
Maksud hati mempertemukan keduanya, kok malah Jamilah kabur. Chris jadi sedih. Apalagi melihat Akmal yang lesu, menatap kepergian Jamilah.
“Maafkan aku, Akmal.”
“Tak apa, mungkin belum saatnya kami berjumpa.”
“Ai ... ai ... Melow banget kalian jadi laki-laki. Ditinggal cewek macam gitu saja, sudah seperti dunia mau kiamat. Bisa jadi besar kepala si Jamilah.”
"Memangnya kenapa?" Tega-teganya Bastian mengeluarkan kata-kata itu. Orang lagi sedih diledeknya pula. Benar-benar nggak punya perasaan. ltu orang memang benci banget dengan orang yang lagi jatuh cinta. Maklumlah, dia sudah 2 kali gagal. Hehehe ... Chris mencoba menghibur diri atas usahanya yang gagal.
Padahal dirinya sudah membayang serunya sepasang manusia yang sedang jatuh cinta. Seperti di film-film drama. Dosa ... Membayangkan yang tidak-tidak.
Dia menyeringai menahan kesal. Habis usahanya gagal total. Mana Akmal sedih lagi. Untung sedihnya nggak pakai lama. Kalau lama membuat dirinya akan semakin merasa berdosa. Saat melihat Akmal tertawa, dia pun baru bisa tertawa, hehehe ....
“Kalian ini ngomong apa sih? Ayo aku antar ke markas. Keburu siang loh.”
“Ok.”
Peperangan masih 2 hari lagi berakhir. Ada waktu untuk mengalahkan lawan. Kita sudah mengantongi data lengkap. Tinggal atur strategi. Sekaranglah saatnya.untuk membalikkan keadaaan. Jangan pikiran Jamilah. Masalah Jamilah, itu nomor 2.
“Ayo Robby, kamu hidupkan mesinnya. Kita berangkat.”
Tak banyak bicara, pengawal setia pun melakukan apa yang diperintahkan oleh sang tuan. Menerbangkan pesawat. Dia tak bisa menahan tawa. Meskipun di sembunyikan dalam senyum. Sungguh lucu wajah-wajah penumpangku kaki ini. Sudah lusuh, kesal plus sedih pula. Hehehe ....
"Robby, sepertinya aku perlu tinggal di sini dulu."
"Kenapa, Sir?"
"Mereka perlu ditemani. Meski aku tak ahli seperti mereka. Setidaknya aku bisa berdoa dengan gambaran yang jelas ." Senyumnya mengembang mentertawakan pernyataannya sendiri. Hehehe ...
"Jangan cari-cari alasan kamu, Akmal. Bilang saja kamu memperalat kami. Menangkap Jamilah untukmu," celetuk Bastian dengan kasarnya. Amarahnya masih meledak-ledak sampai ubun-ubun. Ingat kejadian saat byurr ... Dirinya jatuh ke laut oleh tangan Jamilah yang menyebalkan itu.
"Jangan marah kawan, Aku hanya ingin melihat bagaimana Christ menyusun strategi. Dan melihat mereka kalah."
__ADS_1
"Tapi sambil berharap, kan?"
"Harus itu. Karena harapan yang membuat kita bertahan dan berkembang."
"Idih!!"
Menyebalkan sekali si Akmal ini. Orang lagi perang, dan kita lagi kalah. Kok bisa-bisanya memikirkan Jamilah.
"Kenapa kalian masih di sini, tidak bersiap-siap?"
Suara Christ berhasil menghentikan perdebatan yang mulai panas. Dia kok sudah rapi? Kapan perginya? Kok sekarang sudah kembali. Cepat sekali. Terlihat sudah siap untuk melanjutkan peperangan.
Jadi ingat permainan horor teman-teman. Pergi tak diantar, datang tak undang, hihihi ....
"Kamu, Christ. Oke ... Hari ini aku mau menghajar si Jamilah itu." Seringainya membuat Akmal bergidik. Bukan takut pada dia, hanya khawatir terjadi apa-apa dengan Jamilah. Dia itu manusia yang tak kenal ampun.
Kalau begini sudah benar keputusanku untuk tinggal. Meskipun harus menang perang tapi tak seharusnya melukai Jamilah, kan?
"Akmal! Robby! Kamu ditunggu sama komandan. Kelihatannya ada tugas khusus untuk kalian. Maaf, kalau tadi aku sampaikan tentang kedatangan kalian."
"Sudahlah, Robby. Siapa tahu habis ini naik pangkat." Seloroh Christ. Membuat kita tertawa lepas. Sedangkan si empu yang punya nama, kelihatan kecewa berat. Harapan berjumpa dengan anak istri pupus sudah. Bayangkan! Sudah 6 bulan lebih tak bertemu kekasih. Bagaimana beratnya menahan rindu yang bertumpuk. Hiks ... Mengapa mereka tak peduli? Sudah jalani saja dengan ikhlasss ... Moga-moga besok naik pangkat beneran. Aamiiin ...
Pikirannya sedang agak-agak sumpek, sampai tak tahu pergerakan Christ. Padahal dia dekat sekali dengannya. Baru juga mereka balik badan, Christ sudah tak ada. Menghilang tanpa jejak. Bahkan bayangan pun tak tampak.
"Kemana dia?" Bastian celingukan mencarinya.
"Kamu itu kayak belum kenal Christ saja."
"Hehehe ... Iya ... iya. Aku lupa."
Semua membubarkan diri ke tempat masing-masing. Tak lama kemudian, sudah kembali berkumpul di tengah lapang, bersiap-siap memulai peperangan. Jamilah ... tunggu aku. Saatnya balas dendam ....egrrhh. wajah kemarahan tampak pada Bastian.
🌟
__ADS_1
Sementara itu, Jamilah ....
Mengapa pesawat ini pakai ngadat. Seingatku sudah diisi penuh. Ya ... anggap saja sedang naas. Nasib ... nasib ....
Senangnya hatiku, bisa lepas dari cengkeraman mereka. Siapa yang mau jadi tawanan, meski hanya sebentar. Apalagi dengan laki-laki itu.orang yang bernama Christ itu. Bikin sebal! Pakai sok akrab pula. Mau apa juga menyebut-nyebut nama kak Akmal? Lalu hubungan mereka apa?
Hm ... Kok diriku terjangkit rasa penasaran. Apakah Akmal yang dimaksud itu orang yang sama dengan kak Bara? .Entah Semoga saja bukan! Tapi bila benar, semoga dia sudah melupakanku. Aku masih berutang maaf padanya. Sudah lupakan ...
Kejadian semalam sampai dini hari, membuat tubuhku lelah. Seperti nya hari ini aku tak bisa masuk dalam pasukan. Melanjutkan pertempuran yang tinggal 2 hari selesai. Kalau harus dipaksa terbang, kasihan mata dan tubuhku..
"Komandan, ijin dulu nggak ikut bertempur. Aku ngantuk sekali."
" istirahat. Tak usah kamu pikirkan. Aku bisa memakluminya. Teman-teman yang lain juga ingin berperan, tidak hanya kamu." Ucapannya yang santai dan berwibawa, membuatku tak segan untuk mengungkapkan kalau ada apa-apa. Apapun itu.
"Makasih, Komandan." Beruntung aku punya komandan yang sangat pengertian. Apapun yang kuinginkan, rata-rata dikabulkannya. Dia sangat perhatian.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bersantai. Memberikan hak tubuhku dengan lebih baik. Mumpung masih pagi, aku ingin jalan-jalan sebentar. Menyusuri hutan kecil yang ada di tepi laut. Tak sangka kalau aku menemukan sumber air tawar.
Tak membuang waktu, byyuuurrrr ... diriku melompat ke dalamnya. Terasa benar, kesegaran airnya. Hingga enggan untuk keluar, ingin diriku berlama-lama di dalamnya. Kapan lagi dapat kunikmati kesegaran ini, karena sebentar lagi latihan perang ini akan berakhir.
Ya, akan berakhir. Dan meninggalkan pertanyaan pada diriku. Tentang Kakak masa kecilku dulu ... Kak Akmal ... Benarkah dia berada di pasukan yang sedang aku hadapi.
Membuat diriku rindu masa-masa kecil, ketika aku memporak-porandakan laboratoriumnya. Akhirnya dia pergi tak tahu ke mana. Terakhir bertemu, aku bingung ... Ah, benarkah Kak Bara itu Kak Akmal?
Hehehe ... Kok, pikiranku jadi ngelantur.
Mengapa aku memikirkannya?
Lebih baik aku pergunakan kesempatan ini untuk memanjakan diriku. Seperti mengapung di atas air sebagaimana aku lakukan pada saat kecil dulu di empang belakang panti asuhan. Biasa kami sebut dengan Lembang batang. Ya ... seperti batang pisang yang mengapung di atas air. Tanpa sedikitpun tenggelam. Bahasa kerennya adalah uitemete.
Sungguh kenikmatan yang tiada tara, dapat merasakan hangatnya mentari dengan sempurna, di atas segarnya air tawar. Aku memejamkan mata. Agar dapat Aku rasakan sensasinya dengan sempurna.
Jamilah .....
__ADS_1
Doorr ... Doorrr