Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Perhatian


__ADS_3

Jamilah yang sedang terbaring lemas di atas ranjangnya. Bingung dengan kedatangan kedua orang yang berseragam walaupun tidak sewarna. Yang berkulit sama dengan dirinya berbahasa Indonesia. Sedangkan yang lain berbahasa berbeda, mereka berbahasa Turki. Sama dengan bahasa yang di gunakan Mama dan Kak Akmal. Warna mata mereka juga sama.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku. Adakah kesalahan yang kulakukan sehingga mereka mendatangiku. Ku lihat Kak Akmal, Dia amat tenang. Tapi aku tahu kalau dia menyembunyikan sesuatu dariku.


"Kalian siapa?"


Kedua orang itu saling pandang. Lalu mereka memandang Kak Akmal sesaat.


"Amne ...." Jawab Akmal lirih.


Sepotong kata yang kudengar dari bibir Kak Akmal cukup membuat mereka mengerti. Ditambah dengan isyarat dari Akmal berikan Membuatnya semakin jelas. Ya ... Aku memang amnesia. Aku tak bisa mengingat satu peristiwa pun saat ini.


Mereka terdiam. Setiap akan bicara ku lihat mereka melihat pada Kak Akmal. Kak Akmal memandangku dan mengangguk, menghilangkan was-was yang aku rasakan.


"Jamilah. Mereka teman Kakak."


"Maafkan saya. Saya benar-benar tak mengenal anda."


"Tak apa-apa, Jamilah. Pada saatnya, kamu akan tahu. Aku ke sini hanya mau pamit. Kita semua mau pulang ke Indonesia. Semoga cepat sembuh. Dan pulang, bertemu kita lagi. Teman-teman menunggu aksimu," kata orang yang berbaju loreng itu.


Pulang ... Indonesia ... Teman-teman. Perkataan nya benar-benar membuat kepalaku pening. Aku memandang Kak Akmal. Satu-satunya orang yang membantuku menjawab semuanya . Ku tengok dirinya. Dia tersenyum dan mengangguk.


"Ya. Semoga selamat sampai tujuan. Sampaikan salam Ayu pada teman-teman."


Wajah orang itu berkerut sejenak. Memandangku penuh tanda tanya.


"Sejak kapan kamu punya nama Ayu?"


Lho kok ... Dia balik tanya. Tak tahu kah kalau aku bernama Ayu Jamilah. Seperti yang Mama Kak Akmal berikan padaku. Apanya yang salah? Ah sudahlah ... Aku harus bagaimana. Hanya itu identitas yang ku tahu.


"Kak Akmal, siapa dia?"


"Komandanmu."


Ikuti saja apa kata Kak Akmal. Kepalaku masih pening kalau berfikir seperti ini ...


"Maaf Komandan. Jamilah masih belum bisa mengingat semuanya."


Komandan Jamilah ini mengerti atau tidak sich, kalau memori Jamilah sedang terganggu. Aku khawatir semakin membuatnya semakin parah.


Dan juga terlalu berani, berbicara pada Jamilah dengan jarak yang teramat dekat. Apalagi pandangannya tak pernah lepas dari Jamilah. Aku jadi curiga ... Apa dia punya rasa khusus pada Jamilah? Semoga saja tidak.


Aku bersyukur, dengan adanya Jamilah amnesia, Aku mempunyai banyak kesempatan untuk bisa dekat dengan Jamilah. Astaghfirullah al adzim ....


Meskipun dia amnesia, aku masih bersyukur tak banyak yang berubah darinya. Aku beri kode sedikit saja sudah respon. Untung saja dia cepat berpamitan.


"Ya sudah. Aku pergi dulu. Tapi mungkin besok aku balik lagi. Masih ada urusan yang tersisa."


Alhamdulillah akhirnya mereka pergi. Kalau perlu jangan kembali. Bukannya cemburu tapi khawatir keberadaanya akan membuat Jamilah semakin parah.


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku?"


Haruskah ku ceritakan sebenarnya? Katakan apa tidak ya ... Ku lihat raut wajahnya, rasanya tak tega. Tapi kalau ku jelaskan ... Aku tak tahu sama sekali soal ini. Sebaiknya aku tunggu dulu saran dari dokter yang merawatnya.


"Tidak apa-apa, Ayu Jamilah. Tidurlah. Lanjutkan saja istirahatmu."


"Ya, Kak."


Kalau penurut begini, dia benar-benar manis.


Akmal mengambil kursi yang ditinggalkan oleh komandannya. Meletakkannya di samping ranjang Jamilah. Lalu duduk tenang. Tanpa ingin mengganggu Jamilah yang mulai tertidur.


Dari pada galau tak tahu yang di tuju. Lebih baik aku menenangkan pikiran dengan sedikit Murojaah.


Akmal mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya. Handphone pintarnya, membuka aplikasi Al-Qur'an. Memurojaah apa yang pernah dihafalnya. Bacaan yang pelan namun Tartil cukup mengusik ketenangan tidur Jamilah. Dia tak melanjutkan tidurnya. Lebih memilih untuk mendengarkan bacaan Akmal. Lama-lama tak tahan untuk ikut serta.


"Kakak, gantian gimana. Sambung ayat gitu."


"Kamu bisa?"

__ADS_1


"Kakak meremehkanku. Tega!"


Anak ini bisa saja merajuk. Moga-moga bukan karena amnesianya dia suka merajuk. Melainkan sifat aslinya. Sungguh lucu.


"Baiklah."


Kini mereka Murojaah secara bergantian saling menanti bacaan yang mereka alunkan. Hingga tak terasa hampir menyelesaikan surat Al-Anfal.


Masyaallah ... Ternyata hafalannya tak pernah hilang meski dia amnesia. Mereka asik sekali melakukan hal itu. Dan baru berhenti Murojaah ketika Mama kembali.


"Ayu, kamu luar biasa. Mama tak nyangka, kamu bisa melakukannya."


"Mama dari tadi nguping ya?"


Naura tertawa kecil menjawab pertanyaan Jamilah. Hehehe ... Mendengarkan putranya bersambung ayat dengan Jamilah, pengucapan yang tartil, membuat dirinya terpesona. Enggan untuk mengganggunya. Sampai bacaan itu benar-benar selesai.


"Akmal juga nggak ngira kalau Jamilah bisa sambung terus sampai selesai."


"Hehehe ... Mama bisa saja lalu memuji."


Wajah Jamilah kini nampak lebih cerah dengan senyum yang mengembang dan juga tawanya yang sekali-kali terdengar. Semoga saja ini bertanda yang baik.


"Sudah istirahatlah. Biar besok bisa refresh."


"Baik, Ma. Bolehkah Ayu minta selang-selang ini untuk dilepaskan. Rasanya Ayu tidak memerlukannya lagi."


"Nanti Kakak akan sampaikan. Tidurlah seperti saran Mama."


Kalau sudah Akmal yang berkata, Jamilah menurut saja. Berlahan-lahan bibirnya lirih berucap doa. Dia pun memejamkan matanya dengan tenang. Kini hanya terdengar lembut hembusan nafasnya dari lobang hidungnya. Terlihat dadanya naik turun bertanda ada kehidupan. Meskipun jiwa dan angan mungkin telah berjalan ke dalam pelukan mimpi.


Setelah menunggu Jamilah beberapa saat, Mama dan Papa pun berpamitan.


"Akmal, kita balik dulu. Semoga besok kita dapat kabar baik."


"Aamiin."


Akmal mengantarkan kedua orang tuanya sampai pintu rumah sakit. Yang masih tetap berdiri ditempat itu, sampai kedua orang tuanya menaiki mobil mereka. Dan menghilang di jalanan yang tak pernah sepi. Meskipun malam telah menjelang.


"Wa alaikum salam." Dokter angkatan laut menengok sejenak. Lalu tersenyum saat tahu siapa yang datang.


"Masuk saja, Akmal. Kamu ini kok resmi-resmi amat dengan kawan sendiri. Gimana kabar kamu? Lama nggak jumpa. Sedang meneliti apa lagi nich."


"Kamu ada-ada saja."


"Ada angin apa kamu ke sini?"


"Aku mau tanya kondisi Jamilah."


"Sejauh ini baik. Mungkin hantaman ombak di kepalanya menyebabkan memorinya agak terganggu. Dan juga syaraf kakinya. Mungkin perlu terapi dan juga pengobatan yang teratur. Agar semua bisa pulih seperti sedia kala.


"Maksudmu, dia tak bisa jalan?"


"Ya."


Seketika Akmal diam meskipun tetap tenang.


"Berapa lama kira-kira bisa sembuh?"


"Bisa lama, bisa cepat. Tergantung dari penyembuhan pada syaraf yang terhubung. Semoga saja tak lama. Untuk sementara jangan diberi kejutan-kejutan. Agar tak semakin parah."


"Aku akan usahakan."


Untuk sesaat Fahmi membiarkan Akmal berfikir. Dia melanjutkan menulis rekapan yang sempat tertunda.


"Tumben, biasanya kamu sibuk dengan tanaman. Ini kok tanya-tanya pasienku. Wanita pula. Curiga aku ...."


"Dia tanggung jawabku."


"Bawa-bawa orang tua segala. Macam memperkenalkan calon mantu."

__ADS_1


Fahmi melirik wajah Akmal sesaat, sambil senyum-senyum. Janganlah kamu sangka kalau aku tak tahu ceritamu. Sampai kita dibuat bingung oleh sikapmu. Apa itu bukan perhatian khusus ....


"Baiklah. Aku mengakui, dia yang kutunggu. Menurutmu bagaimana?"


Tak apalah kalau berterus terang padanya. Selain teman, dia juga pembimbing spritual di kesatuannya. Dan umur kita tak jauh beda. Bisa enjoy kalau ngomong.


"Tak ada yang salah dengan itu."


"Papa dan komandan sepertinya keberatan. Menurutmu bagaimana?"


"Aku tak tahu pasti tentang dia. Yang jelas dia gadis yang baik. Kalau berjodoh, pasti ada jalan. Aku mendukungmu. Ku rasa apa yang dikhawatirkan Komandan dan Papamu tak beralasan. Sekarang kita punya musuh yang lebih nyata. ******* dan juga mafia. Hubungan baik antar negara lebih baik daripada ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Apalagi kamu punya dua kewarganegaraan. Tapi aku hanya pesan, jangan tinggalkan negara ini. Jangan seperti Bastian dan Tazkia. Sekarang dia menyebrang ke Rusia."


"Semoga itu jangan sampai terjadi. Dan Jamilah mengerti dengan itu. Tanpa harus mengorbankan masing-masing."


"Itu yang ku tunggu, Kawan. Optimis."


"Terima kasih atas dukungannya."


Untuk beberapa saat Fahmi membiarkan suasana sunyi. Sampai-sampai membuat Akmal tertidur di atas kursi, saking senyapnya. Sampai dirinya selesai dengan pekerjaannya. Entah berapa menit atau jam. Yang jelas saat dirinya sudah menyelesaikan pekerjaannya, jam jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Saatnya untuk pulang.


"Akmal, Bangun." Tega tak tega, dirinya harus melakukannya. Dirinya sudah ditunggu keluarga di rumah.


"Eh ya, Fahmi. Maaf aku ketiduran." Matanya terpejap-pejap sebentar. Sebelum kesadarannya kembali sempurna. Akmal segera beranjak dari tempat duduk.


"Tak apa. Cuma aku mau pulang. Ayo."


"Baiklah. Tapi sebelumnya bisakah kamu tengok Ayu Jamilah."


"Ya."


Keduanya berjalan menyusuri lorong yang sepi dan sunyi. Hanya suara sepatu-sepatu perawat jaga yang terdengar melintas. Sampai mereka di tempat Jamilah. Fahmi memeriksa seksama keadaan Jamilah.


"Bisakah selang dan infus itu di lepas?"


"Kita tunggu sampai besok. Syarat-syaraf di otaknya biar mendapatkan cukup oksigen dulu."


"Aku mengerti."


"Insya Allah besok pagi sudah bisa lepas."


"Alhamdulillah."


Setelah memeriksa Jamilah secara teliti. Dia pun membereskan peralatannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas kerja.


"Sudah ya. Aku tinggal dulu."


"Makasih. Aku antar?"


"Tak usah. Kamu punya tanggung jawab," ujar Fahmi dengan senyum-senyum. Dia benar-benar mau mencandainya. Tapi tak urung Akmal mengantarkannya hingga di ujung lorong paviliun. Lalu mereka berpisah. Fahmi menuju tempat parkir. Akmal kembali lagi ke kamar Jamilah.


Dia memandang wajah seseorang yang kini tertidur pulas di hadapannya. Ada rasa sedih, senang, resah, bingung bercampur jadi satu. Bukan menyesali apa yang terjadi. Tapi belum mengerti dengan apa hikmah di balik semua ini.


Warna remang-remang kini mulai berganti sempurna dengan kegelapan


Kabut dingin malam yang kian larut mulai turun


Mengusik diri yang berbalut dalam kesedihan


Memandang harap menjauh dalam duka


Bukan tak terima


Tapi ....


Mungkinkah itu jalan Tuhan untuk menunjukkan cara bergantung


Mengungkap kerinduan hanya padaNya


Pemilik hati yang mudah terombang-ambing akan khayal berharap nyata

__ADS_1


Dan Pemilik cinta dari segala cinta.


__ADS_2