
Akmal masih dengan menggendong Abid berjalan berlahan, lalu duduk bergabung dengan tamu pria. Sedangkan Jamilah dan Zulfa yang mengikuti di belakangnya berjalan setengah jongkok menemui tamu wanita.
Dengan didampingi Bunda Zulfa Jamilah mengalami semua tamu wanita yang ada di ruangan itu. Lalu duduk bersama mereka.
"Bagaimana Ayu Jamilah?" Abah langsung mengarahkan pandangannya pada Jamilah yang baru saja duduk.
Abah sengaja memanggil tidak seperti biasanya tetapi menggunakan panggilan yang sudah familiar di antara mereka. Di mana keluarga Akmal mengenal dengan nama Ayu sedangkan keluarga Santosa mengenal dengan nama Jamilah. Padahal biasanya dia memanggil Setyowati pada keponakannya itu.
Bagaimana apanya ....
Jamilah tak mengerti maksud Abah Ridwan. Dia menengok ke kiri dan ke kanan lalu menunduk, karena semua orang menatapnya.
"Jawablah, Nak," bisik Umi Ridwan yang duduk di sampingnya.
"Maksudnya apa, Umi?"
" Lamaran siapa yang kamu terima, Bara atau Santosa?"
Jederr,
Dada ini serasa sesak seketika. Ternyata semua menunggu dirinya untuk hal yang ingin dia hindari sajak tadi.
"Umi ..." Dia mengeluh lirih di telinga perempuan yang telah mengasuhnya sejak lahir.
Umi Ridwan mengusap kepalanya lembut. Memberikan kekuatan pada Jamilah agar berani mengungkapkan apa yang menjadi pilihannya.
"Malu ...."
"Ya sudah bilang aja ke Abah sana. Biar Abah saja nanti yang ngomong."
Jamilah berdiam sejenak, menata hati sebelum melangkah untuk mengutarakan apa yang sudah menjadi keputusan.
Ketika sudah siap, tanpa banyak kata lagi Dia pun beranjak berdiri dari tempat duduknya, mendekati Papa dan Abahnya yang duduk diantara tamu laki-laki.
Ah! Jamilah mengeluarkan nafas berat dengan cepat. Mengapa bayangan-bayangan kesedihan melintas mengusik angannya. Astaghfirullah al adzim ... Dia berucap lirih agar semua bayangan itu pergi menjauh.
Dia menepuk tangan Hasan pelan. Lalu bergelayut manja di lengan Papanya yang amat nyaman untuk bersandar ketika ada masalah.
"Papa."
__ADS_1
"Ada apa Putriku?" Untungnya Hasan segera tanggap.
"Papa mendukung apapun keputusanmu."
Jamilah menunduk. Lalu secara sembunyi melirik Akmal dan Santosa bergantian sebelum bicara terus terang pada Papanya.
Dengan cara berbisik-bisik, dia mengungkapkan hal itu. Hasan tampak mengangguk-ngangguk. Sesekali mengusap kepala putrinya.
"Benar begitu," ucapnya lirih untuk memastikan apa yang Jamilah katakan. Jamilah mengangguk pelan.
Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibir Hasan. Hanya sekali-kali terlihat tersenyum cerah dan wajahnya bahagia. Bertanda Dia setuju dengan keputusan putrinya. Karena sejak awal dia sudah faham dengan keinginan putrinya dan siapa yang dipilihnya.
Selesai mengungkap isi hatinya, Jamilah beranjak akan pergi.
"Hai, mau ke mana?" Hasan segera meraih tangan Jamilah yang hampir berdiri meninggalkannya.
"Duduklah! Kamu yang punya kepentingan di sini. Papa hanya mendampingimu."
Sungguh hal yang paling menakutkan. Duduk di antara pria yang menanti keputusannya dan mungkin juga pertanggungjawaban atas keputusannya itu. Mengapa otak ini berfikir terlalu jauh yang membuat semakin gelisah dan tersiksa.
Jamilah pun mengurungkan niatnya. Duduk bersembunyi di belakang Papanya dengan memegang lengannya erat.
"Apa yang dikatakan putrimu, San?"bisik Abah.
Meskipun Abah tampak konsens menyapa tamu yang ada di sekelilingnya, namun dia juga terus memperhatikan percakapan keponakan dengan Hasan. Yang pasti sesuatu yang saat ini sedang ditunggu semua tamunya.
Hasan pun berbisik, menyampaikan apa yang sudah menjadi keputusan Jamilah. Abah mengangguk-angguk faham.
"Bagus itu. Tapi kamu harus tahu konsekwensinya, Setyawati."
Jamilah menggangguk, mencoba kuat dengan keputusan yang diambilnya.
"Setyawati mohon bimbingannya, Bah."
Abah kembali fokus menatap setiap tamu-tamunya, terutama Akmal dan juga Santosa yang menunggu jawaban akan lamaran yang mereka utarakan melalui wakil orang tua masing-masing.
"Baiklah. Sebelumnya saya sampaikan terima kasih kepada keluarga Bapak Ulya maupun keluarga Bapak Santosa yang sudi datang ke rumah kami. Kami tak menyangka kalau kedatangan kalian mempunyai maksud sama. Ingin melamar Jamilah untuk putra kalian. Akmal atau Santosa. " Abah mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
Dia menatap mata Santosa yang penuh harap, seolah-olah tak tega. Bagaimanapun dia pernah muda dan merasakan hal sama yaitu jatuh cinta. Tapi dia tak bisa memungkiri akan tatapan Bara pada Jamilah saat kecil dulu yang sekarang masih tersimpan jelas di bola matanya yang memancarkan kerinduan.
__ADS_1
Apa pun yang Jamilah putuskan, itulah yang harus dikatakannya. Sambil berdoa, semoga itu yang terbaik bagi mereka bertiga.
Demikian juga dengan wajah dari keduanya. Baik Akmal maupun Santosa sama-sama tegang. Ada kekhawatiran yang sama. Jika kerinduan yang mulai ada dalam jiwa mereka, harus terkubur dalam.
Santosa yang mengenal Jamilah semenjak dia dalam satu korps dan tugas-tugas yang sama mulai sadar kalau sudah mulai timbul rasa. Dan dia senantiasa berharap Jamilah mempunyai rasa yang sama.
Perhatikan-perhatian kecil yang selalu dia berikan, karena ingin menunjukkan pada Jamilah bahwa dirinya layak untuk dinanti kedatangannya.
Dirinya sadar, bahwa Jamilah jarang sekali menunjukkan respon sesuai dengan keinginannya, meskipun tak nampak kalau Jamilah juga menolaknya.
Ah, mungkin karena Jamilah malu, pikirnya saat itu. Tapi semakin ke sini dirinya tak mampu lagi membendung keinginan agar Jamilah senantiasa di sampingnya.
Salahkah bila dirinya datang pada orangtuanya untuk melamar agar keinginan itu bisa terwujud.
Santosa hanya bisa berharap, semoga yang disebutkan Abah adalah dirinya.
Berbeda sekali dengan keadaan Akmal saat ini. Dia hanya menunduk pasrah. Apa yang ingin dia ungkapan, sudah dia ungkapkan pada Jamilah.
Dia memang berharap, namun sadar bahwa dirinya bukankah yang terbaik. Ada banyak perbedaan di antara mereka. Meskipun tahu tak selamnya perbedaan atau kelemahan yang ada dalam dirinya menjadikan penghalang bagi mereka.
Dia harus jujur. Setidaknya ini sudah dilakukannya.
Bila Yang Kuasa mengabulkan apa yang selalu dia pinta dalam doa sejak awal mengenalnya. Dia yakini itu adalah kemurahan dari Maha Kasih dan Sayang pada hambanya yang selalu berharap dan berusaha.
Abah pun kembali melanjutkan kata-katanya dengan senyum.
"Tak mungkin kami menerima lamaran kalian berdua. Harus salah satu yang terpilih. Mungkin ada yang kecewa. Tapi Abah mohon ikhlas dan menjaga silahturahmi selalu."
Kata-kata Abah yang teramat panjang dan berputar-putar, tak membuat konsentrasi Santosa terpecah. Dia masih tampak menyimak dengan seksama setiap kata yang keluar dari bibir Abah.
Sedangkan Akmal masih tertunduk bahkan semakin menunduk memeluk Abid yang mulai gelisah dalam pangkuannya.
Akhirnya, Abah harus menguatkan hati untuk mengungkapkan keputusan Jamilah dengan bahasanya.
'Nak Santosa, sehari sebelumnya Akmal sudah mengutarakan keinginannya melamar putri kami dan dia sudah menerimanya. Hanya saja saat itu kami masih belum yakin karena orang tuanya belum datang. Tetapi saat ini keluarga Akmal sudah datang maka tak ada alasan bagi kami untuk menolak lamaran Nak Akmal."
"Saya tak bermaksud menolak, tapi itu yang sebenarnya.Sekali lagi saya minta maaf pada Nak Santosa beserta keluarga tidak bisa menerima keinginan kalian," ucap Abah yang berusaha untuk tenang.
Hiks hiks hiks ...
__ADS_1
"Aaahhh ... Sakiiiit."