
Dapat laporan dari penjaga keamanan rumahnya, Akmal yang saat itu sedang mengikuti rapat menjadi gelisah.
Tazkia amat cerdas, tahu waktu yang tepat untuk mendekati Jamilah. Dia memanfaatkan waktu pergantian piket. Saat-saat demikian biasanya agak longgar. Untung saja Jamilah bisa mengatasinya. Meski demikian dirinya masih khawatir.
Selesai rapat, Dia segera kembali ke rumah. Tanpa pegawalan seperti biasa yang dilakukan bila keadaan seperti ini. Begitu tiba, Dia menemui Jamilah di meja makan.
"Kamu tak apa-apa,kan?"
Jamilah agak terkejut. Belum sampai 1 jam yang lalu dia telepon, kalau tak bisa pulang. Mengapa sekarang muncul di depannya.
"Alhamdulillah, seperti yang Kakak lihat."
"Syukurlah."
Mengapa juga Kak Akmal masih mengkhawatirkanku. Tak tahukah dirinya, kalau itu akan membuatku semakin merasa tersanjung. Dan rasa ini bisa semakin tumbuh. Padahal aku berniat untuk memadamkannya. Lebih baik aku berterus terang sekarang.
"Mengapa Kakak mengkhawatirkanku? Aku tak mau ini akan jadi beban nantinya bagi kakak dan aku. Apalagi Kakak sudah punya seseorang di hati Kakak."
Akmal spontan tersenyum. Ingin rasanya Dia mengacak-ngacak rambut Jamilah, andai itu terlihat. Dia sangat gemas mendengar sesuatu yang dianggapnya lucu itu.
Ini maksudnya apa ya ... Apa dia sengaja meledekku?
"Ada-ada saja, Kamu."
"Kakak memperhatikan ku berlebih. Apa ini karena tugas?"
"Ya, Saat ini."
Bagaimana diriku akan menjelaskannya. Aku ingin rasa itu tumbuh sewajarnya dan ada di tempat yang wajar pula. Ikuti alur saja. Karena aku belum menemukan kata-kata yang pas untuk bisa masuk dalam hatinya.
"Sekarang Ayu sudah sembuh. Kurasa tugas Kakak sudah selesai," kata Jamilah sambil mengaduk-aduk nasinya, tak juga dimakannya. Selera makannya turun, menghilang bersama dengan rasa yang kini mulai mempengaruhi pikirannya.
"Kamu menyesal sembuh?"
Menyesal? ...
"Aku justru bersyukur bisa segera sembuh. Hanya satu yang membuat diriku menyesal, karena kemarin-kemarin aku amnesia, tak ingat tentang Kakak. Membuat Kakak repot, sangat bergantung pada Kakak."
Lagi-lagi Akmal tertawa. Apalagi saat melihat Jamilah menunduk.
"Kalau ingat itu, rasanya dosaku bertumpuk-tumpuk."
"Maafkan tentang itu. Kakak hanya menjalankan apa yang mesti Kakak kerjakan."
"Aku yang salah Kak. Karena pertolongan Kakak, membuat Jamilah tumbuh rasa."
__ADS_1
Adik kecilku sudah dewasa. Ayu Jamilah ... Tak salah bila aku menunggumu lama.
Akmal memandang sejenak pada Jamilah, sebelum mengalihkannya pada Bi Umaimah yang datang membawa napan. Berisikan minuman hangat kesukaannya, wedang sere. Resep dari mama Naura.
"Terima kasih, Bi." Akmal mengambil cangkir itu beserta piring kecil dari napan yang Bibi Umaimah bawa.
"Tuan, apa perlu saya ambilkan piring."
"Nggak perlu, Bi. Aku hanya mampir sebentar."
Akmal masih memperhatikan Jamilah. Dia meletakkan sendoknya dengan malas. Seolah tak ingin melanjutkan makannya
"Makanannya keburu dingin. Makanlah dulu. Hargailah hasil kerja Bi Umaimah. Mau kakak temeni? Sayangnya Kakak sudah makan. Takut tambah gemuk. Belum laku," jawab Akmal dengan tersenyum tipis.
Lha, kemarin sudah beli buku tentang pernikahan. Itu untuk apa? Ingin bertanya. Namun tak ada keberanian.
Jamilah pun melanjutkan makannya. Sekali-kali terhenti, memperhatikan Akmal yang duduk di depannya. Dia begitu tenang, seolah tak ada beban dengan apa yang dikatakannya. Bahkan sekali-kali terlihat tersenyum. Apakah dia mentertawakan perasaanku yang sedang tumbuh.
"Aku justru menyesal, Mengapa tugasku cepat selesai," imbuhnya.
Jamilah menghentikan makannya, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya. Ini membuat hatinya bergetar. Ada rasa senang yang mengalir dalam jiwanya.
Tapi tidak ... Ini tak boleh terjadi. Aku ingin rasa ini tumbuh dalam untaian doa , sampai Tuhan mengijinkannya ada.
"Berarti Kakak menginginkan diriku amnesia terus."
Kangen ... Aku membuatnya kangen?
Mungkinkah apa yang dikatakan itu benar. Atau dia hanya main-main saja. Ini membuatnya jengkel dan ingin marah, yang tak bisa menutupi rasa yang harusnya dia sembunyikan.
Akmal menuangkan minuman itu pada piringan kecil. Agar menjadi hangat, siap untuk disruput. Tanpa disadari, Jamilah terus menatapnya.
"Maksud Kakak."
"Indah Ayu Setyawati. Indah Ayu nama lainku. Setiawati itu cita-cita untuk setia selamanya," ucap Akmal pelan dan juga tersenyum lebar.
"Kakak!" Ucap Jamilah sambil memukulkan piringnya dengan sendok. Menimbulkan suara yang cukup keras, sampai-sampai membuat Bi Umaimah yang sedang ada di dapur menengok padanya.
"Setia jadi adik, Oke."
"Kakak. Jangan goda Jamilah terus." Kali ini dirinya benar-benar jengkel. Akmal tak henti-hentinya berceloteh tentang masa kecilnya dulu. Mengingatkan kembali pada sosok yang bernama Bara yang kini sudah berganti nama menjadi Akmal. Benar begitu kan?
Sebagai pelampiasan, makanan yang ada di depannya di lahapnya dengan amarah dan sedikit tergesa-gesa.
"Hai, jangan begitu, nanti tersedak!"
__ADS_1
"Ini semua gara-gara Kakak." Dia berkata sambil marah. Namun tak berhenti mengunyah makannya.
Dan benar saja. Uhuk ... Uhuk ... Ada sebutir nasi yang hampir saja menyebang jalan ke tenggorokannya. Untung saja tak jadi. Dia balik lagi ke jalan yang benar, di kerongkongan. Cuma agak mengganjal.
"Nah, apa yang Kakak bilang. Makanya kalau makan tak usah pakai marah. Kamu enak, Kakak juga pasti senang temeni kamu." Akmal segera mengambil segelas air putih dan memberikan pada Jamilah.
Diapun segera meminumnya. Sampai terasa lega.
"Makasih, Kak."
"Ya. Sudah sekarang habiskan pelan-pelan. Kalau mau ngomong nanti saja. Kakak masih setia nunggu kamu ... Maksudnya sampai selesai makan."
"Ya, Kak."
"Gitu, baru manis."
"Jangan salahkan diriku kalau manja. Karena Kakak yang selalu memperlakukan diriku persis anak kecil," gerutu Jamilah dalam hati.
Akmal yang sudah kasihan melihat Jamilah marah-marah tak jelas. Akhirnya berhenti menggoda. Dia meninggalkan Jamilah menuju ke kamarnya, mengambil sebuah buku yang baru dibelinya.
Namun tak lama, kembali lagi duduk di hadapan Jamilah yang kini juga sudah selesai menikmati makan malamnya Dan juga sudah selesai membereskan peralatan makannya. Namun dia masih saja duduk di kursi makan. Dengan membawa minuman wedang sere seperti yang Akmal punya.
"Kakak masih ingat lengkap nama kecilku?"
"Tentu. Kamu adalah gadis kecil yang memaksaku membuat keputusan untuk masuk ke dunia militer."
"Kak Bara. Itu kan nama Kakak?"
"Ya. Dunia militer tak memberi kesempatan pada kita menikmati nama kecil kita dengan indah. Mereka mengharuskan kita untuk memakai nama yang asli. Kini sudah tak ada lagi yang memanggilku dengan nama itu. Apalagi nenek Erika sudah tiada. Semua sudah lupa dengan nama kecil Kakak."
"Iya, aku juga gitu. Nama Indah Ayu Setiwati sudah tidak ada lagi. Dan hanya Jamilah. Itu dulu hanya untuk yang spesial. Kini semua bisa memanggilku dengan nama itu."
"Tak bolehkah Kakak minta kamu bertanggung jawab."
"Kok bisa?"
"Harus!"
Aku masih belum mengerti maksud kata-kata Kak Akmal. Bagaimana mungkin Kak Akmal meminta pertanggungjawaban hanya karena sebuah nama panggilan. Aneh sekali.
"Apakah ini berhubungan dengan laboratorium Kakak yang rusak?"
"Aku sudah lupa."
"Terima kasih Kak. Aku lega. Kakak sudah memafkanku ...Bolehkah Aku memanggil Kakak dengan Kak Bara. Aku suka."
__ADS_1
"Kakak hanya ingin ada yang memanggil Kakak seperti itu setiap hari, setiap waktu."
"Maksud Kakak?"