
"Assalamualaikum, Kakak. Aku cari di kamar tak ada. Ternyata kalian di sini."Seorang gadis datang menghampiri mereka dan seorang lelaki di sampingnya . Yang perempuan, seperti Kak Akmal. Matanya biru. Tapi laki-laki ini amat berbeda. Mungkinkah itu suaminya.
Meski hatinya agak kurang senang, Terbayang dengan candaan-candaan yang membuatnya selalu kalah. Tapi dia menyambut mereka dengan senyuman.
"Wa alaikum salam, Aisye. Kak Akram"
"Mereka siapa, Kak?"
"Saudara Kakak. Itu adik kakak. Dan itu saudara Kakak."
"Berarti saudara Ayu juga?"
Belum sempat Kak Akmal menjawab pertanyaannya, orang yang dipanggilnya Aisye sudah menyela terlebih dahulu.
"Ayu, lama kita tak ketemu. Dulu kamu masih imut banget. Sekarang sudah dewasa. Sudah punya pacar belum?"
"Pacar?"
"Tak usah kau pikirkan," bisik Akmal.
"Belum, Kak."
"Alhamdulillah ... sama dong kaya aku. Tak pernah pacaran, tahu-tahu nikah."
Jamilah senyum-senyum menanggapi celotehannya Aisye. Menyenangkan dan bersahabat. Kesan pertama yang dia terima.
Berbeda dengan laki-laki yang ada disampingnya. Dia tampak menyeramkan dengan jambang dan jenggot lebatnya. Mungkin akan manis kalau dicukur tipis.
"Hai Jamilah. Ah bukan ....Ayu. Masih ingat sama aku?"
Orang ini sok akrab banget. Kapan kami pernah bertemu? Tapi melihat tampangnya yang lucu. Membuat diriku ingin tertawa.
"Nggak," jawab Jamilah dengan polosnya.
"Tak apa kalau sudah lupa. Tapi sama saudara kembarku yang satu ini jangan sampai lupa ya!" Jari-jarinya menunjuk ke arah Akmal.
Saudara kembar? Yang benar saja. Mereka tak ada miripnya sama sekali. Bagai langit dan bumi. Bagaimana mungkin mereka kembar? Yang benar saja.
"Kakak ... kalau ngebohong pakai ukuran dong. Kembar kok nggak ada miripnya?" Untuk kali ini Jamilah tak bisa lagi menahan tawanya. Demikian juga dengan Aisye dan Akmal. Mereka turut tertawa bahagia.
"Ketahuan bohongnya," ucap Akram menimpali.
"Nasib ... Nasib .... Begini rasanya jadi saudara yang tak diakui," ujar Akram dengan gaya setengah merajuk. Dia melirik pada Akmal.
"Dia ini memang saudara kembarku." Ucap Akmal pada Jamilah, setelah puas tertawa. Karena baru kali ini dia dapat teman untuk menggoda kakaknya.
__ADS_1
"Oh ... Maafkan Ayu, Kak."
"Tak apa. Semua orang pun tak akan mengira kalau kita kembar."
Mereka kini berjalan beriringan menuju tempat perawatan Jamilah. Jamilah mencoba menjalankan sendiri kursi rodanya. Tapi tak lama kemudian Aisye dengan suka rela membantunya.
"Akmal, aku ke sini hanya mau menyampaikan pesan Mama. Kalau saat ini mama sedang ke luar kota sama Papa. Seandainya Ayu pulang, bisa tinggal sama Aku atau Aisye dulu."
"Sampai kapan Mama ke luar kota?"
"2 minggu lagi paling sudah balik."
"Ya. Nanti akan ku pikirkan. Mungkin 3-5 hari masih di sini. Akan terapi jalan dulu."
"Aisye, Jamilah. Kalian jalan dulu. Aku mau ngomong sama Kak Akram."
"Ya."
Setelah keduanya menghilang, Akmal baru membuka pembicaraan.
"Kak, apakah ini berarti Mama juga tak setuju kalau aku memilih Jamilah."
"Jangan berprasangka seperti itu. Mama selalu mendukung kita, selama Papa juga menyetujuinya "
"Itu juga yang aku khawatirkan. Ku lihat Papa tak begitu setuju."
"Entahlah, Kak. Yang pasti aku tak bisa membiarkan dia seperti ini."
"Bagus itu. Insyaallah Mama Papa pasti setuju kalau kamu sudah bertekad."
"Aku tak mungkin menahan Jamilah di sini. Mungkin di tengah-tengah keluarga yang menyayanginya, dia akan lebih cepat sembuh. Aku berharap itu mama. Tapi kalau papa nggak kasih lampu hijau. Aku harus bagaimana?"
"Kenapa kamu ngomong seperti itu. Kakak nggak keberatan kalau Jamilah di rumah kakak."
"Kasihan Kakak ipar. Sudah harus merawat mertua kakak. Keponakan kembarku, ditambah Jamilah pula. Aku tak tega."
Sebenarnya ini bukan persoalan rumit. Tapi cukup membuat Akmal galau.
"Kalau di rumah Aisye, nggak enak juga aku sama suaminya. Sudahlah nanti biar aku musyawarahkan sama dia. Aku berharap dia bisa tinggal bersama Mama.Tapi ... Kalau seperti ini, biar aku bawa ke rumah dinas."
Mendengar hal itu, Akram tersentak.
"Kenapa tak kamu nikahi saja. Agar kamu bebas membawa kemana saja."
"Ah, Kakak."
__ADS_1
"Lama tak ambil keputusan. Diambil sama orang yang kasih bunga itu. Hayo ...."
"Kakak benar."
🌟
Ini sudah hari ke lima Jamilah ada di rumah sakit. Perkembangannya sangat bagus. Secara phisik sudah sangat baik. Meski belum mampu berjalan. Tapi mulai ada reaksi bila kaki akan digerakkan. Alhamdulillah ....
Dan selama itu pikiran ini senantiasa dipenuhi oleh bayangannya. Memaksa diriku untuk merenung. Benarkah dia sudah memenuhi hati ini dengan kerinduan, entahlah. Yang jelas dari dulu aku merindukannya. Sebagai adik ... ya adik. Tapi bila ada yang mendekati, mengapa hatiku tak terima.
Tuhan
Mungkinkah ini saatnya, Engkau izinkan diriku untuk bersamanya. Dalam ikatan yang engkau ridhoi.
"Jamilah, selama ini kamu menganggap Kakak sebagai apa?"
Jamilah segera menghentikan sendok yang akan masuk ke mulutnya. Dia menatap Akmal tak mengerti. Demikian juga dengan Akmal. Tapi dia tak berani menatap Jamilah. Dia memainkan sendok di rantang. Yang berisikan makanan dari Aisye untuk sarapan mereka.
"Kak Akmal, ya Kak Akmal ... Kakak. Begitu saja. Memangnya ada apa, Kak?" kata Jamilah terus terang. Dia tak mau menduga yang tidak-tidak. Dia pun melanjutkan sarapannya. Cuma aneh saja.Tumben Kak Akmal bertanya seperti itu. Ada apa gerangan?
"Tidak ada apa-apa ... Kalau kamu tahu bahwa Kakak bukan kakakmu, bagaimana?"
"Tetap saja ku anggap sebagai Kakak. Karena sudah menolongku. Aku hanya bisa berucap terima kasih. Tak bisa balas budi."
"Baiklah, Kakak mengaku. Aku hanya Akmal. Bukan Kakakmu yang sebenarnya."
Kembali Jamilah meletakkan sendoknya. Dia diam sejenak sebelum berucap.
"Berarti orang-orang yang kulihat di mimpi itu benar adanya."
"Apa yang kau lihat?"
Jamilah memejamkan mata sejenak. Ada butiran peluh di dahinya. Membuat Akmal merasa kasihan.
"Tak usah kau paksakan."
"Tidak apa, Kak. Siapa tahu kakak bisa membantu."
"Baiklah. ini!" Dia ambil sapu tangan yang selalu disimpannya di dalam saku. Dia berikan benda itu pada Jamilah. Saat itu Jamilah sudah membuka matanya. Dia pun menerimanya. Lalu mengusap peluh itu. Itu yang selalu terjadi bila dirinya mencoba mengingat-ingat sesuatu di masa lalunya. Kalau dulu disertai dengan pening. Sekarang tidak lagi.
"Yang ku panggil Kakak bukan kakak. Yang ku panggil Bunda bukan mama. Hanya kadang-kadang ada bayangan Kakak. Tapi aku memanggilnya kak Bara."
Mendengar penjelasan Jamilah yang polos itu, membuat Akmal senyum-senyum sendiri.
"Kalau komandan ada nggak di mimpimu."
__ADS_1
Ingin rasanya mencubit lengan Kak Akmal. Seneng kali kalau melihat aku marah.
"Kakak ini apaan sich!" jawab Jamilah dengan tersipu malu. Gimana tak malu. Tiap hari dirinya dapat kiriman setangkai mawar merah dan juga coklat dari komandan.