
William mengeluarkan sebuah foto kecil dari dalam dompetnya. Lalu menyerahkannya pada Akmal.
Akmal mengamati foto itu secara cermat. Di sana ada wanita berjilbab. Yang terlihat hanya wajahnya saja. Benarkah dia Tazkia? Aku jadi ragu. Wanita yang berbaring di meja observasinya, bukan wanita berjilbab. Dia wanita dengan rambut sebahu. Dari data yang ada, dia korban perang yang sudah meninggal dunia.Benarkah itu Tazkia?
Kalau diamati secara teliti keduanya memang sama. Ada kemiripan yang sangat dalam raut wajahnya, bentuk matanya dan alisnya. Kurasa dia memang Tazkia.
"Kapan meninggalkan rumah, sampai-sampai kamu mencurigai aku?" ucap Akmal sambil menyerahkan foto itu pada empunya.
"1 tahun yang lalu. Tujuannya ke Indonesia mengunjungi beberapa sahabatnya. Dan siapa tahu ketemu kamu, itu katanya."
Akmal tersenyum, "Bagaimana dia kenal aku?"
"Dari ceritaku sama foto-fotomu yang ada di aku."
"Wah aku jadi terkenal gara-gara kamu." sahut Akmal.
Dia melirikku sesaat, lalu melanjutkan ceritanya.
"Setelah itu pulang sekali. Ada perubahan yang sangat dalam dirinya, baik tingkah lakunya maupun fisiknya."
"Seperti apa?"
"Dia tak lagi pakai jilbab dan wajahnya sangat pucat."
__ADS_1
"Tidak kamu periksakan ke dokter?"
"Dia tak mau."
"Aku tahu kamu. Kamu enggak akan membiarkan seperti itu terjadi, kan."
"Untunglah dia menurut sama aku saat aku mengambil sampel darahnya. Dan aku temukan cairan seperti ini." Dia Lalu mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi cairan bening lalu diserahkan pada Akmal.
"Siapa lagi yang bisa melakukan ini selain kamu, Akmal."
Tatapan matanya sangat tajam, mengarah padaku.
"Boleh aku mencium baunya?"
"Setelah itu dia pamit ke mana?"
"Seperti biasa dia melanjutkan kuliahnya di Turki. Kami tidak curiga apa-apa. Hanya saja setelah itu tidak ada lagi kabar beritanya."
Dia diam sejenak. Ada kerutan di wajahnya. Ada kesedihan di sana. Ada pula kegelisahan yang menyelimutinya. Mungkin tak habis apabila diceritakan lewat kata. Hanya nafas panjang yang sesekali terdengar untuk mengusir rasa lelah dalam jiwanya yang sekian lama terpendam.
Aku merasakan ada rasa khusus yang tak bisa diungkapkan kepada sembarang orang kecuali dirinya dan pada Tuhan yang Maha bijaksana. Meskipun aku merasa ingin usil sedikit mengusiknya.
"Aku ingat kamu dari Turki, pasti dia terobsesi banget sama kamu. Makanya dia menyusulmu."
__ADS_1
Sesekali dia memainkan jari-jarinya atau memandang langit-langit ruang parkir ini.
"Aku menyesal telah menceritakan tentangmu padanya. Hingga aku merasa tersisihkan."
"Aku mendengar adanya kecemburuan dalam kata-katamu."
Untuk saat ini aku ingin mendengar selengkap-lengkapnya tentang Tazkia. Bukan untuk memilikinya. Tetapi sebagai pertimbangan apa yang hendak aku lakukan padanya.
Dia menunduk, merenung sejenak untuk menguraikan apa yang selama ini tersimpan. Mungkin juga mempertimbangkan jawaban yang akan diberikannya padaku.
"Aku tak mau berpikir ke sana. Aku ingin menemukannya dan melihatnya baik-baik saja."
Dia begitu kokoh pendirian untuk tidak mengungkapkan apa yang selama ini dirasakannya.
"Benarkah kamu tidak pernah melihatnya, Akmal?"
Aku harus bilang apa. menceritakan keadaan Tazkia yang sebenarnya. Aku tak tega. tapi untuk membohonginya Aku pun tidak punya kekuatan. Tuhan beri aku petunjuk, untuk bisa membuat dirinya tenang,. tanpa aku harus membohonginya.
"Iya. Aku pernah melihatnya."
"Bagaimana keadaannya, Akmal?"
"Saat itu dia baik-baik saja. Tapi aku merasakan hal lain dalam dirinya."
__ADS_1
"Maksudmu, Apakah kamu telah jatuh cinta pada Tazkia?"