
Komandan memberikan kesempatan pada Jamilah untuk menarik pesawatnya terlebih dahulu.
Tak disangka kalau dia yang akan mendapat pengawalan khusus dari musuh. Karena begitu bergerak, dia langsung diikuti 5 pesawat yang baru datang. Siap untuk meringkusnya.
Sedangkan Santoso dan satu temannya, 4 pesawat lainnya. Bikin bingung Santoso sebagai komandan. Bagaimana mungkin mereka lebih memburu anak buahnya dari pada dia. Semoga Jamilah bisa mengatasinya. Paling tidak, mengulur waktu. Sampai dirinya dapat menyelesaikan 2 lawannya ini.
Segera Santoso melepaskan tembakan ke arah pesawat yang ada di depannya. Dan menarik mereka menjauh dari tempat itu. Agar bisa menyelesaikannya.
Ada baiknya juga, Jamilah yang dijadikan target. Dia bisa lebih leluasa mengatur strategi. Karena lawannya kini tidak main-main. Semua kekuatan di keluarkan. Yang jelas mereka kalah jumlah dan senjata. Tapi taktik dan strategi tak kalah jauh.Tapi kasihan juga Jamilah, harus menjadi umpan dari strategi yang diterapkan saat ini.
"Jamilah, aku selesaikan yang dua dulu. Nanti aku bantu."
"Siap, Komandan."
Meskipun demikian, Jamilah tak berharap banyak pada komandan. Sekedar penyemangat dan harapan, apabila terdesak saja. Karena situasi yang memang sangat sulit saat ini. Baik bagi dirinya maupun komandannya. Yang terpenting sekarang bagaimana cara musuh yang lima itu bisa dia kalahkan. Dan menyampaikan satu roket yang masih menempel di badan pesawatnya. Ke tempat seharusnya. Yaitu markas musuh. Sebagaimana rencana sebelumnya.
Tapi bagaimana dengan Jajaran pesawat yang berjumlah lima itu? Mereka berbaris rapi menghalangi jalannya. Bahkan kini mereka mengejar. Membuatnya semakin jauh dari sasaran.
Oke ... Sebaiknya buka barikade dengan sentuhan manis, sebuah ide melintas dalam angan Jamilah.
Tanpa pikir panjang, Jamilah segera melajukan pesawatnya dengan cepat.Setelah dirasa cukup, dia membelokkan pesawatnya. Melaju cepat pula ke arah pesawat yang memburunya. Benar-benar nekat ... Tak ada jalan lain.
Meskipun peluru-peluru melintas di sekitar pesawatnya. Itu semua tidak membuatnya takut. Dan dia tak peduli. Dia terus maju hingga kelima pesawat itu memisahkan diri. Menghindari tabrakan yang tak berarti. Jamilah tersenyum puas.
Tapi hanya sesaat kebahagiaan itu dia rasakan. Karena tak berapa lama, kembali kelima pesawat itu mengepungnya. Samping, atas, bawah, dan belakang. Membuat dirinya mati kutu. Tak bisa bergerak kemana-mana. Atraksi-atraksi yang biasa dia pertontonkan, kini sudah tak bisa dilakukan lagi.
__ADS_1
Kalau begini, dia hanya mampu berharap agar malam segera datang. Dan perang berhenti. Tapi itu harapan yang mungkin jauh dari kenyataan. Lihat saja, meskipun matahari sudah mulai tenggelam. Tapi tak ada tanda-tanda sedikitpun akan usai.
Hai ... Sepertinya mereka menggiringku ke markasnya. Kurasa boleh dong ... Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saatnya untuk melanjutkan niatku yang sempat tertunda. Dan aku rasa sudah masuk dalam jangkauan roket yang kubawa. Kini saatnya ... Tut ...
Wuuusssss ... Roket itu pun melesat meninggalkan tempatnya. Tapi tidak ada seper sekian detik, sudah ada roket yang mengejarnya. Hingga mereka bertemu di Udara. Dhuaaarrrr ... Ledakan pun tak terhindarkan. Ya ... Gagal. Dengan wajah sedih Jamilah menyaksikan roket terakhirnya, pecah berkeping-keping jatuh ke dalam laut.
Mungkin saatnya dia harus menyerah. Apalagi saat ini dia benar-benar terkunci oleh kelima pesawat yang mengawalnya.
"Komandan, maafkan aku ..."
Setidaknya dia tertangkap dalam keadaan terhormat. Dengan lima pesawat yang melumpuhkannya.
"Jamilah ... Cendrawasih ...." Panggilan itu sudah tak dipedulikan lagi. Dijawab pun sudah tak ada gunanya. Dia sudah di tangan lawan.
Saat langit sudah benar-benar gelap. Saat itulah pesawatnya mendarat di landasan markas lawan. Ini bukan akhir yang baik. Ya ... bukan husnul khatimah.
Di awal-awalnya dia begitu perkasa di udara. Kini harus berakhir sebagai tawanan. Selamat tinggal langitku ....
Jangan mengharapkan tempat yang nyaman untuk tawanan di sini. Tak ada ruangan seperti yang kita siapkan di markas. Di sini hanya ada kurungan dari besi layaknya kurungan hewan buas. Tanpa tembok dan atap. Sangat-sangat terbuka. Hamparan rerumputan sebagai alas dan langit sebagai atap.
Bulan tampak sempurna bersinar. Bintang berkelip indah di angkasa. Sedikit banyak dapat mengurai suasana hatiku yang sedikit kacau dan sedih. Bagaimana mungkin aku dipaksa meninggalkan ekosistemku . Ini sungguh menyiksa. Tapi bagaimana lagi. Tak ada yang perlu disesali. Setelah ini mungkin aku perlu mengembangkan tehnik mengatasi musuh yang berkali-kali lipat, agar tak sampai tertangkap lagi.
Jamilah hanya bisa memandang nanar angkasa. Yang sampai selarut ini masih dengan keramaian. Rupanya mereka tak juga menghentikan peperangan. Ada apa dengan mereka?
Malam semakin larut. Dan kini sudah lewat tengah malam. Setelah melakukan sholat dalam kurungan. Jamilah meneruskannya dengan Murojaah beberapa juz yang sudah dihafalkannya sejak kecil dulu. Dia baru berhenti ketika mendengar keributan dari markas mereka.
__ADS_1
"Komandan tertangkap ... komandan tertangkap."
Jamilah pun menghentikan Murojaah hafalannya. Memasang telinganya dengan seksama. Benarkah berita yang baru lewat di telingaku. Semoga benar adanya.
Kalau pimpinan mereka tertangkap, berarti kita menang dong ... syukur, Alhamdulillah. Alangkah senang hatinya mendapatkan berita itu. Diapun melanjutkan murojaahnya kembali, sambil sesekali menatap bulan yang menyinarinya. Sambil berucap doa. Semoga peperangan ini cepat usai. Kasihan para prajurit, sudah waktunya istirahat tapi tak bisa. Termasuk dirinya.
Dia amat bersyukur. Lambat laun, suara tembakan-tembakan atau bom-bom yang dijatuhkan sudah semakin jarang. Tak lama kemudian suasana sunyi. Apakah peperangan sudah usai? Semoga. Berarti ... Terima kasih Tuhan telah engkau kabulkan doaku.
"Hai, siapa itu yang baru turun ke dari pesawat? Sepertinya komandan?"
Jamilah mengusap matanya beberapa kali. Seakan-akan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Komandan!" Dia memanggil seseorang yang melintas di depannya.
"Kamu di situ juga, Jamilah?"
"Ya, Komandan. Berarti kita kalah dong ...."
"Tidak. Karena komandan mereka tertangkap lebih dulu," jawab Santoso sambil lalu. Karena kini bernasib sama. Terkurung ....
Jamilah melongo mendengar penjelasan dari mulut komandannya sendiri. Benarkah demikian?
Kalau benar demikian ... berarti berhentinya perang ini, karena 2 komandan yang memimpin latihan ini sudah tertangkap semua. Aneh ... hm ... berarti Drow. Tak ada yang menang ataupun kalah.
Kini keadaan benar-benar sunyi. Hanya suara binatang malam yang meramaikannya. Membuat kedua mata terpejam. Apalagi dengan keadaan yang teramat lelah. Telah berperang sepanjang hari. Ditambah pula hutang istirahat malam kemarin yang belum terlunasi. Menambah kecepatan dirinya menuju alam mimpi.
__ADS_1
Lewat tengah malam, ada keributan kecil yang membangunkannya. Ada apa ini? Dia dan teman-temannya dikeluarkan dari kurungan itu. Bahkan mereka memperlakukan dirinya dan lainnya dengan sangat sopan. Tak ada bentakan. Tak ada wajah yang galak dan masam. Dan tak ada todongan pistol yang mengarah padanya. Yang ada hanya senyuman ramah dan permintaan maaf. Serta membawa mereka semua ke tempat yang layak untuk melanjutkan sisa istirahat. Ada apa gerangan? Dan dimana komandan Santoso? Kok tak ada bersama kita lagi ....