
Untung Christ membawa butiran-butiran kecil dari laboratorium Akmal. Seperti serbuk sari bunga sepatu. Bisa menyamarkan penglihatan lawan. Sangat cocok apabila digunakan untuk melarikan diri.
“Christ!” Bastian mengucapkan itu sambil berbisik, memberi isyarat agar segera menggunakannya.
Christ pura-pura tidak mendengar seruan Bastian. Dia terus berjalan mengikuti arahan dari dua orang yang telah menangkapnya.
Yah, dia punya rencana sendiri. Kalau digunakan sekarang, memang bisa langsung bebas. Tapi nggak seru, tak ada nilai plusnya.
Rasanya lebih menarik apabila bisa bermain-main sebentar dengan mereka. Siapa tahu ada informasi yang penting tentang pasukan mereka. Dengan begitu akan mudah mengalahkannya. Dari pada harus dihajar babak belur terus-menerus. Malu kalau mereka kalah. Medan mereka yang punya, tetapi kok bisa kalah?
Untuk itu lebih baik pura-pura tertangkap, ikuti mereka sambil mengumpulkan data-data yang penting, dimana kekuatan mereka. Agar langsung bisa menusuk jantung pertahanan. DAN MENANG ... semoga. Mohon ijinMu Tuhan.
Siapa tahu dengan begitu akan mengembalikan pangkat mereka atau bahkan membuatnya naik pangkat.
Bastian yang melihat Christ tenang-tenang saja, berpikir ia punya rencana lain. semoga bukan hal yang aneh, yang akan membawa mereka semakin terperosok dalam kegagalan. Bastian benar-benar pasrah belum mengerti dengan apa yang Chris rencanakan.
Mereka mengikuti langkah 2 orang yang menggiring mereka dengan senjata yang tak lepas dari kepalanya. Bahkan tangan mereka kini dalam keadaan terborgol juga. Benar-benar keadaan yang menyedihkan. Sudahlah, sabar ....
Mereka terus menyusuri jalan setapak yang ada di pinggiran pantai. Mungkin menuju markas atau menuju tempat penjara bagi tawanan yang dapat mereka tangkap. Tak tahu lah.
Dari kejauhan terlihat ada sesosok bayangan, sepertinya seorang perempuan yang memakai baju tertutup, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bahkan mukanya pun tak terlihat.
Atau mungkin sosok kaum amstral, suasana mendukung sekali untuk kemunculannya. Apalagi sekarang sedang malam bulan purnama sempurna, dengan warnah merah darahnya, deburan ombak yang ganas, serta suara lolongan serigala yang juga turut menyumbang suasana semakin seram. Membuat bulu kuduk berdiri, hi...
Semakin dekat, semakin nyata siapa atau apa dia itu. Ternyata seorang wanita. Bukan kaum amstral yang kubayangkan.
“Letkol Jamilah. Mengapa anda berjalan malam-malam sendiri?”
“Aku ingin melihat pantai.”
Oh, jadi ini yang namanya Jamilah. Tak sangka kalau sikapnya di kala siang dan malam berbeda.
Siang hari, terlihat aksinya yang luar biasa. Sampai-sampai aku mengira Dia adalah seorang wanita yang garang, dengan penampilan seperti wanita zaman sekarang. Ternyata dia seorang muslimah yang taat. Dengan pakaiannya yang tertutup rapat. Dan terlihat anggun juga. Yang begini membuat imanku jadi goyah. Apakah akan diserahkan pada Akmal, atau untukku saja. Eh, jangan-jangan Bastian mempunyai pikiran yang sama. Wah, bisa berabe kalau begini.
“Hati-hati, Letkol!”
“Apa yang mesti ditakutkan. Semuanya baik-baik saja.’
“Jangan ceroboh, Letkol. Baru saja aku menangkap dua
__ADS_1
penyusup ini.”
Dia menatap dan memperhatikan kami berdua dengan seksama cukup lama juga. Sebenarnya apa yang dia pikirkan. Aku hanya menebak-nebak, tak bisa memastikan dengan apa yang dia pikiran. Andai diriku bisa melihat sorot matanya, mungkin bisa tertangkap maksud tersembunyi dari tatapannya. Sayang pencahayaan amat kurang karena tiba-tiba bulan tertutup awan.
“Terima kasih sudah mengingatkan ku. Sebentar lagi Wulan akan menyusul.”
“Ya sudah, Letkol. Aku mau bawa orang ini dulu.”
“Ya, silahkan.”
Kami pun berlalu dari hadapannya. Sementara Dia melanjutkan langkahnya menuju ke arah batu karang yang berdiri tegak di tepi pantai.
Mengapa tak terlihat sedikitpun ketakutan dalam dirinya. Dia berjalan dengan pasti menuju tempat itu, sendirian. Oh, Ya ... Ya ... Dia itu seorang prajurit. Mana boleh ada rasa takut dalam dirinya. Bisa kalah sebelum berperang kalau rasa itu ada.
Alhamdulillah, ternyata kami dibawa ke sebuah tempat yang tak jauh dengan markasnya. Ini memudahkan bagi diriku untuk melaksanakan segala rencana yang telah aku susun.
“Masuk!”
Eh, jangan galak-galak. Tunggu sebentar lagi, kami akan beraksi. Untuk sementara kami akan bersabar menikmati peran jadi pesakitan dan membiarkanmu berbuat semaunya.
Sebenarnya agak jengkel juga diperlakukan seperti itu. Mereka menggiring kami seperti bebek untuk memasuki ruangan berjeruji, dalam keadaan tangan masih terborgol. Dan meninggalkan kami begitu saja tanpa terlebih dahulu membuka borgol itu. Benar-benar membuatku tak nyaman. Hati-hatilah kalian!!
“Bagaimana Christ?”
“Oke kita mulai saja.”
Bastian mendekati Christ, mengambil botol kecil dari ikat pinggangnya. Botol itu berisi cairan pelunak besi. Amat berguna di saat seperti ini.
“Sudah?”
“Ya.”
Kini botol itu telah ada di tangan Bastian.
“Hati-hati jangan sampai terkena kulit.”
“Aku tak begitu ahli menggunakan ini.” Lalu Bastian memberikannya kepada Christ.
“Baiklah.” Christ menerima botol itu dengan tangan yang saling membelakangi. Lalu dia meraba borgol yang mengikat tangan Bastian. Untuk memastikan posisi besi yang akan diberinya cairan. Mengingat cairan itu sangat berbahaya. Jangan sampai ada setetes pun yang salah alamat.
__ADS_1
“Tolong kamu tenang, nanti kulitmu kena.”
Setelah Christ benar-benar yakin, baru dia membuka tutup botol itu. Lalu menumpahkan beberapa tetes ke borgol yang ada di tangan Bastian. Alhamdulillah, akhirnya borgol itu lepas. Tapi ....
“Ya Allah,” ucap Bastian lirih ketika mendapati botol itu dalam keadaan miring, isinya hampir saja tumpah. Untung penjaga sedang keluar.
ia menegakkannya, meskipun masih dalam genggaman tangan Christ. Lalu mengambilnya berlahan-lahan.
“Hampir saja.”
“Sudah buruan.”
“Ya, sabar.”
“Satu tetes saja. Kita masih memerlukan untuk yang lain.”
“Oke.”
Bastian meneteskan di borgol sesuai dengan yang diminta oleh Christ. Ternyata proses pelunakan borgol yang mengikat tangan Christ memerlukan waktu yang cukup lama juga.
Sebenarnya Christ agak kesal, tapi mau gimana lagi. Kalau dihabiskan sekarang, tak ada gunanya tangan bisa lepas tapi badan tak bisa keluar. Jeruji besi yang mengurung mereka harus ditaklukkannya juga. Dan benda itu terlihat lebih kuat. Hanya satu harapan semoga penjaga tidak lekas-lekas masuk ke dalam ruangan mereka.
Sambil menunggu proses Bastian meneteskan cairan itu di jeruji besi. Alhamdulillah, saat proses pelunakan borgol itu selesai bersamaan pula dengan jeruji besi itu terbuka.
“Ceroboh sekali mereka, meninggalkan kita tanpa penjagaan,” gumam Bastian.
“Kamu salah. Itu mereka.”
Terlihat dua sosok yang tadi menangkap kami kini tergeletak satu meter dari pintu penjara.
“Kamu apakan mereka?”
“Jangan khawatir mereka hanya tertidur. Ayo kita segera beraksi.”
Dengan mengendap-endap mereka keluar dari tempat itu. Tapi belum terlalu jauh, terdengar suara wanita yang amat keras menghentikan langkah mereka.
“Kalian.” Terdengar nada jengkelnya yang membuat diriku kaget juga.
kami pun berbalik dan mendapati Dia seorang diri. Nekat sekali wanita ini. Jangan-jangan ini wanita yang sesaat lalu yang kutemui di pinggir pantai.
__ADS_1