Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Menghadap Komandan


__ADS_3

Dari jauh tampak Abid yang berlari menuju ke arah kami, meninggalkan Bunda Zulfa yang baru saja kembali dari toilet.


Dia berteriak sambil berlari. Sehingga nafasnya terdengar memburu, "Kak Ayu ...."


Dia langsung memeluk pinggangnya dengan manja. Sehingga Jamilah tidak bisa menahan diri untuk mengacak-ngacak rambutnya. Dia membiarkan Abid bermanja di kakinya. Namun pandangannya mengarah pada sesosok wanita yang kini berjalan ke arahnya. Dia tak dapat menahan diri lagi untuk memeluknya erat pada saat Zulfa telah berada di hadapannya.


"Maafkan Ayu, Bunda."


"Sudah, jangan kamu pikirkan. Bunda senang kamu pulang dengan selamat."


Dia pun merenggangkan pelukannya, saat Abid menarik-narik bajunya. Dia tak membiarkan kakaknya berlama-lama memeluk Bunda. Bunda segera melepas pelukannya dengan tersenyum kecil, melihat kemanjaannya.


"Kenapa Kak Ayu lama nggak pulang-pulang sich?"


"Kan Kak Ayu ada tugas."


"Abid jadi kangen."


"Sekarang, Kakak sudah pulang kan. Hayo ... sudah hafal surat apa."


"An naas."


"Dari dulu masak nggak nambah."


"Sudah kok. Tapi aku nggak tahu namanya ... Kalau tak pelcaya tanya Bunda. Ya kan, Bun ... Sekarang mana hadiahnya?" Matanya yang bulat menatap Jamilah dengan manja. Membikin Jamilah gemas. Spontan dia menyemol pipinya yang tembem.


"Oke. Nanti Kak Ayu belikan." ucapnya. Kini tampak keduanya tertawa ceria.


Mereka benar-benar bahagia bisa berkumpul bersama. Sampai-sampai melupakan keberadaan Tuan Ulya dan keluarganya. Dan baru tersadar ketika mereka berada di hadapannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Tuan Ulya, Terima kasih sudah merawat putriku."


"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh. Sudah, jangan sungkan ... Sekarang sudah aku kembalikan ... Tolong jangan marahi dia lagi."


Hasan tersenyum. Mana mungkin dia memarahinya. Bisa ngambek anak itu.Tuh ... Lihat saja sekarang. Dia menunduk, mungkin saja dia masih ada rasa bersalah. Aku hanya berdoa, semoga tak ada lagi kejadian yang membuat dia dalam keadaan seperti itu. Beruntung bertemu keluarga baik, dan menyayanginya seperti anggota keluarga sendiri.


"Aku antarkan Jamilah sampai sini saja. Tak apa, kan?"


Hasan mengangguk, "sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Jazakumullah Khoiron Katsir."


"Sama-sama."


Mereka bersama-sama menuju ke mobil yang telah terparkir lama di sana. Satu persatu telah memasuki mobil. Terakhir adalah wanita yang ada di samping Ulya.


"Ma, selamat jalan." ucap Jamilah.


"Jangan kemana-mana, nanti Papamu bingung lagi," ucap Istri Ulya sambil melambaikan tangannya.


"Baik, Ma." Jamilah membalas lambaian tangannya sampai mobil itu menghilang dari pandangan. Kini hanya tinggal Hasan sekeluarga. Mereka pun menuju mobil yang ada di ujung parkiran, dimana Aris masih setia menunggu. Terlihat matanya terpejam, saat kami datang. Dia pun tersentak, saat Hasan membuka pintu mobil.


"Aris mengantuk, Pa."

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Istirahatlah! Biar aku yang kemudi."


"Ya, Pa." Dia segera bangkit. Meninggalkan tempat duduknya. Menuju ke pintu yang baru dilewati oleh Hasan. Sedangkan Hasan segera menggantikan tempat duduknya di belakang setir. Setelah siap, Dia segera melajukannya berlahan meninggalkan bandara.


"Apa kamu mau lapor dulu?"


"Hm ... Okelah, Pa. Biar nggak ada kepikiran apa-apa."


Tak memerlukan waktu lama, Kita sudah sampai di kantor. Kali ini Jamilah sendiri yang akan menemui komandan, tanpa Papa maupun Bunda. Maklum ini kan urusan pekerjaan. Mereka tak ada kepentingan dengan itu.


"Pa, aku masuk dulu."


"Ya. Papa tunggu di sini saja."


Alhamdulillah, Komandan sedang ada di tempat. Sehingga Jamilah bisa langsung menemuinya.


"Assalamualaikum ..."


"Waalaikumsalam ... Alhamdulillah, akhirnya kamu kembali. Kamu pulang sendiri?"


"Bareng sama keluarga Jenderal."


"Sama Letjen Akmal?"


Ya ... Sepertinya jawabanku kurang jelas. Sampai-sampai Komandan melotot begitu.


"Jenderal tak ikut. Sama Papa Mama Jenderal."


Jamilah tersenyum di balik cadar menanggapi celoteh komandannya. Bertemu dengannya timbul rasa segan. Teringat lagi saat dirinya masih dirawat, komandan tak pernah absen menjenguknya. Bahkan tak lupa membawakan mawar dan coklat. Terakhir dia memberinya sebuah gulungan surat. Yang sampai sekarang belum dibukanya.


"Kukira apa, Pak?"


Dia tidak menjawab. Yang kurasakan, dia memandangku dan diam.


"Kamu sudah baca suratku, kan?"


Ups, Suratnya kini masih di tangan Kak Akmal. Aku tak berfikir mengambil kembali. Tapi sekarang komandan tanya. Aku harus ngomong apa.


"Maafkan Jamilah, Pak. Surat itu masih terikat rapi. Jamilah masih takut dan belum siap membukanya."


Bahkan kalau boleh jujur, Saat ini pun masih sama. Karena suratnya itu tak ikut pulang bersamaku. Ya ... Aku ceroboh, memberikanya pada kak Akmal.


"Tak apa. Aku mengerti. Mungkin saat itu bukan waktu yang tepat untukku ... Tapi sekarang siap, kan?"


Bagaimana ini? ... Mengapa komandan masih di situ juga omongannya. Aku benar-benar tak tahu harus menjawab apa.Lebih baik terus terang. Masalah dia kecewa, terserah nanti sajalah. Yang penting diriku tenang, tak ingin punya beban.


"Siap apanya, Pak?"


"Sudah dech. Sekarang beri alamat rumahmu. Aku mau ketemu orang tuamu," ujarnya dengan nada dinaikkan setengah oktaf. Aku dibuatnya terkejut. Tiba-tiba dia agak senewen. Maksudnya apa, dengan permintaannya itu.


"Sebentar Pak. Aku tanya Papa dulu. Kali ini akan tinggal di mana."

__ADS_1


"Subhanallah wal hamdulillah wa laa illaha illallahu akbar," ucapnya sangat-sangat lirih. Namun aku masih bisa mendengarnya. Aku menduga-duga maksudnya, tapi tak ingin menyimpulkannya. Aku jadi khawatir kalau-kalau komandan serius dengan perasaannya. Bisa jadi dia akan kecewa.


Komandan Santosa berdiri.Dia menuju ke meja kerjanya. Lalu mengeluarkan sebuah benda pipih dari laci. Sepertinya masih baru.


"Untuk kamu," ucapnya saat sudah duduk di hadapanku.


"Pak, saya nggak bisa terima ini."


"Lalu saya kalau menghubungimu bagaimana?"


Aku mengeluarkan handphoneku dari dalam tas. Dia terus memandangi benda yang ada di tanganku.


"Ya sudah kalau tak mau." Dia mengambil kembali hp itu. Pandangannya tertuju pada hp yang kupegang.


"Canggih kali handphone mu. Seleramu cukup tinggi juga. Beli dimana?"


Kepo kali komandanku ini. Pakai tanya ini itu, apalagi tentang hp ini. Tak mungkin aku cerita kalau ini pemberian Kak Akmal. Aku pun tersenyum.


"Nomor Bapak tak ganti, Kan?" Kucoba mengalihkan perhatian.


"Tetap."


Segera aku kirim notif ke dia.


"Aku kirim balik."


Ting ... Ganti hp-ku berbunyi.


"Terima kasih, Pak."


Bicara ke sana kemari, hampir saja aku melupakan tujuan ku semula.


"Maaf, Pak Ini surat-surat kesehatan saya dari rumah sakit."


Dia memandangi berkas-berkas yang kubawa. Lalu dia pun tersadar.


"Ya, aku terima. Kamu boleh langsung masuk. Boleh juga ambil cuti dulu. Kalau masuk pun, untuk sementara kamu di bagian administrasi, tidak di lapangan dulu."


"Kenapa?"


"Kebijakan pusat. Ambil baiknya saja. Kamu masih perlu istirahat."


Benar apa yang dikatakannya. Tapi ... aku sudah sangat rindu dengan langitku. Ingin segera menjelajahinya. Sebagaimana beberapa waktu yang lalu, sebelum kejadian itu.Daripada tak boleh terbang, lebih baik di rumah.


"Kalau boleh, Jamilah akan ambil cuti dulu."


"Kalau sudah sampai, kasih tahu aku."


"Insyaallah."


Rasanya aku sudah tak ingin lagi berlama-lama di sini. Urusan sudah selesai. Saatnya menemui Papa dan Bunda Zulfa. Dengan rinduku yang masih tersisa

__ADS_1


__ADS_2