Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Kesedihan Akmal


__ADS_3

Kini mereka telah aman. Meski demikian, mereka tak mengurangi kecepatan mobil sedannya. Untuk mengejar mobil box yang sudah melaju kencang terlebih dahulu.


"Akmal, kamu di mana."


"Sepertinya ada yang mengikutiku."


Beberapa detik kemudian mereka dapat menyusul. Terlihat mobil Akmal melaju kencang diikuti oleh sebuah mobil yang hanya berjarak 1 m. seorang pria dengan badan tegap terlihat melompat ke mobil box. Sepertinya orang-orang yang terlatih. Mereka melakukan itu semua dengan tenang, meski keadaan mobil melaju kencang. Sedang Akmal belum menyadarinya.


"Kakak, itu mobil kak Akmal." Teriak Aisye. Dia amat khawatir apalagi terlihat olehnya, seseorang membuka gembok mobil box dengan paksa.


Mereka tidak mengusik Akmal ataupun sopirnya tetapi hanya merusak boxnya saja. Sebenarnya apa yang mereka incar?


"Telpon Akmal,"


"Papa saja."


Akmal yang menerima telepon dari Papa Ulya akhirnya menyadari. Lalu menengok ke belakang. Dia melihat ada seseorang yang melempar tanamannya ke dalam mobil yang tiba-tiba terbuka atapnya. Baru sadar kalau dirinya sedang dirampok. Meski pun yang diambil tanaman.


"Hentikan mobilnya" kata Akmal. Begitu mobil berhenti, Akmal melompat keluar dan mencoba mempertahankan tanamannya. baku hantam pun tidak terelakkan antara perampok itu dengan Akmal. Lelaki itu ternyata memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik. Dia sangat tangguh untuk dijatuhkan.Bahkan membuat Akmal terjungkal terlebih dahulu.


"Wow, kita ringkus orangnya. Ini malah makin baik " kata si perampok itu saat melumpuhkan Akmal. Akmal mencoba melawan tetapi lelaki itu lebih kuat.


Untunglah tak lama kemudian Akram datang. Melihat saudaranya kewalahan dia pun langsung turun dari mobil untuk membantunya. Belum sempat Akram melancarkan aksinya lelaki itu pun sudah bersalto masuk kedalam mobilnya melalui atap yang terbuka. Dalam hitungan detik mereka sudah menghilang di tengah kegelapan malam.


Akram ingin menembaknya tapi di luar jangkauan pelurunya. Hanya satu peluru yang dia tembakan. Dan itu terbuang sia-sia.


"Tanamanku!!'' teriak Akmal.


"Sudahlah, kita ke bandara saja." kata Papa Ulya. Tapi sebenarnya dia tidak membiarkan begitu saja mobil lari. Dia menghubungi pengawal setianya yang ada di bandara.


Tak berapa lama kemudian, datanglah 2 dua orang yang mengendarai motor,meliuk-liuk menyibak jalan bebas hambatan mendekati mereka. Lalu melesat jauh meninggalkan mereka, menuju ke arah mobil pencuri itu menghilang.


"Ayo, kita ke mobil."


Akram dan Akmal pun mengikuti saran dari Papa Ulya tetapi wajah Akmal terlihat sangat sedih, meski hanya satu pohon sempat diambil oleh perampok itu.

__ADS_1


"Papa, itu penelitianku yang masih belum selesai. Aku takut nanti terjadi apa-apa atau mereka akan menyalah gunakannya."


"Tenanglah, itu sudah jadi urusan Papa. Semoga terkejar dan kamu bisa melanjutkan penelitian itu."


Dengan berat hati Akmal pun menuju ke mobilnya. Menyuruh sopirnya untuk melanjutkan perjalanan. Dengan kecepatan yang sama saat mereka dikejar perampok. Hingga sampai di bandara.


Di sana telah menunggu pesawat pribadi Papa Ulya. Setelah memastikan bahwa tanamannya sudah aman dalam bagasi, Akmal pun mengikuti keluarganya. Langkahnya masih tampak berat. Sesekali Akmal masih menengok ke belakang.


Dari jauh terlihat motor pengawal Papa Ulya yang kembali membawa tanaman tersebut. Akmal bersorak gembira dalam hati.


Alhamdulillah, gumam Akmal.


Tapi ada sedikit kegelisahan di hatinya ketika menyaksikan tanaman itu kembali, hanya berupa batang dan beberapa daun saja.


Kegelisahan itu dapat disaksikan dengan sangat nyata oleh papa Ulya dari pintu pesawat. Sampai dia beberapa kali mengambil nafas panjang. Sebegitu besar cintanya pada tanaman, sehingga putranya terlihat amat berat untuk pergi. Tapi dia bersyukur saat menyaksikan perlahan-lahan Akmal menaiki tangga pesawat. Begitu sampai di dekatnya, Dia segera menepuk-nepuk bahunya, agar Akmal menjadi sedikit tenang.


"Tersenyumlah."


"Berat papa." Meski begitu, Akmal pun mengikuti langkah Papa Ulya, masuk ke dalam pesawat. Setelah bercengkrama sejenak dengan kru pesawat yang notabenenya adalah pengawal pribadi papanya, dia menuju ke kamar untuk beristirahat. Dengan terlebih dahulu membasuh diri serta berwudhu sebelum mengantarkannya ke tempat yang penuh dengan mimpi, berselimutkan udara hangat di dalam pesawat.


Sementara itu di Panti Asuhan ...


"Bi, mana kainku, kok nggak ada?" tanya Umi Ridwan kepada suaminya.


"Mana aku tahu Umi, masalah kain. Aku kan nggak pernah ngurusi tentang itu."


"Aduh di mana ya ... perasaan sudah aku letakkan di almari ini dan sudah aku setrika."


"Sudah pakai yang lain aja, nanti kita telat loh."


"Iya deh." Akhirnya Umi Ridwan menyerah. Dia mengambil kain batik yang lain, untuk dipakainya ke dalam acara resepsi pernikahan sahabat Abi Ridwan.


Ternyata oh ternyata...


Kain itu telah diambil oleh Jamilah untuk digunakan menangkap ikan di empang. Sekarang ini dia sedang asyik sekali dengan beberapa anak Panti Asuhan yang masih SD, berburu ikan sepat dan wadder. Mereka banyak terdapat di sungai yang membelah kebun belakang mereka.

__ADS_1


Strategi dengan menggunakan kain ternyata efektif sekali. Banyak ikan yang terjaring dengan kain yang mereka bawa. Mereka kumpulkan ke dalam sebuah ember yang sudah mereka persiapkan. Setelah puas menjaring ikan mereka pun mandi bersama-sama di sungai itu, sampai matahari terasa di kepala mereka sekitar menjelang dzuhur.


"Sudah, kita balik." kata salah seorang yang lebih tua dari Jamilah.


"Dilipat ya kainnya."


2 orang anak segera melipat kain tersebut dan memasukkannya ke dalam tas plastik. Lalu meletakkannya di samping ember hasil tangkapan ikan mereka.


"Ayu, apa nanti Umi nggak marah. Rupa kain ini sudah tak karuan."


Hehehe ....


"Tenang aja deh, Umi nggak akan marah kok,"jawab Ayu dengan senyum. Padahal sebenarnya dia juga khawatir.


Mereka pun keluar dari sungai dalam keadaan basah kuyup seluruh badan. Mereka kembali ke panti asuhan menuju ke kamar mandi untuk bersih diri dan persiapan salat dzuhur. Hasil tangkapan mereka serahkan kepada kakak-kakak yang sedang piket masak.


Sedangkan Jamilah membawa kembali kain itu ke tempat cucian. Hanya sayang dia meletakkan begitu saja, di samping bak cucian. Sampai sore hari saat Umi Ridwan sudah datang, kain itu masih sama. Terogok seperti barang tak berguna.


Dibukanya tas plastik itu. Alangkah terkejutnya ketika mendapati kain yang dia cari tadi pagi, ternyata sudah dalam keadaan basah dan bercampur lumpur. Tidak banyak berfikir, dia berkata.


"Panggilkan Setyawati !" suruhnya pada seorang anak perempuan yang lewat di depannya.


Begitu anak itu pergi Umi segera menyemprot kain itu dengan air. Saat Jamilah datang, lumpur-lumpur itu telah lepas semuanya.


"Setyowati!!"


"Ya, Umi." jawab Jamilah dengan menunduk. Membuat Umi Ridwan tidak tega untuk melanjutkan amarahnya. Dia hanya memandang kesal dan sedih keponakan yang telah diasuhnya sejak dilahirkan.


"Sudah, sekarang ini tolong dicuci." Umi Ridwan menyerahkan kain itu. Jamilah pun melakukan apa yang dimaksud oleh Umi meskipun hatinya dongkol. Tapi cukup mengerti kalau berbuat harus mau menanggung akibatnya. Setelah membilasnya dia serahkan pada Umi, untuk dijemurnya.


"Besok jangan pakai kain Umi ya ... pakai jaring aja."


"Maafkan Setyawati,Umi."


"Sudah pergilah. Lanjutkan setoranmu ke Abi."

__ADS_1


Jamilah pun meninggalkan Umi yang masih geleng-geleng kepala terhadap tingkah lakunya.


__ADS_2