Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Tentang Akmal


__ADS_3

Sesaat sebelum keberangkatan ....


"Akmal, Besok kamu harus segera menyusul. Kami tak bisa menunggu lama-lama."


"Baik, Pa."


Akmal segera menutup pintu mobil begitu Ulya duduk nyaman di samping sopir.


"Aku pergi dulu, Assalamualaikum ...."


"Waalaikumsalam, Pa."


Mobil yang ditumpangi Papa Ulya dan Mama Naura serta Jamilah berlahan-lahan meninggalkan halaman rumah. Diikuti oleh mobil-mobil yang lainnya. Cukup banyak juga rombongan yang dibawa. Maklumlah, selain acaranya lamaran Akmal. mereka berniat akan silahturahmi juga. Mengingat Mama Naura pernah dibesarkan sebuah keluarga yang ada di Indonesia.


Akmal tak beranjak dari tempatnya berdiri, sampai mobil yang ditumpangi Jamilah dan keluarganya menghilang dari pandangan. Ada sedikit penyesalan terselip dalam relung hatinya, ketika melihat iring-iringan itu pergi. Mengapa dirinya tak bisa ikut serta. Apalagi ketika teringat Jamilah yang meneteskan air mata saat berhadapan dengan papanya.


Untuk sementara biarlah seperti itu. Toh tak niat sedikitpun untuk membatalkan sesuatu yang sudah lama ia rencanakan. Mungkin pengertian dan kesabaran agar semua berjalan dengan baik.


Setalah semua tak tampak lagi, dengan langkah gontai, dia kembali ke dalam rumah. Menuju lantai atas, masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas ranjang. Akan menikmati tidur siangnya yang sempat tertunda. Sesuatu yang sangat ia perlukan saat ini. Istirahat meski hanya sejenak. Agar badan lebih fit dan siap berhadapan dengan tubuh yang terbujur kaku di atas meja observasinya yang ada di laboratorium.


Tak sampai 30 menit Akmal berbaring. Itu sudah cukup membuat membuat tubuhnya kembali segar. Kini dia sudah bersiap-siap lagi menuju ke markas. Menjalani rutinitasnya. Penelitian-penelitian yang tak pernah akan berakhir. Karena itu sudah pilihan hidupnya.


Sampai di markas dia sudah ditunggu Abbas. Tanpa basa-basi lagi mereka menuju laboratorium.


"Kamu sudah melihatnya?"


"Sudah."


"Bagaimana keadaannya?"


"Aku tak tahu harus ngomong apa. Sepertinya dia akan kembali hidup."


"Bagaimana mungkin?"


"Aku juga tidak tahu."


"Prof. Amar sudah lihat?"


"Sudah."


"Tanggapannya."

__ADS_1


"Jangan berikan apapun dulu. Minimal tunggu 3 hari."


"Tapi aku khawatir. Sama saja kita menyiksa mayat."


"Kamu lihat dulu."


Akmal pun segera menuju meja observasi. Dimana tubuh Tazkia sedang terbujur kaku. Dia mengamati dengan teliti. Lalu melihat catatan terakhir sebelum dia pergi.


Jika pada hari pertama hanya terlihat gerakan kecil dan lemah pada sekitar dada Tazkia. Di hari kedua ini gerakan itu agak melebar sedikit. Terlihat dadanya naik turun mungkin itu pengaruh dari organ paru-paru mulai berkembang. Apakah akar itu masih juga tumbuh di dalam tubuhnya meskipun tak ada cips itu lagi?


"Bagaimana menurutmu?"tanyanya pada Abbas


"Kamu lebih faham. Tapi sekarang dadanya seperti ada pergerakan. Apakah itu tanda kehidupan."


"Mungkin ... Kita tunggu saja."


Kalau Tazkia hidup karena zat yang dihasilkan tumbuhan itu, Ini sangat berbahaya. Mereka telah berani menggunakannya pada tubuh manusia. Yang selama ini sangat aku hindari. Semoga ini hanya satu-satunya. Aku tak sanggup membayangkan kalau masih ada tazkia-tazkia yang lain.


Yang jadi pertanyaannya, Siapa yang melakukan ini? Karena itu menyalahi kodrat. Robot bisa dibentuk manusia. Tapi manusia dihidupkan untuk dijadikan robot sama saja menggunakan kekuatan Dajjal untuk menghancurkan dunia. Astaghfirullah al adzim ....


"Cips itu bagaimana?" Abbas menunjuk benda kecil yang kini tak bercahaya lagi.


"Kita serahkan ke Letjen. Hani dan Christ. Dia ahlinya."


"Aamiiin Ya Allah."


Jika tak salah perhitungan, dengan melihat perkembangan hari ini, mungkin perlu 3-4 bulan untuk menyelesaikan agar seluruh tubuh bisa bergerak ... Insyaallah. Karena dia sebuah mayat, benda mati. Ah, mengapa sampai ada yang berfikir harus menghidupkan mayat untuk melawan kami. Mengerikan!


Hanya saja ini membuat semangatku bangkit untuk memusnakannya. Baiklah, akan kutemui prof. Amar. Sekaligus ijin rehat 2 hari. Semoga diijinkan. Karena kalau menunggu selesai, tak mungkin dan masih lama. Bisa jadi Papa Jamilah akan memutuskan sepihak. Pada akhirnya rencanaku akan gagal untuk mempersuntingnya.


Diriku ingin segera menyusul Jamilah. Tak ingin berlama-lama di sini. Nanti dikira menanti Tazkia yang akan hidup kembali. Menikah dengan hantu dong ... Hihihi ... Membayangkannya, membuat bulu kudukku berdiri .


Tanpa sadar kedua bahu Akmal terangkat.


"Ada apa, Akmal."


"Tidak apa-apa. Semoga tak terjadi apa-apa dengan tubuhnya." Kembali Akmal mengamati dengan teliti keadaan Tazkia serta mencatatnya. Mengabaikan keberadaan Abbas yang ada di sampingnya.


"Oh ..." Abbas tertawa sendiri melihat tingkah laku rekan kerjanya saat ini. Karena dia juga merasakan aura yang sama saat harus mengamati Tazkia beberapa jam yang lalu.


Abbas menuju meja kaca. Tampak sebuah cips terletak di atasnya. Dengan sebuah penutup yang terbuat dari kaca pula.

__ADS_1


"Aku pergi ya ... Sekalian bawa cips ini."


"Ya."


"Kapan prof. Amar ke sini lagi."


"Aku tak tahu. Kalau kamu ingin menemuinya, sore nanti. Tadi pamitan ada urusan luar."


"Baiklah."


Abbas mengambil cips itu lalu segera pergi meninggalkan Akmal sendirian di ruang laboratorium. Ada sih, temannya ... Sesuatu yang kini sedang berbaring kaku di dalam ruang kaca. Meski sebuah mayat namun bukan seperti mayat dalam kubur. Dia bersih seperti kayu atau batu namun tetap lembut bak kulit manusia hidup. Tak tahu ke depannya, akan seperti apa.


Kini Akmal beralih pada zat yang ada di almari kaca. Ini berhenti sejenak, berfikir. Rasanya aku sudah sabar untuk menggunakan zat ini pada Tazkia. Agar tubuh Tazkia segera dapat dikebumikan dengan layak. Tapi ... Profesir Amar mungkin punya pemikiran lain.


Lapat-lapat dia mendengar suara seseorang membuka pintu ruangannya.


"Akmal."


Akmal segera menengok ke sumber suara. Dia tersenyum sendiri. Saat melihat siapa yang datang. Orang yang baru saja dipikirkannya, kini sudah berdiri di hadapannya.


"Profesor panjang umur. Baru saja saya memikirkan anda. Anda sudah datang."


"Ah masak. Tazkia kamu kemanakan?"


Profesor setengah umur ini benar-benar membuatku senewen. Dia terus saja meledekku. Kukira dia akan serius, seperti biasanya. Tapi ternyata sama dengan teman-teman bahkan Papa. Menyanding-nyandingkan diriku dengan Tazkia.


"Profesor bisa saja ... Ini perkembangannya sampai dengan saat ini." Akmal memperlihatkan catatan-catatan itu padanya.


"Baik ... Aku dengar laporan dari Abbas kalau kamu yang menghilangkan akar-akar pada cips itu."


Akmal mengangguk, "Sepertinya aku mengenal zat bening yang ada dalam tubuh Tazkia. Makanya aku gunakan zat ini. Zat yang dihasilkan dari pohon yang sama. Ini dari tangkai dan daunnya serta buah yang belum masak. Sedangkan yang ada dalam tubuh Tazkia zat beningnya. Kemungkinan dari ekstrak buahnya saja."


"Aku ingin lihat perkembangan sisa akar yang ada dalam tubuhnya. Jangan masukkan zat apapun."


Akmal pun mengangguk. Ikuti prosedurnya saja, siapa tahu akan menemukan sesuatu. Meskipun ini bertentangan dengan nuraninya. Karena bila tubuh telah menjadi mayat segera kuburkan, itu adalah haknya. Tapi tak tahulah dengan kejadian yang menimpa Tazkia. Sami'na wa atho'na pada atasan saja lah.


"Profesor, boleh ijin 2 hari." akhirnya Akmal mengalihkan pembicaraan.


"Untuk apa?"


"Aku sedang ditunggu seseorang."

__ADS_1


"Bukankah dia di hadapanmu. Siapa yang menunggumu."


__ADS_2