Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Memasak


__ADS_3

Maklumlah, Bunda tak pernah mengambil asisten rumah tangga untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Ini sudah kebiasaan dari sananya sebelum dia menikah dengan Hasan, Papa Jamilah. Paling-paling hanya memanggil Kak Malika yang rumahnya tak jauh dari sini untuk membantunya bila ada acara seperti saat ini.


"Aku bantu potong, Kak,"


"Ya nih. Sekalian belajar."ucap Malika sambil menyerahkan sayuran yang baru saja diambilnya dari kulkas pada Jamilah.


Hehehe ....


"Di mana Bunda, Kak?" Tanyanya sambil memotong-motong kacang panjang.


"Masih menemani Abid. sejak pulang dari rumah sakit dia sering rewel."


"Tapi tidak apa-apa, kan?"


"Mungkin dia masih trauma."


"Semoga Abid segera bisa melupakannya. Aku jadi merasa bersalah. Mengapa ngajak dia saat itu," guman Jamilah lirih.


"Nggak usah dipikirkan. Nanti juga hilang-hilang sendiri. Yang kamu harus pikirkan,Kamu sudah siap belum menikah," ucap Malika sambil meletakkan ayam yang sudah dicuci bersih ke dalam wajan untuk diukep.


"Emang harus segera, Kak?"


"Pastilah, kamu tahu sendiri Papa. Papa paling nggak suka anak gadisnya jalan dengan orang yang tak jelas statusnya. Paling lama 1 bulan, kamu sudah harus siap menikah."


"Nggak bisa dinego ya ...."


"Macam menawar barang aja pakai dinego-nego. Berani pacaran berani dinikahkan."


"Iiiihhh ... siapa juga yang pacaran."


"Nggak pacaran tapi ditunggui terus sama sang kekasih." Malika melirik sambil tersenyum simpul ke arah Jamilah.


"Itu tugas Kak Akmal, Kakak. Lagian Ayu nggak minta," jawab Jamilah malu-malu.


"Tugas! Kesempatan dalam kesempitan. Sampai-sampai menginap pula di rumahnya."


"Kakak!!" Tak sangka kalau Kakaknya akan mengatakan hal itu. Padahal kalau mengingatnya, amatlah malu dirinya. Sungguh tega nih Kakak ... Andai dia sadar dan punya pilihan, tak maulah dia dibawa ke rumah Tante Naura. Ada kak Akmal lagi, bukan muhrim.


Pada saat itu, ingatannya belum kembali benar, sehingga dia tak ada kecurigaan pada mereka yang sudah menolongnya, mau dibawa kemana jelas saja dia akan ikut. Apalagi mereka sudah menganggap dirinya menjadi bagian dari keluarga itu. Ih, Kakak Malika ... Gigi-giginya dengar gemeletak pelan, ingin mengungkapkan rasa kesal yang tersimpan dadanya.


Jamilah benar-benar sedih kali ini.


"Akhirnya ada hati, kan?"


"Tak tahulah." jawabnya dengan membuang muka.


"Sudahlah. Kalau ada hati disatukan saja. Biar tenang."


"Itu ketidaksengajaaan, Kak ... Sebel deh aku sama Kakak. "


"Tapi seneng, kan?"


Senang sih senang tetapi saat ini pikiranku bercabang. Meski hati, ku akui masih satu.

__ADS_1


"Makanya itu Papa nggak mau kamu dapat fitnah. Sudah deh, nurut aja sama Papa."


"Iya, Tapi ...."


Ngomong apa tidak ya, soal komandan mau datang juga.


"Tapi apa? Kamu tak suka?"


"Masak harus segera. Aku masih banyak tugas nih."


"Tugas bisa diatur. Tapi kalau jodoh sudah datang, apa mau ditunda-tunda. Merana baru tahu rasa."


Wah ... Malika bisa mengancam juga. Membuat Jamilah pucat seketika.


"Kakak ... aku yang jalani. Kok kalian yang ribut." ucapnya lirih hanya sekedar melepaskan kepenatan yang menyesakkan dalam dada.


Sayang Malika masih bisa mendengarnya. Malika menaikkan alisnya dan tersenyum simpul.


"Asyiiiik ... Sekarang lanjutkan masaknya ya ...."


Malika segera mematikan kompornya, lalu mencuci tangan dengan air kran yang ada di tempat mencuci piring.


Tanpa menghiraukan keberadaan Jamilah, dia melangkah pergi. Tentu dengan senyum mengembang sampai terlihat gigi putihnya


"Lho kok?" Jamilah jadi bingung sendiri.


"Lha, katanya kamu yang jalani, kenapa mesti kita yang ribut. Sekarang silakan meneruskan memasaknya. Karena sekarang jadi urusanmu."jawabnya enteng.


"Ya bukan ini maksud Ayu."


"Jangan marah dong, Kak." Jamilah memohon.


Malika tetap berlalu masih dengan senyum mengembangnya.


Tak tahan dengan sikap Malika, Jamilah segera membasuh tangannya. Dia menghampirinya, khawatir kalau ditinggal sendirian untuk melanjutkan proses memasak bahan-bahan yang sudah setengah jadi itu.


Setelah dekat, Jamilah ingin meraih tangannya. Namun belum sempat menyentuhnya, Malika mengambil langkah seribu, lari dari Jamilah.


"Kakaaaaak ...."


"Hai, dengar touch tarhim sudah mau habis. sholat subuh dulu, lah." sahutnya, agar Jamilah tak lagi berisik.


Kalau biasa bangun sebelum subuh pasti akan tahu, tilawah Al Qur'an maupun syair-syair yang diperdengarkan oleh masjid yang ada di lingkungan mereka pada saat menjelang subuh.


Dia memperlambat langkahnya, manunggu adik tirinya itu yang terlihat sedih dan kesal. Rasanya tak tega melanjutkan aksinya, menggoda adik tirinya itu.


"Kakak mau shalat subuh dulu. Masalah masak nanti lah, pasti Kakak bantu."


"Hehehe ... Gitu dong, Kak."


Langsung saja Jamilah memeluk kakaknya dari belakang.


🌟

__ADS_1


Keributan kecil menjelang subuh itu tidaklah membuat penghuni rumah yang lain marah. Sebab mereka sudah terbiasa bangun sebelum azan dikumandangkan. Terlihat Papa Hasan dan Kak Aris sudah keluar dari kamar mereka. Demikian juga dengan Bunda Zulfa yang menggendong Abid. Dia masih meringkuk dalam pelukan Bunda. Dan merintih lirih, tak tahu apa yang saat ini dirasakannya.


Dia tak mau turun dari gendongan Bunda sampai akhirnya Papa Hasan turun tangan. Ingin menggantikan Bunda yang terlihat mulai lelah mengatasi Abid yang semalam ini terlihat manja.


"Ayo sama Papa."


Pada mulanya menolak. Tapi dengan sedikit bujuk rayunya maka dia pun mau digendong oleh Papa.


"Nach, itu baru anak shaleh papa. Kasihan Bundamu, Nak."


"Titip Abid sebentar, Pa."


"Ya. Cepatlah."


Bunda Zulfa meninggalkan mereka, menuju ke kamar kecil. Untuk membersihkan diri dan juga berwudhu. Supaya bisa melakukan shalat subuh berjamaah bersama keluarga kecilnya.


Abit terus saja merintih sehingga mau tak mau Bunda Zulfa melakukan shalat sambil menggendongnya. Hanya pada saat rukuk dan sujud, dia meletakkan Abi di sampingnya atau di depannya.


"Saat pulang dari rumah sakit tadi sore kelihatannya baik-baik saja. Apa dia panas Bunda?" tanya Jamilah.


"Tidak, sejak tadi malam dia mulai rewel. Seolah-olah ada yang dirasakannya."


"Besok kita panggil dokter Irsyad saja, Bunda. Seperti pesan Kak Akmal."


"Ya," jawab Bunda singkat. Dia masih sibuk membelai kepala Abid lembut agar sedikit tenang.


"Cie ... cie ... yang punya Kak Akmal." ucap Malika. Mata melirik, bibir tertawa kecil.


"Ish, Kakak." sahutnya kesal. Dia meninggal Malika berjalan dengan jongkok menghampiri Bunda Zulfa, ikut membelai lembut Abid. Abaikan Kak Malika ....


"Malika kamu bisa menyelesaikan sendiri masakan itu, kan?"


"Tenang aja Bunda. Ini sudah ada ahlinya tuh. Dia yang punya urusan," jawabnya sambil melirik ke arah Jamilah. Senyumnya pun tampak mengembang. Apalagi saat terlihat monyong bibir Jamilah yang kesal. Dia makin senang saja untuk menggoda Jamilah.


"Gitu deh, Kakak." ucapnya lirih dengan bersungut-sungut.


"Tolong kamu bantu ya Ayu!"


"Baik Bunda," jawabnya dengan senyum ceria menyembunyikan kegusarannya. Khawatir kalau-kalau Kak Malika benar-benar meninggalkannya begitu saja. Dia kan tidak bisa masak.


Keduanya segera kembali melanjutkan kegiatan yang sesaat lalu mereka tinggalkan.


"Kak, apa ini tak kurang. Banyak lho yang datang."


"Insyaallah tidak."


"Sepertinya kurang deh, Kak. Soalnya ...."


.


.


.

__ADS_1


"Komandan juga mau datang....


__ADS_2