Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Ikhlas


__ADS_3

Hiks hiks hiks ...


"Aaahhh ... Sakiiiit,"


Akmal sudah tak lagi konsentrasi dengan apa yang diucapkan Abah. Dia terenyuh menyaksikan Abid yang merintih kesakitan. Segera membawa Abid keluar untuk menenangkannya.


Sebelumnya, Akmal mengangguk kepala pada Abah sebagai isyarat dirinya untuk meminta izin keluar.


Abbah memberikan isyarat yang sama untuk mempersilahkan Akmal keluar.


"Om Akmal. Mengapa sakit sekali."


Lapat-lapat suara Abid masih terdengar dari dalam ruangan. Seolah-olah itu adalah ungkapan hati Santosa yang sedang merana mendengar keputusan Abah menerima lamaran Akmal dan mengembalikan lamaran dirinya.


Meskipun sejak awal sudah menata hati tentang apapun yang terjadi pada saat ini. Tetap saja terasa perih. Dirinya baru sadar, kalau benar-benar jatuh cinta.


Ya sakit sekali ... Bikinilah rasanya patah hati. Rintih Santosa sambil menyembunyikan wajah sendunya.


Ada setetes embun bening bersembunyi di ujung mata. Ditahannya untuk keluar. Dengan menggunakan ibu jari, dia mengusap lembut, "Air mata, tak baik kamu ada."


"Santosa, kamu ikhlas kan?"ucap seseorang yang tadi mewakilinya saat melamar Jamilah.


"Saya sedang mencobanya, Pa,"


"Mungkin dia bukan jodohmu, Nak. Dan mungkin saja jodohmu yang sebenarnya kini sedang menanti dirimu untuk kamu sapa."


"Aku paham, Pa. Tapi ini sangat sakit sekali."


Itulah cara dirinya untuk melepas belenggu lara yang dirasakan saat ini. Dengan mengadu lirih. Meskipun tak bisa membuatnya sirna, setidaknya sakit ini bisa akan sedikit ringan.


Abah Ridwan ....


Bagaimanapun keputusan Jamilah akan membuat Santosa kecewa. Sebenarnya dia sendiri tidak tega, tapi bagaimana lagi.


Dia merenung sejenak. Duduknya pun tampak tak lagi nyaman. Beberapa kali mengubah posisi kaki dengan sesekali mengambil nafas panjang.


"Setiawati. Apakah kamu nggak pengen bicara sama dia,"ucapnya kemudian.


"Setiawati tidak berani, Abah." Jamilah merasakan hal yang sama. Rasa bersalah telah membuat komandannya kecewa dengan putusan yang diambilnya.

__ADS_1


Mungkin ini saat yang tepat, sebelum komandan pergi untuk mengungkapkan apa yang dia rasa, walaupun tidak bisa menerima lamarannya. Dia perlu mengungkapkan kata maaf, agar rasa bersalah tak membelenggu kebahagiaannya saat ini.


"Ada Abah sama Papa kamu yang akan menemani." Jamilah akhirnya mengangguk. Dia pun berjalan mendekati Santosa yang sampai saat ini belum beranjak dari tempat duduknya.


"Pak Komandan, maafkan Jamilah."


Santosa memandang lurus ke arah Jamilah. Dan tersenyum tipis. Dia baru menyadari bahwa panggilan Jamilah kepadanya tidak pernah berubah di manapun tempatnya. 'Bapak komandan' tak ada yang lain.


Berbeda sekali dengan saat Jamilah memanggil Jenderal Akmal. Tak pernah dia menyebut jenderal. Yang sering dia gunakan adalah sebutan kakak untuk memanggilnya. Kak Akmal atau Kak Bara. Itu panggilan dari mana....


Terkadang dia mendengar Akmal memanggil Jamilah dengan sebutan nama lain. Kadang Ayu kadang Setiawati bahkan pernah dia mendengar menyebut nama Indah Ayu Setiawati untuk memanggil Jamilah.


Ternyata aku tak sadar bahwa mereka sudah saling mengenal sejak lama. Tak seharusnya aku ada di antara mereka.


Santosa pun mencoba tegar, menata hatinya untuk segera move on, dari keterpurukan jiwanya saat ini. Jangan sampai ada niat seperti yang biasa dia dengar, cinta ditolak dukun bertindak. Itu jauh dari angannya.


"Apa yang perlu dimaafkan, Jamilah. Tidak ada yang salah dengan keputusanmu. Aku doakan semoga kalian sampai ke jenjang pernikahan."


"Amin ya rabbal aalamin. Terima kasih Komandan."


"Jangan lupa undang di hari bahagiamu."


"Seharusnya ini hari bahagiamu. Maaf aku telah mengacaukannya. Tersenyumlah!"


Jamilah tersenyum di balik cadarnya.


"Santosa siap pulang, Pa."


"Ya sudah, kita pulang."


Lelaki yang ada di sampingnya itu pun ikut bangkit. Wanita-wanita yang serombongan dengannya juga beranjak dari dari duduknya.


Dengan tergopoh-gopoh Malika masuk ke dalam rumah. Sebentar kemudian telah kembali dengan membawa bingkisan hantaran dari mereka. Dengan maksud untuk mengembalikannya pada pemiliknya.


"Loh kenapa dikembalikan, biarkanlah ini untuk Jamilah," kata lelaki yang ada di samping Santosa.


"Iya Bah. Tak mungkin kami mengambil apa yang sudah kami berikan," Santosa pun menimpali meski dengan senyum yang dipaksakan.


Sebagai tuan rumah yang baik, tak mungkin membiarkan tamunya pulang dengan tangan kosong. Beberapa bingkisan sederhana sudah disiapkan untuk mereka.

__ADS_1


"Kalau ini kami terima," ucapnya jujur.


"Ya sudah kami pamit dulu Abah dan semuanya, maaf telah mengganggu."


"Tidak ada yang terganggu dengan kedatangan kalian, malah kami senang kalian datang," jawab Abah. "Meskipun kamu tidak memiliki Jamilah, sekali-kali datanglah kemari. Anggap saja keluarga sendiri,"


"Baik Bah, Assalamualaikum." Mereka pun berjalan menuju pintu.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Abah dan yang lainnya mengantarkan keluarga itu sampai naik ke mobil mereka, pergi menghilang dari pandangan.


Setelahnya, mereka pun berbalik kembali ke tempat semula untuk melanjutkan acara yang sempat tertunda.


Akmal ....


Akmal datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka yang masih berdiri di depan pintu., masih dengan menggendong Abit yang nampak kesakitan. Tubuhnya tak berhenti menggeliat, seperti cacing di terik matahari.


"Abid soleh, tahan ya nanti kakak akan obati," hiburnya.


"Cepatlah Kak Abid sudah benar-benar enggak tahan ini. Hiks hiks hiks ...," Inti sambil menangis tanpa henti.


Hasan lah yang menjadi tujuannya saat ini. Dia harus berterus terang dengan keadaan Abid yang sebenarnya paska penculikan.


"Papa. bisakah aku bicara berdua saja dengan Papa.


"Kamu sudah tidak sabar ya."


Tidak sabar??


Akmal menjadi bingung sendiri dengan kata yang baru saja didengarnya dari bibir Papanya Jamilah. maklumlah dirinya tidak begitu tahu persis dengan apa yang dikatakan Abah sesaat lalu. Bahkan dia pun tidak tahu tentang keputusan Jamilah karena dia teramat gelisah dengan keadaan Abid saat itu.


"Sudah yuk kita masuk. Kita lanjutkan acaranya dengan bertukar cincin."


AkmaI masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.


"Papa, ini serius."


Hasan tak begitu menanggapinya. Karena yang ada dalam pikirannya saat ini adalah kebahagiaan putrinya.


"Abid sama Papa ya, Nak."

__ADS_1


__ADS_2