
Doorr ... Doorrr
Suara tembakan terdengar teramat dekat sekali di telinga. Spontan Jamilah membuka mata. Dia terkejut saat melihat seekor buaya tak jauh darinya. menggelepar, Tak lama kemudian byurr ... Tak bergerak lagi. Jamilah masih berendam di dalam air menyaksikan buaya itu menghilang terhanyut oleh arus sungai menuju laut.
Sesaat dirinya bergidik saat melihat tubuh buaya yang lumayan besar. Dia tak bisa membayangkan andai tubuhnya yang ada dalam mulut buaya itu. Tercabik-cabik oleh gigi buaya yang tajam. Ah, Jadi ngeri. Alhamdulillah, dia selamat. Berkat campur tangan komandan. Ya ... Komandan Santoso. Atasannya saat ini.
"Komandan," ucapku tersekat. Saat melihat komandan Santoso dan Dewi berdiri di tepi sungai. Sejak kapan mereka ada di sana?
"Untunglah aku datang tepat waktu."
Jamilah masih terpaku dengan kejadian itu, hingga tak mendengar apa yang dikatakannya
"Cepatlah keluar. Aku takut masih ada yang lain."
Mungkinkah sungai air tawar ini adalah sarang buaya-buaya itu. Tidak ... Dia tak sanggup membayangkan. Satu saja sudah membuatnya bergidik. Apalagi kalau lebih. Jamilah segera berenang ketepian.
Pada saat yang bersamaan, Dari rimbunnya pohon di tepi sungai. Muncul buaya lain yang lebih besar. Dia meluncur cepat ke arahnya.
"Jamilah, cepat!" Panggil Komandan Santoso dari tepian.
Tak membuang waktu, Dia segera berenang kembali dengan sekuat tenaga. Ya Allah ... Bibirnya pun tak lepas mengucapkan doa. Kemampuan berenangnya benar-benar diuji saat ini. Meski di atas rata-rata. Tapi tidak dengan saat ini. Karena kecepatan meluncur buaya itu melebihi dirinya.
Sekilas dirinya menengok ke belakang. Dia pun terkesima. Buaya itu semakin dekat. Dirinya tak bisa berpikir lain kecuali berenang ... dan berenang. Agar segera sampai. Terhindar dari kejaran buaya. Kini buaya itu sudah teramat dekat. Dan hap ...
Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun ... Tanpa disadari bajunya kini telah berada di mulut buaya. Tepian itu terlihat semakin jauh. Ada apa ini? Dia terus berenang. Meskipun terasa semakin berat. Tenaganya hampir habis. Dia hampir putus asa. Tapi tidak ... Dia tak boleh menyerah. Dia harus berani menghadapinya. Dia berbalik. Tampak moncong mulut buaya tepat di depannya.
Ya Allah ... Tempatku bersandar. Ampuni hamba
Ya hayyu ... Ya Qoyyum
Subhanaka inni kuntu mina dzolimin.
Hanya kepasrahan sempurna yang kini yang dapat dilakukannya.
Dia mencoba mearik bajunya yang kian terjepit diantara giginya yang tajam.
Byurrr.
__ADS_1
Komandan Santoso meluncur cepat ke arahnya. Memotong bajunya yang termakan buaya. Hingga Jamilah pun bisa lepas dari cengkeraman kematian yang membayanginya.
"Cepat kamu ke tepi?"
Jamilah tak hendak meninggalkan Komandannya, menghadapi buaya itu sendirian. Ada sebatang kayu yang cukup besar mengapung di dekatnya. Segera dia raih. Dan memukulannya pada kepala buaya. Membuatnya marah, dan ingin memakan dirinya.
Tak mau membuang waktu, Santoso segera melepaskan tembakan. Diarahkan pada mulut yang terbuka. Dan juaga mata buaya itu.
Dor ... Dor ... Dor.
Tiga tembakan beruntun dia lepaskan. Tepat mengenai sasaran. Buaya itu menggelepar. Tak lama kemudian, berlahan-lahan tenggelam, hanyut terbawa arus. Usahanya dan Komandan menyebabkan dirinya terbebas dari bayangan kematian yang hampir saja merengut nyawa.
Jamilah masih tegak berdiri ditengah derasnya arus. Terkesima dengan apa saja terjadi.
"Jangan bengong. Ayo!" Santoso segera menarik tangan Jamilah. Mengajak ke tepi.
Meski sudah dapat melumpuhkan buaya-buaya itu. Masih ada kekhawatiran dalam dirinya. Kalau-kalau masih ada buaya yang datang lagi. Apalagi terdengar suara aneh di sekitar mereka berada. Meski terdengar masih jauh. Jangan-jangan ....
Dan benar, saat mereka telah naik ke darat, dari balik rimbunnya semak-semak, muncul satu lagi buaya kecil. Meluncur seakan ingin mengejar mereka. Mereka segera menjauh dari tepian. Berjalan cepat, meninggalkan tempat itu.
Baru beberapa langkah, dari kanan, kiri, depan, belakang bahkan samping. Bermunculan buaya-buaya yang cukup besar menghadang mereka. Buaya-buaya itu seolah-olah melayang menuju ke arah mereka. Karena begitu cepatnya.
"Peluru ku hanya sisa 2. Tak cukup untuk melumpuhkan mereka."
"Aku hanya punya pisau kecil. Tapi kurasa itu tak ada gunanya. Kulit mereka keras. Tak bisa pisauku melukainya."
"Wulan, kamu punya apa?"
"Seperti yang komandan lihat. Aku hanya bawa busur dan anak panah."
" Matilah kita," ucap Komandan Santoso cemas.
Di tengah kepanikan yang melanda mereka. Karena tak mungkin bagi mereka untuk melawan. Tapi untuk melarikan diri tak ada jalan. Kali ini mereka benar-benar terkepung oleh hewan purba itu.
Jarak mereka dengan hewan purba itu tak lebih dari 5 meter. Ketika terdengar suara deru pesawat di atas mereka.
"Kamukah yang panggil?"
__ADS_1
"Maaf, Komandan." jawab Dewi singkat. Bagaimana dirinya tak khawatir, melihat komandan dan Jamilah yang berjibaku menghadapi buaya-buaya itu. Meskipun bisa melumpuhkannya, tapi dia punya firasat yang buruk tentang hewan purba itu.
Jalan satu-satunya meminta bantuan ke markas. Apakah itu berguna atau tidak, urusan nanti. Untunglah mereka cepat tanggap. Dengan cepat mengirimkan sebuah pesawat helikopter kepada mereka. Dan mereka datang tepat waktu. Ternyata tindakannya bermanfaat.
"Itu keputusan terbaik."
"Cepat naik!" Sebuah teriakan yang amat keras dan nyaring menyadarkan mereka. Menyuruh mereka menaiki sebuah tangga tali yang dilemparkannya.
"Ayo." Dewi segera menarik tangan Jamilah. Memberikan kesempatan pada Jamilah untuk menaiki tangga itu terlebih dahulu. Mengingat Jamilah masih terlihat pucat dan gemetar. Walaupun terlihat tenang, tidak tampak kepanikan sama sekali di wajahnya
Dengan sigap, Jamilah menaiki tangga tali. Diikuti Dewi. Terakhir Santoso, komandannya.
"Alhamdulillah ..." ucap Jamilah saat
sampai di lantai pesawat dan menyandarkan tubuhnya. Dari arah pintu yang lain, Dia melihat seekor buaya yang sangat besar, mungkin induknya. Berjalan mendekat tali tangga yang masih menyentuh tanah.
"Dewi ... Komandan. Cepat!"
Oh, my God ... Buaya itu telah menggigit tali dengan dengan sangat kuat. Membuat pesawat tak bisa terbang lebih tinggi lagi.
Jamilah melihat senapan yang tergantung di dinding pesawat segera meraihnya. Dan mengarahkan pada hewan purba itu.
"Jangan."
Tapi sayang pelatuknya sudah dia tarik.
Dor ...
Satu buah peluru berhasil keluar dari ruang persembunyiannya. Mengenai kulit hewan purba itu.
Jangankan membunuhnya. Menembus kulitnya saja tak mampu. Tembakan itu hanya menimbulkan keterkejutan saja. Secara spontan mereka bergerak. Yang menyebabkan pesawat itu oleng. Hampir saja menyebabkan tubuh Jamilah terlempar dari pesawat. Untung dia mampu meraih sebuah ganggang yang ada di samping pintu.
"Maafkan aku."
"Tenanglah. Kita tunggu semuanya sampai."
Betapa cerobohnya dirinya. Mengambil tindakan tanpa berpikir panjang. Hampir saja membuat semua celaka, tidak saja dirinya.
__ADS_1
Sementara pilot itu masih berusaha menjaga keseimbangan pesawatnya.. Menunggu ke dua orang itu memasuki dengan sabar. Sedangkan Jamilah, melihat ke dua orang yang masih atas tangga tali itu melihatnya dengan wajah cemas.
Sedangkan Dewi dan juga Komandan Santoso juga harus berjuang keras untuk bisa naik dari tali tangga yang tak berhenti bergerak.