Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Penculikan


__ADS_3

Ini benar-benar merepotkan membawa pussy dalam acara belanja. Waktu kita masuk ke toko buku, dia tak mau ditinggal. Maunya ikut. Padahal tahu kan, peraturan toko. Tak boleh membawa binatang peliharaan. Untung saja Ayu Jamilah memakai kerudung yang amat lebar bisa menyembunyikannya sementara.


"Yang manis! Tak boleh bunyi,"kata Ayu Jamilah sebelum menutupnya.


"Begitu baru manis ... " Aku memujinya saat kulihat dia meringkuk dalam pangkuan Jamilah. Dan kita pun menjadi tenang mencari buku yang Jamilah inginkan.


Meskipun Jamilah sudah menemukan yang yang dicarinya, tapi dia belum puas juga. Dia masih melanjutkannya memilih buku lainnya.


"Kak, ini boleh ya?"


"Hm ... Boleh." jawabku sekilas. Karena aku sedang memilih buku juga.


"Kak, ini boleh?"


"Ambilah kalau memang kamu suka. Nanti Kakak bayar."


Kurasa Kami mempunyai hobi yang sama. Suka membaca buku dan mengkoleksinya. Begitu ada kesempatan untuk belanja. Bisa habis uang di dompet. Tapi aku masih tahu diri kok, karena kali ini bukan hanya buku yang jadi tujuanku, tetapi juga perlengkapan untuk meminang orang yang ada di sampingku.


Sudah, hari ini 3 buku saja yang ku ambil. Lain kali saja kalau ada kesempatan, aku balik lagi. Aku lihat Jamilah juga sudah selesai memilih-milih buku.


"Bagaimana Ayu Jamilah, sudah selesai belum?"


Ku lihat Dia tersenyum. Dia tampak senang dengan setumpuk buku yang ada di tangannya. Masyaallah ... Keranjang itu pun sudah hampir penuh dengan buku. Kuhitung sudah ada 10 novel dan satu buku sejarah.


"Insyaallah sudah, Kak. Jangan marah ya ... Sepertinya Jamilah khilaf kalau sudah berhadapan dengan buku."


Bagaimana ini, apakah aku akan berkata kembalikan, untuk semua buku yang sudah bertumpuk di dalam keranjang. Sampai-sampai diriku kalah. Aku hanya 3, dia 11. Padahal yang bayar aku. Ah biarkan sajalah ....


"Kak Akmal, aku duluan. Mau menyusul tante."


Dia melenggang ke luar toko, meninggalkanku sendiri dengan keranjang penuh buku.


"Ya ... Ya ...." Ambil nafas dalam-dalam dan keluarkan pelan-pelan. Agar rasa ini bisa aku kendalikan. Mau marah gimana, sudah terlanjur. Kapan lagi bisa membuatnya bahagia, kalau tidak sekarang.


Cukup lama juga aku mengantri di depan kasir. Ada banyak pelanggan yang bermaksud sama. Sabar ... Setelah menyelesaikan pembayaran, aku pun menyusulnya ke tempat parkir.


Dari jauh terlihat tante Fariha membawa beberapa paper bag dengan sebuah troly. Memang dirinya yang ku mintai tolong untuk membeli keperluan meminang. Agar waktu menjadi efisien tidak terbuang percuma.


"Sudah semua, Tante."

__ADS_1


"Sudah. Semoga Jamilah suka. Dan cincinnya juga pas. Mana Jamilah?"


"Lho, Bukannya tadi ke tempat, Tante?"


"Tidak!" Tante Fariha terkejut.


Tiba-tiba terdengar ada notif masuk. Dari markas pusat. Berita yang mengejutkan. Bastian dan Tazkia kini kembali ke negara ini. Aku diperintahkan untuk hati-hati.


Jangan-jangan, mereka sudah sampai sini. Aku jadi merasa khawatir. Jamilah kamu dimana? Aku melihat seluruh area parkir, tampak lengang. Hanya kami berdua.


"Pussy!" Kucing anggoraku menarik-narik ujung celanaku. Seperti akan mengatakan sesuatu. Ya, aku ingat. Terakhir dia bersama kucingku.


"Ada apa Pussy? Mana majikanmu?"


Dia berlari cepat. Aku pun mengejarnya. Firasatku mengatakan bahwa terjadi sesuatu pada Jamilah.


"Tante, masuklah ke dalam mobil. Kuncilah. Hubungi Paman untuk menjemput!" Aku berlari sambil berteriak. Semoga Tante mengerti, karena bukan sekali ini kita jalan dan menemui orang-orang yang berniat jahat pada kami.


"Ya," sahutnya.


Aku benar-benar khawatir dengan keadaan Jamilah. Dari jauh terelihat sebuah mobil hitam. Ada seorang mendorong kursi roda, masuk. Beberapa orang lainnya juga bersiap masuk. Sementara seseorang sudah menghidupkan mesinnya. Begitu pintu tertutup, mobil pun melaju cepat meninggalkan tempat itu.


Amarahku meledak. Aku segera berlari kencang. Tapi tak tersusul juga. Aku mengeluarkan sebuah pistol yang senantiasa ku bawa dari balik baju. Dor .... Tembakkanku sia-sia. Mereka sudah menghilang di balik tikungan. Dan Ini mobil ... seperti aku mengenalnya.


"Astaghfirullah al adzim. Lagi-lagi kalian!" Amarahku meledak. Kelompok perusuh yang 1 tahun lalu baru bebas. Sekarang sudah berulah.


Aku tetap berlari memotong jalan. Langkahku terhenti manakala ada sebuah mobil berhenti di sampingku.


"Akmal, masuklah!"


Alhamdulillah, ada Tante Fariha. Aku pun melompat ke dalam mobil. Berganti posisi dengannya untuk menyupir mobil.


Meong ... Baru aku sadar kucing itu masih setia mengikuti ku.


"Masuklah!". Dia juga segera melompat melewati Tante Fariha, duduk tepat di sampingku.


Tanpa buang-buang waktu, aku segera melaju cepat mengejar mereka. Setelah sekian lama akhirnya kudapatkan keberadaan mobil kembali. Dia melaju kencang di jalanan yang sepi. Aku menghubungi beberapa teman di markas dan juga kepolisian setempat agar membantuku untuk mengejar penculik ini.


"Akmal, kamu dimana?" Kudengar suara Paman, suami dari Tante Fariha. Dia adalah anggota kepolisian setempat.

__ADS_1


"Aku di sini, Paman."


"Oke. Aku di pintu tol depan."


"Hati-hati, Paman. Jamilah bersama mereka."


"Ya, Paman mengerti."


Meskipun mereka hanya perusuh kambuhan, tapi Jamilah bersama mereka. Aku khawatir mereka akan berbuat nekat. Dan akan mencelakainya.


"Tante enggak papa, kan?" Ku lihat mata Tante terpejam.


"Aku mau tidur Akmal. Pusing aku melihat aksi kalian. Selalu begini kalau keluar sama kamu." ucapnya tanpa membuka mata sedikit pun.


"Maaf Tante. Lanjutkan tidur Tante,"


Kini laju mobil perusuh itu sudah hampir mendekati jalan tol. Di sana sudah terlihat paman dan regunya menghadangnya. Tak ada jalan lain bagi mereka.


" Jangan harap kalian bisa lari."


Tak kusangka mereka mengeluarkan pistol. Mengarahkannya pada regu Paman. Aku terkejut tak biasanya kelompok ini dalam melakukan aksinya dengan menggunakan pistol. Biasanya hanya bersenjatakan tajam saja. Dari mana mereka mendapatkan benda itu?


Dor ... Dor ... Dor ... Dor. Ada sekitar 4 dari anggota regu Paman yang terkena. Membuat mereka mundur seketika. Dan membiarkan mereka lari. Ku rasa mereka bukan yang ku kenal dulu. Mereka kini lebih ahli.


Tapi jangan senang dulu. Tak kan ku biarkan kalian lolos. Ku jalankan mobilku dengan kecepatan penuh, hingga jarak kami semakin dekat. Dan kini sudah masuk dalam jangkauan jarak tembak pistolku.


Tapi belum juga aku bertindak, mereka sudah mengeluarkan pistolnya kembali. Mengarahkannya padaku. Mereka kini agak terlatih dengan senjata-senjata itu.


Tanpa pikir panjang, Aku pun mengeluarkan pistol dari balik baju. Menembakkannya pada tangan mereka. Dor! ... Dengan satu tembakan, alhamdulillaah membuat pistol itu terpental.


Mereka menambahkan kecepatan mobilnya untuk lari dariku. Mau tak mau aku harus ambil tindakan lagi.


Dor ... Dor ....


Dua peluru itu rasanya sudah cukup untuk melumpuhkan mereka. Keduanya mengenai ban mobil yang mereka kendarai. Menyebabkan terhenti seketika. Mereka pun keluar dengan mendorong kursi roda. Mereka mengarahkan pistol ke kepala Jamilah. Sedangkan Dia tidak sadarkan diri. Bagaimana mungkin dia bisa mengancam orang yang tak berdaya? Benar-benar rasa kemanusiaannya telah hilang,


"Ya Allah. Apa yang mereka lakukan?"


Aku menuju ke arah mereka tanpa ingin mengurangi kecepatan mobilku. Aku tahu resikonya. Benar saja ... Jari lelaki itu menarik pelatuk yang dipegangnya.

__ADS_1


__ADS_2