
🌟
Setelah menjemput sopir dan juga mengambil perhiasan yang telah dibelinya di pertokoan modern yang ada di tengah kota, Akmal meneruskan perjalanan dengan mobilnya yang kaca sudah tak utuh lagi, ke rumah yang sepuluh tahun sudah dia tinggalkan. Rumah di belakang Panti Asuhan.
Saat keluar dari mobilnya, dia disambut oleh seorangl lelaki yang sudah cukup berumur yang masih memandangnya dengan penuh kerinduan. Kepala sudah rata tertutup uban, meski demikian tubuhnya terlihat masih segar dan kuat.
Bola matanya berputar, ujung jari mengarah kepada Akmal.
"Den Bara?" sapanya.
"Mang Maman." sahut Akmal.
Dia menghampiri lelaki yang sudah berumur itu. Memeluknya dengan hangat.
"Apa kabar, Mang Maman?"
" Alhamdulillah sehat, Den ... Tak sangka mang Maman akan bertemu Den Bara lagi." ucapnya terharu.
Mang Maman ini pakai didramatisir segala. Aku kan jadi terbawa suasana juga. Terharu gitu lho ... Sayang bukan karena pertemuan ini saja yang membuat diriku terharu tetapi bayangan Jamila kecil yang menari-nari di mata. Apalagi kalau ingat saat sedang mengambil buah-buahan di pojok kebunnya itu. Jadi gemes plus kangen dech.
Whualah ... dasar si Akmal. Itu otak sudah terkontaminasi . Apa yang di depannya berbeda dengan apa yang dipikirkannya.
Akmal berlahan melepas pelukannya. Sekaligus memberikan kesempatan pada Mang Maman untuk mengusap air mata yang sempat meleleh dari ujung matanya. Eh ... dari ujung matanya juga, walau sedikit.
"Aku mau ketemu Mama dulu, Mang."
"Oh ya, Den. Aden juga sudah ditunggu sama seseorang. mungkin teman Aden. Orangnya bule."
"Oh ya." sambil berlalu.
Alhamdulillah William tidak sampai kesasar, gumamnya dalam hati.
"Sekarang dia di mana?" ucap Akmal sambil berbalik.
"Kayaknya tadi jalan-jalan ke belakang Den, ke laboratorium Aden dulu."
"Biarkan saja Mang."
Akmal pun meneruskan langkahnya. Untuk menjumpai orang yang selama ini sudah melahirkannya dan juga melihat persiapan untuk acara esok.
"Assalamualaikum, Mama."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh. Alhamdulillah anak ganteng mama akhirnya datang juga."
Dia pun menghampiri Naura yang sedang asyik membaca majalah wanita di ruang tamu. Dia menutup bacaan itu dan meletakkan di tempatnya. Dia sambut putranya itu dengan gembira. Kini mereka melakukan ritual sebagaimana biasanya. Naura memeluk dan menepuk-nepuk punggung putranya itu dengan hangat.
"Papa dan yang lainnya kemana?" Tanya Akmal setelah melepas pelukannya. Dia tak mendapati seorang pun selain mamanya di rumah itu.
__ADS_1
"Ke tempat Om Mustofa, biasalah urusan bisnis. Adikmu juga udah kangen banget sama Devra."
"Ho ... oh."
"Gimana tadi Abid?"
"Alhamdulillah sudah dibawa pulang. Cuman e ... besok pagi saja kita kesana, Ma."
"Kamunya nggak apa-apa kan?" Naura nampak kasihan dengan keadaan putranya yang terlihat galau.
"Nggak apa-apa sih, Ma. Mungkin sudah nasib anakmu yang tampan ini, harus selalu tertunda untuk memiliki kekasih."
Mendengar kata-kata Akmal Naura meliriknya sambil tersenyum. Dia mengangkat tangannya, memukul punggung putranya itu dengan gemas.
"Auu ... Mama!" Akmal mencoba menghindar dari pukulan mamanya. Tak urung dia pun berbalik, menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di samping Naura. Sesekali mengambil nafas panjang. Melepas segala kepenatan yang kini dia rasakan.
"Semoga besok tidak ada halangan lagi." ucap Naura.
"Ya, Aamiin. Doa ibu mudah dikabulkan sama Allah."
Pinter saja merayu si Akmal ini, membuat Mamanya makin gemas dan kembali ingin memukulnya. Tapi urung dilakukannya karena Akmal sudah mengangkat tangan tanda menyerah. Dia pun mengusap lembut pundak putranya itu.
Dibanding dengan saudara-saudaranya yang lain, Akmal lah yang lebih dekat kepada Naura. Dia begitu mudah untuk mengungkapkan perasaannya pada Naura dibanding Akram maupun Aisye.
"Tadi William ke sini?"
"Proyek?"
Akmal mengangguk.
"Kamu ini, besok sudah mau lamaran kok masih mikirkan pekerjaan." Naura sudah dapat menebak dengan kehadiran William di rumahnya. Ini pasti tentang pekerjaan yang berhubungan dengan tanaman. Penelitian dan penelitian. Pasti itu lagi ....
"Darurat, Ma."jawab Akmal dengan entengnya.
"Ya, udah. Mama tak ikut campur."
Naura bisa memaklumi sikap putranya itu. Dia merasakan, ada masalah yang serius yang tak perlu dia tahu. Dia pun bangkit akan meninggalkan Akmal.
"Mama ambilkan air dulu."
"Eh ... Mama. Biar Akmal ambil sendiri. Macam anak kecil saja, Minta mama yang ambilkan."
Naura pun tersenyum, dia kembali duduk dan mengambil majalah yang tadi sempat di bacanya.
Akmal pun berjalan ke dalam, tepatnya kearah dapur. Meninggalkan Naura yang kini kembali asyik dengan majalah yang ada di tangannya.
Pada saat melewati ruang tengah, dia mendapatkan segala pernak-pernik hantaran lamaran sudah berjejer rapi di atas meja dan beberapa ada yang di atas lantai. Dia tersenyum senang karena semua barang yang dipersiapkan sejak berada di Turki kini sudah siap untuk diantarkan pada sang empunya, wanita yang ingin jadi pelabuhan cintanya saat ini.
__ADS_1
Setelah mengambil air dingin yang ada di dalam kulkas, ia pun menuju ke ke kursi yang ada di dapur tersebut untuk menikmati segarnya air dingin yang dia bawa.
Setelah puas dia pun keluar menuju ke halaman belakang, di mana laboratoriumnya sedang menunggu.
Dia melihat Mang Maman duduk tenang di depan laboratorium sambil memandang tanaman perdu yang ada di taman kecil itu. Dia terlihat memegang sebuah toples kaca bulat. Tampak butiran-butiran hitam di dalamnya.
"Alhamdulillah dan Bara sudah ke sini."
Dia pun bangkit menyambut Akmal yang sedang berjalan ke arahnya.
"Ada apa, Mang?"Akmal agak bingung juga dengan sikap Maman.
"Mang Maman ada sesuatu untuk Aden. Ini loh ... Den Bara ingat 10 tahun yang lalu. Tanaman yang dulu bikin laboratorium berantakan."
"Iya. Memangnya ada apa dengan itu semua?"
"Lalu tanaman itu bisa diam ketika sudah sampai di tanah itu kan, Den."
"Benar." Akmal terlihat serius mendengar keterangan dari tukang kebunnya itu.
"Den Bara masih ingat kalau berbuah, dalam sehari membesar dan rontok."
"Ya." Akmal mengangguk-ngangguk mencoba memahami apa yang disampaikan oleh abdi setianya itu, "Mang Maman makan?"
"Mana berani lah, Den. Nanti kenapa-napa seperti pohon itu."
"Alhamdulillah."
"Mang Maman belah dan ambil bijinya saja, tapi buahnya Mang Maman kubur. Siapa tahu, biji ini bermanfaat bagi Den Bara."
"Ya Allah ... Makasih Mang Maman."
Segera menerima pemberian dari abdi setianya itu.
"Ya sudah Den, aku pergi dulu."
"Ya, Mang."
Dia terpaku memandang kepergian Mang Maman sejenak. Dia pun tersenyum dengan apa yang kini berada di tangannya.
Ya Allah berilah aku kemudahan untuk memecahkan masalah ini. Dan mengubah biji-biji ini untuk lebih bermanfaat. Demikian alunan doa yang dipanjatkan sejenak sebelum memasuki ruangan laboratoriumnya.
🌟
"Will, apa yang kamu lakukan?"
William nampak kaget dengan kehadiran Akmal yang tiba-tiba
__ADS_1