Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Kakek Devra (bab-bab akhir)


__ADS_3

Mereka berhenti sesaat dibalik rimbunnya pohon, untuk mengintai keadaan di sekitar bangunan yang sangat luas di depan kami.


Terdengar suara tembakan, dari arah yang berseberangan dengan mereka. Pertanda penyerangan ini sudah dimulai.


"Sebentar komandan."


Dia memanggil seseorang melalui microphone kecil yang terletak di hadapannya.


"Chris, bagaimana?"


"Beberapa sistem sudah terpecahkan dan sudah kita kuasai. masih menyisakan sedikit yang belum aku pahami."


"Terima kasih, Chris."


"Bagaimana AkmaI?" Tanya komandan Santosa kemudian.


"Sebenarnya masih agak riskan, tapi tidak ada salahnya untuk kita coba."


"Chris, denahnya."


Untuk beberapa saat mereka menunggu. Tak lama kemudian Akmal dan Santosa bergumam lirih, " Eemmm .... Ya aku mengerti."


"Kelihatannya kita mendapat bagian yang sunyi, tapi justru yang begini ini biasanya menyimpan banyak jebakan."


"Kita harus tetap waspada. "


"Udah yuk kita bergerak."


Mereka memasuki ruangan dengan tingkatkan kewaspadaan secara penuh. Tampak sunyi dan tidak ada penjagaan sama sekali.


"Kok?"


"Sebaiknya jangan berpencar dulu."


Mereka terus maju tanpa hambatan sama sekali membuat mereka bertanya-tanya dan menjadi sangat khawatir. Jangan-jangan ....


"Bagaimana komandan?"


Tanpa menjawab mereka terus maju, hingga memasuki di ruangan yang amat luas. Santoso langsung berhenti dan memerintahkan semuanya untuk berhenti.


"Ini jebakan."


Benar yang dikatakan Santoso kalau ruangan itu adalah jebakan untuk mereka. karena tiba-tiba dari dari sebuah dinding yang ada di samping mereka, keluar monitor yang sangat besar, menggambarkan pertempuran yang sedang terjadi di luar. Sebuah pertempuran yang tidak seimbang sekelompok anggota pasukan melawan manusia yang memiliki tangan yang bisa bergerak leluasa ke arah mereka. Ya ... Seperti tangan yang dipunyai Tazkia.


Akmal tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Wajahnya nampak pucat, ingin segera ke daerah pertempuran itu. Siapa tahu dengan senjata yang dimilikinya saat ini bisa membantu mereka dengan tidak menimbulkan banyak korban.


Dia perlahan-lahan mundur.

__ADS_1


"Akmal, Robby dan aku tetap di sini.


"Aisye, Jamilah, Devra mundur! Sellin lindungi mereka.Aku mendengar sesuatu di sebelah kanan ruangan ini."


"Baik."


Keempatnya langsung bergerak sesuai dengan arahan Santosa, kecuali Devra karena tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.


"Cucuku, Kenapa kamu meninggalkanku. Apakah kamu tidak ingin meneruskan usaha Kakekmu ini"


Devra segera menghentikan langkahnya.


Kakek?....


"Kakek ... benarkah ini suara kakek?"


Devra terus berjalan ke depan, meninggalkan Akmal Santosa dan Robby yang saat ini masih dalam posisi waspada dengan senjata yang siap digunakan.


"Kak Devra."


Panggilan Akmal tidak dihiraukan oleh Devra. Dia terus maju sampai di tengah-tengah ruangan. Akmal ingin menyusulnya ,tetapi Santoso segera mencegahnya.


"Jangan, kita lihat siapa dia sebenarnya di balik ini semua."


"Oh Cucuku, ternyata engkau datang dengan membawa tamu yang selama ini kutunggu."


"Tampakkan dirimu. Jangan jadi pengecut!"


Akmal sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui, siapa dibalik peristiwa penculikan-penculikan ini dan Siapa yang menggunakan penemuannya secara tidak bertanggung jawab.


Hahahaha ... Suara tawa itu menggema di seluruh ruangan.


"Aku dulu kalah dengan papamu sampai membuatku hancur. Sekarang waktunya untuk balas dendam. Akan aku hancurkan dirimu dengan penemuanmu sendiri."


"Keluar Kau!!"


Perlahan-lahan dari bawah lantai yang ada di depan maupun di samping kiri kanan Akmal, terlihat pergerakan. Dari bawah lantai munculah beberapa orang. Diantaranya Profesor Amar, dokter Irsyad profesor Arsya guru biologinya dahulu. Sedangkan yang lainnya tidak begitu Akmal kenal. Dilihat dari kulit dan postur tubuhnya, mungkin mereka berasal dari negara yang berbeda-beda. Kedua kaki dan tangan mereka diikat mulut dibuka dan mata ditutup.


Akmal amat geram dan marah melihat seseorang yang muncul tiba-tiba jauh di depan mereka. Orang tua yang sudah lama dia kenal, namun amat Dia benci juga. Merupakan musuh bebuyutan keluarganya. Yaitu dokter Fath, ayah dari Hagya, ibu kandung Devra, kakak angkatnya. Sekaligus istri pertama dari Bahrul Ulya, ayah sambungnya.(silsilah ini bisa dilihat di karya yang berjudul MAHABBAH RINDU)


"Lepaskan mereka!"


"Boleh. Tapi kamu harus setuju dengan penawaranku. Buat lebih banyak zat itu lagi."


"Kalau itu jelas aku tidak mau. Ini bukan penawaran," jawab Akmal tegas.


"Punya nyali juga kamu. Lihat layar di sampingmu!"

__ADS_1


Akmal menengok arah yang ditunjukkan oleh suara itu. Terlihat bahwa Aisye dan Ayu Jamilah di bawah todongan senjata yang siap memuntahkan pelurunya.


Lalu di sisi lain Akmal melihat pertempuran yang tidak seimbang, banyak anggota tentara yang datang bersama dia ke sini telah terkapar.


Akmal terkesima. Dia diam berfikir. Tak mungkin dia mengorbankan teman dan saudaranya untuk sesuatu yang belum pasti.


"Aku di sampingmu, Akmal." Santosa mencoba untuk menguatkan Akmal dengan apapun keputusan yang akan diambilnya.


Setelah beberapa saat dia pun berkata,


"Apa maumu?"


"Akmal jangan turuti, kakek itu jahat. Dia telah membunuh mama, membuang aku. Apapun yang engkau berikan ke dia tak akan pernah bermanfaat. Justru semakin membuatnya bertambah jahat dan juga kejam." Devra mencoba menyadarkan Akmal.


"Akmal coba lihat sampingmu!" Bisik sentosa.


Di layar satunya terlihat pertempuran yang kini mulai dikuasai oleh pasukan yang datang bersama Akmal, sedangkan manusia-manusia pohon terlihat terkulai lemah, roboh seketika tanpa tahu apa penyebabnya.


Akmal segera mengerti, mereka semua dikendalikan oleh sebuah chip yang ditanam pada tubuh mereka. Dan sepertinya chip itu terhubung dengan sebuah sistem yang kini ada di tangan Chris.


Alhamdulillah, Chris sudah menguasainya.


Pada saat yang sama Dokter Fath juga melihatnya. Dia tersentak, lalu memijat sebuah benda yang ada di tangannya. Tak ada reaksi. Mereka tetap terbaring di tanah.


"Sekarang apa maumu, Dokter Fath?"


"Tetap."


Tiba-tiba saja tangannya berubah menjadi sebatang pohon yang berjalan dengan cepat ke arah sisi sebelah kanan mereka, meraih sebuah tubuh, menariknya dengan cepat ke depan mereka semuanya.


Tubuh milik seseorang yang secara diam-diam mendekati Profesor Amar, berusaha melepaskan ikatan tangan dan kakinya, serta membuka penutup mata dan mulutnya.


"Aaahhhhh ...." Robby menjerit kesakitan Ada tetesan darah yang keluar dari lehernya karena sabetan akar yang merupakan penjelmaan dari jari-jari Dokter Fath.


"Robby ..." Devra dan Akmal berteriak bersama-sama.


Untung saja tidak merenggut nyawanya. Pergerakan dada yang naik turun menunjukkan bahwa dia masih bernafas.


Dor dor ... Pada saat yang sama, dia mendengar suara tembakan dari ruangan di mana Jamilah dan juga Aisye disekap dan layarnya menghilang.


"Bagaimana ...." Ucap Dokter Fath dengan senyum devilnya.


"Jangan, Akmal." Profesor Amar ikut memberikan saran agar Akmal tidak menuruti kemauan Dokter Fath.


Setelah diam sejenak, akhirnya Akmal mengeluarkan sesuatu yang selama ini disembunyikannya. Sebuah senjata rahasia yang dia ciptakan bersama profesor Amar.


"Baiklah, kalau itu maumu." Dia mengacungkannya ke arah Dokter Fath.

__ADS_1


__ADS_2