Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Galau


__ADS_3

Dia tak lekas bangkit dari tempat duduknya setelah melakukan video call dengan Jamilah. Raut kesedihan dan juga kebahagiaan terlihat menyatu dalam pancaran wajahnya. Lalu dia mengeluarkan sebuah dompet yang tersembunyi di balik saku celananya. Membukanya dengan tersenyum.


"Ma, putrimu sekarang sudah dewasa." Bisik lirih suara hati Hasan. Dia melakukan itu sambil memandang sebuah foto yang tersembunyi dibalik foto istrinya saat ini. Sebuah foto yang wajahnya sangat mirip dengan Jamilah.


Rasanya baru kemarin aku memangkunya, menyentuh tangan mungilnya, memanggulnya di atas pundak, mencium kepalanya saat dia tertidur, mengajaknya bermain kejar-kejaran, berlarian di tengah lapang memperebutkan sebuah bola, melihat dia menungguku datang dengan mata berbinar mengharap oleh-oleh. Bila tak mendapatkan, ia akan marah dan cemberut persis seperti dirimu. Entahlah ... aku masih memandangnya sebagai gadis kecilku yang ceria. Selalu rindu ingin memeluknya, mendekapnya dan mendengar celotehnya yang manja.


Ingin rasanya aku mengulang masa itu tapi sepertinya tak mungkin. Karena baru saja aku mendengar bahwa kali ini sudah ada seseorang yang akan menggantikan diriku di hatinya.


Rela tak rela, Aku harus bisa menerima kenyataan bahwa Putriku satu-satunya kini telah beranjak dewasa, dan mulai mengenal cinta. Aku hanya berharap dan berdoa semoga lelaki yang menjadi pilihannya kelak, dapat membimbingnya beragama menjadi lebih baik. Dan menyayanginya sebagaimana Aku menyayangi. Menjaganya sebagaimana aku menjaganya juga. Aku tak ingin sampai Dirinya terluka baik fisik apalagi hatinya. Semoga pilihannya tidak salah.


Akmal! Nama yang tak asing bagiku. Aku mengenalnya sejak ia masih kecil. Dari keluarga baik. Tak ada keraguanku padanya. Tapi benarkah dia bersungguh-sungguh akan niatnya. Aku belum begitu percaya. Apalagi kami berbeda negara. Apa itu mungkin? Tapi bila jodoh, apa hendak dikata. Aku pun tak bisa menghalanginya.


"Papa .... " Jagoan kecilku yang sudah berdandan rapi dengan bedak putih nan wangi memenuhi wajahnya, kini berdiri di depanku. Segera aku masukkan dompet itu, dan meraihnya dalam pangkuanku.


Dia anugrah yang kuterima ketika umurku mulai merayap senja. Sudah mulai pintar bicara, walaupun masih cedal.


"Kak Ayu." Bibir mungilnya menyebut nama seorang yang baru saja dilihatnya dalam hp-ku.


"Nanti kak Ayu akan balik. Abid rindu ya ?"


Dia menganggukkan kepala disertai tawa ceria.


"Abid akan tunjukkan ke Kak Ayu, kalau sekarang Abid sudah pintel dam pasti bisa ngalahkan kak Ayu. Ciattt .. ciattt ... ." Dia gerak-gerakkan kedua tangannya, sambil memperagakan beberapa jurus seni bela diri dengan mimik yang amat serius. Sungguh lucu sekali.


"Abid mau ikut Papa jemput Kak Ayu?"


"Mau dong, Pa."


"Turun dulu ya. Bilang ke Bunda untuk siap-siap."


"Benelkan, Pa. Jangan bohong, lho. Nanti Allah malah."


Anak ini benar-benar bikin gemes. Dia segera berlari ke dalam rumah. Kembali dengan menggandeng tangan Bunda Zulfa. Wanita yang kunikahi 8 tahun yang lalu.

__ADS_1


"Ada apa, Abid?"


"Papa mau ajak kita jemput kak Ayu."


"Beneran Ayu akan pulang, Pa?"


"Insyaallah. Kita berangkat habis isya', Jemput dia di bandara."


"Alhamdulillah, akhirnya dia kembali."


Meskipun Dia bukan ibu kandungnya, tetapi dia memiliki rasa kekhawatiran sebagaimana seorang ibu kandung. Saat mengetahui bahwa Jamilah tidak pulang bersama pasukannya. Dia teramat gelisah. Beberapa kali aku mendapati sedang mengontak para istri prajurit yang dikirim dalam latihan itu. Bertanya kabar pada mereka tentang Jamilah. Sampai dia mendengar bahwa Jamilah sudah menikah di sana. Dia amat sedih, merasa diabaikan. Karena Jamilah tidak memohon restu pada kami sebagai orang tua.


Apalagi ada yang berkirim foto tentang putriku itu. Jamilah duduk, bersanding dengan seorang pria di pelaminan. Meski tak sepenuhnya dia percaya, tapi itu cukup membuatnya terpukul. Tak jauh berbeda dengan dirinya, aku pun sangat marah. Satu harapanku. Semoga berita itu tidak benar.


Alhamdulillah, Jamilah akhirnya menelepon. Dan berita itu ternyata tidak benar. Meski tak semua salah. Ada sebagian kecil yang bikin hatiku menjadi was-was. Dia telah berani jatuh cinta tanpa seijinku, Papanya. Bahkan sudah lama tinggal di rumahnya. Hati orang tua mana yang tak was-was. Biarlah dikatakan Papa protektif. Toh, dia putriku. Tak ada yang salah dengan itu.


Waktu pun beranjak petang. Sinar surya sudah benar-benar menghilang. Lembayung senja yang sesaat terlihat di ufuk barat, kini sudah benar-benar tiada, berganti pekatnya malam. Andai tak ada bintang dan rembulan. Mungkin akan kusaksikan malam yang benar-benar sempurna tanpa warna.


Selepas isya, sesuai dengan rencana, kami berangkat. Sengaja aku menculik Aris, menantuku dari istrinya untuk menemaniku.Aku bersyukur Putri tiriku tak keberatan kalau suaminya ku ajak.


"kalau papa lelah, tidurlah."


"Ya." jawabku malas.


Dalam kesunyian malam, angan ini pun melayang. Sesekali ingin ku pejamkan mata, tapi tak bisa. Kulihat Bunda Zulfa sama. Dia masih terjaga di kursi belakang. Sedangkan putraku tampak sudah tertidur pulas dalam pangkuannya. Aku berpindah tempat duduk di sampingnya. Ada yang ingin ku sampaikan padanya.


"Bun, aku ingin mengajak kalian semua pergi berlibur."


Bunda Zulfa terdiam mendengar rencana-rencana yang ku ungkapkan. Sejenak dia berfikir.


"Tumben. Apa Papa habis dapat promosi. Ajak-ajak kita libur."


"Enggak, cuma pingin saja. Mumpung Jamilah bersama kita."

__ADS_1


"Boleh. Abid juga pasti senang. Lama kita nggak lakukan itu. Semenjak Jamilah lulus akademi."


"Habis itu kita pulang ke rumah."


"Maksud Papa, rumah yang mana?"


"Rumah kita di Klaten."


"Papa tak dinas?"


"Cuti 1 Minggu. Aku ambil saat ini saja. Eman ... tak pernah ku ambil."


"Aku sih terserah Papa. Mana baiknya sajalah."


Kembali keadaan sunyi. Zulfa masih membelai lembut Abid yang tertidur di pangkuannya. Sedangkan aku masih berkutat dengan pikiranku tentang Jamilah. Apakah aku perlu ngomong sekarang. Tentang putriku itu padanya?


"Bunda, sekarang Jamilah sudah dewasa."


"Ya, memang dia sudah besar." Dengan cueknya, dia menjawab. Tak tahukah bahwa itu membuatku gemas. Ternyata, Dia benar-benar wanita yang pintar menggoda.


"Bukan itu maksudku, Bunda."


"Maksud Papa ... Apa Papa punya pandangan untuk Jamilah."


"Sepertinya putrimu itu sudah punya pandangan sendiri."


"Jadi benar berita itu, Pa."


"Sama sekali tidak benar. Cuma mungkin sebentar lagi kita akan kedatangan calon mantu."


Dia tak langsung menjawab. Wajahnya tertunduk. Tangannya tak berhenti membelai lembut rambut putraku. Mungkin dia berfikir sama dengan apa yang sedang ku pikiran? Aku rasa begitu.


Bahkan sempat aku mendengar nafasnya yang panjang. Seperti hendak mengurai angannya yang mulai gelisah.

__ADS_1


"Ya syukurlah, Pa. Itu lebih baik. Aku sangat khawatir dengan dunia di luaran sana. Kalau ada yang bisa membimbingnya, melindunginya, menjaganya, mungkin was-was ku menjadi sedikit berkurang."


__ADS_2