Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Tamu


__ADS_3

Jamilah senang sekali saat sudah dapat menyelesaikan hafalan 5 juznya. Berarti nanti bisa pergi ke Timur Tengah umrah lalu ketemu dengan Kak Bara. Itu yang jadi keinginan utamanya. Terang saja begitu selesai setoran hafalan, detik itu juga dia ingin sekali  menghubungi Papa Hasan.


“Paman, bilang dong ke Papa, kalau aku udah hafal 5 juz.”


Ridwan yang menghadapi keinginan keponakannya  itu benar-benar dibuat  tertawa. Apalagi dengan nada yang sedikit manja dan merajuk. Dasar anak-anak kalau punya keinginan, sulit sekali dipenggak.


“Ok.” Ridwan segera mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku bajunya. Menghubungi nomor Hasan.


Meskipun Hasan mampu  membelikan handphone tetapi itu tidak dilakukannya. Khawatir perkembangan motoriknya terganggu. Jadi kalau ingin ngomong dengan siapapun, harus merayu pamannya dulu.


“Ini.” Ia memberikannya pada  agar bisa berbicara langsung dengan Papanya.


“Makasih, Paman.” Jamilah segera membawa benda itu ke halaman belakang, agar tidak terganggu dan bebas ngomong apa saja kepada Papanya.


“Assalamualaikum, Papa. Aku udah hafal sampai juz 5. Hayo, mana janjinya, Pa?”


Subhanallah ... Setyawati-Setyawati. Kamu kok masih ingat saja sih, gerutunya dalam hati. Tapi memang dasar anak-anak, pasti saja ingat. Salah sendiri memberi janji. Giliran ditagih bingung juga.


“Oke tunggu saja.”


“Lah, kapan itu Pa?”


“Ya papa kan  perlu daftarkan kamu, ngurus paspor, ngurus cuti juga, apapun itu lah?”


“Setyawati tunggu dua minggu, harus beres semuanya, Papa!”


Astaghfirullahaladzim ... Mana mungkin dirinya bisa menyiapkan itu semua dalam waktu sesingkat itu. Apalagi saat ini, urusannya sedang menumpuk. Yang harus segera ditangani.


“Papa usahakan, Nak.”


“Harus itu, Pa. Kan sudah janji.”


“Ya ... Papa mengerti kok.”


“Makasih, Pa. Assalamualaikum.”


“Wa alaikum salam.”


Jamilah pun melangkah dengan gembira, sedikit bernyanyi kecil menuju ke paman Ridwan yang ada di musala. Tetapi tidak mendapati pamannya di ruangan itu. Yang ada hanya anak-anak yang sedang murojaah.


“Di mana paman?”

__ADS_1


“Tadi ada tamu. Mungkin di ruang tamu.”


“Ya sudah.” Dia pun berlalu, dengan keadaan yang sama, tetap gembira dengan langkah yang lebih lebar pula. Sampai lupa untuk mengucap salam saat masuk ke ruang tamu. Padahal di sana  Paman Ridwan sedang menerima seorang donatur sekaligus tetangga Panti Asuhan mereka.


“Paman ...” Seketika suaranya tertahan manakala melihat pria yang bermata biru ada di depannya,  ditemani oleh seorang yang kakak perempuan yang bermata biru juga. Mungkin dia Kakak dari adik yang ada di pangkuan Ibu cantik dengan bola mata hitam itu. Jamilah pun terpaku di depan pintu memandang mereka.


“Setyawati, sini!” panggilan Paman Ridwan membuat Jamilah tersadar. Dengan malu-malu Jamilah menghampiri pamannya. Dan seperti biasa, dia akan memilih tempat dalam pangkuan Ridwan.


“Siapa namamu, Nak?” Laki-laki yang bermata biru itu mengulurkan tangannya pada Jamilah. Yang menatapnya dengan penuh keheranan.


Kenapa ya ... mata Paman ini kok seperti matanya Kak Bara sama-sama biru. Dengan senyum merekah Jamilah menyambut uluran tangan itu.


“Jamilah, Paman.” setiap dia melihat  bola mata yang berwarna biru, hilang sudah keinginan untuk mengotak-atik namanya. Maka disebutlah nama yang sebenarnya ‘Jamilah’.


Terang saja ini membuat Ridwan heran. Tak biasanya Jamilah menyebutkan nama aslinya di depan orang lain.


“Paman siapa, Apakah Paman ... Pamannya Kak Bara?” Jamilah bertanya pada tamu yang baru dikenalnya tanpa ragu.


“Panggil saja Paman Musthofa. Dan benar Paman adalah pamannya Bara.”


“Kok kamu kenal dengan keponakan Tante.” Istri paman Mustafa ikut nimbrung juga, tak tahan dengan kelucuan Jamilah.


“Maafkan dia. Dia suka mengambil buah-buahan dari kebun Bara.”


“Itu dulu. Tapi sekarang nggak pernah kok. Kan sudah dikasih bibit tanaman sama Kak Bara. Mang Maman juga nggak pernah absen untuk kirim buah-buahan ke kita.” Jawaban Jamilah yang polos dan jujur, benar-benar membuat tamu itu tersenyum.


“Mau ikut Paman. Paman benar-benar pingin punya putri kayak kamu.”


“Paman, kan sudah punya Putri, kakak yang cantik itu. Lalu punya adik kecil juga. Kan kasihan Papa sendiri,  kalau Jamilah ikut Paman?”


Satu cemolan mendarat di pipi Jamilah. Habis menggemaskan sekali, jawaban-jawaban yang diberikannya.


“Dia keponakanku.” Ridwan menyahuti nya khawatir kalau keponakan satu-satunya ini akan dibawa orang. Karena sudah sering kali orang datang mengira dia adalah penghuni panti asuhan.


“Oh, maaf.”


“Paman, boleh Jamilah bertanya?”


“Tanya Apa?”


“Kapan kak Bara balik ke sini. Jamilah kangen.”

__ADS_1


“Paman nggak tahu. Jamilah pingin ketemu sama Kak Bara?”


“lya. Kata papa kalau dua minggu lagi kita mau umroh. Lalu habis itu bisa ketemu Kak Bara.” Jawaban polos Jamilah membuat Mustafa tertawa.


“Benarkah? Paman jadi pengen ikut umroh sama kamu deh. Boleh?”


“Aku tanya sama Papa dulu.  Biasanya Papa nggak keberatan kok kalau ada yang ikut. Tapi bener kan, Paman mau ikut?”


“Suwer... “


Jamilah  melihat paman Ridwan tentu dengan tatapan yang memohon sangat. Wajah memelas penuh harap seperti sebelum-sebelumnya. Tentu untuk memperoleh ijin menggunakan handphone paman agar bisa menghubungi Papanya kembali. Dan seperti biasa, Ridwan tak   tega untuk menolak permintaannya. Meskipun sangat aneh dan juga lucu.


Sebelum terhubung Mustafa meminta kepada Ridwan, agar dia sendiri yang  berbincang-bincang dengan Hasan.


“Mangga, silakan!” Ridwan pun menyerahkan handphone itu begitu terhubung dengan Hasan. Menyampaikan keinginannya bahwa mereka yang akan mengumrohkan, Hasan, Pak Ridwan beserta istrinya. Sebagai penghargaan karena mereka sangat telaten dengan kehidupan anak-anak yatim yang mereka asuh. Untuk waktu  keberangkatannya sesuai dengan rencana Hasan.


Ridwan mendengar pembicaraan antara Mustafa dan Hasan menjadi terkejut. Tak mengira kalau tamunya akan mengajak untuk pergi umroh juga.


“Maaf Pak Mustofa. Maksudnya?”


“Nggak apa-apa, Pak. Sekalian nanti berlibur ke Turki. Bukankah begitu, Jamilah.” Karuan saja Jamilah tertawa. Mana dia tahu Turki itu dimana. Yang diketahuinya Kak Bara ada di Timur Tengah.


“Turki itu Timur Tengah  ya Paman. tempatnya kak Bara.”


“Jamilah, niat umroh atau niat ketemu Kak Bara.”


“Jamilah masih kepikiran sama Kak Bara. Habis ngusaki laboratorium. Kalau Kak Bara nggak bisa maafkan Jamilah merasa berdosa.” penjelasan yang masuk akal dari mulut si kecil Jamilah. Yang membuat Mustofa dan Rima, istrinya geleng-geleng kepala.


“Kak Bara pasti memaafkan kok. Orangnya nggak pendendam.” Defra nggak tahan untuk tidak nimbrung menggoda gadis kecil yang ada di hadapannya.


“Kakak namanya siapa. Warna mata kakak juga biru.”


“Aku kakaknya Ak... Oh bukan, kakaknya Bara.” Hampir saja Defra keceplosan menyebut Bara dengan nama aslinya, Akmal. Terus terang sekarang dia pun  menyukai gadis kecil yang namanya Jamilah itu.


“Ok Jamilah, minggu lagi Om akan datang jemput kamu untuk kita pergi umroh sama-sama dan mampir ke rumah Paman yang ada di Turki.”


“Bener Paman.”


“Insya Allah.”


Paman Mustofa pun dan keluarga kecilnya akhirnya berpamitan, meninggalkan panti asuhan. Yang diantar oleh Ridwan beserta Jamilah hingga sampai di mobilnya. Mereka baru masuk ke rumah setelah mobil Mustofa menghilang dari pandangan.

__ADS_1


__ADS_2