
"Baik Ma,"
Mungkin ini salah satu hikmah yang dapat ku petik dari peristiwa yang menimpaku. Kini aku mempunyai dua orang mama, Bunda Zulfa dan mama Naura.
"Udah Mah pah, Aku pergi dulu." Akmal Kembali berpamitan. Meninggalkan Jamilah bersama Papa dan Mamanya. Dia semakin tenang, Karena papa Ulya dan Mama Naura ada di rumah. Yang menjaga Jamilah makin bertambah. Itu bodyguard Papa Ulya sudah siap siaga di depan
"Selesaikan secepatnya Akmal. Agar besok saat kita pergi, kamu sudah nggak ada tanggungan lagi. Kamu bisa melamar Jamilah tanpa beban."
"Beres, Ma."
Jamilah semakin tersanjung. Tak sangka kalau Akmal sudah mengatakan niatnya itu pada keluarganya. Namun mengapa kebimbangan itu masih ada. Apalagi saat menatap sekilas pandangan Papa Ulya yang terlihat dingin padanya.
Kok hati ini menjadi tak tenang. Sedih juga kalau calon mertua tak menyukainya. Kalau orang lain mungkin bisa tak peduli. Lha ini camer ... Bagaimana ini? Dirinya bukan orang yang bisa berlemah lembut atau bermanis-manis agar disukai orang. Dia lebih suka apa adanya. Suka terserah, tak suka apa pedulinya.
Yang dapat dilakukannya hanyalah berdo'a. Wahai Robbku, maafkan diriku bila tanpa sengaja membuat hambamu belum bisa berlaku baik. Dan bimbinglah hamba menjadi lebih baik
Jamilah mencoba menghibur diri dengan menatap kepergian Akmal yang terlihat sok romantis saat ini. Dengan bahagia memasuki mobilnya sambil melempas seulas senyum padanya dan juga lambaian tangan sebelum menutup kaca mobil. Hadeh ....
Syukurlah akhirnya pergi juga, menghilang dalam kegelapan malam. Meninggalkan dirinya yang mulai diselimuti kebimbangan dengan kehadiran calon mertua yang dingin. Lama dia terpaku sehingga tidak menyadari kalau Naura dan Ulya telah meninggalkan dirinya.
Dia baru sadar ketika mendengar perbincangan Mama Naura dan Papa Ulya yang sudah memasuki ruang keluarga.
"Dia masih kekanak-kanakan sekali. Apa mungkin Akmal bahagia bersama dia?"
'Papa ini ngomong apa sih. Ya, tentu saja dia bahagia. Itu yang sudah diinginkan anakmu sejak lama. Apa Papa masih menginginkan perjodohan dengan anak teman Papa itu? Siapa namanya ... Oh ya, Tazkia."
"Dia lain negara. Ya kalau dia mau mengikuti anak kita. Kalau Akmal yang ikut dia, karir Akmal di dunia militer akan wassalam."
"Kurasa itu semua sudah dipikirkan sama anakmu, Pa. Papa nggak usah pusing."
"Aku lebih suka Tazkia."
"Tapi Akmal nggak menginginkannya, Pa?"
Suara itu pun menghilang. Seiring keduanya meninggalkan ruangan menuju ke lantai atas untuk beristirahat. Baru kemudikan Dia beranjak menuju kamar, dengan sedih. Haruskah dirinya dibanding-bandingkan.
Mungkinkah Tazkia itu ... wanita yang selalu ingin mencelakainya. Disebabkan oleh kecemburuan. Karena gagal mengambil hati Kak Akmal.
Banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya. Hingga larut malam, mata itu seakan tak mau terpejam. Kadang ingin lepas, tapi hati kecilnya berontak. Akankah rasa ini dikuburnya dalam-dalam. Ataukah dia teruskan saja? Karena bukan kehendak dirinya kalau saat ini Akmal memilihnya.
Galau di hati tak bisa selesai dengan hanya merenung. Akal dan angan hanya semakin membuatnya bingung. Yang terkadang tak bisa membedakan mana rasa yang murni dari hati nurani atau mana yang berasal dari nafsu belaka. Keinginan untuk menerima Akmal amat kuat. Namun belum tentu baik bagi kehidupannya kelak.
Dia pun bangkit dari ranjang. Mengambil air wudhu. Membasuh diri agar bisa menghadap pada Sang Pemilik hati. Untuk mengadukan segala rasa, agar jalan ini menjadi terang.
🌟
__ADS_1
Sementara itu Akmal yang sudah tiba di markas langsung disambut oleh seorang staf penting departemen pengembangan teknologi.
"Syukurlah, kamu datang. Ada hal penting yang akan aku sampaikan. Ini soal Tazkia."
"Tazkia?"
"Ikut aku!"
Mereka berdua memasuki ruangan yang cukup luas dengan peralatan canggih di depannya. Dia menghidupkan salah satu layar yang cukup besar. Di sana terlihat dengan jelas gambaran Tazkia yang sebenarnya. Beserta data-datanya.
"Benarkah ini?"
'Aku juga tak menyangka. Kalau dia bukan manusia, melainkan robot."
"Manusia yang sudah diprogram khusus seperti robot."
"Aku hanya tahu dia dikirim khusus untuk membantuku."
"Siapa yang mengirim?"
"Pusat."
"Mereka tak mengirimnya."
"Lalu siapa?"
Tatapan mata keduanya masih tertuju pada layar. Sesekali wajah Akmal berkerut.
"Sepertinya aku perlu turun langsung."
"Kamu sasarannya."
" Hm ... Itu malah lebih bagus. Aku mau temui dia. Tolong lindungi aku."
"Baiklah. Hati-hati."
Segera keduanya menuju ruang bawah tanah, menemui Tazkia.
Dia kini tengah duduk meringkuk di sebuah kamar gelap tanpa cahaya. Wajah yang dulu ada senyuman kini terlihat dingin.
Tiba-tiba pintu terbuka. Seketika dia menengok. Tampak seorang wanita berpakaian resmi berdiri di tengah-tengah pintu
"Tazkia, kamu ditunggu Jenderal."
"Benarkah?"
__ADS_1
Dia segera bangkit, menghampirinya. Tak sangka seorang yang selama ini dia rindukan datang menjenguknya. Dia sadar sebagai manusia robot yang lakunya sudah dikendalikan. tak bisa berbuat banyak terhadap dirinya sendiri. Tapi perasaan sebagai manusia kadang muncul. Itu sulit dihilangkannya. Rasa apa itu, dirinya tak tahu.
Begitu ada perintah untuk membunuhnya, ia menjadi lemah, tak tega. Akhirnya dia alihkan pada orang yang Akmal sayangi. Tak sangka itu menyebabkan kemampuannya turun drastis. Sampai-sampai dia dengan mudah dikalahkan Jamilah.
Dengan berat dia mengikuti langkah wanita itu menuju sebuah ruangan yang tak seberapa besar. Hanya ada satu meja dan dua kursi di tengahnya. Sebuah lampu meneranginya. Namun mengarah hanya di tempat itu saja. Sedangkan sekelilingnya gelap.
Kursi itu tampak kosong. Tak ada terlihat seorang pun yang menunggunya. Apakah ini sebuah jebakan? Instingnya membisikkan kata itu.
"Mana Jenderal?"
"Duduklah!"
Mau tak mau, Dia menuruti apa kata wanita yang menjemputnya. Dia segera duduk di salah satu kursi yang ada di tengah ruangan.
"Siapa yang menyuruhmu?"
Benarkah ini suara Jenderal? Aku ragu. Suaranya tak seperti ini.
"Tak ada."
"Aku mengenalmu sebagai orang baik. Tak mungkin melakukan hal itu. Pasti ada yang kamu sembunyikan."
Kalau ini, aku yakin dia ....
"Jenderal, kamu kah itu."
Akmal yang sejak tadi berdiri di salah satu sudut ruangan, kini berjalan mendekatinya.
Kembali kata-kata itu terdengar kuat hingga mempengaruhi otaknya. "Bunuh dia!"
"Jenderal, jangan mendekat."
Tazkia berteriak, sambil memegang kepalanya. Lama-lama terlihat makin pucat.
"Apa yang kamu rasakan,Tazkia?"
Setiap kali dia menolak suatu perintah maka keadaan dirinya akan semakin lemah.
"Jenderal tolong menjauh dariku. Bisa-bisa aku tak sanggup menahan ini."
Dan benar saja, sakit yang menyerang kepalanya, mendorongnya untuk bertindak. Tenaganya seakan pulih seperti sediakala.
Dia menyerang Akmal. Gerakannya sangat cepat. Untung saja Akmal waspada. Sehingga mampu menghindar dengan mudah.
Namun ketika sorot mata Tazkia memerah. Tenaganya seakan bertambah. Gerakannya menjadi tak terkendali. Dia menyerang Akmal dengan membabi buta. Membuat Akmal kewalahan.
__ADS_1
"Tazkia, ada apa denganmu?"
"Jenderal, kamu sudah tak bisa lari lagi."