
Dia memandangi layar handphone itu berkali-kali. Kembali membacanya berlahan-lahan kalimat-kalimat yang tertera di sana. Sampai akhirnya membuat kepalanya agak pening.
Apa Papa juga sudah mengetahuinya? Kurasa belum. Karena Papa belum ngomong apa-apa ke aku, setelah kedatangannya kemarin.
Saat Kak Akmal mengutarakan niatnya, akan datang bersama keluarganya tak ada penolakan dari papa.
Oh my God ...
Papa ... Bunda Zulfa ... Hiks hiks hiks ... Apa yang seharusnya aku lakukan. Apa yang harus kukatakan. Apa yang harus aku tuliskan. Bagaimana bisa kedua-duanya datang pada saat yang bersamaan.
Aku tak mungkin menerimanya. Sudah ada Kak Akmal yang berjanji esok akan datang juga.
Sedangkan dia ....
Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana.
Haruskah aku balas saja dengan kata penolakan.
"Jangan datang komandan. Ada satu nama yang kini sedang mengetuk pintu hatiku untuk sebuah kepastian. Dan anda sudah terlambat."
Saat jari-jarinya ingin menulis kata-kata itu di layar handphone, timbul keraguan. Sehingga dihapuskannya kata-kata itu kembali.
Andai yang datang adalah komandan sendiri Mungkin aku akan mampu mengatakan hal itu. Namun Apabila orang tua yang sudah melangkah, apa dayaku untuk sekedar berucap tidak padanya.
Otaknya kembali memutar memori-memori yang telah lalu. Di mana komandan Santosa begitu perhatian padanya. Sebelum kecelakaan, pada saat dirawat, dan perhatian-perhatian sesudah dia berada kembali ke tanah air.
Pada saat yang sama bayangan tentang Akmal melintas bersama. Masa kecil, dia suka sekali mengganggu Akmal. Namun selalu ada kata maaf bagi dirinya. Pertemuannya di bandara yang cuek-cuek saja, membuat dirinya sadar untuk selalu menjaga hati senantiasa perawan hingga saatnya tiba. Lalu pertemuannya yang sekarang semakin menambah kerinduan akan sosok Kakak baginya.
Dan di dalam dirinya kutemukan keteduhan seorang kakak. Saat menyelamatkanku, saat mendampingiku, saat memberi semangat kepada ku, atau saat melindungiku. Padanya kutemukan kenyamanan. Apakah salah bila aku menjatuhkan pilihan pada Kak Akmal. Apalagi saat mengingat kata-kata Kak Akram dan juga mama Naura tentang Kak Akmal bahwa dia telah menanti ku sejak lama.
__ADS_1
Aku tak tahu ....
Mungkinkah Ini sebuah kesalahan dariku yang belum tahu waktu yang tepat, Bagaimana melepaskan keperawanan hati. Belum juga ada kata SAH, Kenapa menjatuhkan pilihan. Membuat hati gelisah dan tak tahu arah bila ada masalah seperti ini.
Tak terasa kebingungannya menyebabkan air matanya meleleh.
Astagfirullahaladzim ... Maafkanlah diriku Tuhan yang telah salah dalam mengartikan nama-Mu dalam cinta kasih yang telah Engkau berikan.
Segera Jamilah turun dari ranjang menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu untuk mensucikan diri. Lalu menggelar sajadah kecil di sisi sebuah tempat dimana dia biasa berbaring. Memakai mukena putih bersulam benang putih tanpa warna lain yang menodainya.
Sujud, rukuk, dalam puji, takbir dan tasbih menyadarkan angan ini bahwa masih ada sandaran yang bisa untuk menggantungkan segala impian yang kini masih nampak dalam keragu-raguan berharap sirna.
Lelah hati dan angan seakan hilang tak berbekas pada saat jiwa telah menyentuh rasa kedamaian dan ketenangan bersama mengingat bahwa Dialah satu-satunya yang menuliskan segala kejadian dari tiada menjadi ada ataupun sebaliknya.
Saat aku mengenal kamu, kamu mengenal aku. Dan akhirnya sadar bahwa kita sama-sama menemukan ada sesuatu. Apakah itu cinta atau cita, itu sebuah angan ataukah kenyataan, akankah menuju keridhoan-Nya ataukah membawa diri menjauh dari jalanNya.
Tak lelah hati ini berucap agar ketetapan yang kuambil dalam langkahku ke depan, tak akan melukai sesama apalagi lagi teruntuk orang yang pantas dicinta dan juga dihormati.
Biarlah esok, petunjuk Tuhan ku nanti saat mereka datang. Pada lisanku kah atau lisan Papa kah atau lisan Abah yang esok akan hadir, Engkau titipkan ke mana pilihan itu mengarah.
Cukup Sudah pengaduan batin merana Jamilah karena tak bisa dimungkiri raganya pun lelah karena seharian tak henti bergerak, meniti sajadah kehidupan yang belum nampak ujungnya. Jauh kah atau dekat kah, rahasia semesta yang pasti akan kita tahu di kemudian hari.
Jamilah pun melipat mukena, membawa ke atas ranjang sebelum membuka kitab Al Qur'an agar dia tenang dalam mengistirahatkan jiwa raganya, menyerah pada selimut malam bermandikan embun dingin yang mulai turun di malam ini.
Namun itu tak bisa dia lakukan sampai mendapatkan 2 juz dalam tilawahnya. Mungkin satu jam, setengah jam, seperempat jam, aku bisa mengistirahatkan badan. Ini benar-benar membuatku lelah. Ungkapnya lirih sambil mengalunkan senandung doa. Sampai mata terpejam sempurna.
Jam malam takkan mungkin berhenti sampai datang fajar menyapa pagi. Diawali dengan panggilan shalat malam yang biasa dia dengar dari masjid kecil yang ada di kotanya. Ditambah pula dering basmalah yang biasa Kak Akmal kirimkan.
"Kakak," ucapnya lirih. Untungnya sudah 8 rakaat yang sudah dia lakukan. Tinggal menambah tiga lagi rekaat shalat witir sebagai penutup menjelang fajar.
__ADS_1
"Aku sudah bangun kok, bahkan sudah shalat." Jawaban yang mungkin tak bisa dituliskan dalam chatnya.
Bahkan dia menulis kata lain untuk menyapa orang yang telah membangunkannya di setiap sepertiga malam akhir.
[Kak, jangan sampai terlambat ya ... Papa dan kita semua menunggumu]
Jamilah meletakkan kembali hp itu di atas nakas kecil yang ada di samping tempat tidur, begitu saja. Karena tak berharap chat itu akan dibalas dengan segera. Apalagi bersibuk sibuk ria melalaikan apa yang telah dia mulai.
Saat ini yang Jamilah ingin lakukan adalah kembali lagi meneruskan rakaat-rakaat yang belum sempat dilakukannya sebagaimana niat pertama kali membuka mata saat bangun.
Genap sudah apa yang Jamilah lakukan untuk menyempurnakan awal harinya dengan mengingat sang pencipta.
Kok aku merasa ada yang mengganjal. Apa ya ....
Astaghfirullahaladzim ... Aku lupa tak membalas satupun chat komandan. Tak sopan ....🙈
Baiklah, bismillah ....
[Terima kasih komandan telah mengingatkan tugasku sebagai prajurit]
[Rasanya aku merasa tersanjung sekali saat mengetahui bahwa orang tua komandan akan datang ke sini]
[Itu semua tak pernah terpikirkan olehku]
[Ada maupun tidak adanya niat melamar Jamilah, pintu rumah kami selalu terbuka untuk itu]
[Welcome]
Ok, semuanya beres. Kini saatnya membantu Bunda dan kak Malika untuk acara hari ini. Bukankah Umi dan Abah Ridwan akan datang, juga bibi Redha dan suaminya. Jarang sekali kita bisa berkumpul kalau tidak saat-saat seperti ini.
__ADS_1
Jamilah pun melangkah ke arah dapur. Di sana sudah terlihat terang. Rupanya kak Malika sedang bergelut dengan olahan yang akan kita hidangkan nanti.