
"Aku sudah di atas. Helikopternya sudah mendarat."
"Terus awasi!"
"Siap," jawabnya spontan dengan penuh percaya diri.
Dari balik 'tembok' menara, dia melepaskan pandangannya ke seluruh arah. Menyapu seluruh area geladak. Keadaan masih tampak tenang. Selain dari suara deru mesin dan juga baling-baling yang sudah mulai melemah, perlahan-lahan suaranya pun menghilang, mesin pun dimatikan.
Beberapa orang turun dengan cepat meninggalkan pesawat. Mereka menuju ke dalam kapal.
Dengan cara mengendap-endap, dia menghampiri salah satu helikopter yang berada di geladak kapal.Pergerakannya sangat hati-hati, agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan sehingga mereka kembali ke helikopter yang mereka tinggalkan.
Kelihatannya kosong. Timbul keinginannya untuk menguasai pesawat itu, dia menghampiri pintu yang terbuka, mengintip keadaan di dalam, sebelum memasukinya. Langkahnya terhenti ketika melihat bayangan yang duduk di belakang kemudi.
"Astaghfirullah al adzim," ucapnya lirih. Ternyata masih tersisa satu orang yang menunggu di sana. Ya, dia pilotnya.
"Komandan, di pesawat hanya ada pilot. Izinkan aku bertindak sekarang."
"Jangan gegabah! Kita belum bisa melepaskan dokter Irsyad."
"Sepertinya mereka akan pergi membawa dokter Irsyad."
"Lalu?"
"Tunggu dulu. Kita selesaikan yang ada di dalam."
"Ok."
Jamilah menggeser langkahnya ke arah bawah badan pesawat. Dengan posisi tengkurap, mengawasi area sekitar. Tetap waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Dia terkejut saat mendengar teriakan Santoso tiba-tiba, "Kak Devra tertangkap."
"Benarkah?" Dia segera berguling keluar dari tempat persembunyiannya.
"Komandan, aku ke sana."
"Tetap di tempatmu!"
Dengan dua orang di tangan mereka menyebabkan pergerakan kami akan semakin sulit.
"Rencana B"
"Ok."
Oh ya, rencana B. Waktunya memulai serangan terbuka.
Tanpa lagi menunggu perintah, Jamilah masuk ke dalam pesawat. Hentakan kakinya yang bersentuhan dengan badan pesawat membuat lelaki di belakang kemudi itu terkejut.
"Siapa itu?" Teriakan pilot pesawat tak membuatnya menghentikan misi. Dia segera mendekat dan menarik pelatuk pistol kecilnya ke arah daerah yang mematikan. Sekali tembak, pilot itu pun jatuh terkapar.
"Satu pesawat sudah aku kuasai."
"Bagus."
"Lanjutkan, hati-hati."
Sementara itu, dari dalam ruangan kapal mulai terdengar bunyi tembakan yang bersahut-sahutan. Mereka menampakkan diri. Kontak senjata pun tak bisa dihindari.
__ADS_1
"Ah ...." Terdengar teriakan kecil. Seperti suara Santosa. Perasaan Jamilah menjadi tidak tenang.
"Komandan?" Jamilah menghentikan gerakan.
Dia mencoba memanggilnya, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun sekian detik tak ada jawaban.
"Semoga tidak terjadi apa-apa." Dia masih memasang sikap waspada, Melangkah cepat menuju sasaran berikutnya.
Tak berselang lama, Dia mendengar suara Santosa yang memerintahkan agar Aisye dan Sellin meninggalkan ruang kemudi. Kak Sellin merapat ke arahnya. Sedangkan Kak Aisye diperintahkan menuju geladak.
Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa pada komandan Santosa.
"Kak Aisye..." gumamnya lirih.
Dari samping helikopter dia melihat seorang wanita keluar dari ruang kemudi dengan berlari mengendap-endap. Dia menuju ke arah helikopter yang paling ujung. Dia bersembunyi di bawah mesin helikopter, menunggu perintah selanjutnya.
"Komandan."
"Kalian berdua tetap tenang, lakukan apa yang terbaik.
"Kak Sellin dan aku sedang mengatasi mereka di sini. Mereka banyak."
Suara tembakan masih juga terdengar tetapi tidak seramai tadi.
Mesin helikopter yang berada paling ujung kini mulai dihidupkan. Suara baling-baling pesawat menderu memecah angkasa.
"Komandan, mereka siap pergi" Sekali lagi Jamilah memanggil Santosa.
"Ikutlah terbang, aku menyusul."
Tak berselang lama terlihat rombongan yang membawa dokter Irsyad dan juga Devra menuju ke arahnya dengan tergesa-gesa sambil mengarahkan tembakan ke dalam dan penuh kewaspadaan. Mereka berpencar menjadi tiga bagian.
Dokter Irsyad dan 4 pengawal menuju helikopter yang berada di ujung di mana Kak Aisye telah bersembunyi di bawahnya.
4 orang laki-laki dengan bersenjata lengkap menyeret Devra menuju ke helikopter yang berada di ujung satunya.
Sedangkan tiga lainnya menuju ke arah Jamilah yang akan masuk ke pesawat. Dia pun segera melompat ke dalam pesawat yang mesin baru menyala. Ternyata pilotnya masih ada di sana, tinggal di pesawat. Tak ada pilihan lain, Jamilah segera melumpuhkannya.
Saat Jamilah telah menguasai pesawat kedua, Terlihat rombongan yang mengawal dokter Irsyad masuk ke dalam pesawat. Berlahan-lahan mulai naik meninggalkan geladak kapal. Mereka tak menyadari kalau Kak Aisye ada di bawahnya. Berpegang erat pada besi-besi yang ada di sana agar tidak jatuh.
"Posisi kalian?"
Aku mendengar suara Kak Aisye menyebutkan posisinya yang berada di helikopter paling ujung yang kini mulai naik setengah meter dari geladak. Terlihat tubuhnya terlentang di bawah mesin helikopter.
"Kak Devra bertahan di helikopter ujung satunya dekat menara, aku di helikopter tengah."
Dari kejauhan tampak Santosa berlari sambil menembakkan senjatanya ke arah orang yang mengejarnya. Tak berapa lama Kak Sellin pun muncul di belakangnya, melakukan tembakan kepada penyerang yang sedang berlari menuju helikopter.
Jamilah tak tinggal diam dia pun membantu Sellin menembak orang-orang yang akan menuju pesawat dari arah depan.
Mereka pun berpencar. Santosa beralih arah menuju pesawat yang baru saja terbang. Sayangnya harus kecewa.
Helikopter yang membawa dokter Irsyad sudah terbang menjauhi kapal. Tak mungkin lagi tergapai meski dia bisa melompat sekalipun.
Kini menyisakan tiga orang yang menyeret Kak Devra menuju pesawat yang di ujung dekat menara. Mereka pun menghidupkan mesinnya. Mengikuti pesawat yang membawa dokter Irsyad.
Untungnya mereka melewati Santosa. Dia tak membuang kesempatan.
__ADS_1
Tap,,tap,,,hap. Dia melompat dan berhasil mencapai tangga besi pada pesawat yang terbang kurang dari 3 meter di atasnya. Dengan cepat mengayunkan kakinya menyerang seorang yang tengah berdiri di depan pintu. Mendorongnya hingga terguling. Sehingga dengan mudah Santoso memasukinya. Terjadilah pergulatan di antara mereka sehingga dua orang musuhnya terlempar dari pesawat.
Byur ... byur ... Silahkan mandi air laut. Seger kok, meski malam hari. Kemudian disusul pula dengan seorang lagi yang telah dilumpuhkan oleh Devra. Byur ....
Sementara itu di geladak menyisakan Sellin dan Jamilah.
"Kak Sellin, cepat!"
Sellin terus berlari menggapai pesawat yang dinaiki oleh Jamilah. Sementara Jamilah melindunginya dengan tembakan-tembakan yang mengarah pada orang-orang yang mengejarnya.
Brak ... Kini Sellin duduk di pintu pesawat dan langsung mengarahkan tembakannya pada sisa-sisa orang yang mengejarnya menggantikan Jamilah yang kini menuju ke ruang mengemudi.
Tak berapa lama mereka pun terbang mengejar dua pesawat yang telah pergi lebih dahulu.
"Komandan, kami sudah berhasil lolos," lapornya ketika mereka sudah berhasil terbang jauh melebihi jarak tembak orang-orang yang ada di kapal.
"Alhamdulillah."
"Kita kejar mereka ke sarangnya."
"Oke."
Jamilah mensejajarkan pesawatnya dengan pesawat Santoso. Terbang beriringan mengejar pesawat yang ditumpangi oleh dokter Irsyad dan penculiknya.
"Sanin, Di mana engkau sayang," ucap Sellin dengan bibir gemetar.
Ups ... Jamilah tersenyum melihat calon adik ipar yang nggak ketulungan bucinnya.
"Tenanglah Kak, pasti ketemu kok," hibur Jamilah dengan senyum dikulum.
"Cepatlah Ayu, kejar mereka!"
Ingin tertawa kalau tidak takut dosa. Jangan sampai kelepasan nih mulut.
Sesuai instruksi komandan, kita terbang dengan menjaga jarak kurang lebih 5 kilometer dengan pesawat itu. Jelas saja membuat Sellin semakin gelisah.
Andai Dia bisa mengemudikan pesawat mungkin sudah dia rebut posisi Jamilah agar bisa terbang dengan cepat mengejar pesawat yang membawa istrinya.
Setelah hampir 1 jam kita terbang akhirnya pesawat itu pun turun di sebuah pulau kecil yang diapit oleh karang-karang tinggi.
"Kita turun di pantai saja," Instruksi Santosa.
"Siap, Komandan."
"Lho kok?" Eeee ... Kak Sellin protes.
"Tenang Kak. Kak Aisye aman kok." Jamilah mencoba menghiburnya.
Bikin sebel juga nih orang, masa harus dijelaskan panjang lebar. Kita Itu loh, tak tahu daerah apa ini. Kalau syukur nyelonong saja, sama saja menyerahkan nyawa cuma-cuma.
Pesawat itu pun mendarat di tepian pantai.
"Hai!"
"Kak Akmal??!!" Semua membulatkan mata menatap sesosok tubuh yang berdiri di hadapan mereka dengan senyumannya yang khas, muncul tiba-tiba dan tak disangka-sangka.
"Mengapa dunia ini begitu sempit. Ke mana pun kaki melangkah selalu bertemu orang yang sama. Hah ... Ketemu lagi-ketemu lagi?" gerutu Santosa.
__ADS_1