Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
tentara oh tentara


__ADS_3

Akmal tersenyum gembira, segala rencananya disetujui oleh Profesor Amar.


"Aku panggil mereka dulu, Prof."


"Ya."Profesor Amar mengangguk


Akmal keluar laboratorium itu. Tak lama kemudian kembali dengan beberapa orang dari pasukan khusus yang pagi tadi membantunya meringkus Abbas.


Dengan dibantu oleh beberapa orang dari anggota pasukan khusus, mereka memindahkan kabel-kabel serta selang-selang yang terhubung dengan alat permanen di ruangan itu ke alat yang lebih simpel, agar bisa dibawa kemana-mana.


Setelah semuanya beres, mereka membawa Tazkia melalui pintu khusus menuju lantai dasar dimana sebuah mobil ambulans sudah menunggu.


Mereka pun memasukkan tubuh Tazkia ke dalam mobil. Akmal mengikuti, masuk ke dalam mobil itu. Demikian juga profesor Amar .


"Lho kok ... Profesor di depan saja. Biar saya yang di sini."


"Aku juga mau melakukan pengamatan dulu sebelum menyerahkannya pada temanmu itu."


"Biarlah saya saja Prof."


"Kamu yakin?"


"Apa profesor tidak mempercayaiku?"


"Baiklah. Tapi tolong amati dengan benar dan teliti. Aku nggak mau ada kesalahan."


"Insya Allah, Prof."


Profesor Amar mengalah. Dia keluar, membiarkan Akmal di box belakang bersama dengan beberapa orang anggota pasukan, sedangkan dia sendiri menuju ke samping pengemudi.


Profesor memasang beltseftnya sambil berkata."Kita mampir ke rumahku dulu,"


"Baik Prof," sahutnya.


Kurang dari 15 menit, mereka telah tiba di rumah profesor Amar yang tak pernah sepi dari penjagaan.


Keduanya pun menuju ke dalam. Di sana telah menunggu 5 orang teman-teman mereka yang salah satunya adalah Ahmad.


"Akhirnya kamu datang juga, Akmal. Cepatlah! Aku sudah tidak tahan lagi, nih."


"Baiklah. Mungkin ada reaksi tertentu, kamu sabar ya ... tidak usah panik."


"Insya Allah. Asalkan kami sembuh, "


"Semoga."


"Jangan memberi harapan palsu."


"Aku hanya berusaha," Jawab Akmal sambil tersenyum.


Sepintas dirinya melihat Ahmad dan yang lainnya pucat dan panik. Kepanikan yang aneh. Dia sudah mulai hafal dan mengenal mana pucat karena zat X10MZBY1 dengan pucat karena ketakutan.


Akmal jadi tersenyum sendiri.

__ADS_1


Tentara oh tentara ... Berhadapan dengan musuh, tak gentar. Berhadapan dengan jarum suntik, nanti dulu.


Belum juga jarum suntik menyentuh kulitnya dia sudah berteriak, " Uwaaaaduhhh ..."


"Kamu ini apaan sih. Ini masih belum kubuka jarumnya. Kok sudah teriak." Akmal tidak tahan untuk tertawa melihat kepanikan teman-temannya ... Lebay amat sih. Abid kalah deh ....


"Belum toh,"


"Hmmm ... Rasakan ini!" Akmal menjentik-jentikkan jarinya pada jarum yang yang berisikan serum. Menggoda mereka sebelum benar-benar menyuntiknya.


"Akmal kamu jangan main-main lah," ucapnya ketakutan.


"Kalau kamu makin tegang, nanti makin sakit. Udah dibikin santai aja kenapa sih. Nggak Sakit juga," ucap Akmal sambil mengusapkan kapas yang telah dibasahi alkohol ke salah satu bahunya.


"Santai ya ... biar tak salah urat," ucapnya merayu. Mengusir ketegangan yang Ahmad rasakan.


Berlahan Akmal menyuntiknya. Dia meringis dan memejamkan mata. "Dah belum?" tanyanya.


"Dah, nich!"Akmal menekan bekas suntikan dengan kapas yang sudah dibasahi oleh alkohol.


"Makasih, Akmal." Ahmad menggantikan tangan Akmal memegang kapas tersebut, meski dengan meringis kesakitan.


Akmal dan Amar tak mau lama-lama berada di sana. Setelah menyerahkan tanggung jawab kepada asisten dan ajudannya, mereka segera berangkat menuju rumah Akmal. Amar ingin melihat langsung William, orang yang akan diserahi tugas melanjutkan observasi pada Tazkia.


🌟


Sementara itu di rumah Akmal ....


"Bagaimana, sudah ada hasil?" tanya Fariha pada William yang baru saja keluar dari laboratorium Akmal, meneliti darah Abid.


"Sepertinya Abid sudah kembali sehat, tapi sebaiknya kita tunggu sampai 24 jam ke depan." Faricha menimpali.


"Tidurnya juga lebih tenang." Hasan urun rembuk. Dia tak pernah beranjak dari sisi Abid. mengusap kepala dan tubuhnya secara bergantian dan penuh kasih sayang.


"Alhamdulillah, Kalau gitu aku mau telepon Akmal dulu."


"Kurasa itu bagus agar aku bisa segera membawanya pulang."


Belum sempat Fariha mengangkat telepon, tiba-tiba bel rumah berbunyi, " Assalamualaikum ...."


Tumben ada tamu. Siapa lagi dia? semoga tidak membawa masalah. Dan kenapa dia bisa lolos dari pos jaga, gumamnya lirih dalam hati.


Fariha segera beranjak, menuju ke ruang tamu. Dia mendapati dua orang yang cukup berumur berdiri di depan pintu. Mengamati dengan seksama keadaan sekitarnya.


"Bapak Ibu mencari siapa?"


"Benar ini rumahnya Akmal?"


"Benar ibu."


"Alhamdulillah benar, berarti kita tidak dibohongi?"perempuan itu berbisik kepada suaminya.


"Apa William ada di sini?"

__ADS_1


"Ya. ada di dalam. Apa perlu saya panggilkan?"


Belum juga beranjak, wanita itu sudah melontarkan sebuah pertanyaan lagi.


"Tazkia?"


Fariha mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan sikap ibu yang ada di depannya.


"Tazkia siapa, Bu?"


Dia menatap balik farihah dengan rasa tidak percaya.


"Lho kok ... Kata Akmal dia ada di sini."


Fariha masih tampak bingung dengan kedua orang itu. Dia sama sekali tidak tahu permasalahan yang sedang dihadapi oleh keponakannya saat ini.


Apa hubungannya Akmal sama Tazkia? Aku kok berpikiran yang tidak-tidak. Jangan-jangan Akmal telah berbuat sesuatu pada Tazkia sehingga menyebabkan orang tuanya ke sini.


Astagfirullahaladzim ... kok aku jadi suudzon.


"Silakan masuk dulu Bu. Biar enak ngobrolnya."


Sementara itu William yang sedang memeriksa keadaan Abid lebih lanjut merasa heran mengapa Fariha tidak segera kembali. Mungkinkah yang datang adalah Akmal dengan membawa serta Tazkia. Sehingga perlu mempersiapkan kamar dan juga meletakkan peralatan observasinya seperti pada Abid sesaat yang lalu. Dia pun menyusul. Mungkin saja tenaganya diperlukan.


Dia tertegun saat melihat kedua orang tuanya di sana. Mengobrol santai dengan Fariha.


"Papa mama, mengapa Kalian ada di sini?" Dia bergumam lirih. Dengan wajah bingung dia menghampiri serta memeluk keduanya. Lalu mengambil tempat duduk tepat di hadapan mereka.


"Mereka mencari mu." Fariha berpamitan meninggalkan mereka mengobrol.


"Papa mama, kok tahu aku ada di sini?"


"Akmal yang kasih tahu kami kalau kamu dan Tazkia di sini."


"Oh ... ternyata ulah Akmal. ini benar-benar suatu kejutan bagiku. tapi ... apa maksudnya Akmal melakukan ini." gumamnya dalam hati.


"Tazkia mana?"


William mengerutkan dahinya dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh namanya. Dia manggut-manggut mencoba mengerti dengan apa yang terjadi.


"Oh itu. Sebentar Ma ... aku mau telepon Akmal dulu. Dia masih bersamanya." Dia berdiri, keluar menuju halaman.


Dengan wajah gusar William pun mengangkat telepon genggamnya. Moga-moga Tazkia baik-baik saja. Bisa berabe kalau terjadi sesuatu dengan Dia.


"Akmal, Kenapa kamu kasih tahu orang tuaku kalau Tazkia di sini?"


"Bukankah mereka kangen sama Tazkia. Aku ingin mereka berjumpa Siapa tahu akan membantu kesembuhan Tazkia." Akmal mencoba beralasan.


"Tapi ...."


"Jangan khawatir, Tazkia sama aku sedang menuju rumah."


"Tapi sebelum Tazkia ketemu sama mama aku ingin tahu keadaan dia dulu. Aku ke situ ya ...."

__ADS_1


"Oke. Ajak Robi asistenku menemanimu biar nggak salah jalan."


" Hmmmm ...."William pun menutup teleponnya dan kembali ke dalam rumah menemui kedua orang tuanya.


__ADS_2