Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Aksi Akram dan Aisye


__ADS_3

Setelah puas jalan-jalan, mereka kembali ke rumah utama. Menemani Aisye yang sedang asyik menikmati salad buahnya.


"Sudah habis berapa cup?"


"Baru juga 3. Hehehe ..."


"Jangan banyak-banyak."


"Yeiii, aku tuch sudah tak makan nasi."


Begitulah kalau bertemu dengan yang namanya salad. Dia tidak berhenti makan sebelum terpuaskan keinginannya.Benar tak makan nasi, tapi kalau banyak macam ini, sama saja dech.


Mungkin semua yang ada di dalam kulkas akan habis, kalau Mama tak datang.


"Assalamualaikum ... semua."


"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh."


Dia pun segera menyelesaikan cup yang terakhir sebelum ketahuan Mama. Bisa-bisa ngomel, dan kurasa kalau sudah begitu, tak ada seorang yang dapat menghentikannya, meskipun itu Papa.


Buru-buru Aisye bangkit bersama dengan kakak-kakaknya menyambut orang tua mereka datang. Dengan berjabat tangan dan pelukan hangat.


Yang pertama,tentu saja Akmal. Dia memeluk Mama Naura erat dan hangat. Sebagai ungkapan rasa rindu yang selama ini dipendamnya pada orang yang telah melahirkannya.


Aisye ingin sekali mentertawakan sikap kakaknya yang satu ini. Semua selalu dibuat sedramatis mungkin. Pada akhirnya hiks ... hiks ... hiks ...


Lagu lama. Dia sudah hafal. Tapi sering terbawa saking menikmatinya, hehehe ....


"Akmal kangen Mama." ucapnya dengan wajah agak-agak sendu gimana gitu?


Gimana tidak kangen, selama hampir 2 tahun, dia tinggal di Indonesia, jauh dari keluarga. Tapi tak segitunya kali!!


"Sudah besar juga masih manja." kata Naura sambil menepuk-nepuk punggung Akmal.


"Ma, enggak bisa kah mama merayu papa, biar aku nggak daftar militer?"


Naura hanya senyum-senyum saja mendengar permintaan putranya itu.


"Sudahlah ikuti Papa saja, insya Allah itu yang terbaik bagi kamu."


Sudah susah-susah mengadakan penelitian akhirnya gagal juga.


Lebih parahnya harus balik pada keinginan papa Ulya. Hiks ... hiks ... hiks, sedih hatiku.


Tapi,


Husnudzon saja, pada yang mengatur hidup. Mungkin ada kebaikan yang tersembunyi.


"Ma ..."


"Mama ngerti. Mungkin dengan itu kamu akan lebih fokus lagi. dan yang jelas penelitian mu akan lebih bermanfaat. Dapat biaya dari negara pula."


Dipikir-pikir ada benarnya juga Papa.


"Baik, Ma."


Sementara itu Ulya yang berada di samping Naura hanya bisa berdiri menanti pelukan putra yang selalu ada dalam pikirannya.

__ADS_1


"Akmal, papa kan juga kangen. Masak kamu nggak kangen"


"Ogah." jawab Akmal. bersungut-sungut. Badan boleh besar, tapi kalau sama orang tuanya masih suka manja. Seperti saat ini, sampai-sampai papa Ulya diangguri berdiri di samping mama tercinta.


"Baiklah, nggak ada subsidi biaya penelitian."


Kata-kata suap yang buat hati Akmal luluh. Sesegera itu pula, Akmal memeluk papanya dengan sangat hangat.


"Selamat datang Papaku tercinta, aku tunggu subsidi-nya."


"Oke, tapi lepaskan dulu pelukanmu. Bisa-bisa papa kehabisan nafas."


Hehehe ...


Akmal pun melepaskan papanya, yang kini sudah terlihat satu dua rambutnya berubah warna.


"Kamu sudah siap?"


"Sudah sejak kemarin."


"Baiklah, kalau begitu malam ini juga kita berangkat."


Heh ... Akmal mengeluarkan nafas dengan cepat. Seakan pemberitahuan papa itu suatu yang membebani dadanya.


"Kenapa, bukankah sudah siap." tanya Ulya sambil mencari tempat yang cocok untuk menyandarkan tubuhnya yang lelah, karena perjalanan dari Turki ke Indonesia cukup membuat boyoknya cemut-cemut.


Alhamdulillah ... lega rasanya, gumamnya lirih. Begitu tubuhnya mendarat indah di sofa yang ada di ruang tamu.


"Biasalah, Pa. Hatinya tertinggal." Akram, saudara kembarnya itu suka pula menggoda.


Kakak ini selalu bikin kacau saja dengan cerita yang enggak-enggak, gerutu Akmal.


"Jangan katakan kalau kamu jatuh cinta."


"Papa ... cintaku itu sudah habis dengan tanaman, sudah tak ada lagi sisa. Lagian pula umur juga baru 17."


"Lalu, kenapa kelihatannya berat amat?"


"Tak ada bayangan Akmal sebelumnya, kalau begini akhir penelitian-ku. Pohon sawoku meninggal dunia." gumamnya dengan sesekali mengambil nafas berat.


"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un." ucap Akram dan Aisye kompak. Ditambah sambil tertawa pula.


"Dasar tak berperasaan. Orang lagi sedih ditertawakan."ucap Akmal setengah merajuk. Spontan disambut senyum-senyum Papa Mama dan juga Aisye dan Akram dengan wajah bengongnya.


"Sesuai perjanjian."


"Ya Pa, Akmal mengerti." jawab Akmal tertunduk sedih. Hehehe ....


Bawa bahagia saja. Sambil cepat-cepat merapikan wajah yang sempat terlipat.


💎


Tepat ba'da isya, mereka semua berangkat menuju bandara dengan membawa satu mobil box, tempat penelitian Akmal yang rencanakan akan dia lanjutkan di Turki, sambil menempuh pendidikan militernya.


"Mang Maman, kami tinggal dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Ya, Den. wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh."

__ADS_1


Iringan mobil itu meninggalkan rumah memasuki jalanan yang masih ramai. Akmal yang terlalu cintanya pada tanamannya, memilih ikut di mobil box, daripada bersama keluarganya di mobil yang satunya. Semua berjalan lancar, sampai ketika tiba di jalan layang. Ulya merasa curiga dengan 2 mobil yang ada di kanan kiri mereka.


"Akram, kamu melihatnya, Nak?"


"Ya, Pa. Tenang saja. Akram akan atasi. Tapi sepertinya yang diincar mobil box itu."


"Kurasa."


"Adakah jalan lain yang lebih cepat ke bandara."


"Bentar," jawab Ulya sambil membuka GPS-nya.


"Kasih tahu Akmal, Pa. Kita akan kawal sebisa mungkin."


"Baiklah."


Sementara Ulya menghubungi Akmal, Akram sudah siap mengambil ancang-ancang. Tinggal menunggu waktu. Begitu mobil box sudah berkecepatan penuh dan ada sela, dia mengemudikan mobil itu dengan zig-zag. Mau tak mau mobil yang mengikutinya agak kesulitan mengejar buruannya.


Syukur Alhamdulillah, untuk sementara Akmal dan penelitiannya aman. Kini tinggal mengatasi mobil yang masih belum lelah mengikuti mereka. Bahkan samar-samar, Akram melihat salah seorang penumpang dari mobil tersebut menyembulkan kepala, dengan tangan memegang sebuah pistol. Dan mengarahkan pada mereka.


Aisye, kemudinya!"


"Baik, Kak."


Aisye tetap di tempat duduknya, mengambil alih kemudi yang ditinggalkan Akram.


Sedangkan Akram segera mengambil pistol yang selalu tersedia di laci mobil. Dia segera mengarahkannya pada orang itu.


Dor ....


Sebuah pistol terlempar jauh hingga jatuh di jalanan yang ada di bawah mereka.


Dor, Dor ....


Dua buah peluru, Akram tembakkan ke arah roda. Membuat mobil itu terjungkal hingga badan mobil terbalik.


"Kak, mobil sebelah kiri." teriak Aisye.


"Kejar."


"Baik." ucap Aisye sambil berpindah tempat duduk ke belakang kemudi.


"Mama, kamu juga pindah. Aku mau bantu Akram."


"Baik, Pa." Naura segera bergeser ke belang Akram. Sedangkan Ulya dibelakang Aisye.


"Aisye, hati-hati." Akram melihat seorang yang mengarahkan pistol pada mobil mereka.


Dor ...


Sebuah tembakan terdengar dari mobil yang kini sudah ada di depan mereka.


Untunglah Aisye berhasil menghindar. Akram yang sudah tak mau mengambil resiko, segera menghadiahi sebuah peluruh di tanki bahan bakar mereka. Dan tepat sasaran.


Dueeer ...


Sebuah ledakan terjadi. yang disertai dengan percikan api sehingga membakar mobil mereka.

__ADS_1


__ADS_2