Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Latihan


__ADS_3

"Alhamdulillahilladzi ahyana ba'da ma amatana wailaihin nusuur"


Di mana aku? Mengapa kini tubuhku sudah berbaring di atas dipan? Seingatku semalam aku masih ada di perpustakaan.


Moga-moga saja ini karena aku berjalan dalam tidur. Aku tidak sanggup membayangkan kalau seumpama Kak Akmal yang telah membawaku kesini. Astaghfirullah al adzim ... Lepaskanlah diriku ya Robbi, dari suasana yang membuat hatiku bimbang. Tak mau pikiran ini terkotori dengan hal-hal yang tak perlu. Apalagi sekarang telah nyata kalau Kak Akmal itu bukan saudara kandungku. Tapi aku masih penasaran, siapa yang membawaku ke sini.


Sebenarnya Kak Akmal itu siapa, kalau bukan saudara lalu apa? Karena aku merasa, Dia sangat dekat denganku.


Baikah, sekarang aku akan shalat subuh dulu. Minta ampun padanya dari kesalahan yang sengaja maupun yang tidak sengaja. Ataupun yang aku sadari maupun yang tidak aku sadari. Mohon petunjuk agar diriku lepas dari masalah ini. Serta memberiku kesembuhan segera.


Ku angkat tangan untuk akui kebesaran Mu


Ku ucap takbir untuk nyatakan betapa kecil diriku


Ku lafadzkan namaMu agar mudah bagiku mengadu


Tentang apa yang tersembunyi di lubuk hatiku


Tentang apa yang menjadi anganku


Tentang apa yang menjadi harapanku


Akan lemahku


Akan ketidak berdayaanku


Akan diriku yang tak tahu siapa aku


Akan ketakutanku


Demikian diriku dalam mengingatMu


Whuaahhh .... Selamat pagi semua. Kubuka jendela. Ku sapa pagi yang indah dengan rasa bahagia. Apalagi saat melihat mentari bersinar dengan cahaya yang terang. Menembus kabut malam yang masih menutupi alam. Bening embun nampak bergelantungan di ujung rimbun dedaunan. Rasanya tak lengkap kebahagiaan ini bila aku hanya berada di dalam kamar.


Semua jendela sudah terbuka, saat diriku berjalan melewati ruang tengah maupun ruang tamu. Demikian juga dengan pintu utama. Alhamdulillah, ini memudahkanku untuk keluar.


Ternyata ada seseorang yang telah mendahuluiku. Dia kini telah berlari kecil di atas rerumputan taman. Menghadap sinar matahari. Sepertinya menyenangkan sekali. Ingin rasanya aku mengikuti. Tapi tidak ah ...


"Jamilah, ayo sini! Kita olah raga!"


Aku hanya bisa tertawa kecil menjawab sapanya. Dan juga lambaian tangannya.


Tak puas dengan jawabanku, dia berjalan menghampiriku.


"Sayang kalau pagi kita lewati dengan hanya duduk-duduk saja." ajaknya, "Dan mumpung kamu di sini juga."

__ADS_1


Iya ya ... Itu juga yang menjadi tujuanku waktu keluar menuju tempat ini. Dan benar kata Kak Akmal, Kapan lagi aku bisa menikmati pagi di tempat ini. Belum tentu juga aku akan berada di sini selamanya.


"Baiklah."


Tak urung aku mengikutinya. Selalu saja mengiyakan dia. Pada akhirnya aku akan meruntuki dengan apa yang menjadi keputusanku. Mengapa diri ini tak pernah bisa lepas darinya.


Ku pikir Kak Akmal akan mendorong kursi roda ini. Tapi saat sudah ada disampingku, Dia nyelonong begitu saja melewati diriku. Ternyata dia masuk ke dalam rumah. Kembali dengan membawa alat untuk berjalan yang berkaki empat. O la la ... Latihan lagi. Orang ini benar-benar disiplin sekali dengan saran dokter. Tidak memberikan ku jeda untuk sekedar menikmati waktu dengan santai.


"Yuk," ajaknya.


Mau tak mau, rela tak rela, aku mengikuti langkahnya dengan kursi roda. Sesekali aku melirik. Sayang sekali selalu saja ketahuan olehnya.


"Ada apa?"


"Kakak kapan pulang. Kok sudah di rumah sejak pagi."


"Jam 2 malam."


Jangan-jangan, yang memindahkan diriku dari ruang perpustakaan adalah hantu ini.


Ya Allah segera bebaskan diriku dari suasana ini. Diriku takut tergelincir pada hal-hal yang tidak Engkau kehendaki. Karena terkadang aku merasa hati ini terlalu rapuh, bila berdekatan dengannya.


"Ada apa?"


Ups ...


Kita berhenti sejenak ketika jalanan menurun. Tanpa aku minta diapun memegang yang kursi roda, menahannya agar tidak meluncur bebas.


"Makasih, Kak" ucapku, " Kakak nggak capek, pagi-pagi sudah olahraga."


"Justru itu, biar sehat digunakan untuk olahraga. Bukannya malah tidur."


"Hehehe ...."


Kini kami sudah berada di tempat yang datar. Dia melepaskan kursi rodaku. Membawa tongkat itu ke bak pasir dekat dengan tempat dia melakukan olahraga pagi. Meletakkan benda itu berdiri tegak di tengah-tengah bak pasir.


Dengan medan yang seperti ini. Harus melewati pembatas jalan walaupun hanya setinggi tak lebih dari 10 cm. Lalu melewati rerumputan. Baru sampai ke bak pasir. Rasanya sulit.


"Siap!"


"Tidak." Terang saja kujawab begitu. Aku kesulitan menyeberang.


"Manja kali."


"Bukan begitu Kak. Ini lho!" Kujalankan kursi rodaku untuk melewati pembatas jalan. Rodanya hanya bisa maju mundur terus. Sampai aku hampir terjungkal.

__ADS_1


Hehehe ... Kulihat senyum di wajahnya. Tapi ... Dia tak segera menghampiriku. Bahkan dia seakan-akan menikmati kesulitanku. Menyebalkan!


"Ngomong dari tadi, kek!"


Dengan tertawa, Kak Akmal menuju ke tempatku dan mendorong kursi roda itu untuk sampai di bak pasir.


"Bagaimana sekarang. Sudah siap?"


"Oke, Jamilah akan coba."


Mula-mula aku meletakkan telapak kakiku di bak pasir itu. Setelah yakin, berlahan-lahan tubuh ini ku angkat, sambil berpegangan erat pada tongkat itu. Sedangkan Kak Akmal menahan benda itu dengan kuat. Menjaga keseimbangannya. Tangan dan kakiku seperti bergetar hebat.


"Ayo semangat. Kamu pasti bisa."


Ingin rasanya aku menangis, kaki ini terasa kaku.. tapi bila memandang wajah Kak Akmal, timbul semangatku. Biarpun sakit, ku lanjutkan saja latihan ini. Sampai aku bisa tegak berdiri. Dan merasakan kenyamanan dalam keadaan itu. Lalu kak Akmal memindahkan benda itu 2 langkah di depanku.


Oke ... Ayo kaki, jangan kamu berhenti. Coba lagi untuk menggapai tongkat itu. Aku menyemangati diriku, sebelum kaki ini melangkah. Begitu seterusnya ... Begitu seterusnya. Hingga aku tak tahu berapa lama berlatih. Yang jelas kakiku semakin ringan untuk berjalan.


"Cukup!"


Tapi aku merasa belum puas, ingin melanjutkan latihan ini.


"Sekali lagi, Kak."


"Tidak. Jangan karena kamu merasa sudah bisa. Kamu melewati batas kemampuan kakimu. Sebenarnya tak apa-apa. Tapi berhati-hati itu kan lebih baik. Agar tidak menimbulkan cedera. Yang memperparah keadaan kakimu saat ini."


Heeehhh ... Orang ini benar-benar menyebalkan. Kalau sedang tak semangat, dibakar-bakar sampai membara. Giliran sudah bersemangat, dipadam-padam sampai hilang. Maunya apa sih!


"Sudah ... jangan marah. Nanti kalau Tante Fariha datang. Kamu bisa latihan lagi."


"Kakak mau ke mana."


"Ada sesuatu yang harus kakak selesaikan. Moga-moga besok kamu sudah bisa menemui orang tuamu."


"Benarkah, Kak."


"Doakan saja."


"Ya Allah, moga-moga Kak Akmal bisa membawa Jamilah ke Papa dan Mama. Jamilah rindu banget sama mereka ...."


"Aamiin. Terima kasih." Dia tertawa kecil melihat diriku yang mengangkat tangan dan mengusapkannya di wajah ini.


Enak juga ya, menjadi seorang sultan-sultana seperti ini. Selesai olahraga pagi, sudah ada yang membawakan jus jeruk dan juga sarapan pagi. Meskipun hanya selembar roti yang diberi mayones dan juga sayur.


"Makasih. Ini Ayu, Bi," ucap Kak Akmal pada wanita paruh baya yang mengantarkan sarapan pagi ini pada kami.

__ADS_1


Dia menatapku ....


__ADS_2