid yang sangat pintar. Salah satu siswa yang memiliki hobby sama dengan dirinya.


"William, apa kabar?" Sapa Akmal dengan senyum hangat. Tak disangka akan mendapatkan sambutan yang kurangkan menyenangkan dari William. Wajahnya masam dan penuh amarah.


"Aku peringatkan, jangan coba-coba mengganggu adikku. Jika kamu lakukan itu, tunggu akibatnya." Dia menatap tajam pada Akmal tanpa ada keinginan untuk menjawab sapaan Akmal.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Jangan pura-pura tak tahu." Dia membentaknya dengan nada sangat marah.


"Atau satu tinju ini akan membuatmu mengerti." ucapnya disertai satu pukulan yang melesat cepat ke wajah Akmal.


Dengan sigap, Akmal menangkap tangannya. Dia menarik kembali tangannya. Lalu dia menyerang kembali, kali ini tidak hanya menggunakan tangan, kakinya juga. Tendangan dan pukulan pun dia lancarkan dengan sangat brutal namun tak terarah. Akmal mencoba untuk mengimbanginya saja, sambil menariknya menjauh dari mobil.


Setelah dirasa William sudah kelelahan, dia pun segera menjatuhkannya dalam posisi tengkurap. Lalu menguncinya dengan meletakkan kedua tangannya ke belakang.


"Kendalikan dirimu. Bisa kita bicara baik-baik. Aku benar-benar tak tahu apa yang kamu maksud." Akmal belum ingin melepaskan cengkramannya sebelum William benar-benar tenang.


Tak disangka, William pun menangis. Sampai mengeluarkan air mata. Membuat Akmal tak tega. Dia pun berlahan-lahan melepaskannya. Lalu dia duduk di trotoar yang ada tak jauh dari tempat mereka bertarung.


William duduk sejenak, lalu mengusap air matanya yang sempat menetes. Setelah beberapa saat, dia pun bangkit menyusul Akmal. Duduk di sampingnya dengan keadaan lebih tenang.


"Setahuku kamu nggak punya adik. Ini adik yang mana?"


"Dia adik angkatku. Namanya Tazkia. Aslinya dari Palestina. Kasihan dia tak punya keluarga," jawabnya dengan wajah sendu, penuh duka.


Mendengar nama itu, Akmal kaget. Jangan-jangan tubuh yang ada di atas meja observasinya itu yang dia maksud.

__ADS_1


"Kamu punya fotonya?"


William mengeluarkan sebuah foto kecil dari dalam dompetnya. Lalu menyerahkannya pada Akmal.


__ADS_2