Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Gambarnya


__ADS_3

Jamilah memandang sedih kepergian Bara. Ingin memanggilnya tetapi lidahnya seakan kelu. Dia hanya mampu berteriak dalam hati. Tolong kak Bara, tengok! tengoklah aku! Agar aku yakin bahwa itu dirimu.


Langkah Bara semakin menjauh tapi tak juga ada tanda kalau dia akan berbalik, menengok pada dirinya yang masih menunggu. Meskipun jalannya terlihat melambat.


Ada rasa kecewa dan juga putus asa, menyelimuti dirinya yang masih juga berharap. Dia pun menunduk menatap hamparan marmer yang terlihat sangat indah, yang kini jadi pijakannya. Semata-mata hanya ingin mengalihkan perasaannya yang galau, merasa terabaikan.


Biarlah pergi, toh dia tidak mengenali dirinya lagi. Biarkanlah kata maaf yang ingin dia sampaikan, terbuang begitu saja. Karena mungkin sudah tidak ada artinya lagi. Entah sudah termaafkan atau bahkan tidak pernah termaafkan, Jamilah tak peduli. Karena Kak Bara juga tak peduli. Untuk apa dipikirkan.


Jamilah melangkah dengan perlahan seakan penuh beban menuju pada Papa Hasan, Paman dan Umi Ridwan. Mereka sudah berdiri di samping mobil yang akan dikemudikan oleh Akram. Bersiap untuk memasukinya.


“Wah, wah ... Ternyata kamu bisa sedih juga,” ucap Akram. Dia ingin menggoda Jamilah yang sedang merana.


“Salah orang ya?” imbuhnya. Tapi tak juga mendapatkan tanggapan.


Sebenarnya Jamilah mendengar, tapi malas menyahutinya. Karena sedang tidak baik-baik saja. Pertemuannya dengan Bara, bukannya memberi kegembiraan, tapi justru membuatnya merana, terabaikan. Kesaaaallll ....


Dia meneruskan langkah kakinya hingga sampai di mobil. Bahkan dirinya lupa kalau ada Papa Hasan. Tanpa berkata apa pun mendahului masuk ke dalam mobil, melewatinya begitu saja alias nyelonong. Padahal Papa Hasan sudah menundukkan kepala, bersiap-siap memasuki mobil tersebut.


“Hei, hei ... kenapa kamu?” Akram mencoba mencegahnya ketidaksopanan yang dilakukannya.


Dia pun menengok pada Papa Hasan sedang berdiri dengan memegang daun pintu.


“Maafkan Setiawati, Papa.” Raut wajahnya terlihat sedih dan mengiba. Tapi tak juga beranjak dari tempat duduknya.


Hasan melihat keceriaan Jamilah yang tiba-tiba sirna menjadi tak tega. Dia pun membiarkan putrinya duduk, tak ingin mengusiknya. Tapi bagaimana?


“Setiawati ingin dipangku Papa?”


Dipangku? ... Tidak-tidak. Dia bukan anak kecil lagi, sudah hampir lulus kelas 6, meskipun dengan jalan akselerasi.


“Papa, Setiawati sudah besar. Enggak mau, lah.”


Sebentar-sebentar, agaknya dia telah melakukan kesalahan. Mengabaikan sopan santun pada orang tua. Dengan seenaknya menempati tempat yang akan diduduki Papanya.


“Eh ya, Papa. Setiawati salah tempat.” Jamilah segera beranjak dan meninggalkan tempat duduk itu.

__ADS_1


“Silakan, Pa.”


Hasan duduk yang ditinggalkannya. Sedangkan dirinya membuka pintu yang kedua. Dan menempati tempat yang kosong yang ada di belakang, bersama Paman dan Umi Ridwan.


“Nah gitu ... itu baru adik yang oke,” kata Akram. Jamilah ... Jamilah.


Senyum Jamilah mengembang, menatap sejenak Akram yang menatapnya dari kaca spion yang terpasang di depannya. Lalu mengalihkan pada pemandangan indah yang ada di luar jendela. Ah, sudahlah ....


Dia mencoba berdamai dengan perasaannya. Membuang jauh pikiran tentang Akmal. Tak boleh ada lagi kesedihan hanya karena dia. Apalagi harus menangis di pangkuan Papa Hasan seperti yang biasa dilakukannya. Hanya karena diabaikan oleh Kak Bara. Tidak ... Itu tak boleh terjadi. Dia sudah besar.


“Kak, kapan jalannya.”


“Oh ya ya, sudah siap.”


“Siap Mr. Akram,” jawab mereka kompak.


Ups, aku lupa kalau tak hanya Jamilah di mobil ini. Akram tersenyum.


Berlahan-lahan mobil itu meninggalkan tempat parkir yang ada di bandara. Mengikuti lajunya kendaraan yang yang dikemudikan oleh Aisye yang membawa rombongan Paman Musthofa dan keluarganya.


Semua tampak jelas ketika Jamilah menemukan sosok Akmal yang ada di hadapannya. Bagaimana gembiranya, senangnya, sampai-sampai melupakan keberadaan dirinya. Jamilah berlari meninggalkan dirinya begitu saja, hanya karena ingin  menjumpai Akmal.


Bahkan melupakan keberadaan Papanya dan keluarga yang lain yang ada di hadapannya, juga jadi tujuan awalnya. Tapi begitu melihat Akmal, dia lupa.


Sayang yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Akmal tak mau meresponnya. Kecewa berat nich ....


Saudara kembarku pintar juga bersandiwara. Seolah-olah tak pernah mengenalnya. Padahal aku tahu kalau di balik itu dia sedang menikmati, suasana hati dari gadis kecil itu. Makanya begitu Jamilah tidak lagi memandangnya, secara sembunyi-sembunyi dia pun memotretnya sebelum pergi menghilang. Ada-ada saja ....


Nah, ini lagi ... Pakai juga kirim notif ke Aku. Masa gambar tadi belum bisa mengobati rindunya. Sampai-sampai diriku disuruh-suruh pula untuk mengambil foto-fotonya lagi.


“Ada-ada saja adikku satu ini,” gerutu Akram.


“Ada apa, Mr. Akram?”


“Tak ada apa-apa, Paman.”

__ADS_1


Untung kejadian seperti itu lolos dari pengamatan paman Hasan. Aku tak tahu apa yang terjadi bila dia mengetahuinya.


Ah, tak apa-apa deh, bila tahu. Proses ... Proses. Hehehe ....


Setelah melakukan perjalanan hampir setengah hari mereka pun tiba di kediaman keluarga Ulya.


Jamilah berusaha untuk selalu gembira berada di tengah-tengah mereka. Meski yang dicarinya tidak ada. Tapi kan ada Kak Akram dan juga tante Naura yang begitu baik dan ramah padanya.


Bahkan pada saat bersantai bersama keluarga dia diajak bermain piano bersama. Sudah kalau gini ... lupa bayangan Akmal sesaat. Dia benar-benar larut dan menikmati suasana kehangatan di tengah keluarga Kak Akmal. Akmal ... Benar Akmal. Mereka menyebutnya begitu.


Namun demikian masih  tersisa kekecewaan dalam hatinya. Dan itu dibawanya hingga kembali ke Indonesia.  Jamilah mencoba menyimpan rapat-rapat perasaan itu, malu bila diketahui orang. Dia pun mencoba bersikap biasa-biasa saja.


🌟


Lain Jamilah lain pula Akmal. Pertemuannya dengan Jamilah yang sesaat di bandara, benar-benar membuatnya semakin rindu. Berapa kali dia lihat foto-foto yang kini memenuhi galerinya.


Dia kini sudah tumbuh lebih tinggi. Moga-moga juga lebih dewasa. Meskipun  terkadang aku kangen melihat sifat kekanak-kanakannya, manja dan suka merajuk.


Rasanya kok masih kangen juga ya ... Dia pun mengirim notif kepada Akram, agar dikirimkan foto-foto lagi tentang Jamilah, selama dia ada di rumah orang tua mereka, di Turki.


[Enak aja, abangmu kau suruh-suruh]. Notice jawaban dari Akram benar-benar membuat hatinya merana.


]Ya ... Abang. Tega kali Kakak buat adikmu ini merana]. Akmal mencoba merayu.


Lama tak ada notif jawaban. Membuat dirinya bosan juga menunggu. Ah sudahlah, mungkin aku harus puas dengan gambar-gambar yang keren, yang aku ambil secara sembunyi-sembunyi.


Akmal pun tersenyum sendiri, sebelum menutup semua itu. Sebelum si Bastian tanya macam-macam. Dia itu suka mengintip apa yang dilakukannya. Apalagi selalu duduk dekat dirinya, di mana pun berada.


Beberapa hari kemudian masuk di hp-nya beberapa gambar tentang dia. Buaaanyyyaak lagi.


Dia yang sedang makan, sedang naik pohon, sedang main piano,atau sedang dikejar sama si hitam, kudaku yang kutinggalkan di rumah Papa.


Ah, ternyata baik sekali pada adikmu yang satu ini, gumam Akmal.


[Makasih, Kak]

__ADS_1


[Tak tega, aku]


__ADS_2