Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Akhirnya


__ADS_3

Bukan yang lain profesor, tetapi memang dialah satu-satunya yang selama ini menghiasi anganku dan tak pernah tergantikan. Sampai-sampai terbawa dalam mimpi.


"Ini masa depan saya. Boleh kan, Prof?"


Seketika profesor Akmal membelalakkan mata, alisnya terangkat.


"Kamu bilang apa, Akmal! ... Ada-ada saja." ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Diiringi dengan tertawa lebar pula, seakan bahagia dengan kegusaranku. Membuat diriku makin jengkel.


Meskipun demikian, ternyata dia masih menyimpan rasa kasihan. Dia pun berkata, "Boleh."


"Alhamdulillah. Terima kasih, Prof."


"Tapi tunggu sampai Tazkia siuman."


"Subhanallah ... Prof. yang benar saja!"


"Paling nggak lama."


Glek ... Akmal seketika lemas. Udara seakan enggan masuk ke dalam jantungnya. Spontan berbisik lirik dalam hati.


"Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu’minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna’u bi ’atho-ika." (Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu)


"Menurut perkiraan, akar ini ... Blaa ... blaa ... blaa ...." Panjang sekali Akmal menerangkan nya. Sejak proses awal sampai pada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Beberapa kali Profesor harus berpindah posisi duduk saat mendengarkannya. Dan hanya bisa menyahuti dengan kata," O ....". Bulat bundar macam shiffir mustadzir.


"Rencanamu kapan?" Akhirnya profesor luluh juga.


"Jika boleh malam ini. Saya akan berangkat."


"3 hari lagi. Jangan ditawar-tawar, kalau masih ingin pergi. Dan hanya 2 hari, urusanmu harus sudah selesai."


"Bagaimana?"


"Mungkin sudah nasib saya hanya bisa jumpa lewat mimpi."


"CK ck ck ... Rupanya Kamu benar-benar jatuh cinta ?"


"Profesor bisa saja.. Ini dalam proses khitbah. " Akmal mencoba lagi bernegosiasi.


"Sayangnya aku tak bisa memberimu ijin lebih dari itu."


Profesor ini memang tak punya hati. Orang lagi sungguh-sungguh jatuh cinta. Dan ingin mencapai halalnya pula. Mengapa dihalang-halangi. Atau memang dia ingin balas dendam kepadaku atas kisah cintanya yang mengharu biru plus kelabu. Untungnya bisa bersama meski harus menunggu setelah sekian lama. Begitu kabar burung yang sampai. Ah, kok jadi su'udhon!


Haruskah diriku menyalahkan sesuatu yang mungkin itu baik bagiku. Tapi kalau ingat sebelum Jamilah pergi, sedih juga. Semoga semua baik-baik saja. Sampai diriku bisa menyusulnya.


Akmal segera mengeluarkan handphone-nya. Mengetik sesuatu. Hanya sekedar mengetik. Untuk menghilangkan suntuk. Karena dia tahu, kalau ruangan itu tak terkoneksi dengan sinyal dari luar.


[Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh]

__ADS_1


[Sudah sampai belum?]


[Bagaimana keadaan di sana, baik?]


[Sepertinya semakin lama kita bisa berjumpa. 3 hari lagi, aku baru boleh pergi. Semoga Papa Hasan bisa bersabar. Kamunya juga]


Puas mengetik kata di layar HP-nya. Lalu mengirimnya dengan tersenyum. Benar-benar bodoh. Sudah tahu tak kan terkirim, tetap dilakukannya juga. Kemungkinan Jamilah juga masih dalam pesawat. Tak mungkin menyalakan alat komunikasinya.


Kemudian dia memasukkan benda pipih itu kembali ke sarangnya, dengan senyum-senyum pula. Aneh!! Profesor yang tak sengaja melihatnya, ikut tersenyum. Lalu mendekati Akmal dan menepuk pundaknya.


"Konsentrasi, jangan kehilangan fokus, meski sedang jatuh cinta."


"Ini semua gara-gara Profesor juga."


"Aku minta maaf. Nggak ada yang bisa ku andalkankan selain kamu saat ini."


Akmal mengangguk kecil. Faham tak faham, dia harus mau menerima itu semua. Begitulah profesor, keputusannya tak akan pernah berubah.


🌟


Waktu seakan berjalan sangat-sangat lambat. Detik demi detik berubah menjadi menit, menit demi menit berubah menjadi jam. Jam demi jam berubah menjadi hari. Akhirnya selesai juga menjalani 3 hari terpenjara dalam laboratorium. Kini saatnya untuk menagih janji karena sudah waktunya pergi. Mana Papa Ulya selalu tanya ....


"Oke, Akmal. Sekarang pergilah. Tak ada hakku untuk menahanmu lagi."


"Makasih, Prof."


Setelah menyerahkan hasil pengamatan terakhir. Akmal segera meninggalkan Abbas dan profesor. Saat ini dia akan naik pesawat yang pertama terbang ke Indonesia.


[Ayu, sekarang aku sudah di Jakarta.]


[Ya, Kak.]


Sengaja Akmal memilih perjalan malam hari, agar terhindar dari kemacetan dan polusi. Setelah merasa cukup beristirahat, ba'da isya Akmal baru melanjutkan perjalanannya ke rumah Tante Rima, adik Papa kandungnya yang meninggal saat dia masih dalam kandungan. Di sana Papa Ulya dan Mamanya menginap.


Kebetulan saat menuju ke rumah Tante Rima. Dia melewati rumah Jamilah.


"Pak, kita berhenti dulu."


"Baik, Den."


Dia segera menepikan mobilnya. Akmal pun bermaksud membuka pintu, namun dia urungkan. Saat dia melihat seseorang yang baru saja keluar dari rumah Jamilah. Lelaki yang sudah sangat dia kenal. Boleh dibilang orang yang sedang berebut perhatian Jamilah. Aku wa saja ....


[Ayu, kenapa orang itu ada di rumahmu?]


[Maksud Kakak siapa?]


[Santoso]. Ogah menyebut gelar. Diriku sedang kesaaal. Kalau dibilang cemburu, bolehlah.

__ADS_1


[Cuman mampir. Aku juga nggak tahu maksudnya apa. Soalnya nggak ngomong apa-apa.]


[Oooo ....]


[Kakak melihat komandan. Berarti Kakak ada di sini.]


Sudah kepalang basah. Mengaku saja dech.


[Aku aku di pinggir jalan, dekat rumahmu.]


[Kenapa nggak mampir]


Belum sempat balas, sudah ada telpon masuk. Rupanya dari Papa Ulya ....


"Assalamualaikum, Pa."


"Waalaikumsalam ... Lama kali kamu sampai, ke mana saja."


Belum juga diriku sampai, sudah dicurigai pula.


"Cari sarapan. Kangen sama gudeg Jogja, Pa ... Mungkin sebentar lagi aku sampai."


"Ya syukurlah ... Ini Mamamu bingung. Cincinnya apa sudah kamu siapkan."


"Jangan khawatir, Pa. Aku akan siapkan. Aku mau ajak Ayu sekalian."


"Ya sudah, Papa tunggu. Assalamualaikum."


"Wa alaikum salam."


Aku melihat Ayu Jamilah sedang tengok-tengok. Mungkin mencari keberadaanku dimana ... Bolehlah ke gr-an dikit ... Efek rasa bahagia yang kini aku rasakan. Aku pun membuka pintu mobil.


"Pak, tunggu sebentar."


"Baik, Den."


Begitu melihat diriku, Ayu langsung melambaikan tangan.


"Kak Bara." Dia memanggil dengan nama kecilku. Jadi ingat waktu dirinya masih imut, centil dan lucu dulu.


Segera ku buka kacamata ini. Maaf, yang ku punya hanya kacamata baca, tapi untuk mempermanis wajahku yang tampan, boleh juga.


Untuk saat ini rasanya tidak diperlukan yang begituan. Ingin tampil alami dan parfumnya juga alami. Maklumlah, belum sempat mandi. Tak apalah ... Berdoa saja agar tidak membuat polusi di hidungnya.


"Assalamualaikum ... "


"Wa alaikum salam ... Kak Bara. Akhirnya Kakak sampai juga. Kita duduk di sana ya ... Aku kasih tahu Papa dan Bunda dulu."

__ADS_1


Aku rasa Ayu terkena peluru gugup dan neveous. Sampai-sampai perkataannya tidak teratur. Sebenarnya aku juga. Karena dia bilang akan mempertemukan diriku dengan Papanya.


Bagaimana kalau Papa Hasan masih marah?


__ADS_2