Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Dokter Irsyad


__ADS_3

Sengaja mereka mengambil jalan yang berbeda dengan jalan yang baru saja mereka lalui. Agar tidak bertemu lagi dengan lelaki yang telah menculik Abid. Cukup sudah kesedihan ini diungkapkannya dengan membakar mobil-mobil mereka. Tak perlu lagi berjumpa.


Jika mereka lolos, biarlah. Tapi itu tak mungkin. Mereka telah berurusan dengan putra-putri pak polisi. Yang tidak akan melepaskannya begitu saja. Ada konsekuensi tertentu yang harus mereka bayar.


"Kak, Abid belum sadar-sadar."


Akmal menengok pada tubuh kecil yang ada dalam pangkuan Jamilah. Ada sesal dalam relung hatinya yang terdalam. Yang tak mampu dia ungkapkan saat ini. Tentang hasil temuannya yang digunakan tidak pada tempatnya. Dengan penuh rasa berdosa,Dia menyentuh lembut dahi Abid.


"Kita bawa ke rumah sakit."


"Sebaiknya gitu, Kak."


"Arahnya?"


"Kurasa kita tersesat,"jawab Jamilah dengan wajah sendu.


Akmal serasa akan tersenyum, mendengar jawaban Jamilah. Apakah dia terlalu gelisah sehingga tak bisa berfikir lagi.


"Ayu, hari gini tersesat?"ucapnya dengan canda. " Mana handponemu. Kakak pinjam."


Jamilah baru sadar. Tak ada yang tak bisa dijawab oleh Mbah Google, apapun itu. Mengapa dia tidak berfikir sampai ke sana. Dia langsung membuka handphonenya. Mencari arah terdekat ke dalam kota serta lokasi rumah sakit.


"Nih, Kak."


"Nah, gitu."


Akmal segera membacanya. Lalu memberikannya kembali.


Tak perlu waktu lama mereka sudah tiba di pusat kota. Mereka segera menuju rumah sakit terdekat.


Setelah mematikan mesin mobilnya, Akmal langsung keluar lebih dulu.


"Aku saja yang bawa Abid."


Tanpa menunggu persetujuan dari Jamilah, Akmal segera mengambil tubuh Abid dari pangkuannya. Pertama yang dilihat ada bekas suntikan di lengan Abid. Dia mengusapnya lembut.


"Semoga tak terjadi apa-apa," ucapnya lirih.


Sesaat Jamilah merasa aneh dengan apa yang dilakukan Akmal pada Abid.


"Ada apa Kak?"


Akmal menjawabnya dengan gelengan kepala dan senyum tipis di bibirnya.


"Ayo kita masuk!" Akmal tak hendak mengungkapkan apa yang saat ini membebani pikirannya. Dia segera mengajak Jamilah masuk ke ruang UGD. Dan menyerahkan Abid pada petugas kesehatan di sana.


Untuk saat ini biarlah kegelisahan ini hanya untukku saja. Sampai semuanya benar-benar jelas.


Saat Akmal meletakkan di atas ranjang, tubuh Abid menggeliat. Kesadarannya mulai kembali.


"Abid, ini Kak Ayu." Jamilah berbisik lirih di dekatnya.


" Eeee ... Kakak," ucapnya lemah.


"Alhamdulillah." Jamilah memeluk dan mencium pipi Abid.


"Om Akmal juga ... Ini dimana, Kak."

__ADS_1


Abid berlahan-lahan duduk. Memperhatikan sekitarnya dengan wajah bingung.


"Akhirnya kamu bangun juga, Jagoan kecil." Dia menyapa Abid dengan sentuhan kecil di pucuk kepalanya, dan dengan wajah yang benar-benar menyenangkan. Bukan karena dirinya baik-baik saja, melainkan gundah di hatinya tak mungkin untuk dibagi.


"Kak, Abid sudah sadar. Gimana kalau kita bawa pulang saja?"


"Kakak tak berwenang menjawab. Prosedurnya harus istirahat dulu, entah 2-3 jam atau satu hari. Barangkali dia mengalami trauma-trauma yang tidak kita tahu."


Salah satu dokter menghampiri mereka yang disertai satu perawat. Membawa cairan infus di tangannya.


"Bagaimana sekarang, sudah baikkan?"tanya lelaki berpakaian putih itu pada Abid yang terlihat masing bingung.


"Kak Ayu, kepalaku pusing."


"Kalau masih pusing, diberi ini ya ... Biar nggak pusing lagi," rayu dokter itu. Dia menunjukkan satu bungkus cairan bening di tangannya.


Abid menengok Jamilah dan juga Akmal bergantian. Dia ragu-ragu memutuskan. Ketika Akmal dan Jamilah mengangguk, dia pun ikut mengangguk.


"Anak pintar. Sini tangannya!"


Sontak membuat Abid terkejut dan menarik tangannya.


"Sama Kak Ayu. Tutup matanya. Sakit sedikit kok seperti digigit semut." Pintar juga Jamilah merayu, hingga Abid menuruti semua perkataannya. Jamilah memegang lembut tangan kecil Abid bersamaan dengan Abid memejamkan mata. Berlahan-lahan dokter itu memasukkan jarum infus pada lengannya.


Fokus saat ini hanya pada Abid dan zat yang telah masuk ke dalam tubuhnya. Semoga dengan cairan infus itu, cairan nggak perlu itu, bisa segera keluar. Setidaknya itu bisa mengurangi resiko selanjutnya.


"Ahhh ...."teriak Abid lirih. Dia mencoba mengintip apa yang dilakukan dokter itu.


"Nah, nggak sakit kan. Benar-benar anak hebat," puji Dokter Irsyad setelah memasang jarum infus. Setelah meletakkan cairan infus di gantungan, Dia menepuk lembut pundak Abid. Lalu mengusap kepalanya sebelum meninggalkan kami semua.


'Irsyad' Aku baru tahu namanya ketika melirik pin kecil yang ada di dadanya sebelah kiri. Seperti aku pernah mengenal nama ini. Tapi dimana ... Ah sudahlah.


Tapi ... sebentar. Aku ingat sekarang. Dia adalah adalah teman pondokku dulu. Tak salah lagi ...


"Ayu, Kakak tinggal sebentar."


"Ya," jawabnya. Tangannya tak berhenti membelai kepala Abid,.


Aku segera mengejar dokter muda itu.


"Irsyad," panggilku. Dia berhenti dan menoleh. Jari tangannya mengarah padaku lalu pada dirinya sendiri, seakan ingin berkata,"Kamu memanggilku?"


"Iya, Kamu. Kamu Irsyad, kan?" Aku mendekatinya.


"Sebentar-sebentar. Kamu Akmal kan?"


"Irsyad ... Irsyad. Kamu kok sama dengan aku sich. Lupa sama teman sekamar dulu."


"Hehehe ...."


Spontan kita melakukan TOS dengan dua tangan sebelum kami berpelukan.


"Gimana kabarmu? Kamu sekarang agak beda. Tegap kali."


"Kamu ini ada-ada saja. Aku masih tetap sama seperti dulu. Kamu yang beda. Sudah jadi dokter sekarang."


"Iya, Kamu?"

__ADS_1


"Sama seperti dulu," Akmal tersenyum, tak mau ungkapkan identitas sebenarnya.


"Peneliti tanaman?"


Akmal mengangguk.


"Tumben di sini?"


"Ya, pingin ke sini aja."


"Beneeer? Lalu apa tadi istri dan anakmu ?"


Spontan Akmal tertawa lepas. Membuat Irsyad mengerutkan dahinya. Tak ingin membuat penasaran lantas dia mengungkapkan yang sebenarnya.


"Baru mau ngelamar dia."


Irsyad hanya geleng-geleng kepala. Mendengar temannya sampai saat ini belum juga membentuk sebuah keluarga.


"Akmal ... Akmal ... jangan katakan gara-gara tanaman kamu sampai lupa untuk menikah."


Akmal senyum-senyum mendengar ledekannya. Tapi mau bilang apa, memang begitu kenyataannya.


Mereka berjalan sambil mengobrol hingga tak terasa telah sampai di ruangan Irsyad.


"Irsyad. Aku mau minta tolong ke kamu, bisa?"


"Kelihatannya serius banget. Minta tolong apa?"


"Eee ...,"


Irsyad menangkap ada keraguan di wajah Akmal. Dia pun mengerti.


"Ayo masuk!"


Akmal mengikuti langkah Irsyad yang segera duduk di sofa di ruangan itu.


"Ngomong aja. Nggak usah sungkan-sungkan. Siapa tahu aku bisa bantu kamu."


Setelah berdiam cukup lama, Akmal pun angkat bicara.


"Ada zat berbahaya yang masuk ke tubuh Abid. Aku nggak bisa lama-lama di sini. Nggak bisa lihat perkembangannya.Insyaallah besok aku sudah harus balik."


"Siapa yang memasukkannya? Jangan bilang kalau itu kamu."


"Bukan. Baru saja dia diculik. Akan dijadikan kelinci percobaan. Aku hanya bisa menyelamatkan dirinya, tapi tak bisa menyematkannya dari zat itu."


"Keluarga tahu?"


"Tidak."


"Itu sesuatu bagiku bisa membantu observasimu. Tapi hanya itu kan ... Insyaallah bisa."


"Kapan dia bisa pulang?"


"Lha ... kalau kamu minta lakukan observasi. Ya dia harus di sini, sampai observasi ini selesai."


"Tidak. Lakukan sewajar mungkin. Tanpa keluarga mengetahuinya. Kalau sampai tahu, aku takut mereka akan syok."

__ADS_1


__ADS_2