
"Jenderal?"
"Jangan khawatirkan diriku. Aku sudah menghubungi pusat untuk mengirimkan bantuan."
Byurrr .... Akmal segera terjun ke laut tepat di samping Jamilah. Akmal segera meraih tangannya. Dia timbul tenggelam di antara gelombang yang datang. Wajahnya memerah. Mungkin dia minum air laut karena tidak siap pada saat terjun.
Tubuh Jamilah sedemikian lemah. Usahanya untuk tidak tenggelam, telah menguras seluruh tenaganya. Apalagi di tengah-tengah gelombang air laut yang amat ganas. Yang datang hampir tanpa jeda.
Demikian juga saat ini. Ada gelombang yang sangat tinggi menghampirinya.
"Jamilah, bertahanlah!" Dia menariknya semakin dekat. Kembali gelombang datang. Lebih besar melempar mereka pada gelombang berikutnya. Hampir saja Jamilah terlepas. Untung Akmal sudah memeluknya erat. Terlambat satu detik saja, mungkin sudah terpisah.
Maaf, jika diriku mendekapmu.
"Jenderal." Lirih ku dengar kata itu keluar dari bibirmu. Lalu mata itu ... lama-lama tertutup. Bibirmu gemetar dan pucat. Wajahmu kian pias. Tanpa sadar kepalamu pun jatuh di pundakku.
"Jamilah .... " Tak ada reaksi. Mungkinkah Dia tak sadarkan diri. Semoga hanya tak sadarkan diri ... Hatiku benar-benar was-was. Apalagi saat merasakan nafas Jamilah semakin lemah.
Sedangkan pelampung ini belum sempat terpakai olehmu. Maafkan Aku, Jamilah ....
Akmal memegang tubuh Jamilah yang lemah. Dia mencoba memakaikan baju pelampung. Di tengah ganasnya ombak yang datang yang hampir-hampir memisahkan mereka kembali. Alhamdulillah, Akmal bisa menguasai dirinya maupun Jamilah. Hingga hal itu tidak perlu terjadi. Sampai baju pelampung itu sempurna melekat di tubuh Jamilah.
Akmal melihat sekitar. Sejauh mata memandang hanya hamparan air laut.
Mereka benar-benar berada di tengah-tengah samudra yang luas. Kalaupun dirinya ingin berenang, kemana. Tak ada yang dituju.
Tak ada yang bisa dilakukan. Diam dan berusaha tetap tenang di tengah ganasnya ombak. Semoga bantuan secepatnya datang. Aku amat khawatir dengan keadaan Jamilah yang semakin lemah. Ya Allah, selamatkanlah kami ....
Akmal menengok ke atas. Pesawat yang dia naiki sampai dengan saat ini, masih saja berputar-putar di atas kepalanya. Sepertinya belum tega untuk meninggalkan mereka. Mungkin karena Jamilah adalah teman satu negara. Kalau terjadi sesuatu dengannya, pasti akan menjadi beban tersendiri. Apalagi peristiwa itu terjadi depan matanya.
Beberapa kali Akmal melambaikan tangan agar pesawat itu pergi. Dan mencari bantuan secepatnya. Namun dia tak beranjak dari atas kepalanya. Hanya berputar, tak bisa melakukan apa-apa. Karena itu adalah pesawat tempur. Belum dipasang peralatan untuk pertolongan.
Dia baru pergi ketika sebuah helikopter terbang mendekati mereka. Alhamdulillah, bantuan datang. Siapa yang tak khawatir melihat kondisi Jamilah. Entah sampai kapan tubuhnya dapat bertahan.
"Turunkan talinya!" Dia berteriak keras memanggil seseorang yang ada di helikopter.
__ADS_1
Tak berapa lama seutas tali jatuh di dekat mereka. Akmal pun segera meraih dengan satu tangannya. Sedangkan tangan yang lain masih memegang tubuh Jamilah.
"Ada apa dengan Dia, Jendral?"
"Dia pingsan."
Dengan keadaan gelombang tinggi yang datang tanpa henti, Akmal mengikat tubuh Jamilah dengan seutas tali tersebut.
"Apa perlu perahu, Jenderal?"
"Tak perlu."
"Aku turun, Jenderal."
"Tak usah."
Setelah dirasa ikatannya kuat, Dia pun memberikan isyarat agar tubuh itu segera ditarik ke atas. Baru saja bergerak, ada gelombang yang datang sehingga menyebabkan tubuh Jamilah terbawa arus itu. Akmal berenang menghampiri tubuh Jamilah. Menggapai tubuh lemah itu kembali dalam pelukannya.
"Turunkan tangganya!"
"Baik."
"Jenderal, jaring!"
Kenapa tidak kepikiran dari tadi ...
"Ya." Akmal mengisyaratkan dengan jari yang telunjuk dan jempol membentuk huruf O. Karena di tengah deburan ombak suaranya hampir tidak terdengar.
Kembali Akmal turun lalu meraih jaring itu Dan meletakkan tubuh Jamilah di dalamnya. Setelah terikat dengan sangat kuat, dia pun mengisyaratkan agar segera ditarik ke atas.
Meskipun tak tega, melakukan hal itu pada tubuh Jamilah. Menyamakan Dia seakan-akan adalah sebuah barang, tapi bagaimana lagi. Karena beberapa tindakan Sudah dicobanya tapi belum juga berhasil.
Perlahan-lahan tubuh Jamilah sudah naik ke atas. Dia pun meraih tangga tali itu untuk menyusulnya. Setelah dirinya mendekati geladak helikopter itu, diraihnya tubuh Jamilah agar posisinya bisa diraih oleh teman-temannya. Alhamdulillah, akhirnya tubuh itu bisa masuk ke dalam helikopter. Menyusul dirinya.
Begitu sampai di geladak helikopter, pertama yang ditujunya adalah tubuh Jamilah. Dia buka sendiri jaring itu dan segera memeriksa keadaan Jamilah lebih lanjut.
__ADS_1
Ada kesedihan yang amat sangat, ketika didapati nafas Jamilah hampir tak terasa. Dan wajahnya semakin pucat.
Dengan amat hati-hati dia meletakkan kedua telapak tangannya ke dada Jamilah menekannya agak kuat dan perlahan-lahan.
Sekali, belum menimbulkan reaksi. Diulanginya kembali. Dan kini terlihat dadanya mulai mengembang. Setelah itu diulanginya sekali lagi.
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk." Matanya terbuka sebentar. Kemudian tertutup kembali.
"Alhamdulillaah ... Terima kasih Ya Robb, Engkau beri kehidupan padanya."
Tanpa sadar Akmal segera memeluk tubuh Jamilah. Bahkan ada tetes air mata yang lolos dari sudut mata Akmal. Satu kekhawatiran sudah terlewati. Untuk memeriksanya lebih lanjut, tak ada keberanian. Dia berharap, semoga tak terjadi apa-apa.
Lalu dia meletakkan tubuh itu kembali. Nafasnya kini terlihat teratur meski belum sadarkan diri. Setelah terbang beberapa saat mereka mendarat di kapal induk. Agar mendapatkan pertolongan lebih lanjut sebelum ke rumah sakit.
Saat tiba di landasan kapal induk, Akmal segera mengangkat tubuh Jamilah ke dalam pesawat emergency. Dan meletakkan ke tempat tidur di ruangan itu. Dia tak membiarkan orang lain mengangkatnya. Untuk beberapa saat dia diam, belum mau beranjak di samping tubuh Jamilah yang diam membisu. Sampai tenaga medis datang memeriksanya.
"Jenderal. Biarkan kami yang memeriksanya."
"Aku khawatir dengan bahu dan kakinya."
"Ya. Tunggulah di luar!"
Akmal beranjak dari tempat tersebut dengan wajah tertunduk sedih. saat di pintu dia pun berhenti sejenak. Rasanya tak tega untuk meninggalkan Jamilah. sampai salah seorang petugas medis menghampirinya.
"Biarkan kami menjalankan tugas,"
"Oh, Maaf." Dia pun berlalu.
Namun tak berapa lama Akmal pun kembali menemui tenaga medis tersebut.
"Sebentar. Apa tak sebaiknya kalau pesawat ini aku terbangkan ke darat."
Dia pun berfikir. Lalu menganggukkan kepala.
"Kalau Jenderal tidak keberatan."
__ADS_1
Akmal pun berlalu dari hadapan tenaga medis tersebut menuju ke ruang pilot. Dia sangat khawatir dengan keadaan Jamilah. Sehingga tidak memperhatikan keadaan dirinya sendiri. Yang sampai saat ini tubuhnya masih berbalut baju basah.
Meskipun hatinya saat ini sedang sedih, tapi tak mengurangi konsentrasinya dalam menjalankan pesawat. Sehingga pesawat itu berlahan-lahan meninggalkan tempat parkir, menuju landasan pacu.