
"Kakak akan melamarmu. Agar bisa dengar suaramu yang memanggil Kakak dengan sebutan itu." Akhirnya lepas juga. Lega diriku sudah bisa menyatakannya.
Jamilah terkejut tak menyangka kalau Akmal menyimpan rasa yang sama. Ternyata ia tak bertepuk sebelah tangan. Tapi tunggu dulu, siapa tahu ini hanya jebakan rubah berbulu domba. Semoga saja tidak.
"Aku tak akan percaya kata-kata kakak, kalau Kakak belum datang ke Papa Bundaku."
"Insya Allah bersamaan dengan mengantarkanmu pulang." Akmal menjawab dengan tenang. Membuat hati Jamilah semakin berbunga-bunga.
"Bolehkah Jamilah merenung dulu."
"Tentu, Kakak tak memaksa. Tapi sangat berharap kamu terima."
Akmal tak tahu apakah dia diterima atau tidak. Sesekali dia melihat Jamilah yang merenung dan menundukkan pandangannya. Entah apa yang dipikirkannya. Ingin mengetahui lebih jauh tentang apa yang kini dirasakan oleh Jamilah. Tapi tidak ... Biarlah semua berjalan dengan apa adanya. Tak ingin dirinya memaksakan sesuatu yang kini sedang berkecamuk dalam dirinya. Jika Allah mengizinkan dan berkehendak, tentulah pada saatnya itu akan menjadi nyata.
Apa yang sudah dimulainya bukanlah suatu yang dilarang. Dan apa yang sudah diazamkan dalam dada, bukan sesuatu yang harus disimpan. Cukuplah beberapa hari ini sebagai ungkapkan rasa kepadanya. Yang sudah tersimpan dengan cukup lama. Semoga Jamilah bisa mengerti dan memahami tentang rasaku Ini yang ingin bertamu dalam hatinya.
Tak ada lagi perbincangan . Semua menikmati minumannya dengan diam.
"Ini berarti lusa Kakak akan ke rumah Papa."
"Ya," jawab Akmal pasti.
"Jika Papa menolak?" Jamilah berkata masih dengan menundukkan kepala.
Dalam masalah ini dirinya tidak banyak tahu. Jika hanya rasa, mungkin dia bisa menjawab. Tapi restu dari orang tua itu penting juga. Bagaimana dia akan menjawab tentang ini. Pertanyaan itu seakan-akan timbul begitu saja. Seiring dengan rasanya yang mulai tumbuh. Terlihat nyata di hadapan Akmal.
Akmal tersenyum. Bukan dia tidak mengerti tentang ini. Bahkan dia mengerti benar kalau anak gadis bisa menikah atas izin dari walinya. Meskipun itu semua lebih tergantung pada orang yang menjalaninya.
"Kakak mengerti kok.. makanya Kakak Tidak memaksa kamu untuk menerima."
"Apa Kakak akan mundur."
Kembali Akmal tersenyum. Tak mengira akan mendapatkan pertanyaan itu. Ternyata Jamilah benar-benar ingin mengetahui isi hatinya. Menunggu kepastian dirinya.
"Sulit bagi Kakak untuk mundur. Tapi itu semua tergantung padamu."
"Aku sulit untuk menolak kakak. Apalagi Kakak sudah banyak berbuat baik padaku. Bahkan aku sudah berhutang nyawa pada kakak. ...."
"Stop ... Jangan teruskan. Kakak tak suka. Pernikahan bukan hanya sekedar balas budi. Setidaknya dengan pernikahan itu beragama kita menjadi lebih sempurna. Bahkan kakak tidak bisa menjanjikan dalam pernikahan itu kita bahagia atau tidak. Karena itu merupakan ketentuanNya. Tergantung kita ikhlas atau tidak menerimanya."
__ADS_1
"Terima kasih, Kak. Sudah kasih pencerahan."
Ini sesuatu yang sulit namun istimewa. Membuat ku tersanjung. Tapi tidak ... Aku masih ragu dan bingung. Jika mempertimbangkan rasaku saat ini, maka aku akan segera menjawab iya ... Aku tidak memungkiri bahwa itu ada. Satu keinginanku agar rasa itu bisa tumbuh berkembang pada tempat yang semestinya. Dan kurasa apa yang ditawarkan oleh kak Akmal adalah tempat yang benar. Tapi untuk kedepannya aku tak tahu. Ini sebuah keputusan yang benar atau salah. Untungnya Kak Akmal memberiku waktu merenung sebelum mengambil keputusan.
Ada hal lain yang aku tidak bisa tutupi. Aku takut itu nanti akan menjadi sesuatu masalah.
"Kak Akmal?"
"Ya. Ada apa?"
Ngomong apa nggak ya ....
"Tapi Kak. Aku nggak bisa masak."
Serta merta Akmal tertawa. Setelah memberinya penjelasan panjang lebar bahkan tinggi juga, agar dapat berpandangan lebih luas dan lebih berisi serta bermakna dalam menyikapi Maslah pernikahan, ujung-ujungnya balik lagi kepada pemikiran yang begitu remeh-temeh.
Begini kalau akan melamar gadis kecil. Hal yang tak pernah kupikirkan, dia pikirkan. Ingin sekali diriku menggodanya. Tapi kalau mengingat amarahnya yang kadang tak jelas, tak tega juga. Bisa jadi rencana melamarnya akan gagal.
Tapi kapan lagi ada kesempatan seperti ini, besok dia sudah pulang.
"Lho kok?" Akmal mencincingkan mata.
"Ya, Kakak ...."
"Ya nggak gitu juga. Jangan diejek kalau aku masaknya nggak enak."
"Indah Ayu Setyawati alias Jamilah. Apa kamu pernah dengar berita, ada orang meninggal karena istrinya nggak bisa masak?"
"Hehehe, nggak sih. Ya cuma takut aja seperti yang kakak bilang. Kakak akan makan di tetangga."
"Oh ... Gitu. Tapi boleh juga tuh makan di tetangga."
"Kakaakkk."
"Ya kan memang lagi kondangan. Masak ditolak."
Satu kosong. Untuk diriku yang selalu menang. Salah sendiri jadi gadis kecil. Membuat diriku ingin berlama-lama
di rumah, menggodanya sampai dia senewen. Sungguh amat menyenangkan. Sampai-sampai Bi Umaimah beberapa kali harus menengok, melihat kehebohannya atau mendengar teriakannya.
__ADS_1
Kadang di sela-sela kita bercanda, sekilas kulihat di depanku adalah seorang gadis yang tumbuh dewasa. Alih-alih ingin menggodanya, Aku ingin pergi saja. Khawatir kalau kelepasan ngomong, " Kamu cantik. Kamu istimewa. Kamu gadis yang selama ini ku tunggu ...." Pada akhirnya aku akan berteriak, "Aku Cinta Padamu."
Apalagi suasana sangat mendukung. Bisa-bisa anganku berselimut kabut dosa. Ah sudahlah, Aku mau pergi saja. Tunggu halalnya agar nanti berpahala dan lebih romantis.
Beberapa kali dirinya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sesekali menengok ke ruang depan. Seperti ada yang sedang ditunggunya.
"Kakak akan pergi?"
"Iya."
"Ya pergi saja. Nanti terlambat."
"Tidak gitunya. Paman kok nggak datang-datang."
"Sudahlah, Pergi saja. Kakak tak perlu cemas. Jamilah akan baik-baik saja."
"Baiklah." Akmal pun beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan Jamilah yang masih menyelesaikan minumnya. Tanpa ada keinginan mengantarkannya ke depan. Lha memang sudah besar. Masak harus diantar-antar?!
Tak sangka Papa Ulya dan Mama Naura datang. Beberapa saat sewaktu Akmal baru saja akan meninggalkan Jamilah. Ketika dirinya baru saja sampai di ruang tengah pada saat mobil yang membawa Papa Mamanya berhenti di halaman.
"Assalamualaikum. Alhamdulillah Papa Mama datang."
"Waalaikumsalam. Loh kamu mau pergi toh!"
"Ya Pa aku mau ngurus dokumen untuk besok."
"Ya sudah. mana dia?"
Saat itu Jamilah sudah menyelesaikan minumnya dan membereskan cangkir cangkir untuk dibawa ke dapur. Mendengar suara mobil yang datang dia segera menuju kesana. Barangkali paman dan bibi Fariha sudah datang.
Dia sejenak terkejut saat melihat siapa yang datang. Ternyata bukan tante Fariha dan suaminya, melainkan tante Naura dan Om Ulya yaitu Papa Mama Kak Akmal.
Dia pun mendahului untuk menyapanya, "Assalamualaikum Tante Om."
Naura tanpa terkejut tapi juga senang ketika melihat Jamilah menghampiri dirinya tak lagi memakai kursi roda. Bahkan juga telah mengenal mereka dengan sangat baik.
"Ayu Janirah. Kamu sudah sembuh."
Jamilah menganggukkan kepala seraya berkata, "Alhamdulillah tante. Berkat Kak Akmal dan juga pussy."
__ADS_1
Dia juga tidak lupa untuk bersalaman pada keduanya dengan takdzim.
"Panggil saja Mama pada tante seperti kemarin-kemarin."