
Ingin berkata, Tidak. Jamilah sudah berlari duluan. Kencang lagi ... Teriak pun tak terdengar. Hukuman suruh di barak. Bukannya melaksanakan, bahkan kabur, lari ke landasan. Tak lama dia sudah mengudara. Dasar Jamilah ....
"Gimana, Komandan."
"Baiklah. Ayo ... Aku yang akan pimpin langsung."
Beberapa orang dipanggil dan menghadap dengan cepat. Setelah memberikan instruksinya, Santoso menuju landasan pacu, diikuti seluruh pasukan udara yang ada.
Dari atas Jamilah melihat keseluruhan keadaan markasnya. Benar-benar luluh lantah. Sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
"Cendrawasih siap menuju sasaran." Jamilah sudah tak sabar ingin segera membalas serangan mereka.
"Tunggu intruksi!"
"Siap."
Mengapa Komandan ini menunda-nunda. Aku benar-benar sudah tak sabar. Tapi ... Baiklah, Aku turuti saja. Mungkin ada baiknya, agar aku bisa melihat situasi lebih mendalam. Sebelum memulai serangan.
Aku hanya berfikir. Bila dalam keadaan seperti ini, kita hanya bertahan di markas. Itu hanya akan menjadi makanan empuk bagi musuh. Sebaiknya menyerang. Karena itulah pertahanan yang terbaik saat ini.
Aku perhatikan komandan berpikiran sama. Semua pasukan udara, sudah siap terbang. Satu persatu melesat cepat meninggalkan landasan. Mengudara bersama. Membuat formasi siap tempur.
"Cinderawasih, arah jam sebelas."
"Intruksi diterima, Baik."
Oke, Bismillah ... Kini saatnya melepaskan apa yang tadi jadi pikiran. Aku sudah tak sabar ingin menghadiahi mereka dengan dua roket yang tersisa. Kemarin-kemarin masih aku simpan. Sayang, kalau digunakan. Karena aku masih menyimpan rasa kasihan. Tapi kali ini, Jangan salahkan kalau ... Tut! Jari jempolnya menyentuh tombol merah yang ada di depannya.
Wuuuuussss ... Glleeerrr ... Entah apa yang dilepas Jamilah. Yang pasti senjata terbaru produksi dalam negeri. Belum pernah diuji cobakan. Baru kali ini dipergunakan.
Lontaran roket tepat mengenai sasaran. Menimbulkan detuman keras. Suaranya hingga terdengar di telinga Jamilah. Tak sangka kalau akan membuat lobang besar di markas lawan. Jamily sangat menikmatinya. Bahkan senyum dingin kini terlukis di wajahnya.
"Siapa suruh menghancurkan markasku. Kini giliran aku yang menghancurkan markasmu,"Begitu batin Jamilah bergemuruh.
"Cinderawasih, hati-hati! Koordinat 3.11'11" dan 9.1' 7" ."
__ADS_1
Jamilah menengok ke arah yang dituju. Ada dua buah pesawat menguntitnya. Dan kini mereka sudah bersiap-siap akan menyerangnya. Mereka mengarahkan satu rudal ke arah pesawat yang dikendalikannya.
"Mereka mau main-main denganku. Baiklah!" Tit ... Tit ... "Oh, diriku terkunci!"
Bersamaan dengan itu, sebuah rudal melesat cepat keluar dari bawah badan pesawat. Ups ....
Jangan katakan Jamilah kalau tak bisa mengatasi situasi seperti ini. Apalagi di depan sana ada 2 pesawat mereka. Apa maksudnya? Oh mungkin ini memberikan padaku untuk sekali dayung 2-3 pulau terlampaui. Hm ... Jamilah tersenyum. Kini saatnya. Biarlah itu menjadi senjata makan tuan. Mereka menembak temannya sendiri.
Hehehe ... Jamilah meloloskan diri.
Dia segera menerbangkan pesawatnya secara vertikal. Sampai mencapai ketinggian seribu kaki dari tempatnya semula. Agar dapat terhindar dari rudal yang mereka lontarkan.
,Ini benar-benar di luar perkiraan mereka. Apalagi rudal itu. Melesat dengan cepat ke arah pesawat yang jauh di depannya. Dan itu adalah kawan sendiri. Untung mereka juga melepas roket yang sama untuk menghadangnya.
Dhuaaarrrr ... Percikan api dan serpihan roket tampak melayang di sekitar kejadian. Tak lama kemudian satu per satu jatuh ke laut. Tak ada korban jiwa. Alhamdulillah ...
Sedangkan Jamilah yang melesat meninggalkan mereka terlupa kalau pesawat sudah melebihi batas ketinggian atmosfer bumi. Oh ... ada apa ini. Dirinya agak panik. Karena tiba-tiba dadanya menjadi sesak. Mungkin karena sulit bernafas. Lalu dia mengambil alat bantu pernafasan. Agar jangan sampai kehilangan kesadaran.
"Cinderawasih, ada apa dengan kamu?" Dia belum bisa merespon panggilan yang masuk. Mungkin itu suara komandan?
"Cinderawasih ... Jamilah ...." Berkali-kali dia memanggil tapi belum ada respon dari Jamilah.
Alhamdulillah, tak lama kemudian Jamilah telah sadar kembali. Dia tersentak. Saat melihat pesawat yang dikendalikannya, seakan-akan berjalan tanpa awak.
"Maaf Komandan.."
"Syukurlah. Kamu tak apa-apa. Cepat kendalikan pesawatmu."
Jamilah segera membalikkan pesawatnya 180°. Dengan posisi menukik . Kembali melakukan penyerangan. Kini pesawatnya balik ke arah kedua pesawat yang telah menembaknya.
Tak sangka kalau mendapatkan serangan mendadak. Membuatnya gugup juga. Untung mereka berhasil menghindar. Sehingga tabrakan yang tak berarti tidak perlu terjadi.
Ini latihan perang atau perang sungguhan? Susah dibedakan. Banyak sekali pesawat yang mereka kerahkan. Jauh melebihi dari yang kemarin. Demikian juga dengan senjata.
Apa ini karena hari terakhir. Ataukah memang selama ini mereka salah memperkirakan musuh. Tapi yang jelas. Kini musuhnya semakin kuat. Baik senjata yang digunakan. Maupun personal yang diturunkan. Kalau begitu, maka untuk menang kali ini sepertinya sulit
__ADS_1
Bukanlah prajurit kalau berfikir kalau ... Kalau. Hadapi! Dan jangan lari. Menang kalah terserah nanti. Yang penting sekarang, lakukan yang terbaik.
Terlalu banyak berfikir, membuat Jamilah agak lengah. Hingga tak menyadari kalau ada sebuah roket yang hampir mengenai pesawatnya.
Ups ... Nyaris saja. Oh ya masih ada satu roket lagi. Sepertinya minta untuk dilepaskannya juga. Tapi sepertinya, kita sesudah hampir melewati waktu sholat. Bagaimana ini ... Turun tak bisa. Karena perang belum usai.
"Komandan aku mau sholat."
"Posisi Three Eagle." Satu intruksi terdengar di telinganya.
"Siap, Komandan."
Jamilah segera menarik pesawatnya. Dia menuju ke pesawat yang tak jauh darinya. Diikuti oleh sebuah pesawat yang lain. Entah dari mana datangnya. Posisi agak jauh dari Medan pertempuran.
"Kita gantian. Cepat!!"
"Siap."
Mau bagaimana lagi. Memang keadaan sedang perang, tapi sholat tak boleh ditinggalkan. Mau tak mau, kita sholat di dalam pesawat dan dalam posisi dengan mengendalikan pesawat. Dan dilakukan dengan penuh kewaspadaan. Yang penting sholat jangan sampai ditinggalkan. Sampai-sampai sholat ini dilaksanakan dengan agak cepat. Dibandingkan dengan sholat kalau sedang di luar perang.
Selesai sudah Jamilah sholat. Kini Komandan dan satu temannya sholat. Dan kini giliran dia yang menjaga. Sendirian ... Moga-moga tak ada musuh yang datang.
Tapi ternyata dugaannya salah. Ada 5 pesawat menuju arah mereka. Dengan segera Jamilah menaikkan posisi pesawatnya. Untuk bisa melontarkan peluru yang ada dalam pesawatnya. Ada satu yang berhasil dibuatnya ngadat, dan akhirnya harus undur diri dari Medan pertempuran, menuju kapal induk yang ada di tengah laut sana. Tinggal 4 ....
Alhamdulillah, tak lama. Mereka semua sudah selesai melaksanakan sholat. Bisa membantu Jamilah menghadapi serangan.
Belum selesai menghadapi 4. Kini datang lagi 5 pesawat dari arah belakang mereka. Benar-benar terkurung.
"Eagle berpencar!!"
Komandan memberikan kesempatan pada Jamilah untuk menarik pesawatnya terlebih dahulu.
Tak disangka kalau dia yang akan mendapat pengawalan khusus dari musuh. Karena begitu bergerak, dia langsung diikuti 5 pesawat yang baru datang. Siap untuk meringkusnya.
Sedangkan Santoso dan satu temannya, 4 pesawat lainnya.
__ADS_1