Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Keributan di Tengah Malam


__ADS_3

Dia wanita, kita laki-laki. Dia hanya sendiri, kita berdua. Tak mau berbasa-basi, Christ dan Bastian melempar satu tendangan bersamaan ke arah wanita yang berdiri di depannya.


Tak sangka wanita itu bisa berkelit bahkan menjadikan tendangan mereka seakan-akan senjata makan tuan. Kaki mereka berbenturan. Membuat keseimbangan keduanya goyah.


Brruujghk .... 


Tubuh keduanya pun jatuh tak terelakkan di atas tajamnya kerikil karang. Jangan dibayangkan bagaimana sakitnya. Apalagi   mereka hanya mengenakan kaos tipis sebagai penutup badan. Untungnya bukan kulit peragawan tetapi kulit seorang prajurit yang terlatih. Memang terasa tapi tak begitu sakit.


Sakit fisik bisa ditahan, tapi malunya itu yang tak bisa ditutupi. Mau di kemanakan  muka ini. Melawan seorang wanita saja, kalah.


Untung suasana malam dengan gelap yang amat pekat mampu menyembunyikan wajah-wajah merana penuh derita karena kalah sebelum berperang.


“Christ?”


“Aku mengerti.” Christ segera merogoh kantung kecil yang ada di kakinya. Untung dia masih menyimpan serbuk sari itu. Kini saatnya untuk menggunakannya.


Christ menjimpitnya sedikit.  Lalu melemparnya ke arah wanita yang sedang bersiap-siap menyerangnya.


Wanita itu tempak tertegun, menghadap ke atas, karena tiba-tiba ada butiran-butiran salju yang turun di sekitarnya. Sehingga Dia melupakan keberadaan mereka.


“Bastian.”


Christ menarik tangan Bastian untuk segera menjauh dari tempat itu. Agar tidak mendapatkan efek dari serbuk sari yang sudah  dilemparkannya sebelum wanita itu menyadarinya.


Mereka meninggalkan wanita itu , menuju markas  sesuai dengan rencana yang mereka susun.


“Tunggu aku di pesawat itu! Aku akan pergi sebentar.”


Bergerak sendiri lebih mudah bagi Christ, daripada harus berdua. Apalagi dalam hal menyusup, Bastian bukan ahlinya.


“Tidakkah lebih baik kita berdua masuk?”


“Jangan! Harus ada yang berjaga di sini, agar kita bisa dengan cepat melarikan diri.”


“Baiklah.”


Tak sampai hitungan detik Christ sudah menghilang dari pandangan Bastian.


“Cepat kali dia menghilang!”


Sedangkan dirinya masih tetap bersembunyi di balik semak belukar, yang banyak tumbuh  di sekitar markas itu.

__ADS_1


Maksud hati akan melangkah  landasan sesuai dengan perintah Christ. Tapi ada seseorang berdiri di belakangnya.


“Kalian ini nggak ada kapok-kapok nya.”


Bastian terhenti manakala ada benda yang terasa dingin menyentuh pipinya. Alamat dach ...


Dia pun menengok ke belakang.


“Ternyata kamu.”


Satu tendangan yang amat keras dia layangkan tepat mengenai tangan wanita itu. Hingga pistol yang ada di tangannya pun terlempar.


Meskipun tanpa senjata wanita itu terlihat tenang bahkan mampu menangkis serangannya kemudian. Bahkan menyerang balik dengan pukulan serta tendangan yang amat mematikan.


Sesaat membuat Bastian terlihat kewalahan. Tapi tak lama kemudian dia pun bisa mengimbangi serangan. Bahkan tampak wanita itu dibuat kewalahan. Mungkin karena faktor gender, wajar!


Kalau Bastian yang kalah, itu baru dipertanyakan kelaki-lakiannya. Masak kalah dengan cewek. Hehehe ....


Dalam keadaan seperti ini, Christ datang dan membantunya. Membuat wanita itu semakin lemah. Lha dua lawan satu ... kekalahan yang sesaat lalu mereka alami, kini terbayar lunas.


Main keroyokan sich, nggak gentle.


“Mengapa dia tahu namaku,” gumamnya lirih.


Keduanya segera berlari ke landasan pesawat, meninggalkan Jamilah yang masih duduk dan bingung. Mereka masuk ke dalam  salah satu pesawat tempur yang ada di sana dan mencoba menerbangkannya.


Hati boleh gembira karena berhasil mencuri data dan pesawat tempur. Tapi timbul masalah lain. Bagaimana cara menerbangkan pesawat ini. Mereka tak punya keahlian tentang itu.


Tarik panel atas, atur posisi, hidupkan, jalan. Alhamdulillah... Akhirnya berhasil menerbangkannya.


Mendengar deru pesawat, Jamilah pun tersadar. Apalagi saat  mengetahui pesawat yang akan diterbangkan itu adalah pesawat yang biasa dipakai untuk bertempur, dia sangat marah. Dia segera bangkit dan berlari cepat, menyusul keduanya. Tiba di sana, pesawat itu benar-benar sudah terbang. Meskipun baru dua kaki dari tanah. Tak mau membuang waktu, Jamilah bersalto sehingga bisa menggapai badan pesawat. Dia terus bergelantungan sambil bergerak agar mencapai pintu meski keadaan pesawat sudah mulai meninggi.


Sementara keadaan di bawah terlihat sangat sibuk. Beberapa prajurit berlari keluar dari tenda. Bahkan salah seorang telah menuju ke arah landasan, menerbangkan pesawat lain,  untuk mengejar penyusup sekaligus pencuri pesawat tempur mereka.


Sementara itu pergerakan Jamilah sudah mencapai pintu pesawat. Sayang pergerakannya terhalang oleh Bastian. Dia sedang fokus mengarahkan tembakannya pada pesawat yang ada di belakangnya. Tanpa tahu kalau ada sepasang tangan telah sampai di dekat tumitnya.


Belum sempat menarik pelatuk nya, kakinya seperti ada yang memegangnya dengan kuat. Dia pun mengalihkan arah senapannya secara spontan. Dan siap untuk menembak manusia yang mengganggunya.


 Jamilah menjadikan kaki itu sebagai pegangan satu-satunya untuk masuk ke dalam. Mau tak mau harus mengalahkan pemilik kaki itu terlebih dahulu.


Satu sentakan, membuatnya terjerembat dan akhirnya terlempar ke luar pesawat.

__ADS_1


Byyuuurrrr ... Untung jatuhnya di tengah laut. Ada harapan untuk selamat. Jamilah tersenyum bahagia melihat satu musuhnya kini sedang bermandi air laut di bawah sana. Tinggal satu lagi ....


Sementara itu Christ tampak serius mengendalikan pesawat. Selain karena tak pernah mengendalikan pesawat, juga karena ada sebuah pesawat yang mengikutinya.  Membuat dirinya semakin tegang. Sehingga tidak menyadari kalau Jamilah berhasil masuk dan kini  berdiri di belakangnya.


“Jangan macam-macam dengan pesawatku.”


Christ mengangkat kepalanya sedikit, pandangan tetap fokus tak peduli dengan seseorang yang ada di belakangnya.


“Ah, kamu Jamilah. Kapan kamu datang?” Dia tetap tenang seolah tak terjadi apa-apa.


Jamilah dibuat keheranan atas sikapnya.


“Ya, ini aku kembalikan pesawatmu. Aku tak berminat.”  Dia menggeser tempat duduknya. Bahkan mempersilahkan Jamilah duduk di tempatnya.


Sebenarnya ada apa dengan manusia satu ini? Mengapa menyapanya dengan penuh persahabatan. Bukankah saat ini kita sedang berperan sebagai musuh.


“Sudah, segera kemudikan. Aku benar-benar bingung kalau masalah pesawat. Kamu ahlinya.”


Jamilah diam, tak menyangka kalau laki-laki yang ada di depannya bersikap seperti itu. Ini musuh apa musuh ya?


“Hai, kenapa melamun. Aku nggak akan mencelakaimu. Aku janji.” Dia menarik tangan Jamilah ke tempat duduk yang dia tinggalkan.


“Hai jangan melamun, pesawatnya mau jatuh!” Terlihat ketengangan di wajah laki-laki itu.


Tanpa berkata apapun, Jamilah segera duduk dan mengendalikan pesawat itu ke posisi semula.


“Siapa anda?”


“Tolong kirim sinyal ke pesawat yang ada di belakang itu dulu, kalau pesawat sudah kamu kuasai. Biar nggak nembak terus. Pusing aku.”


Tak ada salahnya untuk menurutinya. Kalau pesawat ini tertembak, rugi besar dong.


“Baiklah.”


Tak berapa lama pesawat yang mengajar mereka balik arah.


“Sudah.”


“Terima kasih. Jamilah."


“Anda mengenal saya?”

__ADS_1


__ADS_2