
"Papa mama, aku mau jemput Tazkia."
"Segeralah kembali, mama sudah kangen sekali."
"Baik, Ma."
William berpamitan setelah mengantarkan kedua orang tuanya ke sebuah kamar yang diperuntukkan bagi mereka.
Dia berlalu dari kamar kedua orang tuanya dengan tergesa-gesa menuju halaman. Di sana Robby telah menunggunya.
"Yok," ajaknya sambil membuka pintu mobil.
"Oke, siap." Jawab William. Dia menyandarkan punggungnya dengan tenang di tempat samping Robby.
"Posisi Akmal di mana?" William berkata sambil memasang beltseft pada tubuhnya.
"Dua kota lagi dari sini."
"Oh ... Bisa cepat kan. Mamaku sudah tak sabar pingin ketemu."
"Tak masalah," jawab Robby dengan tenang. Perlahan-lahan dia pun menaikkan kecepatannya membelah jalanan yang cukup sepi. Hanya ada satu dua kendaraan yang berpapasan dengan mereka.
🌟
Sementara itu rombongan profesor Amar tengah melewati jalanan yang sepi, di tengah-tengah persawahan.
"Prof, Sepertinya kita diikuti."
"Ya, Aku melihatnya."
"Mereka banyak."
"Telpon pusat, suruh kirim bantuan."
Belum sempat mengangkat telpon, 2 mobil itu telah mengapit mereka.
"Prof, Lihat samping!"
Profesor menengok dan segera merundukkan kepala, ketika tampak dari balik jendela seseorang mengacungkan senjata. Baru tegak setelah yakin kalau mereka sudah pergi. Profesor tak bisa menyembunyikan ketegangan yang dialaminya. Lelaki yang disampingnya terlihat tersenyum dan tampak tenang.
"Prof ... Prof ...," gumamnya lirih sambil tersenyum.
Mungkin biasa bagi dia tapi tak biasa bagi Profasor.
Dia sedang membawa pasien, tak mungkin main kebut-kebutan menghindari mereka. Dia menjalankan mobil dengan tenang seperti tak terjadi apa-apa.
Mobil-mobil yang telah menyalipnya, dalam Jarak 10 meter berhenti menghadang. Sopir itu pun berhenti.
"Mengapa berhenti?" Sesaat Profesor bertanya tapi kemudian dia diam saat melihat sopirnya menghubungi seseorang.
"Semoga mereka tepat waktu." harap Profesor.
"Siap-siap, Prof."
"Jangan gegabah. Ingat yang di belakang." Lagi-lagi hanya dijawab senyum oleh lelaki di sampingnya.
Dia hanya bermaksud memberitahukan agar Profesor siap-siap menghadapi 3 orang yang kini tengah berjalan ke arah mereka. 1 orang pada dirinya. 2 orang pada Profesor Amar
__ADS_1
"Apa mau mereka," gumamnya lirih.
Dia menggelengkan kepala, "Sepertinya menginginkan Profesor."
"Oh." Wajah profesor semakin nampak pucat.
Mereka mengarahkan senjata pada supirnya dan berteriak ,"Silahkan ikut kami."
Keduanya tidak bergeming. Tetap diam di dalam mobil.
Mereka saling melirik satu sama lain. Mereka sama-sama mengangguk. Salah seorang mendekati pintu mobil profesor dan membukanya dengan paksa. Salah seorang mengarahkan senjata pada mereka, seorang lagi bahkan sudah menarik pelatuknya akan menembak sopir di sampingnya. Namun kalah cepat dengan sopir itu.
Dor .... Dor .... Dor .... Dia terkapar dan beberapa orang yang ada di belakangnya.
"Prof, merunduk!"
Dor ... Dor ....
Dua orang yang akan mengambil Profesor pun tak lepas dari tembakannya. Satu terkapar, satu berhasil menghindar. Dia balik mengarahkan tembakan pada sopir. Dor ... Dor..
Satu tembakan berhasil melempar senjatanya. 1 tembakan lagi mengenai bahunya. Darah segar pun mengalir. Namun demikian tidak menghalangi melakukan perlawanan.
Dia mencoba meraih pistol yang ada di pinggang dengan tangan satunya. Namun kembali satu tebakan harus dia terima tepat di daerah yang mematikan. Sebelum nafas terakhirnya berhembus tangannya berhasil menarik pelatuk mengarahkan pada orang yang akan menyeret profesor, tepat mengenai kepalanya. Dia pun menutup mata bersamaan dengan jatuhnya orang yang akan membawa Profesor.
"Ada apa ini." Mau tak mau profesor pun turun.
"Ikut kami." Dia menarik profesor dengan paksa.
"Tidak." Profesor memberontak.
Akmal yang ada di belakang merasa heran sejak ambulance tiba-tiba berhenti.
"Astaghfirullah, kita diserang," gumamnya lirih.
"Apa perlu kita keluar?"
"Sepertinya begitu."
"Mereka banyak."
"Lalu bagaimana?"
"Tunggu!"
Mereka makin khawatir ketika mendengar tembakan pertama keluar. Tak ada waktu untuk diskusi, mereka segera bangkit dengan senjata di tangan.
"Bersiaplah!"
Salah satu mengintip melalui celah pintu.
"Astaghfirullahaladzim, Mereka banyak sekali. Bismillah ... Semoga kita dapat lolos."
Tanpa banyak kata, mereka melompat dengan mengeluarkan tembakan dan tiarap dengan maksud berguling ke bawah mobil, meninggalkan Akmal di dalam.
Sayang mereka kalah cepat, begitu pintu terbuka, rentetan tembakan langsung mengarah pada mereka.
Dor dor dor ....
__ADS_1
Satu temannya terkapar, Akmal mendapatkan sedikit goresan luka di pundak oleh sebuah peluru yang tiba-tiba saja lewat di atas pundaknya. Sedangkan satu temannya yang lain mendapatkan satu hadiah peluru di betisnya.
Akmal segera mengambil senjata temannya yang terkapar. Berdua mereka melakukan perlawanan.
Dikala mereka terdesak tiba-tiba dari arah belakang, tampak akar-akar pohon yang cukup besar berjalan dengan cepat ke arah musuh.
Mereka seketika menghentikan serangan, terkesima melihat akar yang mengambil salah satu senjata salah seorang diantara mereka. Dan dor ... Dia terkapar.
Akmal menengok sesaat pada sesosok tubuh yang kini berdiri di belakangnya dengan lengan yang telah berubah menjadi akar.
"Tazkia ... Subhanallah."
Namun dia tak punya banyak waktu untuk berpikir. Masih banyak musuh di depannya. Bahkan salah seorang mengarahkan senjatanya pada akar itu.. Dor dor ... Akar itu menjadi robek. Gerakannya terhenti. Lalu secepat kilat berbelok arah pada orang yang menembaknya. Kembali satu orang terkapar.
Akmal serasa mendapat angin segar dengan bantuan tak terduga. Bersama temannya dia membantu Tazkia membereskan musuh yang datang tak terduga. Tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan semuanya.
Tapi ....
"Akmal, tolong ...," panggil profesor dengan keras. Akmal menoleh.
Tampak profesor dibawa seseorang dengan paksa memasuki mobil dengan mulut mulai dibekap.
"Asrrrghhh ...."
Akmal segera mengacungkan senjata pada mereka, namun salah mereka telah mendahuluinya.
Dor .....
Hampir saja Akmal terkena peluru kalau Tazkia tidak mendorongnya.
Setelah berhasil memaksa Profesor untuk masuk ke dalam mobil, Mereka melaju cepat meninggalkan tempat itu,
Akmal ingin mengejar. Dia segera berlari ke mobil, duduk di tempat mengemudi. Saat akan menghidupkan mesin mobil, dia melihat Tazkia jatuh. Ia pun mengurungkan niatnya, berjalan cepat menghampiri Tazkia yang kini telah kembali seperti semula.
Untung saja GPS profesor hidup sehingga dia bisa mengikuti arah mobil itu berjalan dan mengabarkannya ke markas.
Bersamaan dengan mobil penyerang itu pergi, mobil yang membawa Robby dan William tiba.
Mereka tampak kaget melihat orang-orang yang terkapar di jalanan bersimpuh darah.. Semuanya sudah tidak bernyawa. Sedangkan Akmal terlihat kesusahan ingin mengangkat Tazkia karena luka di pundaknya yang mulai terasa perih.
"Syukur kalian datang."
Tanpa diminta William segera membantunya mengangkat tubuh itu kembali ke ambulans. Sedangkan dia menuju ke mobil Robby.
"Kalian bisa kan aku tinggal? Mumpung belum jauh, aku mau kejar mereka."
Keduanya bengong, memandang Akmal tak percaya. Benar-benar orang yang keras kepala dan penuh semangat meskipun menderita luka.
"Luka Jenderal." Robby mencoba mencegah keinginannya. Dia tak tega, apalagi ada darah di bahunya.
"Hanya luka sedikit, tidak parah, masih bisa kutahan," kata Akmal yang kini sudah duduk di kursi samping pengemudi dengan tenang.
"Akmal, kamu belum memberitahuku cara menangani Tazkia." Bukan maksud William untuk menghalangi kepergian Akmal, tetapi karena melihat keadaan Tazkia yang begitu pucat, membuat dirinya tidak tahu harus berbuat apa.
Ups ... Lupa.
"Beri suntikan 3 cc dalam waktu 8 jam sekali. Jangan lupa untuk kontrol darahnya setelah itu. Nanti aku akan kasih tahu tindakan selanjutnya."
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih."