Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Operasi Senyap (bab-bab akhir)


__ADS_3

Perjalanan Akmal berhenti di suatu tempat. Chris, Akmal, komandan beserta beberapa orang berkumpul menyusun rencana.


"Kita akan langsung serang pusatnya."


"Aku setuju, biar masalah ini tidak berlarut-larut dan tidak ada lagi korban."


"Chris sepertinya kami memerlukan keahlianmu. Setelah mereka menemukan posisinya, kamulah yang akan aku kirim untuk misi pembukanya," perintah komandan pasukan.


"Dengan senang hati, Komandan."


"Kamu bawa chip itu, kan?"


"Sesuai perintahmu, Akmal. Dan juga mainan-mainan yang kau berikan padaku dulu."


"Ish, kamu." Akmal tersenyum dengan ucapan Kris yang menyebutkan penemuan-penemuan kecilnya itu sebagai mainan. Ya ... Bolehlah. Karena memang bentuknya seperti mainan anak kecil dan cara menggunakannya pun tidak sulit.


"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?" Suara bariton komandan menghentikan bisik-bisik mereka.


"Jangan khawatir, Komandan. Itu keahlianku."


Pasti itu perintah untuk menyadap semua informasi tentang mereka dan merusak sistem yang mereka punya. Oke ....


Mereka baru menerima informasi tentang posisi penculik itu pada waktu menjelang tengah malam, dari orang-orang yang ditugaskan untuk mengikuti mereka secara sembunyi-sembunyi,


Ternyata mereka bermarkas di sebuah pulau yang tidak ada dalam peta.


"Akmal, Aku duluan,'


"Sukses!' teriak Akmal sambil mengacungkan kepalan tangan kanannya.


"Sukses!!" Balas Chris dengan gerakan yang sama lalu keduanya melakukan tos sebelum berpisah.


"Kami tunggu kabar baik darimu, Chris." Kata-kata terakhir yang komandan ucapkan sebelum melepas Mereka pergi.


"Siap."


Dia berlari cepat ke kerumunan 5 orang yang telah menunggunya lalu naik ke dalam sebuah Jeep, menghilang di balik gelapnya malam.


Tak lama kemudian, anggota pasukan yang lainnya juga bersiap-siap, masuk ke dalam mobil dan berangkat sampai tiba di dermaga kecil yang tersembunyi dibalik bukit.


"Tunggu setengah jam, baru kita berangkat."


"Siap."


Untuk sementara mereka bersantai sejenak menikmati indahnya purnama yang menghias angkasa di atas mereka. Whualaaah ... Sempat-sempatnya. Macam rekreasi ....


Mak author lagi baik hati, memberi kesempatan kalian bersantai ria.😊


Namun baru saja seperempat jam komandan sudah meminta untuk bersiap-siap, melanjutkan perjalanan dengan menggunakan speed boat yang baru tiba.


🌟


Sementara itu Jamilah yang bersembunyi di balik rumput ilalang yang tinggi, merasa putus asa. Matahari sudah mulai tenggelam, kak Aisye, kak Devra dan juga komandan Santosa belum juga datang. Sedangkan penculik penculik yang membawa dokter Irsyad, mulai memasuki kapal.

__ADS_1


Teruskan apa nggak ya ....


Hampir saja dia mau beranjak dari tempat persembunyiannya ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya. Dia pun tersentak,


"Kak Aisye, kak Devra?'


Dia menundukkan pandangan ketika bertatapan dengan dua orang laki-laki yang ada di belakang keduanya. Siapa lagi kalau bukan suami Kak Aisye dan komandan Santoso.


"Jangan macam-macam kamu, Kakak ipar." ucap Aisye sambil senyum di balik cadarnya.


Belum juga menjadi adik ipar sungguhan Kak Aisye sudah main ancam, gerutu Jamilah.


"Ya ya Ayu tahu kok kalau sudah diikat kayak kambing sama Kak Akmal."Dia melirik Aisye dengan ekor matanya. Jamilah tidak bisa menyembunyikan kedongkolannya kali ini. Sifat juteknya pun keluar.


"Wis nggak usah ditanggapi tho. Ngunu wae kok nesu." Devra mencoba menghibur Jamilah dengan bahasa Jawanya yang medok. Membuat semuanya senyum-senyum termasuk komandan Santosa yang tak mengira gadis bermata biru di sampingnya itu bisa berbahasa Jawa.


"Ada apa Jamilah?" Tanya Santosa.


Astagfirullahaladzim ... Jamilah menepuk jidatnya sendiri. Dia ingat kembali tujuan memanggil mereka.


"Maaf Komandan. Komandan kenal mereka?"


Komandan Santosa diam sejenak sambil memandang ke arah orang-orang yang tengah memasuki kapal.


"Sepertinya, tapi aku nggak yakin."


"Berarti komandan yang harus pimpin operasi ini."


"Oke."


"Ternyata kakak ipar tidak mempercayai kita ya, Sanin."


"Tak tahulah Tatlim."


"Atau ... Dia masih menyimpan hati dan berharap kembali pada komandannya," ucap Aisye tanpa dosa. Keduanya tertawa ceria tanpa memperdulikan Jamilah yang kembali naik pitam, menjadi bulan-bulanan calon adik iparnya. Kesssaaaal banget ...


"Astaghfirullahaladzim ... Kakak!"


Devra menepuk tangan Jamilah, "Hus! Itu komandanmu mau ngomong."


Santosa senyum-senyum, menikmati kehangatan keluarga kecil mereka, kembali tersadar.


"Ayo kita bergerak. 3 menit kita harus sudah sampai di kapal itu. Tetap nyalakan alat komunikasi."


"Kak Sellin dan Kak Aisye lewat sana. Kita bertiga lewat sini."


"Oh ...O ... Tak bisa gitu komandan, kakak ipar harus ikut aku. Kalau ikut kamu, nanti ada apa lagi sama kamu."


Kak Aisye selalu saja su'udzon.


Sentosa tersenyum, "Oke tak apa."


"Jamilah kamu ikut Kak Aisye."

__ADS_1


"Siap!"


"Kita samakan waktu. bismillahirohmanirohim, Semoga Allah memudahkan urusan kita."


"Aamiin ..." jawab mereka serentak


"Sekarang kita bergerak."


Baru juga beberapa langkah mengikuti Kak Aisye berjalan, dia sudah mendengar bisikan yang teramat mesra pada suami tercintanya.


Belum-belum sudah bikin polusi mata dan telinga.Di sini aku dicuekin sama mereka berdua. Kalau begini mending ikut kak Devra tadi, aman terkendali meski harus kikuk sedikit, gerutunya dalam hati.


"Eh ... Kakak ipar aku lupa, kalau kamu sama kita. Maaf ya aku tarik kamu ke sini."


"Aku ngerti kok Kak."


"Alhamdulillah ... ternyata kamu mendukung kami ya kalau mau jodohin kak Devra sama komandanmu. Soalnya Kak Devra lagi patah hati kayak komandanmu."


"Gimana keberatan?"


Pertanyaan jebakan ini ... Dijawab atau tidak akan jadi masalah, bahkan diam pun juga demikian.


"Kukira karena Kak Aisye masih curiga sama aku. Ternyata ada maksud lain tho. Aku sih setuju setuju aja. mengucap syukur mereka jadian. Alhamdulillah ... akhirnya Kak Aisye sudah tidak mencurigaiku lagi."


"Tapi kalau kamu ikut denganku kayaknya juga mengganggu deh."


"Gitu kan Tatlim?"


Yang ditanya hanya senyum-senyum saja.


"Ayu ngerti kok Kak ... yaudah Kita pisah di sini."


"Kakak ipar yang baik." Mereka berlalu pergi tanpa menghiraukan Jamilah yang kini berdiri termangu.


"Kak Aisye ... kak Aisye," gumamnya lirih sambil geleng-geleng kepala. kalau gini sebenarnya yang kecil siapa ya ...


Jamilah pun melanjutkan perjalanannya ke arah kapal itu seorang diri. Dia masuk ke dalam kapal tanpa kesulitan.


"Lapor Komandan, aku sudah di dek bawah."


"Tetap diam di tempat. Biarkan Kak Aisye dan Kak Sellin menguasai kemudi dulu."


"Tunggu perintah selanjutnya."


"Oke."


Tak berapa lama dia mendengar jangkar diturunkan. Rupanya mereka berhenti di tengah laut.


"Jamilah kamu bisa ke atas. Aku melihat ada helikopter yang menuju kemari."


"Bisa Komandan. apakah dokter Irsyad sudah ditemukan."


"Sudah. Hanya saja aku kesulitan bergerak karena penjagaannya sangat ketat dan banyak."

__ADS_1


"Alhamdulillahnya Kak Aisye sudah bisa menguasai ruang kemudi." ujar komandan kemudian.


"Aku sudah di atas. helikopternya sudah mendarat."


__ADS_2