
"Nona Ayu! Bibi pangling. Sekarang sudah besar dan pasti cantik. Bibi hanya bisa menduganya, habis wajah Nona Ayu tertutup cadar."
"Bibi bisa saja."
"Bi, tolong temani Ayu. Aku mau pergi."
"Baik Tuan."
Kak Akmal segera menyelesaikan sarapannya dan juga menghabiskan jusnya. Lalu dia bangkit, membereskan peralatan yang aku gunakan untuk latihan.
"Kak, boleh nggak Ayu minta dibawain oleh-oleh kalau Kakak pulang nanti."
"Oleh-oleh apa?"
"Novel karya ... di perpustakaan tak ada."
"Hm ... Boleh-boleh."
"Makasih. Jangan sampai lupa lho!"
"Insyaallah." Akmal tersenyum memandang Jamilah yang terlihat ceria.
Aneh juga keinginan Jamilah ini. Bukan makanan atau yang lainnya. Tapi buku. Dasar anak gadis. Maunya novel saja. Biar bisa berhalu-halu ria. Mengisi waktu luang. Dari pada bosan, terus marah-marah. Aku juga yang jadi sasaran.
Kembali Akmal merapikan alat itu. Lalu bersiap mengangkatnya ke rumah. Tapi belum juga Akmal melangkah, ada sebuah mobil memasuki pelataran rumah. Bukan mobil Kak Aisye atau Kak Akram. Siapa dia? Seorang wanita, lebih tua dari Kak Aisye, dengan memakai pakaian perawat berwarna putih.
...
Keluarga Kak Akmal ini banyak sekali. Satu-satu sudah memperkenalkan diri. Siapa lagi yang tertinggal ya? Apa ini salah satunya. Terus terang ini sangat menyenangkan bagiku. Seakan-akan aku berada di dalam keluarga yang sebenarnya.
Tapi tidak ... Aku sangat merindukan orang-orang yang selalu datang dalam setiap mimpiku. Siapa mereka, aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu, yang aku rasakan mereka sangat dekat denganku. Ku berharap segera bertemu. Termasuk bertemu dengan Kak Bara yang selalu datang memanggilku, mengiringiku terbang melewati awan.
Untuk bertanya pada ke Akmal, tak ada keberanian. Apalagi dia amat berhati-hati sekali untuk memberikan informasi tentang diriku. Ada ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, setiap kali akan mengatakan hal itu. Ini terlihat dengan jelas pada raut mukanya yang tak dapat disembunyikan dariku.
....
"Tante, ini Jamilah,"Kak Akmal langsung saja memperkenalkan diriku kepada wanita itu
"Ya ya tante ngerti ... Cuma bayarannya harus 5 kali lipat. Karena kamu telah membuat tante tidak bisa masuk kerja hari ini."
Ketus juga dia, tapi terlihat menyenangkan.
"Itu mah beres, Tante. Pokoknya aku titip dia." Dia menunjuk ke arahku. Ada saja ... Selalu saja begitu. Memang aku anak kecil yang harus dititipkan-titipkan.
Sepertinya Kak Akmal tak peduli. Aku mau dongkol, mau senang dengan sikapnya itu. Dia cuek sekali. Dia meninggalkan kami menuju rumah dengan membawa peralatan latihan di tangannya. Aku pun tak ingin mempedulikannya. Mau ke sana atau menghilang, bukan urusanku.
Aku mengobrol cukup lama dengan tante Fariha. Sampai dia keluar dari rumah dengan memakai celana jeans, kaos santai dan kaca matanya. Aku suka dia berpanampilan seperti itu. Anak muda banget.
__ADS_1
Dia melewati kami begitu saja menuju ke garasi. Tak lama kemudian dia sudah bersama mobilnya.
"Kakak, jangan lupa ya!" Aku berteriak mengingatkannya kembali.
"Ya," jawabnya sebelum masuk ke mobilnya dan menghilang di tikungan.
🌟
Tak kurang dari 2 jam, Akmal lakukan perjalanan menuju tempat Papa dan Mamanya kini berada, yaitu di distrik Tuzla yang ada di perbatasan. Tempat yang sangat jauh dari kota, dengan suasana pedesaan yang cukup asri. Tempat yang nyaman untuk beristirahat dari kebisingan kota.
Dia baru menghentikan mobilnya, pada saat tiba di rumah kecil dan unik namun cukup eksotis. Di kelilingi oleh rerumputan hijau dan juga rindangnya pepohonan yang ada di sekitarnya. Pemandangan yang sangat asri ditambah dengan pohon anggur yang bergelantungan di jalanan setapak menuju rumahnya.
Keluar dari mobil, dia sudah disambut oleh lelaki paruh baya, tukang kebun sekaligus penjaga rumah ini.
"Papa dan Mama ada?"
"Baru saja pergi, Tuan muda."
"Kemana?"
"Tak tahu Tuan muda. Biasanya tak lama. Mungkin satu jam lagi kembali."
"Yaudah. Gimana kebunku, Paman. Apakah sudah tumbuh kuncup?"
"Tuan muda lihat sendiri saja. Bapak hanya merawat sesuai dengan tuan muda suruh."
"Baiklah."
Dia mengambil pot kecil yang ada di gudang. Lalu mengisinya dengan tanah yang berhumus, membawanya ke hamparan bunga tulip. Mengambil beberapa tunas, menanamnya kembali di dalam pot.
"Moga-moga Jamilah suka," gumamnya lirih.
Tak berapa lama terdengar suara mobil dari halaman depan. Dia memandangnya sejenak.
"Alhamdulillah, Mama dan Papa sudah datang."
Segera menyelesaikan pekerjaannya. Lalu segera ke depan untuk menemui Mama dan Papanya. Yang selalu mesra meskipun sudah tampak tak muda lagi.
Ya Allah, mudahkanlah urusanku. Lancarkan lidahku untuk mengungkapkan keinginan ini pada Papa.
"Akmal?"
"Ya, Ma ... Pa. Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam."
" Gimana perkembangan Jamilah?"
__ADS_1
Bukannya tanya kabarku, Mama bahkan bertanya tentang Jamilah. semoga ini bertanda baik.
"Alhamdulillah, Ma. Baik. Saat ini sudah bisa berjalan meskipun masih dengan tongkat dan tertatih-tatih. Untuk masalah gangguan memorinya, kelihatannya sudah lebih baik."
"Lalu gimana rencanamu?"
"Pa Ma, Aku mau mengantarkannya ke Indonesia. Dan meminangnya."
Akmal melirik pada Papa Ulya. Semenjak dia datang belum ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
"Menurut Papa bagaimana?"
"Kalau kamu sudah bertekad, Apa hak Papa untuk menghalangimu."
"Berarti Papa setuju?"
Ulya mengangguk.
"Terima kasih Papa Mama." Dia memeluk keduanya dengan erat.
Ini benar-benar di luar dugaannya. Ternyata Papa sama sekali tidak keberatan dengan keinginannya, untuk mempersunting Jamilah.
"Kalau gitu ... Lusa ... bisakah kita ke Indonesia."
"Secepat itukah? Apa tak sebaiknya menunggu Jamilah sehat dulu dan ingat semuanya?"
Papa Ulya geleng-geleng kepala dengan keinginan putranya itu yang sangat mendadak. Karena baru kemarin rasanya dia memperkenalkan Jamilah kepadanya.
"Semoga dengan bertemu keluarganya mempercepat kesembuhannya. Bagaimana, Pa?"
"Akmal ... Akmal. Kamu itu bikin pekerjaan Papa makin bertumpuk."
"Kan ada Kak Akram sama Aisye. Sekalian refreshing gitu lho, Pa."
"Okelah. Tapi tak bisakah diundur barang 2 hari gitu? Papa kan nggak bisa menyerahkan urusan ini begitu saja?"
"Bisa ... Bisa, Pa. Yang penting minggu ini kita ngantar Jamilah pulang, sekaligus meminang."
"Kamu itu niru siapa sih. Papa itu dulu nunggu Mamamu pakai bertahun-tahun. Kamu baru juga bertemu sebulan sudah meminang."
"Hehehe ... Tapi itu lebih baik kan, Pa."
"Ya ..."
"Ya sudahlah kalau gitu Akmal mau pulang dulu. Kasih tau Jamilah."
Tingkahnya yang kekanak-kanakan membuat Mama dan Papa tersenyum.
__ADS_1
"Pergilah."
Dia segera mengambil kembali pot yang berisikan bunga tulip yang dia tinggalkan begitu saja di bawah pohon mangga. Lalu memasukkannya dalam bagasi mobil sebelum dirinya masuk. Siap menjalankannya, meluncur meninggalkan tempat itu. Tentu dengan hati yang bahagia dan berbunga-bunga. Seindah bunga tulip yang dia bawa.